• Beranda
  • Motivasi
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Opini
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Puisi
    • Langgam Cinta
    • Pertemuan Bahagia dan Sedih
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips - Trik
  • Who Am I

Bangun Pagi-pagi

 


Tulisan ini saya dedikasikan untuk orang-orang tersayang yang selalu merasa insecure dengan dirinya, termasuk diri saya yang juga masih sering merasakaan ‘keinsecure-an’. Berbagi adalah hal yang asyik, mengupas berbagai sudut pandang dari setiap insan akan menemukan kamu pada hal-hal baru diluar diri.

Esok hari, seorang teman mendatangi tempat saya, lalu sedikit ia menceritakan tentang pekerjaannya yang sama sekali tak diinginkan. Di tempat bekerjanya ia merasa tak bisa menyalurkan inpirasinya. pendek kata mungkin ia hanya menganggap tempat kerjanya untuk mencari uang saja, namun tidak untuk belajar.

Banyak orang-orang khususnya anak-anak muda berpikir seperti itu, selepas lulus kuliah pekerjaan apapun dilakukan karena tuntunan kemandirian secara finansial. Tak peduli lagi ini apakah sesuai dengan hobi dan jurusannya semasa sekolah atau tidak. Uang terkadang menjadi satu-satunya alasan mengapa ia harus mendapat pekerjaan, apaupun itu.

Kondisi sulit memang selalu mendera selepas lulus kuliah, dihadapkan pada pilihan idealis dan pragmatis. Disini dibutuhkan banyak pertimbangan, akan menggadaikan sisi yang mana kita, atau merengkuh keduanya. Sebenarnya bukan perkara sulit untuk menapaki jalan idealismu sembari menapaki realitas sekelilingmu.

Orang-orang besar selalu dibentuk oleh keadaan yang tidak nyaman. Begitupun kamu yang salepas lulus kuliah juga sedang bingung. ingin jadi desainer tapi kok ya nggak punya mesin jahit dan peralatannya, harus beli dan harganya mahal. Akhirnya kamu memilih bekerja apapun dengan harapan bisa menabung untuk membeli mesin jahit.

Kita menjadi harus selalu mengingat bahwa tempat-tempat tidak menyenangkan seperti penjara, kampung yang kumuh, dunia pengasingan nan terkucilkan telah menunjukan bahwa manusia-manusia hebat bisa dilahirkan dari sana. Bung Hatta membawa berkoper-koper buku ketika diasingkan di Digul, bajunya hanya beberapa helai saja. ia mengatakan “tak apa-apa kalau dipenjara asalkan bersama buku”. Pramudya Ananta Toer, sang maestro sastra juga menghasilkan karya-karya terbaiknya di pulau Buru, tempat ia diasingkan. Juga orang seperti Choirul Tanjung, salah satu crazy rich Indoneia yang ternyata juga dilahirkan dari pelosok kampung.

Mungkin kata-kata motivasi sudah penuh dalam kepalamu. Sudah penat mendengarkan nasehat-nasehat yang terus datang, dan hati tetap tak tergerak. Santai, yang seperti itu bukan cuma kamu kok. Sebagai manusia biasa yang masih berharap-harap cemas tentang masa depan kita hanya harus menjalani peran hari ini juga mempelajarinya. Jangan anggap orang yang yang bekerja dan jualan di jalanan itu tak bisa jadi gurumu.

Setiap orang selalu memiliki sisi baiknya, galilah kebaikan dari orang-orang sekitarmu. Belajar dari kenyataan bahwa usaha itu bukan hanya seuatu yang terlihat saja secara lahir, ada juga yang namanya usaha batin yaitu kesabaran, keikhlasan dan cinta yang akan menjadi usaha terbaikmu. Mencintai pekerjaanmu saat ini mungkin sangat susah, Tak usah pula dipaksa. Tapi ingat kamu harus menebusnya dengan pekerjaan yang kamu cintai. Mungkin di siang hari kamu bisa bekerja, malam harinya lakukan hobi dan kesukaanmu.

Kata orang-orang besar suatu hal yang digeluti degan sungguh-sungguh pasti akan dipetik hasilnya, mungkin tidak dalam waktu dekat tapi pasti. Orang-orang besar yang kamu temukan di buku-buku motivasi itu sebenarnya adalah korban dari ketidaknyamanan. Keidaknyamanannya melahirkan spirit-spirit untuk melawan nasib dan keadaan.

Boleh saja kamu mengeluh, juga biarkan orang-orang mencelamu hari ini. Tapi tetap saja masa depan adalah misteri yang menunggu untuk diungkap. Kata orang jangan sesali yang sudah terjadi, lebih baik fokus menapaki jalan sekarang dengan hal yang lebih baik sambil mencari jalan-jalan menuju kecerahan masa depan. Setiap orang berhak untuk berjuang mati-matian dan bahagia kok.[]

Wrote by Umi Nurchayati

 



Sejak kecil anak-anak selalu diajarkan berbagai macam doa, mulai dari doa bangun tidur, mau makan, selesai makan,masuk/keluar kamar mandi, masuk masjid, mau tidur dan banyak sekali doa. Sudah biasa doa-doa itu menjadi hafal sejak kecil, selain disuruh Ibu di rumah juga selalu ditekankan di TPA/TPQ setiap bakda ashar.

Namun setelah bertumbuh agak dewasa, terkadang berbagai macam bacaan doa itu juga lupa satu-persatu. Hanya beberapa saja diingat karena selalu ditemui dan dipraktekan setiap hari. Kebiasaan mempraktekan sejak kecil ini yang sampai dewasa terus berdoa. Sesuatu yg sudah biasa dilakukan menjadi seperti ada yang kurang ketika ditinggalkan. Mungkin ini pula yang dialami seorang pendoa untuk urusan hajat atau keinginan.

Manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas atas apa yang sudah diraihnya sekarang, selalu ingin lebih baik, lebih kaya, lebih pintar dll. Akhirnya berusaha mati-matian, bekerja lebih rajin, belajar sampai larut dan begadang dilakukan sebagai upaya meraih keinginan. Tapi bagi banyak orang hal itu tidak cukup. Banyak aspek-aspek yang bersentuhan dengan takdir dan keberuntungan. Sehingga mengubah takdir selain dengan usaha juga ditempuh dengan merayu Tuhan.

Seorang anak SD akhirnya bertanya pada sang Ibu, “Ibu aku pengen lulus ujian, aku takut kalo tidak lulus, kemarin sudah belajar tapi banyak yang tidak keluar di soal?”
Sang Ibu meminta anak berdoa, memohon agar jawaban yang sudah dikumpul itu ternyata benar. Ibunda menjawabnya “ya minta sama Allah sayang, Dialah pemilik Takdir, yang bisa mengubah apapun yang dikehendaki”, terang sang Ibu.

Malam harinya sang anak bangun pagi-pagi sekali, tak main-main pukul setengah 3 pagi. Mengikuti anjuran ibunya sehabis sholat tahajud ia benar membaca Sholawat dan Istighfar 3000x. Tasbih yang berjumlah 100 tak cukup untuk menghitungnnya. Karena belum ada penghitung otomatis anak itu telah menyiapkan hitungannya di siang hari. Sangat sederhana, hanya memakai biji jagung yang telah genap dihitung 3000 biji.

Sambil terkantuk-kantuk anak itu terus membaca, satu persatu jagung di sebelah kirinya berpindah ke kanan menandakan bacaannya terus berkurang. Tepat disaat azan subuh akhirnya bacaan itu selesai, ia sangat senang dan lega, wajahnya berseri-seri karena amalan yang diberi ibunya bisa tertunaikan.

Kegiatan itu terus ia lakukan sampai pengumuman ujian tiba. Di hari yang ditunggu itu rupanya sang anak dinyatakan lulus, pengumuman ditempel di papan majalah dinding sekolah. Anak itu mendapati namanya dengan nilai rata-rata yang tidak begitu bagus, hanya 7.5 namun itu sudah cukup membuatnya lega karena ternyata ada juga temannya yang tidak lulus.

Lalu ia pulang ke rumah, mengabarkan pada sang Ibu, “Ibu ternyata hasilnya lulus, tidak menyangka karena kemarin adik tidak bisa mengerjakan matematika dan ipa,” ucapnya dangan cukup bangga mengantongi angka 7 di dua mata pelajaran tersebut.

Begitulah kisah seorang anak SD yang sudah was-was dangan hasil ujiannya. Akhirnya sampai dewasa ia terus mempraktekan kata ibunya itu. Menjadi ritual ketika punya keinginan, doa-doa menjadi selalu tertaut di sepertiga malam. Keinginan apapun, baik menyangkut dunia atau akhirat, mulai dari kesehatan, lancar sekolahnya, keterima di kampus negri, mati khusnul khotimah dll yang terakhirnya selalu disisipi kata permintaan ‘yang terbaik.’ Peristiwa kelulusan ujian itu terekam kuat dalam memorinya sejak belia, seperti menjumpai hasil yang nyata.

Namun tentu saja doa-doanya tidak semua terkabul. Banyak hal yang dipinta sang anak juga meleset, tapi ia tetap tak henti berdoa. Doa menjadikannya tenang ketika usaha maksimal sudah dikerahkan. Mungkin akan banyak yang mengkritiknya tapi nyatanya untaian doa-doa itu menuntun dalam hidupnya.

Hingga ketika dewasa, dihadapkan pada teknologi yang semakin maju. Internet lewat segenggam telfon pintar amat menggoda mengajaknya mengarungi dunia hiburan, mulai dari video memasak sampai drama korea dan film action.

Tapi ya bagaimana lagi kebiasaannya berdoa sudah mengakar kuat karena sudah diikat kuat oleh ibunya sejak kecil. Jadi meskipun nonton drama korea seharian, ia pun tetap sisipkan untaian doanya di 2 jam waktunya untuk berlama-lama di tempat sujud.

Doa memang tidak selalu menjawab pintanya tapi selalu efektif membuatnya tenang hingga dapat memutuskan tindakan selanjutnya dalam keadaan hati yang tenang. Ketenangan hati itu yang membuatnya dapat menimbang kebaikan dan keburukan dari semua pilihan yang ada, sehingga keleliruan menjadi berkurang.

Bagi yang meyakini lekuatan doa, ia merasa doa tidak hanya menjadikannya lebih tenang tapi juga bisa mengubah takdir, tentu saja dengan merayu Pemilik Takdir. Seperti seorang anak yang meminta sepatu pada orangtuanya, ia rela melakukan apapun untuk dapat sepatu baru, biasanya dengan dipotong uang sakunya. Satu kenikmatan berkurang tapi kenikmatan lain datang disertai kepuasan. Seperti waktu tidur yang harus berkurang, begitu diantara jalan yang ditempuh para pendoa.

Wallahu a’lam


Wrote by Umi Nurchayati
Mengajar menjadi aktivitas sehari-hari bagi Bapak Muslih Ilyas (60), Ustadz di PP. Al-Munawwir Komplek Q Krapyak, Yogyakarta. Mengajar juga menjadi aktivitas wajib untuk mengajarkan kepada santrinya betapa pentingnya arti sebuah kedisiplinan.
***
KH. Muslihe Ilyas bersama Istri
dok: almunawwirkomplekq.com

Bapak KH. Muslih Ilyas tak hanya dikenal sebagai ustadz yang menjunjung tinggi kedisiplinan, selain aktif mengajar di Komplek Q dan MTs Ali Maksum  beliau juga  aktif di berbagai organisasi regional dan nasional.

Sebutan Pak Muslih sudah tidak asing lagi di telinga santri PP. AlMunawwir khususnya di komplek Q. Bapak kelahiran Kediri, 3 Januari 1958 dengan nama lengkap Muslih Ilyas ini adalah seorang Ustadz di PP. Al-Munawwir Komplek Q, beliau mengajar setiap sore dengan kitab yang dikajinya adalah Minhajul Muslim. Bapak 8 anak ini juga aktif di dunia politik, yaitu pernah menjadi aktivis NU dan DPRD kota Yogyakarta.

Beliau mengawali karir di GP Ansor kota Yogyakarta setelah menamatkan dari bangku kuliahnya di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (sekarang UIN Suka). Menurut beliau Yogakarta adalah daerah yang strategis untuk membangun dan meningkatkan karir, mengingat daerahnya yang tak begitu luas, yang mana jumlah provinsi hanya terdiri dari 5 kabupaten dan menurut Pak Muslih bagi siapapun, yang terpenting adalah mau berbuat maka karirnya akan berkembang.

Ada kisah menarik ketika beliau diagkat sebagai sekretaris di GP Ansor. Waktu itu Sekretaris Ansor Drs. Mawardi diangkat menjadi dosen di daerah Kalimantan sehingga sekretaris I kosong, akhirnya beliau disurunh menjadi sekretaris I yang harusnya naik ke sekretaris II terlebih dahulu, beliau tak mau begitu saja menerima jabatan tersebut tanpa melalui mekanisme yang ditentukan. Akhirnya diadakanlah forum untuk memilih sekretaris I GP Ansor Yogyakarta.

Selanjutnya beliau mulai aktif di ranah politik dengan bergabung di partai Persatuan Pembangunan Bangsa (PPP) regional Yogyakarta. Menurutnya partai PPP memiliki beberapa jenis keistimewaan, seperti yang kita ketahui bahwa PPP adalah sebuah partai Islam. Anggota PPP terdiri dari berbagai ormas Islam, ada Muhammadiyah, NU, Syarikat Islam, Tarbiyah Islamiah dll. Sehingga dalam partai PPP persaingan tak hanya dari luar saja (eksternal) melainkan terdapat juga persaingan dari dalam para anggotanya yang terdiri dari berbagai ormas tersebut (intenal).

Di PPP Pak Muslih mengawali karir politiknya dengan menjabat sebagai Wakil Ketua Daerah Kota selama satu periode, sampai dua tahun di masa kepemerintahan Gus Dur, pak Muslih naik jabatan menjadi sekretaris 3 DPR Provinsi yaitu pada masa kepemimpinan Dr. Fauzi yang merupakan anak dari KH. AR. Fachruddin (Mantan Ketua Umum PP. Muhammadiyah). Ahirnya sampai tiga kali pergantian kursi kepemimpinan di DPR Provinsi Yogyakarta, Pak Muslih tetap menjadi sekretarisnya.

Saat ini suami dari Ibu Nur Aliyah ini mempunyai misi untuk mencari penerus sekretaris di DPR dari kalangan NU, untuk mewujudkan hal tersebut Pak Muslih sudah menyiapkan beberapa surat rekomendasi dari beberapa tokoh. Menurutnya seperti itulah gambaran di dunia politik, dimana tawar-menawar tak bisa dihindari.

Selain di dunia politik Pak Muslih juga sempat aktif di dunia dakwah, terbukti dengan keikutsertaannya dalam Lembaga Dakwa NU (LDNU) dan lembaga dakwah Tunas Melati (Muhammadiyah), yang mana lembaga ini hanya mengorganisir dari beberapa tutor yang mendaftar, seperti tutor untuk mengaji Al-Qur’an sampai mata pelajaran di sekolah.

Banyak kisah menarik dari perjalanan hidup seorang Muslih Ilyas, pernah suatu ketika sebelum beliau naik jabatan di PPP, pada Lajnah penetapan calon, semua orang berebut untuk mengajukan dirinya, atau dalam istilah politiknya boleh dikatakan seperti perebutan kursi jabatan. Ketika semua orang berambisi masuk tim, yang mana tim terpilih nantinya akan langsung naik ke tingkat Lantab, beliau tetap diam saja tak mempedulikan kekisruhan yang terjadi hingga pada akhirnya dalam sidang pleno malah terpilih dan ditetapkan sebagai DPR dari fraksi PPP bersamaan dengan Ibu Ny. Hj. Ida Fatimah Zainal (Pengasuh PP. Almunawwir Komplek R) dari fraksi PKB.

Sebelum terjun di dunia politik Pak Muslih memang sudah dibekali oleh KH. Ali As’ad, yang mana beliau adalah seorang guru yag penuh dedikasi. Menariknya dari tiga kali berturut-turut menjadi DPR pak Muslih belum pernah berorasi di depan umum dan tidak sepeserpun memakai uang selain uang gaji yang berhak ia dapatkan.


Kisah Selama Nyantri

Momen menjadi santri memang tidak dapat dilupakan bagi sebagian orang, tanpa kecuali seorang Muslih Ilyas. Beliau mengenang ketika mondok selama 15 tahun tanpa dibiayai oleh orang tua. Dimulai dari Nyantri di Lirboyo selama 6 tahun dan dilanjutkan di pondok Krapyak. Suatu ketika sehabis kecelakaan di pondok Lirboyo beliau disuruh sowan menghadap Kyai Mahrus, kemudian oleh Kyai Mahrus disuruh menemuai Kyai Pasuruan yang tak lain adalah mertuanya Ibu Nafis (Pengasuh Komplek Hindun Anisah PP. Ali Maksum) kemudian dititipkan kepada KH. Ali Maksum kala itu.  Dari situlah beliau mengenal Krapyak.

Selama di Krapyak Pak Muslih hidup dengan ikut menumpang sebagai tukang memasak (ikut ndalem). Selama beberapa bulan di Krapyak dengan hanya ikut mondok ia merasa waktunya banyak terbuang, mengingat pengajian hanya dilakukan sore, malam dan pagi hari. Sehingga ia memberanikan diri sowan kepada KH. Ali Maksum untuk sekolah lagi. 

“Meh melbu kelas piro?” tanya Kyai Ali,
“Kelas setunggal tsanawiyah” jawab pak Muslih kala itu. Kemudian Kyai Ali tidak menjawabnya.

Keesokannya ketika Pak Muslih bertemu lagi dengan Kyai Ali,

“wes koe entuk sekolah maneh tapi ora keno melbu kelas siji tsanawiyah”

Setelah berkata seperti itu, Kyai Ali memberikan beberapa tumpukan kitab pada pak Muslih dan menyuruhnya membaca sambil mengatakan dan menganjurkan pak Muslih untuk masuk kelas satu atau kelas dua Aliyah (setingkat SMA). Pak Muslih kala itu merasa mudah duduk di kelas satu karena pelajaran yang dikaji memang pernah dipelajari sebelumnya, mengingat di Lirboyo beliau juga belajar sampai Aliyah.

Akhirnya Pak Muslih berhasil menamatkan Pendidikan SMA nya di Madrasah Aliyah Krapyak dan melanjutkan pendidikannya di IAIN Sunan kalijaga Yogyakarta (sekarang UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) setelah rehat sehabis lulus Aliyah dan dirasa banyak membuang-buang waktu jika hanya di Pondok. Akhirnya keputusan untuk kuliah diambil setelah memikirkan banyak pertimbangan. Diantara yang menjadi pertimbangan adalah biaya masuk kuliah yang waktu itu sebesar Rp. 35.000,-

Akhirnya diputuskan pak Muslih untuk pulang ke rumahnya di Kediri. Beliau  memberanikan diri meminta uang pada orang tuanya untuk mebayar kuliah, akan tetapi tidak semudah itu ia memutuskan untuk meminta uang, karena hidupnya memang sudah dibiayai oleh orang tuanya. Sebelumnya Pak Muslih mengatakan pada ibunya bahwa ia bermaksud meminta uang untuk kegiatan. Tanpa dirasa naluri seorang ibu memang sangat kuat. Malamnya Pak Muslih langsung dipanggil menghadap ibunya, dengan kondisi seperti itu ia akhirnya mengakui dengan sebenarnya apa maksud keperluannya meminta uang sebanyak itu. Akhirnya melihat tekad anaknya yang sudah kuat sang ibu memutuskan untuk merundingkan hal tersebut pada kakak-kakak Muslih Ilyas. Setelah dimusyawarahkan sekeluarga akhirnya semuanya ikut membantu membayar biaya pendaftaran masuk sebesar Rp. 35.000 tersebut.


            Masa Kuliah dan Dinamika Kampus

            Selama kuliah Muslih Ilyas termasuk mahasiswa yang mandiri, tak ada kiriman uang saku dari orangtua, semua kebutuhan ia mencari sendiri. Untuk memenuhi kebutuhannya selama kuliah ia memilih untuk bekerja part time yang kala itu ia mendapatkan tawaran dari Kyai Ali As’ad untuk membantunya mengetik.

“cobo ketikno Mukaddimah iki” kata Kyai Ali As’ad
Tanpa berbekal kemampuan mengetik, Muslih Ilyas mengiyakan tawara tersebut, sampai ia kebingungan tanpa sepengetahuan Kyai Ali As’ad. Keesokannya ia ditana Kyai Ali,

“Piye wes entuk piro?, ra entuk-entuk?” tanya Kyai Ali As’ad

Seiring berjalannya waktu dengan kesungguhan dan kerajinan seorang Muslih Ilyas, ia bisa mengetik secara lancar. Sampai muncul target berapa harus mengetik setiap harinya. Menjalani aktvitas seperti itu setiap harinya mengakibatkan ngajinya di pondok keteteran, akhirnya ia memikirkan hal tersebut. Uang yang didapat dari mengetik ini memang mencukupi untuk biaya kuliahnya akan tetapi ia tak bisa ikut pengajian di Pondok, disisi lain timbul keresahan lain yang dipikirkannya, bagaimana ketika ia kembali lagi ke Pondok malah tak bisa kuliah. Pikiran itu menghantui hari-harinya selama di tempat Kyai Ali as’ad, sampai akhirnya ia putuskan untuk kembali ke Krapyak.

Rejeki memang bisa datang dari mana saja, Do’a seorang Muslih Ilyas untuk tetap bisa menyelesaian kuliah dan pondoknya diperlancar. Di pondok ia membantu memasarkan Kamus Almunawwir karangan KH. M Warson Munawwir (Pengasuh PP Almunawwir Komplek Q), sehingga ia mendapatkan komisi dari hasil penjualannya. Terhitung setiap penjualan satu kamus ia mendapatkan keuntungan sebesar 10.000 rupiah. Muslih Ilyas memasarkan kamus Almunawwir di sebaian besar Pondok Pesantren di Jawa Timur, mulai dari Pasuruan, Jombang, Gontor, Tulung Agung sampai Trenggalek. Dengan pendapatan itulah ia memenuhi kebutuhan kuliahnya, penghasilannya kini sisa jika hanya untuk biaya kuliahnya. Akhirnya dari uang itu ia membeli sepeda ontel. Meski dalam kesehariannya ia sering menggunakan sepeda motor milik Kyai Ali Maksum.

Awalnya ia hanya disuruh mengantar Kyai Ali sampai tempat dimana ia dijemput supirnya. Perlu diketahui bahwa Kyai Ali Maksum menjadi DPR di usia yang sangat muda sehingga beliau merasa malu ketika dijemput supirnya di Pondok, oleh Karena itu ia menyuruh Pak Muslih untuk mengantarkannya sampai di tempat dimana dia bertemu dengan supirnya. Karena keseringannya  menjemput dan mengantar Kyai Ali dengan sepeda motor milik Kyai Ali maka ia membawanya sekalian berangkat ke kampus.

Sejak kecil Pak Muslih memang sudah belajar memanfaatkan waktunya sebaik mungkin, ia tak mau membuag-buang banyak waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Oleh sebab itu ia selalu menyibukkan dirinya dengan berbagai kegiatan dan aktivitas. Menurutnya, usia anak harus dipaksa, tidak bisa hanya mengandalkan kemauan, dengan begitu kebiasaan memaksimalkan waktu dengan sebaik mungkin akan tumbuh.

Disiplin Waktu

Pak Muslih masih sangat mengenang wejangan dari Kyai Ali As’ad :

“Le jangan pernah menyembunyikan identitasmu, dimana saja tampakan identitas sebenarnya. Jika kamu bisa disiplin maka orang lain akan menyesuaikanmu, bukan kamu yang menyesuaikan dengan orang lain”


            Dengan kesungguhannya, pak Muslih memang sangat mengamalkan wejangan-wejangan dari para Guru-gurunya. Terlebih ia selalu merasa tak punya keahlian tertentu yang bisa mendorong karirnya. Sebab itulah ia sangat mengandalkan disiplin, karena disiplin akan mendorong kepercayaan seseorang. Ketika kita sudah mendapatkan kepercayaan dari orang lain maka akan memudahkan berbagai urusan. Pak Muslih mencontohkan, bagaimana ia sangat dipercaya ketika meminta rekomendasi dan tanda tangan orang-orang penting.

            Selain itu, pak Muslih menceritakan bagaimana seorang guru yang sudah ditunggu lama oleh murid-muridnya di kelas dan dengan seenaknya ia datang terlambat. Seperti itu akan berakibat wajar kenapa para murid juga akan menyepelekan disiplin waktu, karena tak lain tokoh yang menjadi panutannya juga tidak bersikap disiplin.

Pernah suatu ketika di hari Jum’at Pak Muslih mengadakan perjalanan dengan seorang tokoh Golkar bernama Pak Joss. Pak Joss adalah seorang Kristian yang taat, melihat Pak Muslih selalu menggunakan Peci ia menyuruh Pak Muslih sholat Jum’at terlebih dahulu.

“Pak Muslih silakan sholat Jum’at dulu” kata Pak Joss,

“jadi gini Pak Joss, kita sebagai umat Islam memang wajib untuk sholat Jum’at akan tetapi ketika dalam perjalanan jauh seperti ini kita diberi toleransi untuk tidak ikut sholat Jum’at” jawab Pak Muslih waktu itu,

“ohh.. tidak apa-apa Pak, Bapak sholat dulu saja nanti kita tunggu di restoran itu” ungkap Pak Joss,

Begitulah buah dari kedisiplinan, orang lain tak terkecuali Pak Joss begitu percaya pada Pak Muslih bahwa dengan Pak Muslih sholat Jum’at tetap akan bisa sampai tempat tujuan di watu yang tepat.

***

REFERENCE
Wawancara yang dilakukan oleh Nila Putri pada 18 Februari 2017.
Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah El-Muna Edisi 1 dan diterbitkan kembali oleh website almunawwirkomplekq.com dengan judul Ustadz Muslih Ilyas "Tampakkan Identitas".









Wrote by Umi Nurchayati

[2] Mengharap Ridho   
Dikatakan manusia hanya perlu untuk menerima ketentuan dari-Nya.Setelah menjinakan hawa nafsu lalu berusaha mendekat.
Ridho-Nya menjadi modal utama, Selalu ingin dekat, taqarrub pada Sang Maha Welas,menjadi modal utama untuk siap berada di pegunungan yang amat tinggi,untuk siap berada di padang pasir yang begitu panas menyengat disertai hujan berdebu,untuk siap di belahan bumi manapun,sekaligus siap di titik apapun.
Menjadi survive, begitulah termasuk diantara ciri-ciri bertakwa yang dikatakan dalam Minhajul Abidin yang ditulis setelah karya masterpiecenya Ihya Ulumuddin oleh Imam Al-Ghazali.
Mungkin bagaikan mengikuti arus…
Tapi jangan samakan menggapai Ridho dengan hanya bersimpah dan pasrah tanpa disertai usaha. Berusaha untuk selalu berupaya, mengupayakan yang terbaik dari apa yang bisa dilakukan dalam diri, dan selalu memotivasi diri walau disamping berbagai keterbatasan. Dikatakaan oleh Maslow dalah teori kebutuhannya (a Hierarchy of Needs), seorang bayi pun sudah merasakan kebutuhan motivasi itu, dengan menangis, impuls ke arah pertumbuhan lalu menuju ke arah potensi-potensi manusia.
Motivasi menjadi pembatas untuk tidak menyerah dan menumbuhkan ke arah survive. Motivasi juga membawa pada rasa ingin berjuang dan tidak menyerah.
Sehingga dalam kepasrahan seorang mukmin menjadi selalu tertindak langkah demi langkah, perbuatan demi perbuatan dari usaha terbaik. Itulah langkah yang akan dilalui untuk menuju tawakal.
Tak akan ada yang tahu bentuknya Tawakal seseorang, menjadi penting adalah selalu mengingat bahwa di atas langit masih ada langit.
Dan dalam keterbatasan mata memandang masih ada alam malakut yang menembus batas mata telanjang.
Jadi mana tahu yang seperti apa lebih mendapat Ridho-Nya. 
Wrote by Umi Nurchayati

Karunia Manusia
Disebutkan sebagai Khalifah dimuka bumi, menjadi sosok pilihan hingga malaikat pun bersujud
Tabiatnya menjadi sempurna dengan dikaruniai akal.
Manusia dan Akal, dan Nafsu yang dominan.
Menjadi sering lupa pada akal karena nafsu lebih diikuti,
Mulai mengingat kembali Sang Pencipta dikala kesempitan menghimpit.
Sungguh itulah cobaan
Berbagai macam bentuk cobaan silih berganti menimpa,
disebutkan diantara tiga yaitu harta, tahta dan wanita.
Ujian juga berupa segala hal yang menghalang-halangi untuk lebih baik,
Juga hal-hal yang menyenangkan.
Makan menjadi sangat enak karena nafsu makan,
Bicara menjadi nikmat bertutur pada banyak manusia lain,
hingga ngelantur dan akhirnya ngawur akibat terlalu sering.
Nafsu memang begitu jika dituruti, merasa nikmat namun hakikatnya kosong,
Merasa sudah maksimal memeranginya namun ternyata belum.
Al-Ghazali sang Imam besar itu mengatakan jika nafsu tak dapat dibunuh, tapi bisa dikawal,
nafsu tak akan pernah mati, tapi bisa dijinakan dengan latihan rutin dan terus menerus.
Mengekang segala kenikmatan semu, demi memelihara akal.
Akibat nafsu pula muncul prasangka,
merasa telah berusaha maksimal. Padahal belum
Hingga Tuhan belum memberikan apa yang di mau,
Mungkin karena jiwa yang belum siap.
Takut jadi takabur, jumawa atau sifat tercela lainnya semakin meninggi,
Atau takdir memang berkata lain.

Disisi lain pula..
Bagian 2

Bantul, ditulis pada 30 Desember 2018 

Wrote by Umi Nurchayati
ilustrasi
CATATAN UNTUK DIRI


Suatu pagi seseorang meminta tolong dengan nadanya yang seolah-olah seperti sudah tak mampu berdiri, padahal kenyataannya hanya masuk angin biasa. Keluhannya batuk dan pusing ringan, waktu kutanya sakit apa ia menjawabnya masuk angin. Saya pun memberikan pertolongan dengan apa yang bisa saya lakukan, biasanya membelikan makan dan suplemen kesehatan. Ia terus mengeluh tentang sakitnya, katanya kecapean terlalu banyak kegiatan dll sehingga waktu itu ia selalu meminta tolong. Semua teman temannya menolong dengan selow dan ada beberapa teman yang tak ambil peduli. Sebenarnya kami tinggal di sebuah kompleks asrama, jadi terdapat banyak anak untuk setiap satu kamar. Untuk kamar dengan ukuran 3x4 seperti kamar kami ini dihuni sekitar 5 sampai 6 orang.

Semua akan tumbang pada waktunya
Di kala kita sehat terkadang ada yang terlupa yaitu sakit, benarlah lagunya Opik akan “ingat 5 perkara sebelum 5 perkara”. Yang akan ku bahas minggu ini ialah sehat sebelum sakit. Bukan bermaksud menggurui karena note ini sebagai pengingat juga untuk diri. Terkadang apa yang kita tak bayangkan akan begitu saja menghujani diri kita, begitu pula dengan sakit bisa datang kapan aja tanpa mengenal waktu. Pernah aku alami aku benar-benar dalam kondisi yang fit, dengan sombongnya ku melalai kemana-mana. Berkativitas seharian tanpa kenal lelah, makan telat, dll.

Sebenarnya aku juga biasa makan telat, sarapan juga sering sekali bersamaan dengan makan siang. Istilahnya mungkin dijamak ya, hal tersebut pasti sudah menjadi kebiasaan banyak pelajar dan mahasiswa. Masuk pagi entah untuk sekolah, pergi ke kampus atau bekerja membuat beberapa orang tak sempat sarapan. Hingga suatu hari, aku pun tumbang. aku masuk angin dan harus istirahat seharian. Banyak tugas dan deadline mundur dari waktu yang ditentukan. Di saat seperti itu benar-benar menyiksa. Dikala tumbang baru kita sadari, betapa nikmatnya sehat, makan enak, tidur nyenyak.

Ketika waktu tumbang datang manusia hanya bisa meminta. Meminta kesehatan pada yang Kuasa itu pasti, meminta tolong pada teman juga pasti. Memang kodrat sebagai makhluk sosial bagaimana lagi.. Namu ada satu hal yang tidak kusukai dari orang sakit, yakni keluhan. Menurutku keluhan hanya membuat situasi lebih memburuk, mindset menjadi negatif. Banyak hal penyebab sakit sebenarnya, kalau menurut kitab “Tanwirul Qulub” karya Syaikh Amin Al Kurdi dari Irak yang kitabnya sering dikaji di malam Sabtu, mengatakan bahwa ada tiga hal penyebab sakit. Ketiganya adalah; 1).sakit karena diingatkan Allah SWT untuk beristirahat dan tadabbur, hal ini menjadikan sakit sebagai rahmah dan karunia sehingga dapat meleburkan dosa-dosa orang yang berpenyakit 2).sakit karena azab, hal ini lebih kepada murka Allah, sakit yang diderita bisa jadi disebabkan karena dosa-dosa baik pada sesama manusia dan pada Sang Pencipta. 3) sakit yang ketiga disebabkan karena kemaksiatan, maksiat dan dosa-dosa besar (dosa kecil juga bisa menjadi besar jika dilakukan terus menerus) maksiat membuat hati menghitam sehingga cahaya Allah tak lagi mampu menembus, dalam hal ini kemaksiatan adalah sumber dari penyakit, baik sakit jiwanya ataupun fisiknya.

Jadi kalau kita terkena sakit coba dikroscek kembali, karena apa kita sakit. Jika bagi penuntut ilmu kita berhak berhusnudhon bahwa sakitnya sebagai bentuk rahmah Allah sebagai pengingat, boleh jadi pengingat untuk istirahat, atau boleh jadi agar lebih meluangkan waktu untuk mengingat Tuhannya dan melepas kesibukannya beberapa saat dan menata kembali segala prioritasnya, untuk selalu menjadikan Tuhannya prioritas dan untuk selalu menjaga kemesraannya dengan Sang Pencipta.

Kembali lagi pada keluhan, karena menurut saya perilaku seperti itu menunjukan ketidaksyukuran, ia lupa bahwa sakit juga bisa berarti kasih sayang Tuhannya. Kecuali jika pernah melakukan kemaksiatan-kemaksiatan lain  (bisa bermaksiat pada sesama makhluk Allah atau pada Tuhannya sendiri), maka dibutuhkan obat yang tepat. Yang dibutuhkan oleh orang yang berpenyakit memanglah obat, obat yang pas akan membawa kesembuhan. Jenis obat pun beragam, jika sakit hati dan jiwa maka dibutuhkan obat hati. Seperti lagunya Opik “obat hati ada lima” (sudah pada hafal kali ya), jika obat raga maka ramulah obat untuk raga.

Sejatinya disyukuri, dengan sedikit sakit menandakan sinyal dari tubuh yang meminta haknya untuk diistirahatka sejenak, harusnya kita sendiri yg menyadari itu. Jika masih sanggup berjalan maka melangkahlah. Janganlah menjadi orang yang berpikir bahwa kamu yang paling capek dan paling bekerja keras. Sungguh di luar sana masih banyak sekali yang lebih padat kegiatannya, yang bahkan mungkin buat makan aja tak sempat dan harus mencuri curi waktu. Tapi bukankah seperti itu berati ia tak mensyukuri nikmat waktu yang diberikan Tuhan?

Semua orang diberi waktu 24 jam dalam sehari, dalam sehari itu ada yang bisa menyelamatkan nyawa, ada yang bisa menang lomba, memenagkan tour ke luar negeri, bertemu jodoh, bertemu kawan lama, dan menyambung silaturahmi.

Lalu apa yang sudah kita perbuat sehingga sudah berani-beraninya mengaggap diri orang tersibuk dan yang lain tidak. Bukalah mata lebar-lebar, jangan picik. Banyaklah membaca, membaca dunia salahsatunya agar daya pandangmu semakin jauh. Syukurilah nikmatmu, jangan mengeluh. Hanya butuh kerjakan yang terbaik saat ini.

Sampai jumpa besok, jika aku bertemu kamu lagi dan kamu masih menganggap dirimu paling banyak berkegiatan maka aku berani bertaruh bahwa kamu belum mempelajari managemen, prioritas dan optimalisasi waktu, dan kamu harus belajar. Aku pun masih belajar, tapi nanti kita belajar bersama tak jadi masalah bagiku, berproses bersama menuju versi terbaik diri. See you!!

Sungguh, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

Wrote by Umi Nurchayati


"Apakah cinta sejati itu? Maka jawabannya, dalam kasus kau ini, cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya. Persis seperti anak kecil yang menghanyutkan botol tertutup di lautan, dilepas dengan rasa suka cita. Aku tahu, kau akan protes, bagaimana mungkin? Kita bilang itu cinta sejati, tapi kita justru melepaskannya? Tapi inilah rumus terbalik yang tidak pernah dipahami para pecinta. Mereka tidak pernah mau mencoba memahami penjelasannya, tidak bersedia."
"Lepaskanlah, maka besok lusa , jika dia adalah cinta sejatimu, pasti akan kembali dengan cara yang mengagumkan."


-Nasehat  Gurutta pada Ambo Uleng dalam Novel Rindu karya Tere Liye-








Wrote by Umi Nurchayati

Entah kenapa di sore yang cerah ini, dengan suasana perpustakaan pusat kampus yang tenang gue tiba-tiba kepikiran utuk nulis. bukan nulis sih tepatnya tapi sharing, gue bakal berbagi tentang apa yang gue dapat di Madin (Madrasah Diniyah)komplek Q PP. Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta minggu kemarin. Kalau dibilang late post sih ini emang late post banget, karena gue harusnya nulis ini tuh paginya sehabis Madin. tapi nggak papa lah ya daripada nggak di posting. Soalnya menurut gue para pembaca dari blog gue ini juga harus tahu apa yang disampaikan Ustadz gue Bp. Yusuf Muhammad.

Di Madrasah Diniyah malam Ahad Pak Yusuf seperti biasanya bercerita banyak dan panjang lebar. Beliau menangani mata pelajaran Tauhid di kelas awwal. Jarang sekali atau bisa dibilang sedikit kita maknani (mengartikan/mengenterprentasi) kitab, lebih banyak kita mendengarkan  ceritanya Pak Yusuf. Akan tetapi cerita dari Bapaknya ini syarat akan makna dari Tauhid itu sendiri.

Malam itu, seperti biasa di jam pertama ada sesuatu yang patut untuk dikenang sampai diresapi dari cerita yang diceritakan Pak ustadz Yusuf, yaitu tentang Bagaimana kita bisa sukses Fidun ya wal akhiroh dan bagaimana supaya ilmu kita bermanfaat. Kuncinya adalah :
1. Ojo wani lan nyakiti atine wong tuo
     (Jangan berani dan menyakiti hati orang tua)
2. Ojo pisan-pisan ngrasani gurune
     (Jangan sekali-kali membicarakan sang guru/ustadz di belakang)

Memang ke duanya itu simple tapi untuk melakukannya itu tidak bisa dianggap remeh, apalagi kita secara tidak sadar sering menyakiti hati orang tua, mulai dari bicara sampai sikap kita terhadap ke dua orang tua.
Sedangkan untuk poin yang ke 2 itu juga sulit banget dikhindari. Apalagi pas di sekolah atau kampus ketemu guru killer dan dosen yang kadang suka menjengkelkan, kita pasti ngomongin sang Guru/Dosen itu beginilah begitulah dll.

Tapi bagaimanapun jika ingin sukses dunia akhirat kunci pertama adalah orang tua. karena Ridha Allah juga Ridho orang tua, jadi kita sebaiknya hati-hati jika berbicara terhadap orang tua. sedang bila ingin ilmu kita manfaat sebaiknya kita menghormati guru-guru kita.

Selain ke dua unsur itu kita juga butuh yang namanya Ikhlas/ Khidman dalam menjalani hidup ini, seperti yang Imam Al-Ghazali katakan (maaf gue lupa kutipannya). Intinya bagaimana kita iklas dalam menjalani hidup kita akan takdir Allah. Wallahu'alam..

Wrote by Umi Nurchayati


Pergilah Setan!
Tugasmu Telah Selesai

Setan selalu hidup. Dia menari mengikuti irama hati manusia. Dia menari-nari diatas tiang-tiang kayu rumah-rumahmasa lalu, tiang-tiang penyannga beban atap. Dia berdendang diatas tumbuhan dan pepohonan kesedihan, di gua-gua, pegunungan, atau danau-danau. Dia berpesta diatas puing-puing bangunan yang dilaknat Allah,yang akhirnya musnah dan ditinggalkan manusia. Dia berpesta di atas puing-puing Babyloniayang ditinggalkan penduduknya setelah diporak-porandakan Persia. Itulah saat Nebukadnezar datang memporak-porandakan orang-orang Yahudi. Tapisekarang setan ada dalam peralatan telekomunikasi, di layar televisi, dalam kecanggihan peralatan yang modern, di mata perempuan yang nanar ikut mode zamannya, mata nanar dengan lensa hitam yang menutup matanya, hingga orang lain tak tahu dia suka atau tidak suka pada halal dan haram. Ketika perempuan punya rasa malu dan berpegang pada agama Allah, itu akan membentengi diri dari keluarganya. Atau para lelaki yang lalai pada perintah Allah. Saat marah, mereka akan lupa segalanya. Nafsu dan amarahlah yang diikuti.Setan-setan selalu hidup dalam diri pendengki, para lalim, manusia jahat. Mereka bekerka sama menghasilkan kejahatan yang merajalela. Setan ada dalam almari yang penuh dengan uang haram, di mesin dan baling-baling pesawat terbang, rudal-rudal pembunuh masal, dalam diri penjajah rakus, di balik jeruji penjara tempat orang-orang yang berjuang di jalan Allah melawan kekafiran dan kezaliman demi kemerdekaan disekap. Bahkan setan ada dalam jiwa semua orang, mengalir mengikutialiran darah, merasuk dalam sumsum tulang, menggerakkan pena-pena pelukis peta kebatilan.Begitulah, setan-setan punya peran. Menjadi pupuk penyubur tanaman kejahatan. Itu tugas setan. Mampu menyesuaikan diri dengan kemampuan dan kekuatan manusia. Dulu setan digambarkan dengan matanya yang melotot, rambut yang panjang hingga lutut bahkan kaki, atau barangkali cuma sebatas telinga layaknya manusia. Setan membuat manusia kerasukan, hingga para darwis dan paranormal tak bisa mengusirnya. Dengan mantra yang dibaca ribuan kali sekalipun. Ribuan entekan kaki yang dihujamkan ke tanah. Mereka berteriak setelah membaca mantra “Keluarlah, setan laknat!”Sekarang setan benar-benar membuat manusia kerasukan. Bahkan setan menjadi manusia itu sendiri. Setan menjadi sifat dan tabiat manusia. Manusia pun mirip setan bahkan saat setan telah menyapihnya. Banyak manusia yang menjadi setan untuk diri dan sesamanya. Selesai sudah tugas setan, dia telah pergi jauh.Tapi setan akan terus berkuasa di hati, akal, pikiran, dan perbuatan manusia yang rakus akan kekuasaan. Setan hanya tetap tak bisa berkuasa atas orang yang punya benteng iman dan akidah, yang menolak mentah-mentah penguasa selain Allah, berani berpikir dan berbuat sesuai dengan perintah-Nya serta meninggalkan larangan-Nya.Konon, sekitar 1500 tahun yang lalu, atau mungkin sebelum atau setelah tahun itu, manusia hidup di dunia dalam kedamaian. Seimbang antara kebaikan dan kejahatan, membuat hidup jadi berirama. Kebaikan dan kejahatan menjadi begian dari manusia dan jadi pijakan berbuat. Demikianlah, kejahatan juga mendapatkan tempatnya seperti sekarang. Tapi dulu kekuatan kebaikan lebih besar sebab telah menancap kuat dalam jiwa kebanyakan manusia. Kadarnya saja yang berbeda sesuai tingkat keimanannya. Bila yang beriman sedikit, manusia lebih banyak memuaskan diri dengan kejahatan setelah digoda setan. Dulu jumlah setan terbatas tidak seperti sekarang. Tapi tetap saja ada, sehingga kebaikan dan kejahatan pun tetap beroleh kesempatan ada. Allah, Tuhan semesta alam, berkuasa atas segalanya. Dia mencatatsemua amal setiap makhluk, termasuk juga setan.

(Sepenggal kisah yang diceritakan Ibrahim kepada ketiga cucunya. Dikutip dari buku “Akhrej Minha Ya Mal’un__ Tarian Setan” karya Saddam Hussein mantan Presiden Irak)
Wrote by Umi Nurchayati
Postingan Lama Beranda

Wikipedia

Hasil penelusuran

Halaman

  • Beranda
  • Motivasi
  • KOLOM
  • PUISI
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips & Trik
  • Who Am I

Jejak

  • ▼  2024 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
  • ►  2023 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2022 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2020 (11)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (13)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (18)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2015 (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2013 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Februari (1)

Instagram

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Popular Posts

  • PELAJARAN BERHARGA DARI SYRIA (SURIAH) UNTUK INDONESIA: MENJAGA PERSATUAN
    Gambar : Anak-anak dan perempuan menjadi korban konflik Suriah. dok: bbc.com Suriah (Syria) merupakan suatu negara yang terletak ...
  • Menyikapi Budaya Konsumtif Secara Bijak Dari Lagu Efek Rumah Kaca
    'Atas bujukan setan Hasrat yang dijebak zaman Kita belanja terus sampai mati' Mendengar bait lirik lagu Efek Rumah Kaca (ERK...
  • Rahasia Para Pendo’a
      Sejak kecil anak-anak selalu diajarkan berbagai macam doa, mulai dari doa bangun tidur, mau makan, selesai makan,masuk/keluar kamar mandi,...
  • REFLEKSI - Sejatinya Hidup
    Ilustrasi, In frame: umi nc, credit: kawan Untuk apa aku diciptakan? Mengapa aku diciptakan? Mengapa diri ini aku? Tiga b...
  • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
      dok. pribadi Judul: Crime and Punishment ; Penulis: Fyodor Dostoevsky ; Penerbit: Wordsworth Classics ; Penerjemah dalam B. Inggris: C...
  • seulas senyum di sunset merah Kokoda: Semangat 17an (Part 1)
    Gadis Kampung Warmon berdiri disamping bendera Merah Putih yang ia tancapkan di halaman rumah warga credit: umi Senin minggu ini a...
  • seulas senyum di sunset merah Kokoda: Mencari Bambu dan Pucuk Sagu di Hutan Papua
    Sudah lama sejak 28 Juni 2017 lalu, saya dan 25 teman lainnya yang tergabung dalam tim KKN UMY tinggal di Kampung Warmon ini, ya kami ...

Draft

  • coretan unc
  • Motivasi
  • Opini
  • Puisi
  • sebuah perjalanan
  • stories / notes
  • Tips & Trik

Mengenai Saya

Foto saya
Umi Nurchayati
Blog pribadi Umi Nurchayati @uminurchayatii | uminurchayatiii@gmail.com | "Dalam samudra luas, riak saja bukan"
Lihat profil lengkapku

Copyright © 2019 Bangun Pagi-pagi. Designed by OddThemes & Blogger Templates