• Beranda
  • Motivasi
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Opini
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Puisi
    • Langgam Cinta
    • Pertemuan Bahagia dan Sedih
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips - Trik
  • Who Am I

Bangun Pagi-pagi

Saya beruntung sekali di bulan Ramadhan tahun ini, beberapa bulan yang lalu saya dapat mewawancarai seorang Ustadz yang sudah cukup lama melintang di Indonesia. Beliau adalah seorang Qari, pelantun bacaan al-Qur'an lulusan dari Universitas Ummul Qura Makkah.

Setelah selesai wawancara kami pun berdiskusi cukup banyak, kebetulan beliau sudah cukup lama tinggal di Indonesia jadi sudah cukup lancar berbahasa Indonesia. Walaupun aslinya berasal dari Madura namun beliau lahir dan besar di Makkah sehingga tidak menguasai bahasa Indonesia.

 Namun, semakin hari beliau merasa semakin harus bisa berbicara bahasa Indonesia lantaran diminta juga untuk berceramah. Awalnya beliau rutin menjadi imam dari masjid ke masjid, hampir seluruh penjuru Nusantara pernah beliau datangi.

 "Di semua tempat itu pasti ada ilmu, menghadapi masyarakat yang berbeda-beda dari jamaah itu membuat saya belajar banyak. Saya itu jarang bisa tidur di kamar, kebanyakan di jalan karena harus kesana-sini," ungkap beliau bercerita tentang perjalanan dakwahnya keliling Nusantara.

 Akhirnya saya bertanya bagaimana pendapatnya tentang dunia dakwah dan syiar islam di Indonesia. Beliau pun mulai bercerita yang sungguh saya dibuat kaget,

 "Saya tidak tahu ya, tapi masyarakat itu kan memang berbeda-beda. Kadang saya di suatu daerah yang masyarakatnya terbuka dan mau menerima perbedaan, tapi ada juga jamaah yang agak susah menerima perbedaan dalam memahami agama," lanjut beliau sambil mencontohkan para Sahabat Nabi dan ulama-ulama yang berbeda-beda pendapat.

Kemudian beliau pun mengungkapkan isi hatinya, bahwa anehnya di Indonesia adalah ketika ada pandangan yang berbeda tidak ditanyakan dulu ke orang yang tahu tapi justru langsung membuat pendapat sendiri. Menurut beliau ini sangat meresahkan, apalagi banyak sekali di Indonesia seorang yang dipanggil ustadz namun tidak jelas kapan belajar agamanya.

"Kalau di sana (Makkah) kita itu tidak bisa langsung kasih ceramah, yang boleh itu hanya syaikh yang bergelar profesor, doktor, dll, ada sertifikasinya. Tapi disini saya rasa aneh sekali, belajar agama tidak jelas dari mana sudah berceramah saja. Tapi saya belajar banyak dari ini," ungkap beliau yang juga sedang melanjutkan pendidikan studi Masternya.

Beliau pun mengungkapkan bahwa dalam belajar bahasa Indonesia lebih sering dengan mendengarkan ceramah dai-dai Indonesia, sekaligus untuk mengetahui model, retorika, dan gaya penyampaian seperti apa yang disukai masyarakat Indonesia. Video ceramah Ustadz Abdul Somad dan Gus Baha pun menemani aktivitas beliau setiap harinya.

Terakhir sebelum beliau hendak melanjutkan perjalanan syiarnya perjalanan menuju Provinsi Aceh, saya masih sempat bertanya mengenai cara memastikan seorang ustadz yang kita dengarkan itu layak dijadikan guru belajar keislaman. Beliau menjawab bahwa yang paling mudah adalah melihat dari karya tulisnya, "Guru-guru kita syaikh-syaikh kita itu menuliskan ilmunya dengan metode ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan, coba ustadz Abdul Somad menulis, Gus Baha menulis, semuanya menulis, ulama-ulama dulu dan para Sahabat Nabi juga menulis, tapi kalau karya tulisnya juga tidak ada, langsung ngasih pendapat itu halal ini haram itu perlu dipertanyakan," tutupnya.

Menurut beliau seorang yang dapat menuliskan ilmunya, maka ia paham dengan yang disampaikannya dan mempunyai metode berpikir. Alhamdulillah, banyak sekali pelajaran dari obrolan dengan beliau yang akrab dipanggil Syaikh Abdul Basith atau Ustadz Basith.

 

Wrote by Umi Nurchayati
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Wikipedia

Hasil penelusuran

Halaman

  • Beranda
  • Motivasi
  • KOLOM
  • PUISI
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips & Trik
  • Who Am I

Jejak

  • ►  2024 (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2023 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2022 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2021 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ▼  Juli (1)
      • Ustadz dari Ummul Qura Kaget Berdakwah di Indonesia
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2020 (11)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (13)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (18)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2015 (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2013 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Februari (1)

Instagram

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Popular Posts

  • PELAJARAN BERHARGA DARI SYRIA (SURIAH) UNTUK INDONESIA: MENJAGA PERSATUAN
    Gambar : Anak-anak dan perempuan menjadi korban konflik Suriah. dok: bbc.com Suriah (Syria) merupakan suatu negara yang terletak ...
  • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
      dok. pribadi Judul: Crime and Punishment ; Penulis: Fyodor Dostoevsky ; Penerbit: Wordsworth Classics ; Penerjemah dalam B. Inggris: C...
  • Keistimewaan Masjid Al-Aqsha
      Masjid Al-Aqsa adalah masjid kedua yang diletakkan Allah Swt di Bumi, Masjid Al Aqsa sangat istimewa dan menjadi kebanggaan umat muslim d...
  • seulas senyum di sunset merah Kokoda: Semangat 17an (Part 1)
    Gadis Kampung Warmon berdiri disamping bendera Merah Putih yang ia tancapkan di halaman rumah warga credit: umi Senin minggu ini a...
  • REFLEKSI - Sejatinya Hidup
    Ilustrasi, In frame: umi nc, credit: kawan Untuk apa aku diciptakan? Mengapa aku diciptakan? Mengapa diri ini aku? Tiga b...
  • seulas senyum di sunset merah Kokoda: Mencari Bambu dan Pucuk Sagu di Hutan Papua
    Sudah lama sejak 28 Juni 2017 lalu, saya dan 25 teman lainnya yang tergabung dalam tim KKN UMY tinggal di Kampung Warmon ini, ya kami ...
  • Memandang Keceriaan
    Beberapa hari ini aku disadarkan oleh banyak hal terkait dunia menulis yang sudah aku beranikan sejak awal kuliah dulu. Baru sekarang aku sa...

Draft

  • coretan unc
  • Motivasi
  • Opini
  • Puisi
  • sebuah perjalanan
  • stories / notes
  • Tips & Trik

Mengenai Saya

Foto saya
Umi Nurchayati
Blog pribadi Umi Nurchayati @uminurchayatii | uminurchayatiii@gmail.com | "Dalam samudra luas, riak saja bukan"
Lihat profil lengkapku

Copyright © 2019 Bangun Pagi-pagi. Designed by OddThemes & Blogger Templates