• Beranda
  • Motivasi
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Opini
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Puisi
    • Langgam Cinta
    • Pertemuan Bahagia dan Sedih
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips - Trik
  • Who Am I

Bangun Pagi-pagi



Akhirnya lapar itu tiba

menahan diri

membela muruah

dari mata berkuasa



detik dalam hidup,

membuatmu mengawang

Disaat dirimu harus menahan lapar,

seorang memamerkan habis makan ini dan itu

Sampai perutnya buncit



Sedang perutmu, hanya penuh angin

Kalaupun buncit, penuh air putih

meminumnya begitu banyak

mengumpamakan laiknya nasi



kau sungguh optimis memang,

dengan kelaparanmu

sungguh yakin memang

hingga kau penuhi

lapar di otak dan perut



Bantul, November 2018


Wrote by Umi Nurchayati


Pada seminggu yang lalu aku pulang ke rumah di kampung halaman tempatku menghabiskan masa kecil, yaitu di sebuah desa sekitar satu jam dari kota Temanggung. Lama memang aku tidak pulang ke rumah, frekuensi kepulanganku ke kampung halaman bisa dihitung jari paling hanya 3 atau empat kali dalam setahun. Maklum sebagai seorang santri di sebuah pesantren di Jogja membuatku sulit untuk mendapatkan ijin apalagi untuk hal-hal yang tidak begitu penting, walaupun cukup sering juga aku main pulang aja.

Kali ini aku tidak dijemput Bapak sehingga harus jalan kaki atau naik ojek. Aku memilih berjalan kaki sambil mengenang masa SMP yang setiap hari harus jalan dengan total sekitar 2km untuk pulang-pergi sekolah. Berjalan satu kilometer rupanya tak cukup membuatku lelah, mungkin karena lama tak berjalan kaki jadi enteng saja rasanya. Sambil kuamati keadaan desaku kini, aku melewati balai desa yang masih sama sebelum kepulanganku setahun kemarin dan juga rumah-rumah penduduk yang masih belum ada perubahan. Masih ada saja rumah berpagar reyot, dan terbesit pertanyaan kemana warga desa ini mengalokasikan dana desa?

Sesampainya di rumah aku disambut Ibu, seperti biasa beliau baru saja pulang dari pasar. kemudian Ibu langsung memulai interogasinya, bertaya semua faktor dalam hidupku tapi hanya sampai di permukaan saja. Seperti biasa ia akan membiarkan anaknya menentukan pilihannya sendiri. tapi tak lupa Ibu selalu saja mendoktrinku dengan berbagai kata-kata super yang sangat mujarab untuk membuatku selalu berjuang. Sampai ibu memulai ceritanya ketika aku bermaksud meminta uang, kata Ibu aku harus irit dan segera dapatkan pekerjaan. Maklum memang aku baru saja diwisuda tanggal 2 Februari lalu, sebagai seorang ‘Fresh Graduate’ aku memang berinisiatif untuk mecari kerja di Jogja karena aku masih harus melanjutkan studi di pesantren.

Kata ibu ekonomi perdesaan lagi ajlok, hasil bumi melimpah tapi tak cukup untuk menyekolahkan anak sehingga harus cari utang sana-sini, bahkan ada beberapa yang sampai sangat kesulitan untuk makan saja. Miris sekali aku mendengarnya, apalagi mendengar lanjutan cerita Ibu bahwa seorang tetangga juga sampai ada yang pergi leluar negeri demi membayar hutang pada rentenir. Katanya, daripada pusing ditagih setiap hari mending kabur saja, anak-anaknya pun ditinggal dan bapaknya juga kerja, padahal punya banyak lahan tapi habis dibabat, entah bagaimana persisnya aku juga kurang tahu, hanya mendengan slentiran dari tetangga-tetangga saja.

Yang kusadari adalah rentenir bermuka koperasi di desa-desa, bermodal tawaran pinjaman tanpa agunan dan selembar izin badan hukum mereka dengan bebasnya berkeliaran di perdesaan. Mereka bak penipu ulung, tawaran kreditnya sangat menggiurkan, bisa dibayar seadanya katanya. Tapi giliran peminjam tak bisa bayar mereka marah-marah.

Masyarakat miskin desa yang tak melek keuangan pun tergiur oleh tawaran yang aji mumpung itu, wajar saja mereka memang tak punya akses untuk pinjam ke lembaga resmi, sangat sulit bagi mereka mendapatkan pinjaman dari perbankan karena agunan-pun tak punya, uang yang ingin dipinjam juga tak banyak, sekitar 500 ribu sampai 1 jutaan. Hingga koperasi-koperasi yang rajin ke desa inilah yang akhirnya menjai solusi bagi mereka. 

Tapi tanpa disadari koperasi yang bergerilya ini tak menunjukan wajah koperasinya sama sekali, ketika si peminjam sudah menyelesaikan pinjamannya mereka akan kembali menawari pinjaman lagi-dan lagi, begitulah seterusnya. Koperasi itu akan menjaga peminjam agar selalu pinjam karena dengan begitu keuantungan akan didapat. Tapi itu hanya berlaku ketika peminjam lancar membayar cicilan, ketika cicilan mandeg mereka akan mulai bengas, sikap yang tadinya bak malaikat penyelamat dengan unggah-ungguh bosonya yang amat tinggi berubah 180 derjat. Sikap lembutnya hilang sudah entah kemana, diganti dengan cacian-cacian pada si miskin yang berhutang, miris sekali jika melihatnya.

Sebagai warga miskin harus bagaimana, mereka terhitung tak punya aset ketika berhadapan dengan dunia perbankan, padahal mereka punya rumah, sawah, dan binatang ternak. Namun jaman sekarang, pengakuan bisa dilakukan oleh saiapa aja, sehingga pengakuan legal berbentuk selembar sertifikat lah yang lebih dipercaya lembaga keuangan. Akan tetapi pengadaan sertifikat tak mampu digapai dengan mudah oleh masyarakat, karena harus berurusan dengan segala kejlimetan dan biaya yang tak bisa dibilang sedikit. Hingga penipu ulung seperti tadi menjadi pilihan. Bahkan bagi rentenir berwajah koperasi ini, yang tak dapat disebut agunan pun disa dijadikan agunan, yaitu seperti akta kelahiran. Ohh apa maksudnya semua ini, yang katanya ada pembagian sertifikat gratis belum menyentuh sampai kampungku.

Akhirnya untuk melunasi utang warga miskin perdesaan hanya punya pilihan menjual tanah yang sepetak, pergi ke luar negeri untuk jadi TKI, atau di rumah saja tapi harus sakit krena jadi pikiran. Di desa yang tak jauh dari ibukota dibanding yang diluar jawa, kok rasanya literasi keuangan yang diagungkan di dunia akademik maupun pemerintahan belum menyentuh masyarakat terdekat, masyarakat desa masih belum mampu memilih lembaga keuangan yang baik. Bagaimana dengan yang sangat jauh dari pusat kota? Apa mungkin mereka lalai sudah melompat kemana-mana tapi yang dekat malah lupa atau lupa semua. Seperi ungkapan gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di sebrang lautan tampak.

Wrote by Umi Nurchayati
Dikutip secara langsung dari Buku Islam & Negara Sekular – Menegosiasikan Masa Depan Syariah

Oleh : Abdullahi Ahmed An-Na’im (Profesor Charles Howard Candler Bidang Hukum di Emory law school. Atlanta, AS)
Prof. Abdullahi Ahmed An-Na’im
Doc: Iaw.emory.edu
Sebagai sebuah Institusi politik, negara bukanlah sebuah entitas yang bisa merasakan, memercayai, atau menindak. Manusia lah yang selalu bertindak atas nama Negara, menggunakan kekuasaan atau enjalankannya melalui organ-organnya. Jadi kapanpun manusia membuat keputusan tentang persoalan kebijakan, mengusulkan atau membuat rancangan undang-undang yang dianggap mewujudkan prinsip-prinsip islam, hal ini dengan sendirinya mencerminkan perspektif pribadi manusia itu atas persoalan tersebut, dan sama sekali bukan perspektif negara sebagai sebuah entitas yang otonom. Lebih dari itu, ketika usulan kebijakan atau undang-undang itu dibuat atas nama partaipolitik atau organisasi, posisi-posisi seperti itu juga diambil oleh manusia pemimpin yang berbicara atau bertindak untuk entitas itu. Benar bahwa sikap spesifik pada persoalan-persoalan kebijakan dan perundang-undangan bisa dinegosiasikan di antara aktor-aktor yang kritis, tapi hasilnya tetap saja produk dari penilaian individual seorang manusia, dan pilihan yang diterima dan dilaksanakan pun berdasarkan sebuah pandangan disepakati oleh para aktor itu.

Sebagai contoh, keputusan untuk memberi sanksi hukum bagi tindakan mengonsumsi minuan beralkohol sebagai kjahatan hadd (pidana) yang didefinisikan oleh syariah sesungguhnya merupakan pandangan pelaku politik individual setelah menilai semua jenis pertimbangan praktis, dan bahasa yang digunakan dalam menyusun rancangan undang-undang dan langkah-langkah yang diambil dalam mewujudkannya juga merupakan hasil keputusan dan pilihan manusia. Maksudnya persoalan disini adalah bahwa keseluruhan proses formulasi dan implementasi kebijakan dan perundang undangan publik untuk kepada kesalahan atau kekeliruan manusia, dan selalu bisa ditentang dan dipertanyakan tanpa melanggar kehendak Tuhan. Inilah pertimbangannya mengapa persoalan kebijakan dan perundang-undangan publik harus didukung oleh nalar publik, termasuk di kalangan Muslim yang bisa saja tidak bersepakat dalam semua persoalan seperti itu, tanpa harus melanggar kewajiban-kewajiban agama mereka (hal. 29). 

Wrote by Umi Nurchayati
Gambar : Salah satu bentuk pengajian di Pesantren adalah Bandongan, dimana santri hanya mendengarkan penjelasan Guru (Ustadz) sambil memaknai (mengartikan) kitab kuning
Dok: penulis

Dunia  sekarang memang sudah mengalami transformasi yang sangat  cepat. Sebagai seorang santri yang juga belajar di sebuah perguruan tinggi, saya menjadi sangat merasakan perbedaan dinamika didalam dan diluar pesantren. Didalam pesantren kita biasa dihadapkan pada pendidikan akhlak yang adiluhung itu, diluar pesantren kita mencoba menerapkannya, salah satunya adalah 'tawadhu'.
Biasanya nilai ‘tawadhu’ ini dipegang erat-erat oleh para santri, bahkan tak jarang mereka sering menyembunyikan identitas atau pengetahuan dan ilmu-ilmunya ketika situasi diluar sibuk memperdebatkan suatu hal perihal agama. Ia baru akan tampil ketika diminta atau ketika situasinya memang mencekam. Begitulah, santri selalu rendah hati, tak jarang teman teman saya yang hafidhoh-hafidhoh penghapal Qur'an itu tak kelihatan hafidhohnya jika dilihat sekilas. 
Sekarang ini memang sebutan islami telah sedikit berubah, suatu hal dianggap islami seringkali dilihat dari penampillan yang kasat mata. Sebagai santri mungkin kami tak kelihatan islami di era post truth sekarang ini. Selain dari penampilan yang biasa saja, santri juga biasa saja ketika bergaul di luar pesantren. Mereka yang berada disekeliling hanya akan menyadari kesantriannya ketika dihadapkan pada situasi-situasi.
Perbedaannya tentu saja pada tindakan (action) yang diambil santri itu, seorang santri selalu mempertimbangkan apa-apa yang dia perbuat, apakah baik ataukah tidak. Baiknya tidak hanya untuk dirinya saja melainkan juga memikirkan kebaikan untuk lingkungannya dan orang sekitar. Mereka akan lebih hati-hati baik dalam berbicara atau dalam  bertindak, apalagi jika melibatkan orang banyak.
Prinsip kehati-hatian dalam berbicara ini yang nampaknya sekarang sudah susah amat ditemui di jaman ini. Bagaimanapun, sekarang memang jamannya demokrasi, kebebasan berpendapat sudah dijamin, hak berpendapat juga sudah tak lagi dikebiri. Ini memang kemajuan demokrasi yang bagus untuk urusan perbaikan bangsa karena dengan begitu siapapun bisa memberi kritik pada penguasa agar kedepannya lebih baik lagi.
Tapi bagaimana jika kebebasan berpendapat ini digunakan dalam hal beragama. Nampaknya malah justru dapat meningkatkan tensi keagamaan itu sendiri. Kini agama dibawa-bawa di ruang publik dengan recehnya, apalagi di dunia daring. Begitu tumbuh subur perdebatam soal agama.
Sekarang kita dihadapkan pada fenomena yang ‘ngaji bab thoharoh saja belum khatam, sudah berani mendakwah.’ Tentu saja dengan menyampaikan suatu hal yang tidak disertai ilmu dapat menimbulkan bahaya yang lebih luas bukan.
Sebenarnya jika kita lihat, semangat umat islam sekarang untuk belajar agama ini sangat membahagiakan. Ini berarti ada suatu peningkatan kesadaran umat. Lihat saja dulu dijaman tahun 90an, disuruh ngaji saja mungkin sering bolos-bolosan. Pamitnya TPA tapi perginya ke lapangan  main layangan. Namun sekarang lihatlah, hampir setiap kajian-kajian agama penuh sesak, apalagi jika ustad atau ustadzahnya banyak punya followers di Instagram.jamaahnya pasti akan banyak pula.
Tentu saja ghiroh yang muncul ini sangat baik dan membahagiakan. Dan kini ialah tugas para 'ngelmu' yaitu agamawan dan ulama untuk membimbingnya ke jalan taqwa.  Sehingga sebuah kajian dapat benar-benar mengisi relung hati jamaahnya dengan kedamaian hati, bukan membawa pada kepentingan-kepentingan duniawi yang berunsur politik.
Semangat kajian tinggi yang dimiliki banyak milenials sekarang ini rupanya kadang juga berlainan dengan para santri. Lihat saja di pesantren saya, ketika ada jam ngaji selepas ashar para santri malah sibuk bersiap-siap pergi keluar pondok, entah ada yang untuk mencari makan atau urusan urusan lain. Memang mengaji sore ini tidak wajib tapi jika kalian berada di pesantren dan tidak ikut mengaji, maka siap-siap saja dapat ganjarannya. Mungkin itulah yang mengilhami para santri ini memilih pergi daripada kena ta'zir (hukuman), lha orang ngak wajib juga kok ngaji sore itu, begitulah pikirnya.
Dalam kondisi yang seperti ini saya pelajari bahwa seorang santri setidaknya telah memiliki identitasnya dalam beragama. Sehingga ia sudah tidak disibukan lagi dengan pencarian-pencarian identitas keagamaan. Bagi santri, beragama sudah masuk dalam sendi-sendi kehidupannya setiap hari dalam aktivitas apapun yang dikerjakannya. Benarlah jika Gus Dur menyebut “Pesantren sebagai Subkultur.” Bahwa pesantren tak hanya sebagai tempat belajar agama, namun pesantren juga sebagai pembentuk jati diri dan kebudayaan.
Kegiatan di dunia pesantren begitu padat, terlebih setelah dari ba’da maghrib sampai larut malam pun para santri masih diharuskan mengikuti jadwal ngaji, apalagi pagi sebelum subuh juga harus bangun untuk bersiap sholat subuh berjamaah. Sebagai mahasiswa juga di perguruan tinggi sekitar Jogja, saya yakin para santri ini sangat lelah jika mau dikata. Setelah beraktivitas seharian diluar, begitu pulang mereka tak bisa langsung merebahkan diri di kasur empuk, karena kegiatan-kegiatan di pesantren selalu menunggu.
Kesehariannya sudah full bruk belajar berbagai literatur klasik dan modern dari berbagai kitab, mulai dari kitab tauhid, fikih, ahlak, nahwu sharaf, balaghoh dll. Ini saja baru di pesantren yang tidak begitu ketat kegiatannya, karena diisi kaum-kaum mahasiswa, apalagi jika di pesantren yang khusus nyantri saja (Salaf) atau di sebuah boarding school yang menggabungkan sekolah umum dan pesantren. Dapat saya pastikan 24 jam full mereka tak lepas dari bela Islam, yaitu belajar (tholabul ilmi). 
***

Tulisan ini pernah dimuat dalam https://islami.co/author/umi-nurchayati/ dengan beberapa penyuntingan.

Wrote by Umi Nurchayati

Gambar : potret Ibu dan Anak masyarakat Suku Kokoda, Papua Barat.
dok: penulis

Banyak orang beranggapan bahwa penduduk asli Papua memeluk agama Kristen atau Khatolik, walaupun kedua kepercayaan tersebut adalah yang dominan dianut penduduk asli Papua tapi rupanya tak semua penduduk asli Papua menganut dua kepercayaan tersebut. Terdapat satu suku yang merupakan suku muslim asli Papua, mereka adalah suku Kokoda.  

Suku Kokoda menempati tiga wilayah di Provinsi Papua Barat yaitu di Kampung Warmon Kokoda dan Kampung Ruvei yang berada di Kabupaten Sorong dan pulau Siwatori yang berada di Kabupaten Sorong Selatan. Kabupaten Sorong sendiri  telah mengalami pemekaran sejak 2017 lalu, yaitu menjadi Kabupaten Sorong dan Kabupaten Sorong Selatan.

Penyebaran Islam di Papua dilakukan oleh utusan dari kerajaan Ternate dan Tidore yang merupakan dua kerajaan Islam di provinsi Maluku. Tak diketahui secara pasti kapan mereka mulai penyebarannya di tanah Papua. Namun diketahui bahwa sejak Islam masuk maka mengubah banyak tradisi suku Kokoda.

Suku Kokoda sendiri adalah suku yang memiliki rekam jejak sebagai penduduk yang nomaden, mereka terbiasa berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain ketika sumber daya alam disekitarnya habis. Namun kini sudah 7 tahun suku Kokoda mulai berbenah dan mempunyai daerah tempat tingal. Salah satu tempat yang baru dibuka bagi penduduk Kokoda adalah Kampung Warmon yang tertetak di SP2 kabupaten Sorong. Disini dihuni sekitar 150 kepala keluarga, namun karena suku Kokoda masih mempunyai jiwa berpindah-pindah tempat yaitu dari tempat tinggal suku kokoda yang satu ke yang lain maka menjadi sangat susah menebak rata-rata jumlah penduduk Kampung. Hal ini mengakibatkan pemerintah daerah kesulitan menentukan penduduk sipil di tempat tinggal mereka sehingga sampai 2017 lalu rata-rata dari mereka belum memunyai kartu jaminan baik jaminan kesehatan, jaminan sekolah dan lain-lain. Tetapi hal itu sudah berhasil ditangani Pemerintah daerah sejak akhir 2017 lalu. Kini suku kokoda mulai bangkit.

Jika anda pergi ke tempat suku Kokoda maka akan banyak dijumpai ibu-ibu yang berpakaian busana muslim seperti layaknya orang jawa. Ya ketika bepergian para wanita Kokoda terbiasa memakai jilbab, seperti ke pasar, kondangan, pergi ke kota dll. Tak ubahnya masyarakat islam di jawa, mereka juga mempunyai kekayaan budaya yang adiluhung apalagi suku kokoda merupakat masyarakat adat sehingga hukum adat merupakan yang paling dijunjung bagi masyarakat.

Seperti ketika warga suku kokoda menikah, mereka menikah secara adat. Urusan ke KUA biasanya tak segera diurus. Tetapi karena kehebatan dakwah Islam di jaman dahulu mereka kini melakukan ritual adat dibarengi dengan akad nikah. Selain dari proses perkawinan ada juga yang berubah dari prosesi ketika ada orang Kokoda yang meninggal dunia. Dahulu mayat orang kokoda yang meninggal akan diangkat ke atas pohon sagu (seperti oro-oro, masyarakat kokoda menyebutnya) kemudian dibakar. Kini sejak islam masuk mayat dikubur seperti pada umat muslim pada umumnya.

Tak hanya dari sisi budaya, dari kesehariannya, selain memiliki ketua adat, mereka juga memiliki seorang yang ditokohkan dalam hal agama yang dipanggil Bapak Haji. Bapak Haji biasanya bertindak sebagai imam shalat dll. Masyarakat kokoda tergolong religius jika dilihat dari nilai-nilai budaya, namun masih dibutuhkan sosialisasi secara berlanjut agar masyarakat kokoda lebih melek hukum nasional ditengah-tengah tantangan globalisasi. Masyaraat Kokoda dituntut untuk mempertahankan nilai-nilai budaya luhur tanpa tergerus arus globalisasi masif yang dapat merubah nilai-nilai kebudayaan dalam masyarakat adat
***
Tulisan ini pernah dimuat dalam Islami.co https://islami.co/suku-kokoda-dan-jejak-islam-di-tanah-papua/




Wrote by Umi Nurchayati
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Wikipedia

Hasil penelusuran

Halaman

  • Beranda
  • Motivasi
  • KOLOM
  • PUISI
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips & Trik
  • Who Am I

Jejak

  • ▼  2024 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
  • ►  2023 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2022 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2020 (11)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (13)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (18)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2015 (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2013 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Februari (1)

Instagram

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Popular Posts

  • PELAJARAN BERHARGA DARI SYRIA (SURIAH) UNTUK INDONESIA: MENJAGA PERSATUAN
    Gambar : Anak-anak dan perempuan menjadi korban konflik Suriah. dok: bbc.com Suriah (Syria) merupakan suatu negara yang terletak ...
  • Menyikapi Budaya Konsumtif Secara Bijak Dari Lagu Efek Rumah Kaca
    'Atas bujukan setan Hasrat yang dijebak zaman Kita belanja terus sampai mati' Mendengar bait lirik lagu Efek Rumah Kaca (ERK...
  • Rahasia Para Pendo’a
      Sejak kecil anak-anak selalu diajarkan berbagai macam doa, mulai dari doa bangun tidur, mau makan, selesai makan,masuk/keluar kamar mandi,...
  • REFLEKSI - Sejatinya Hidup
    Ilustrasi, In frame: umi nc, credit: kawan Untuk apa aku diciptakan? Mengapa aku diciptakan? Mengapa diri ini aku? Tiga b...
  • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
      dok. pribadi Judul: Crime and Punishment ; Penulis: Fyodor Dostoevsky ; Penerbit: Wordsworth Classics ; Penerjemah dalam B. Inggris: C...
  • seulas senyum di sunset merah Kokoda: Semangat 17an (Part 1)
    Gadis Kampung Warmon berdiri disamping bendera Merah Putih yang ia tancapkan di halaman rumah warga credit: umi Senin minggu ini a...
  • seulas senyum di sunset merah Kokoda: Mencari Bambu dan Pucuk Sagu di Hutan Papua
    Sudah lama sejak 28 Juni 2017 lalu, saya dan 25 teman lainnya yang tergabung dalam tim KKN UMY tinggal di Kampung Warmon ini, ya kami ...

Draft

  • coretan unc
  • Motivasi
  • Opini
  • Puisi
  • sebuah perjalanan
  • stories / notes
  • Tips & Trik

Mengenai Saya

Foto saya
Umi Nurchayati
Blog pribadi Umi Nurchayati @uminurchayatii | uminurchayatiii@gmail.com | "Dalam samudra luas, riak saja bukan"
Lihat profil lengkapku

Copyright © 2019 Bangun Pagi-pagi. Designed by OddThemes & Blogger Templates