• Beranda
  • Motivasi
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Opini
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Puisi
    • Langgam Cinta
    • Pertemuan Bahagia dan Sedih
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips - Trik
  • Who Am I

Bangun Pagi-pagi

Masjid Syaikhona Kholil Bangkalan
Masjid Syaikhona Kholil, Bangkalan, Madura
Dok: pribadi

Dewasa ini wisata religi atau biasa disebut rihlah semakin populer bersamaan dengan kesadaran keagamaan masyarakat. Salah satu objek wisata religi yang ramai dikunjungi adalah masjid. Selain untuk beribadah dan mengharap keberkahan dengan mengunjungi tempat-tempat suci, mengunjungi masjid adalah momen untuk menambah spirit keagamaan.

Melihat hal itu, kita menjadi perlu memahami etika ketika melakukan rihlah ke masjid-masjid. Karena Islam adalah agama yang menjunjung tinggi pentingnya akhlak, bahkan puncak dari kehidupan beragama adalah untuk menuntun pada akhlak yang mulia (akhlakul karimah).

Dalam kitab Maraqi al-‘’Ubudiyah, Imam an-Nawawi menjelaskan tentang adab masuk masjid yang perlu kita ingat. Antara lain, apabila hendak memasuki masjid, lepaskanlah sandal kiri terlebih dahulu, lalu letakkan kaki kirimu di atasnya, kemudian lepaskanlah sandal kananmu, dan dahulukan kaki kananmu untuk memasuki masjid.

Imam an-Nawawi juga memberikan keterangan bahwa setiap kali memasuki tempat yang mulia dan tempat yang tidak diketahui keadaannya maka perlu mendahulukan kaki kanan terlebih dahulu. Saat keluar dari satu masjid menuju masjid yang lain, dahulukan kaki kananmu. Apabila saat masuk dan keluar Ka’bah, dahulukan kaki kanan.

Lalu kita dianjurkan untuk membaca doa masuk masjid. Berikut bunyinya sebagaimana disebutkan oleh Imam an-Nawawi dalam Maraqi al-‘Ubudiyah

اللّهُمَّ صَلِ عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَصَحْبِهِ وَسَلِّم. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya beserta para sahabatnya. Ya Allah ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu.” (Lihat Syarah Maraqi al-‘Ubudiyah hal. 23 terbitan Darul Ilmi, Surabaya)

Selain itu, anjuran berdoa ketika hendak memasuki masjid telah diajarkan oleh para ulama. Banyak riwayat menyebutkan doa memasuki masjid ini, salah satunya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah dengan kualitas shahih, dalam bab doa saat masuk masjid;

 حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنْ لَيْثٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَسَنِ، عَنْ أُمِّهِ، عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَقُولُ: «بِسْمِ اللَّهِ، وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ» ، وَإِذَا خَرَجَ قَالَ: «بِسْمِ اللَّهِ، وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ»

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim dan Abu Muawiyah dari Laits dari Abdullah Ibnul Hasan dari Ibunya dari Fatimah binti Rasulullah saw., ia berkata: Jika Rasulullah saw. masuk ke dalam masjid, beliau mengucapkan, "Dengan menyebut nama Allah, dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosaku dan bukakanlah bagiku pintu rahmat-Mu." Dan jika keluar beliau mengucapkan, "Dengan menyebut nama Allah dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosaku dan bukakanlah bagiku pintu-pintu karunia-Mu)." (HR. Ibnu Majah)

Begitulah, ketika hendak masuk masjid, setelah mendahulukan kaki kanan, membaca doa masuk masjid dengan terlebih dahulu membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saw beserta keluarga dan para sahabat (seperti yang terangkum dalam redaksi yang ditulis Imam an-Nawawi dan dalam hadits di atas). Lalu ketika keluar dari masjid, kita berdoa dengan redaksi bunyi doa keluar masjid seperti di atas.

Dalam Maraqi al-‘Ubudiyah, Imam an-Nawawi al-Bantani menuliskan doa berikut:

اللّهُمَّ صَلِ عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَصَحْبِهِ وَسَلِّم اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ

“Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya beserta para sahabatnya. Ya Allah, ampunilah dosaku dan bukakanlah bagiku pintu-pintu karunia-Mu.” (Lihat Syarah Maraqi al-‘Ubudiyah hal. 23 terbitan Daarul Ilmi, Surabaya)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani memberikan penjelasan tentang hikmah penyebutan “rahmat” saat memasuki masjid, ialah karena masjid merupakan tempat rahmat Allah bagi hamba-hamba-Nya sesuai dengan ibadah mereka masing-masing. Sedangkan hikmah penyebutan “karunia” ketika keluar dari masjid yaitu agar Allah Swt membukakan pintu-pintu rezeki sehingga mereka tidak bergantung kepada manusia. Inilah berbagai karunia yang yang dilimpahkan Allah swt. kepada hamba-hamba-Nya, urai Imam an-Nawawi.

Semoga dengan pergi rihlah dari satu masjid ke masjid lainnya akan menambah keimanan kita. Tentu saja dengan tetap berakhlak baik ketika bepergian, yaitu dengan menjaga kebersihan tempat-tempat yang kita singgahi.

Wallahu a'lam


Tulisan ini pernah dimuat dalam http://sanadmedia.com/post/saran-imam-an-nawawi-untuk-penyuka-rihlah-masjid

Wrote by Umi Nurchayati

 

Tulisan ini sudah ditulis sejak 2019 lalu, namun mengingat kondisi saat ini di tengah iklim persatuan yang sedang diuji, krisis yang membayangi, dan berbagai keputusasaan yang kita alami di tengah pandemi. Penulis merasa perlu untuk menerbitkan kembali, secuplik cerita pengalaman penulis merayakan Hari Raya Idul Fitri di kampung halaman di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sebagai pengingat bahwa persatuan selalu saja menyisakan kebahagiaan untuk semuanya. Selamat membaca..

Hari Sabtu pada Idul Fitri setahun yang lalu, tepatnya hari Kamis (8/6) 2019 lalu, saya beserta rombongan keluarga bersilaturahim ke beberapa sanak saudara yang berada di Desa Carikan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Desa ini terkenal dengan masyarakatnya yang majemuk dan mempunyai keyakinan agama yang berbeda-beda. Rombongan kami adalah saya, Bapak, Adek dan dua sepupu saya yang masih kecil-kecil sekitar 5 dan 7 tahun.

Sekitar pukul 13.00 WIB selepas dhuhur, saya dan rombongan melanjutkan perjalanan dari Desa Kluwung menuju Desa Carikan di kecamatan Jumo. Kami tiba di rumah pertama yang dituju. Sebenarnya saya memang baru pertama kali kesini, biasanya memang hanya Bapak, Ibu, atau Paman, mengingat sudah keturunan keberapa dari kakak beradik Mbah putri.

Kami sempat makan, dan kedua sepupu saya main di kandang kambing. Maklum saja anak-anak memang senang dengan binatang. Kami melanjutkan ke rumah yang lain. Sebelumnya Ibu memang sudah banyak bercerita jika Mbah putri punya banyak saudara dari berbagai latar belakang, namun perbedaan seperti agama yang dipeluk tidak menjadi penghambat silaturahmi. Setiap kali ada acara di tampat kami, mereka (saudara Mbah putri) selalu turut datang, idul fitri pun juga turut sowan ke Mbah putri.

Tatapi memang baru pertama kali ini aku singgah di Budhe yang merupakan seorang Budha yang taat. Kami disambut sangat ramah dan sudah ditunggu-tunggu. Aku membatin:

“Ohh jadi disini to yang paman ngambil kitab Budha itu”

Sewaktu kecil aku memang pernah menemukan kitab Budha berbahasa Indonesia di rumah Mbah putri, aku pun sempat membacanya, rupanya yang membawa kitab tersebut adalah paman saya. Bukan karena ingin berpindah kepercayaan atau apa, sebagai seorang pemuda waktu itu cukup dimaklumi jika paman mempunyai rasa penasaran yang begitu besar. Begitupun denganku waktu itu.

Kami tetap melakukan sungkeman dan dua sepupu saya asyik makan permen. Setelah minum, makan dan banyak bercerita menjalin kembali silaturahim, kami pun bersiap pamit. Namun sebelum pamit sepupu saya kembali membuat tingkah. Mereka sibuk berebutan permen warna ungu yang akhirnya justru permen di toples kembali dituang dengan yg baru oleh pemilik rumah. Dua sepupu saya itu kegirangan dan mengisi kantong kantong celana mereka dengan banyak permen, sampai dibantu mengisinya juga oleh Budhe sampai penuh permen di kedua kantongnya.

Kami melanjutkan singgah ke rumah yang lain dengan berjalan kaki. Saya menyadari bahwa rupanya banyak juga Wihara di tempat ini. Nampaknya penganut Budha cukup banyak di Desa Carikan. Banyak Masjid dan Wihara berdiri berdampingan memperlihatkan harmoni kerukunan antara pemeluknya.

Akhirnya kami sampai di rumah tujuan,  rumah kedua ini kembali menjadi target serbuan dua sepupu saya karena punya banyak coklat. Dan kami kembali pamitan dengan mengantongi banyak coklat. Hingga sepulang dari rumah yang terakhir saya baru tahu dari Bapak kalau pemilik tumah yg terakhir justru seorang kristen yang taat.Sebelumnya kami diantar oleh Budhe saya yg dari rumah pertama, namanya Budhe Sukri. Beliau pun kini adalah seorang muslim karena menikah dengan laki-laki muslim.

Banyak sekali yang saya dapatkan dari silaturahim kali ini. Terlihat betapa naturalnya Bapak mengajari kami tentang arti toleransi sejak kecil. Obrolan tetap terasa nikmat apalagi dengan sambutan pemilik rumah yang sudah ikut merayakan segala atribut-atribut Idulfitri, dari anak-anaknya yang turut mudik sampai segala macam makanan khas lebaran pun turut mereka masak. Walaupun tak ikut merayakan tapi bagi kami kedua Budhe saya ini seperti benar-benar berniat untuk menyambut keluarganya yang muslim.

Toh walaupun paman saya pernah membaca kitab Budha itu dia tetap menjadi seorang Santri dan sholat 5 waktu. Rupanya memang yang namanya ‘Akidah’ tak akan luntur hanya karena membaca kitab agama lain apalagi hanya karena ikut menjaga gereja ketika Natal. Akidah adalah sesuatu yang Kokoh dari dalam jiwa, hati, fikir dan perbuatan.

“Maka sesungguhnya ia telah brpegang kepada bubul tali yang kokoh” (Q.S. 31:22).

Syaikh Abdul Qadir al Jaelani mengatakan bahwa seorang pengesa memiliki kekuatan tauhid. Tidak ada lagi baginya yang disebut ayah, ibu, keluarga, teman, musuh, kekayaan, jabatan atau ketenangan bersama apapun, melainkan hanya ketergantungan di pintu Allah azza wa jalla dan anugerah-anugerah-Nya.

Wrote by Umi Nurchayati

Sudah lama sejak 28 Juni 2017 lalu, saya dan 25 teman lainnya yang tergabung dalam tim KKN UMY tinggal di Kampung Warmon ini, ya kami diterjunkan di Kampung Warmon, Distrik Mayamuk, Kabupaten Sorong, Papua Barat yang dihuni oleh Suku Kokoda, yaitu salah satu suku muslim asli Papua. Konon penyebarannya ialah melalui kerajaan Tidore di Maluku Selatan. Selain itu Suku Kokoda juga menempati daerah lain yaitu Pulau Siwatori yang berada di Kabupaten Sorong Selatan dan Ruvei yang berada di dekat Bandara Sorong.
Sudah sebulan lamanya aku menyaksikan orang-orang Warmon setiap hari pulang pergi ke hutan, mulai dari anak anak sampai Bapak-bapak dan Mama-mama. Baru setiba di posko belakang dan ngecharge baterai kamera, terdengar teriakan suara Citra, salah satu teman setimku,
“umiii.. ayoo ikut ke hutan”
“kapan cik”
“ayoo sekarang, cepetan banyak ni yg berangkat”
Awalnya enggan sekali diajak ke hutan tapi akhirnya aku ikut juga. Berangkatlah kami bertujuh dan rombongan warga kampung. Ada Alfian, Rani, Bapak Samir ketua RT.02 dan anaknya yaitu Faryal, dkk. Rawa depan rumah langsung kami susuri, belum ada jalan yang terbentuk memang, hanya semak belukar sepanjang pandangan kami. Namum kami terabas saja dan membuat lintasan baru yang akan merusak sedikit semak-semak tersebut dan membentuk jalanan baru. Untung saja kami memakai sepatu boot, kalau tidak berdarah-darah sudah kaki kami ini, banyak sekali ranting-ranting dan dahan-dahan atau apapun, yah.. namanya juga semak belukar. Tapi jangan ditanya anak-anak kecil Kokoda ini, mereka tetap piawai berjalan bahkan lari tanpa alas kaki, padahal ini rawa loh, semak belukar. Hebat kan mereka, anak-anak yang tangguh.
Setelah menyeberangi rawa tibalah kami di jalan yang luas, sepertinya jalan yang baru dibuka. Permukaan tanahnya rata dengan adanya batu-batu kecil dan pasir, lebar jalannya seluas 3 meter, kalau panjangnya ahh.. jangan ditanya, sejauh mata memandang ini hanya terlihat jalanan di tengah pepohonan dan rawa.

Gambar 1: Jalanan panjang yang dilewati rombongan untuk menuju hutan di daerah Disrik Mayamuk, Papua Barat.
Dok: penulis

Matahari sangat terik, situasi masih menunjukan waktu pagi sekitar pukul 10.00 WIT. Pemandangan di jalan ini sungguh indah, adanya tikungan di tengah-tengah rimbuan pohon terlihat begitu elok, tak lupa aku dan Cicik, panggilan akrab Citra sempatkan berfoto, anak-anak Kokoda juga ikutan. Seperti biasa anak Kokoda memang selalu unjuk kebolehan ketika ada kamera, mereka langsung atraksi saoto di air kaca sembari rombongan kami rehat sejenak.

“kakak.. kakakk”
Begitulang mereka memanggil minta difoto, kubidik moment saoto mereka. Byurr.. mereka menyebur dan tertawa. Bahagia memang sederhana, satu hal yang dapat dipelajari dari anak-anak ini ialah dimanapun tempatnya mereka selalu bisa menemukan sisi nyaman, enjoy saja. Setelah istirahat akhirnya kami mulai berjalan lagi setelah Alfiyan dan Faryal mewarnai rambut Ginggi dengan bunga yang menimbulkan warna merah dan kuning jika dikibaskan ke rambut.


Gambar 2: Faryal memulai atraksi saoto di rawa yang berada di pinggir jalan menuju hutan
Dok: penulis

Jalan masih panjang tapi rasanya aku tak terasa lelah, adanya justru semangat untuk cepat masuk hutan. Sudah terbayang dalam pikiranku jika hutan-hutan itu akan seperti hutan hijau yang banyak semak dan tumbuhan liar layaknya yang sering kita lihat di tivi (televisi). Waahhh seru ini pasti, pikirku. Akhirnya rombongan yang terdiri dari Bapak Samir, Kahfi, Fathur, Bagas, Ginggi, Ade, Nafis, Eko, Citra, Rani, Alfiyan, Faryal, aku, dan beberapa anak kecil Kokoda yang saya lupa namanya kerena terlalu banyak anak seumuran mereka di kampung mulai masuk kawasan hutan. Dari luarnya memang terlihat seperti kebun tapi rupanya ini hutan. Bisa dilihat pohonnya yang menjulang tinggi-tinggi, semakin ke dalam semakin banyak medan yang menantang. Mulanya kami di sambut lumpur berwarna cokelat seperti tanah liat yang diairi, kemudian semakin kami jalan lumpur-lumpurnya pun seperti ingin menelan kaki, harus memilih pijakan yang tepat agar tak tersedot lumpur. Bapak Samir berjalan di paling depan mengarahkan kami, kemudian diurutkan dengan Faryal, Alfiyan, Rani dan kami. Aku dan Citra berada di paling belakang. 

Gambar 3: Lumpur dalam hutan yang menghisap kaki.
Dok: penulis
Perjalaan penuh liku untuk masuk hutan, seingatku Ade dan Eko menggunakan parangnya untuk membuka jalan, memotong ranting-ranting liar. Baru yang belakang mengikuti jalan yang sudah dibukanya. Setelah satu jam kami terus melewati semak-semak nan berlumpur, akhirnya rombongan menemukan pucuk sagu atau pohon sagu. Langsung saja penebangan dimulai. Bapak Samir, Kahfi, Fathur, Bagas, Ginggi, Ade, Nafis dan Eko ikut merobohkan pohon sagu. Sekitar setengah jam pohon sagu roboh..
“brukk....”

Kami pun berhasil mendapatkan pucuk sagu atau dalam bahasa Kokoda di sebut Kani, rasa pucuk sagu ini manis dan hampar. Rasanya memang sedikit aneh bagi lidah penyuka rasa pedas dan manis seperti saya ini, tapi yakinlah rasanya benar benar alami. 

Gambar 4: Kahfi bersama dua orang anak Kokoda berpose dengan membawa Kani (pucuk sagu) yang berhasil didapatkan.
Dok: penulis

“wuuuu...woooo”
            Menggayungkan tangannya, Alfiyan mengajari kami cara mengusir nyamuk di hutan. Tak habis pikir memang jika ternyata di hutan ini aja nyamuk barangkali berada, menjadi derita bagi teman-teman saya yang memakai baju lengan pendek. Dengan menyalakan api menggunakan daun-daunan dan ranting-ranting bak anak pramuka, akhirnya asap dari kepulan api itu bisa mengusir nyamuk, walau tak begitu luas menjangkau. Asyik sekali memang mengusir nyamuk sambil beryel yel dan menggerakkan tangan.
“wuuuu.. wooooo... wouuuuuw".
Ohh ya, rencananya rombongan kami juga akan mencari bambu untuk dibuat topeni dan sisir, begitu kata Bapak Samir pemimpin rombongan kali ini. Rupanya tadi anak-anak putra dan Bapak Samir sudah menebang bambu sembari aku, Citra, Alfiyan, dan Faryal asik makan kani. 

Gambar 5: Bapak Samri yang memimpin rombongan perjalanan ke hutan kali ini.
dok: penulis

Akhirnya dalam perjalanan pulang kami membawa bambu, mereka berjalan dengan menggendong bambu di pundaknya. Teman saya Eko tak luput menyia-nyiakan kesempatan itu untuk diambil video. Masih menapaki jalan berlumpur itu, kami pun pulang.
Bahagia sekali rasanya perjalanan ke hutan untuk pertama kali ini, tak hanya tentang melewati rintangan, tak hanya tentang berjalan kaki berkilo kilo meter, tapi tentang bagaimana mensyukuri tanah Papua dan menikmati apa-apa yang ada di depanmu. Kami belajar semua itu dari penduduk Kampung Warmon, adanya sagu, nikmati sagu. adanya lumpur, nikmati saja lumpur itu sampai membuatmu nyaman. Begitulah tanah Papua tanah yang kaya. Surga kecil jatuh ke bumi, begitulah kata Edi Kondologit dalam lirik lagunya.


Wrote by Umi Nurchayati

Gambar : potret Ibu dan Anak masyarakat Suku Kokoda, Papua Barat.
dok: penulis

Banyak orang beranggapan bahwa penduduk asli Papua memeluk agama Kristen atau Khatolik, walaupun kedua kepercayaan tersebut adalah yang dominan dianut penduduk asli Papua tapi rupanya tak semua penduduk asli Papua menganut dua kepercayaan tersebut. Terdapat satu suku yang merupakan suku muslim asli Papua, mereka adalah suku Kokoda.  

Suku Kokoda menempati tiga wilayah di Provinsi Papua Barat yaitu di Kampung Warmon Kokoda dan Kampung Ruvei yang berada di Kabupaten Sorong dan pulau Siwatori yang berada di Kabupaten Sorong Selatan. Kabupaten Sorong sendiri  telah mengalami pemekaran sejak 2017 lalu, yaitu menjadi Kabupaten Sorong dan Kabupaten Sorong Selatan.

Penyebaran Islam di Papua dilakukan oleh utusan dari kerajaan Ternate dan Tidore yang merupakan dua kerajaan Islam di provinsi Maluku. Tak diketahui secara pasti kapan mereka mulai penyebarannya di tanah Papua. Namun diketahui bahwa sejak Islam masuk maka mengubah banyak tradisi suku Kokoda.

Suku Kokoda sendiri adalah suku yang memiliki rekam jejak sebagai penduduk yang nomaden, mereka terbiasa berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain ketika sumber daya alam disekitarnya habis. Namun kini sudah 7 tahun suku Kokoda mulai berbenah dan mempunyai daerah tempat tingal. Salah satu tempat yang baru dibuka bagi penduduk Kokoda adalah Kampung Warmon yang tertetak di SP2 kabupaten Sorong. Disini dihuni sekitar 150 kepala keluarga, namun karena suku Kokoda masih mempunyai jiwa berpindah-pindah tempat yaitu dari tempat tinggal suku kokoda yang satu ke yang lain maka menjadi sangat susah menebak rata-rata jumlah penduduk Kampung. Hal ini mengakibatkan pemerintah daerah kesulitan menentukan penduduk sipil di tempat tinggal mereka sehingga sampai 2017 lalu rata-rata dari mereka belum memunyai kartu jaminan baik jaminan kesehatan, jaminan sekolah dan lain-lain. Tetapi hal itu sudah berhasil ditangani Pemerintah daerah sejak akhir 2017 lalu. Kini suku kokoda mulai bangkit.

Jika anda pergi ke tempat suku Kokoda maka akan banyak dijumpai ibu-ibu yang berpakaian busana muslim seperti layaknya orang jawa. Ya ketika bepergian para wanita Kokoda terbiasa memakai jilbab, seperti ke pasar, kondangan, pergi ke kota dll. Tak ubahnya masyarakat islam di jawa, mereka juga mempunyai kekayaan budaya yang adiluhung apalagi suku kokoda merupakat masyarakat adat sehingga hukum adat merupakan yang paling dijunjung bagi masyarakat.

Seperti ketika warga suku kokoda menikah, mereka menikah secara adat. Urusan ke KUA biasanya tak segera diurus. Tetapi karena kehebatan dakwah Islam di jaman dahulu mereka kini melakukan ritual adat dibarengi dengan akad nikah. Selain dari proses perkawinan ada juga yang berubah dari prosesi ketika ada orang Kokoda yang meninggal dunia. Dahulu mayat orang kokoda yang meninggal akan diangkat ke atas pohon sagu (seperti oro-oro, masyarakat kokoda menyebutnya) kemudian dibakar. Kini sejak islam masuk mayat dikubur seperti pada umat muslim pada umumnya.

Tak hanya dari sisi budaya, dari kesehariannya, selain memiliki ketua adat, mereka juga memiliki seorang yang ditokohkan dalam hal agama yang dipanggil Bapak Haji. Bapak Haji biasanya bertindak sebagai imam shalat dll. Masyarakat kokoda tergolong religius jika dilihat dari nilai-nilai budaya, namun masih dibutuhkan sosialisasi secara berlanjut agar masyarakat kokoda lebih melek hukum nasional ditengah-tengah tantangan globalisasi. Masyaraat Kokoda dituntut untuk mempertahankan nilai-nilai budaya luhur tanpa tergerus arus globalisasi masif yang dapat merubah nilai-nilai kebudayaan dalam masyarakat adat
***
Tulisan ini pernah dimuat dalam Islami.co https://islami.co/suku-kokoda-dan-jejak-islam-di-tanah-papua/




Wrote by Umi Nurchayati
dok: pribadi

Hari kemerdekaan Indonesia, hari dimana seluruh warga negara Indonesia memperingati hari kemerdekaannya, hari kebebasannya dari penjajahan beratus-ratus tahun. Tentu Hari Kemerdekaan RI atau sering disebut Dirgahayu RI menjadi sebuah hari yang fenomenal dan memorial bagi warganya, Upacara peringatan rutin diadakan setiap tanggl 17 Agustus.

Dahulu orang menangis "mrebes mili" ketika merayakan upacara bendera, penuh penghayatan mengingat perjuangan para pendahulu, mengingat banyaknya darah yang telah ditumpahkan, dan mengingat konflik kemerdekaan yang pilu.

Hari ini masih sama, seluruh warga negara ini masih melakukan upacara bendera, bahkan kini peringatan semakin kencang. Banyak lomba diadakan sampai banyak pula hadiah ditawarkan untuk peringatannya. sungguh semua itu hanyalah simbolisme dari sebuah perayaan. simbolisme yang dahulu agung sekarang bagai barang untuk mengencangkan sabuk penjualan.setidaknya masih ada perayaan, berarti masih dikenang, masih lebih baik daripada tak ada.
***

Kini saya hanya ingin memperingati hari kemerdekaan dimanapun, asal bermanfaat asal bermakna. Seperti peringatan kemerdekaan RI setahun yang lalu, saya dan teman-teman KKN memperingatinya di Timur Indonesia, di tempat pengabdian kami yaitu Kampung Suku Kokoda, Papua Barat.

Sebenarnya peringatannya cukup sederhana, diadakan banyak perlombaan dari makan kerupuk, renang, sepak bola sampai panjat pinang. Biasa saja, renangnya air bajir dari sungai yang menguap akibat hujan deras, sepak bola dengan memakai sarung di tanah berlumpur nan becek, sampai panjat pinang setelah hujan reda. Waktu itu memang sedang musim hujan, sekali hujan bisa berakibat banjir sampai selutut lebih. Tapi hujan memang bukanlah alasan untuk bermalas-malas. seperti itulah yang saya pelajari dari cara hidup masyarakatnya, buktinya ketika sungai menguap justru dijadikan tempat lomba renang, ketika lapangan becek dijadika lomba sepak bola. Alam memang anugerah terbaik ketika kita mau menerima. Semua yang dikehendaki alam dan kita ikuti justru menambah kenikmatan, segala perlombaan menjadi lebih berarti.

Semangat warga benar-benar di pompa, bergotong royong bahu membahu menyiapkan semua perlombaan. Tak peduli hujan tak peduli becek tak peduli banjir. semua terasa syahdu, melihat warga bersorak, sedikit mengacak-acak hati saya. membuat saya sadar bahwa Indonesia begitu agung di mata masyarakatnya, dari ujung Barat sampai ujung Timur. Hanya warga picik dan sakit yang tak bersyukur hidup di negara yang makmur, aman, tentran dan tak ada perang.

Jika ditanya dimana saya ingin menghabiskan perayaan hari kemerdekaan, tentu saja jawabannya adalah di tempat yang sama seperti setahun yang lalu. Rasa ingin kembali di tengah-tengah warganya selalu hadir,  dengan semangat 17, dengan persabahatan alamnya dan dengan keceriaan di segala kondisi. Tapi  waktu memang tak bisa diulang. Setidaknya kepergian saya setahun lalu membuat saya sadar bahwa bukan dimana tempat kita memperingati hari kemerdekaan, tapi dimana nurani hadir dan menjadi makna untuk bersama membangun tanah air tercinta.

NB: Sedikit dan beberapa kata dalam tulisan ini pernah saya sematkan pada komentar video give away
Wrote by Umi Nurchayati


Gadis Kampung Warmon berdiri disamping bendera Merah Putih yang ia tancapkan di halaman rumah warga
credit: umi
Senin minggu ini adalah hari pertama diadakannya lomba 17an. Serangkaian acara sudah disusun, segala persiapan ditempuh. Dengan tema “Merajut Mimpi Dalam KeBhinnekaan” yang tiba-tiba terceletuk dari mulut seorang teman saya, sebut saja Kahfi. Ditengah rapat sebelum hari itu, yang diadakan mini panitia 17-an, semua anak bingung menentukan kapan perlombaan-perlombaan yang sudah disusun dan dibuat list itu akan diadakan. Terang saja, iklim saat itu memang tak menentu, hujan terus mengguyur tak peduli pagi, siang dan malam. Membuat jalan becek bahkan sampai banjir. Banjir di Warmon Kokoda tak bisa dianggap remeh karena sungai akan meluap dan berakhir banjir. Ketidakadaan daerah resapanlah yang membuatnya menjadi rawan banjir. Suasana malam itu hening di tengah rapat karena semua sibuk memikirkan tema yang akan diusung dalam serangkaian acara memeriahkan HUT RI yang ke 72 tahun tersebut. Sebuah suara memecahkan keheningan kala itu
“merajut mimpi dalam ke-Bhinnekaan”
Sontak saja langsung dibanjiri sedikit olokan dari teman-teman tapi tetap dipertimbangkan.
“mungkin bisa diterangkan maksud merajut mimpi dalam kebhinnekaan itu saudara Kahfi” timpal Ade yang merupakan ketua panitia 17 Agustus.
Dengan segala pertimbangan dan dukungan dari beberapa anggota lain akhirnya tema yang terceletuk dari sebuah ketidaksengajaan tersebut diputuskan menjadi tema  acara dan suasana kembali mencair penuh canda.
Banner Prayaan Hari Kemerdekaan RI yang dipasang di Kampung Makbusun
credit: MBN 

***

12 Agustus 2017
            Sunrise yang indah dan banjir menyambut pagi kami, entah berapa kubik air yang jatuh di Kokoda dalam semalaman itu. Baru malamnya saya dan beberapa anak lain pulang dari tempat Budhe berjalan kaki melewati tanah pecek seperti biasa, paginya sudah banjir setinggi lutut laki-laki dewasa. Dalam rumah yang tak lebih luas dari 30 m2 itu kami terkungkung menunggu air surut, juga menunggu sarapan yang tak kunjung masak.
            Memasak di Kokoda memang tak mudah, perlu sedikit peluih untuk sekedar membuat sarapan. Ketiadaan air bersih memaksa beberapa laki-laki yang piket[1] di hari itu mencari air bersih untuk sekedar mencuci sayur dan beras, sementara untuk memasak kami masih mengandalkan air galon yang dibeli di warung Bu Sur di kampung transmigran depan yang rumayan jauh, dan air hujan yang turunnya tak menentu.
            Akhirnya sarapan pagi itu yang menjelang siang lebih tepatnya masak, sayur kangkung seperti biasa menghiasi ruang tamu, ditambah tempe goreng yang cukup untuk lauk pagi itu. Sudah bagus sarapan pagi itu jadi sekitar pukul 10.00 WIT di tengah banjir seperti ini. Ohh.. iya walaupun tak ada air galon karena keterhambatan akses rupanya air hujan justru melimpah.  Air hujanlah sumber kehidupan pagi itu di rumah paling ujung yang dijadikan posko ke dua kami, sementara posko pertama dihuni oleh laki-laki yang berada agak didepan rumah posko dua yang dihuni perempuan dan beberapa laki-laki.
            Selang beberapa jam sampai menjelang siag rupanya air tak kunjung surut, tentu saja kami tak bisa tinggal diam terus di rumah seperti ini. Banjir pun akhirnya diterobos, tak peduli seberapa tinggi itu. Tapi rupanya kami masih kalah kreatif dengan masyarakat, mereka menggunakan kapal kecil (kano) untuk pergi ke warung Mercy membeli pisang goreng. Sepatu boot yang biasa digunakan rupanya tak cukup melindungi kaki, jadi lebih baik memakai sandal atau “nyeker” tak memakai alas ditengah banjir setinggi lutut seperti ini. Sejak saat itu banjir dan pecek sudah bukan halangan.
            “medkom tolong ada yang ke depan, itu ada lomba renang”
Rupanya banjir telah dimanfaatkan warga untuk mengadakan perlombbaan yaitu lomba renang, Bapak Desa lah yang telah menginisiasi warganya untuk lomba renang saja sekaligus menyambut hari kemerdekaan yang tinggal menghitung hari.

Keriuhan lomba renang di sungai Kampung Warmon
credit: video amatir format Instastory

            Aku langsung bergegas pergi ke depan tepatnya di dekat jembatan yang merupakan jembatan penyeberangan diatas suangai Warmon (kali Warmon). Sepatu boot berhasil kupakai karena air sudah sedikit surut. Ku tenteng Camera Canon Miroless, dengan langkah gontai langsung ku jebret sana sini. Beberapa momen menarik berhasil kudapatkan.
            “itu sudah.., benderanya disana,”
            “mantap sekali”
Komentar mama-mama dan remaja-remaja putri Warmon menambah kemeriahan perlombaan itu. tak hanya pandai berkomentar mereka juga turut menyemangati peserta sambil sesekali ikut merasakan cipratan Kali Warmon yang banjir itu. Bapak Desa yang mencatat para pemenang dengan dibantu Bapak Jalal, ketua RT.02 dan Sihe, salahsatu teman PPM kami.
Tak perlu banyak kata karena semangat 17 sangat terlihat, perebutan bendera merah putih yang ditancapkan di ujung kali Warmon begitu meriah, semua peserta menginginkannya. Berenang sekencang-kencangnya secepat-cepatnya menjadi satu-satunya pilihan untuk mendapatkan merah putih itu.
Klik Vlog Lomba Renang _ KKN-PPM MBN UMY Kokoda 2017
***




[1] (piket); bagian memasak, membersihkan rumah dll, giliran

Wrote by Umi Nurchayati
Postingan Lama Beranda

Wikipedia

Hasil penelusuran

Halaman

  • Beranda
  • Motivasi
  • KOLOM
  • PUISI
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips & Trik
  • Who Am I

Jejak

  • ▼  2024 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
  • ►  2023 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2022 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2020 (11)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (13)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (18)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2015 (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2013 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Februari (1)

Instagram

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Popular Posts

  • PELAJARAN BERHARGA DARI SYRIA (SURIAH) UNTUK INDONESIA: MENJAGA PERSATUAN
    Gambar : Anak-anak dan perempuan menjadi korban konflik Suriah. dok: bbc.com Suriah (Syria) merupakan suatu negara yang terletak ...
  • Menyikapi Budaya Konsumtif Secara Bijak Dari Lagu Efek Rumah Kaca
    'Atas bujukan setan Hasrat yang dijebak zaman Kita belanja terus sampai mati' Mendengar bait lirik lagu Efek Rumah Kaca (ERK...
  • Rahasia Para Pendo’a
      Sejak kecil anak-anak selalu diajarkan berbagai macam doa, mulai dari doa bangun tidur, mau makan, selesai makan,masuk/keluar kamar mandi,...
  • REFLEKSI - Sejatinya Hidup
    Ilustrasi, In frame: umi nc, credit: kawan Untuk apa aku diciptakan? Mengapa aku diciptakan? Mengapa diri ini aku? Tiga b...
  • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
      dok. pribadi Judul: Crime and Punishment ; Penulis: Fyodor Dostoevsky ; Penerbit: Wordsworth Classics ; Penerjemah dalam B. Inggris: C...
  • seulas senyum di sunset merah Kokoda: Semangat 17an (Part 1)
    Gadis Kampung Warmon berdiri disamping bendera Merah Putih yang ia tancapkan di halaman rumah warga credit: umi Senin minggu ini a...
  • seulas senyum di sunset merah Kokoda: Mencari Bambu dan Pucuk Sagu di Hutan Papua
    Sudah lama sejak 28 Juni 2017 lalu, saya dan 25 teman lainnya yang tergabung dalam tim KKN UMY tinggal di Kampung Warmon ini, ya kami ...

Draft

  • coretan unc
  • Motivasi
  • Opini
  • Puisi
  • sebuah perjalanan
  • stories / notes
  • Tips & Trik

Mengenai Saya

Foto saya
Umi Nurchayati
Blog pribadi Umi Nurchayati @uminurchayatii | uminurchayatiii@gmail.com | "Dalam samudra luas, riak saja bukan"
Lihat profil lengkapku

Copyright © 2019 Bangun Pagi-pagi. Designed by OddThemes & Blogger Templates