• Beranda
  • Motivasi
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Opini
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Puisi
    • Langgam Cinta
    • Pertemuan Bahagia dan Sedih
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips - Trik
  • Who Am I

Bangun Pagi-pagi

 


Semakin hari rasanya hidup semakin ribet saja, apalagi sebagai seorang perempuan. Apa-apa yang sejak kecil biasa dilakukan menjadi hal yang dilarang. Suatu hari yang cerah tatkala pergi jalan-jalan di sebuah bendungan saya dibuat heran ketika tak sengaja menjumpai seorang ibu melarang anak gadisnya yang masih balita bermain mobil-mobilan, pun seorang bayi laki-laki yang tidak diperkenankan ayah ibunya memilih celana berwarna pink.

Rasanya hal seperti itu tak pernah kutemukan dalam masa kecilku, membatasi mainan hanya dengan boneka. Semasa kecil, saya juga bermain helikopter yang dijalankan dengan remote control dan mobil-mobilan, sampai beranjak bermain Tamiya.

Saya hanya bertanya, kenapa dunia semakin ribet? Coba bayangkan jika celana yang cukup dipakai sang bayi hanya ada warna pink, tentu akan mempersulit diri bukan. Lebih tepatnya sejak kapan barang mainan dan warna pakaian memiliki jenis kelamin?

Keanehan-keanehan menjadi semakin banyak saya jumpai seiring bertumbuh dewasa dan bergaul dengan lingkungan yang semakin beragam.

1.    Perempuan dan Tubuh Perempuan

Menjadi perempuan menjadi cukup sulit dengan kondisi yang tidak mendukungnya. Suatu ketika seorang teman diajak menikah oleh kekasihnya. Ia menanyakan pada calon pasangannya tentang perbedan usia, kebetulan mereka hampir seumuran. "Aku sih nggak masalah selisih umur berapa tahun yang penting masih masa subur belum lebih dari 30 tahun," ujar kekasih sang gadis.

Mendengar cerita itu aku mulai berpikir, ‘masa subur’ yang dimaksud kekasih teman saya itu tentu terkait dengan masa reproduksi atau memiliki keturunan. Ya, itu terserah dia karena ia yang akan menikah. Tetapi dengan nada jawaban yang diberikan seolah-olah ia mulai akan menentukan kapan memiliki momongan.

Pembaca tentu masih ingat dengan wawancara seleb Atta Halilintar yang ingin memiliki 11 anak dari pernikahannya dengan Aurel. Pernyataan Atta waktu itu menuai banyak kritik dari para aktivis perempuan. Bagaimana tidak, karena tentu saja istrinya yang harus mengandung, melahirkan, dan menyusui berkali-kali. Iya benar, ketiganya yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui adalah kodrat perempuan. Tapi tidakkah laki-laki seperti Atta juga berpikir memberikan hak menjawab urusan memiliki anak itu kepada istrinya yang perempuan, dimana ia yang akan melahirkan dan menyusui. Atau paling tidak, sebelum menjawab Atta bisa berdiskusi dulu dengan Aurel.

Kiranya menjadi perempuan adalah menjadi individu yang siap diatur. Bahkan untuk tubuhnya sendiri perempuan benar-benar tak punya kuasa. Perempuan selalu diikat oleh konstruksi dan imagi, yang keduanya menjadi harus dipikirkan oleh perempuan ketika ingin mengekspresikan dirinya.

Betapa banyak iklan produk kecantikan hanya menjual tubuh perempuan, diobral dengan definisi cantik sesuai imagi pemilik produk. Sampai di mimbar-mimbar agama juga tak kalah hebat. Berapa banyak pemuka agama terus mengatur apa yang harus dikenakan seorang perempuan. Anehnya sang pemilik produk dan pemuka agama yang terus kita amini adalah laki-laki. Dan perempuan mengikuti imagi itu.

Suatu ketika saya teringat kata-kata Simone de Beauvoir, seorang filsuf perempuan asal Prancis. Ia mengatakan bahwa dilahirkan sebagai perempuan bukanlah suatu keajegan, melainkan adalah proses menjadi yang tidak pernah usai. Sedang tubuh yang membuat konstruksi sosial sedemikian rupa bagi perempuan adalah suatu kesatuan.“One is not born, but rather becomes a woman,” begitu kata Beauvoir dalam karyanya yang terkenal, ‘The Second Sex’.

Beauvoir seolah-olah ingin mengatakan bahwa tanpa tubuh perempuan itu menjadi tidak ada. Beauvoir sang feminis eksistensial itu meyakini bahwa esensi tak mungkin mendahului eksistensi. Tentu saja pandangan Beauvoir yang bernuansa materialis itu akan ditampik oleh para spiritualis, karena manusia sejatinya tidak hanya tubuh, masih ada dimensi roh yang mengikat menjadi satu kesatuan dengan tubuh.

2.    Upaya Memenjarakan Perempuan

Sebagai seorang perempuan muslim saya mencoba merenung, kenapa doktrin-doktrin agama dari para pemuka agama justru banyak membuat perempuan kehilangan dirinya. Ia melebur menjadi seperti yang dikehendaki para pemuka agama. Perempuan dianggap sebagai sumber fitnah karena tubuhnya, sehingga perempuan dipandang semakin tertutup menjadi semakin baik. Pandangan seperti ini ingin mengatakan bahwa semakin tidak terlihat maka seorang perempuan itu semakin baik dan shalihah.

Inilah hal yang membuat peranan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat semakin dihilangkan. Tentu saja selain peran biologisnya untuk melahirkan dan menyusui. Tanpa disadari, penafsiran teks agama seperti ini justru menjauhkan dari maksud ajaran agama yang murni karena hanya melihat perempuan sebagai objek dengan memandang fisiknya saja dan sebagai pabrik produksi keturunan saja. Padahal manusia baik laki-laki atau perempuan sekaligus adalah makhluk intelektual dan spiritual. Pandangan tersebut jelas mengesampingkan potensi intelektual dan spiritual seorang perempuan.

Kalau kita mau melihat saja sesungguhnya teks yang mengatakan demikian membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam. Di sisi lain Al-Qur’an juga menegaskan bahwa kepada laki-laki beriman untuk menjaga pandangannya (QS. An-Nuur:30). Di sinilah perintah menjaga pandangan (ghadhul bashar) turun, sehingga menjaga pandangan tidak hanya dengan menundukkan pandangan, tetapi yang lebih penting adalah menjaga pikiran dan hati dari hal-hal yang tidak sepantasnya. Selayaknya itu dilakukan baik oleh laki-laki atau perempuan.

3.    Zaman Nabi yang Memerdekakan Perempuan

Di sisi lain saya menemukan dimensi berbeda. Selama ini saya pelajari bahwa agama yang saya yakini yaitu Islam adalah agama yang sangat revolusioner. Saya mengamini itu karena tatkala masih kanak-kanak dalam madrasah diniyah di kampung selalu dikisahkan kisah kehidupan Ibunda Sayyidah Khadijah r.a dan Kanjeng Nabi Muhammad saw yang sangat harmonis dan inspiratif. Ibunda Khadijah adalah pengusaha besar dan Kanjeng Nabi Saw turut menjual dagangannya sebelum diangkat menjadi Nabi.

Dalam literatur sejarah, bahkan para perempuan di zaman Nabi Saw tidak kalah keren tampil di ruang publik. Sebut saja Sayyidah Aisyah r.a (Istri Nabi) yang menjadi guru para Sahabat selepas Nabi wafat. Ada juga para perempuan dalam periode awal islam yang mewakafkan harta dan jiwanya demi islam, diantaranya adalah Nusaibah binti Ka'ab, Qaribah binti Mu'awwidz, Asma binti 'Amr bin Adi Ra, dan Salma binti Qais. Belum lagi para perempuan di zaman Nabi yang justru menjadi tulang punggung keluarga, seperti Zainab ats-Tsaqafiyah istri Abdullah bin Mas'ud.

Ibn Hajar Al-Asqalani, seorang masyhur ahli hadis dalam karyanya Fath al-Bari memberikan keterangan bahwa Zainab ats-Tsaqafiah adalah istri dari Sahabat Nabi Saw yaitu Abdullah bin Mas’ud. Zainab adalah sahabat perempuan Nabi yang kaya raya yang berasal dari keluarga terpandang yaitu Bani Tsaqif.  Diketahui bahwa Zainab memiliki usaha rumahan yang cukup lancar sehingga ia menghidupi keluarganya, bahkan juga mengasuh beberapa anak yatim di rumahnya.

Jika di zaman Nabi perempuan dianggap sumber fitnah dan harus mengurung diri. Bukankah Zainab dan para perempuan lain zaman itu sudah dilarang pergi-pergi, apalagi bekerja?


*Pernah dimuat dalam Alif.id dengan judul yang sama, berikut

 

Wrote by Umi Nurchayati
source image: freepik

Saat ini arus informasi sudah sangat kencang, sangat bejibun. Apapun bisa didapat dengan bermodalkan telpon pintar. Dalam dunia digital ini Informasi seperti saling serang antara satu dengan yang lain mengikuti pihak-pihak yang berkepentingan. Kiranya benar yang dikatakan Faucault, seorang filsuf Perancis itu dalam teori relasi kuasanya yang mashur.

Tapi kenapa informasi yang makin banyak justru tidak membuat orang semakin pintar. Kiranya memang betul apapun yang dikonsumsi secara berlebih itu tidak baik, termasuk informasi, dimana dalam masyarakat industri ia adalah sebuah produk. Banyaknya konsumsi berakibat pada kemampuan otak yang kelimpungan memprosesnya.

Fenomena ini disebut Virilio sebagai dromosphere, suatu keadaan pada lingkungan yang semuanya serba cepat (Virilio, 2007). Menurut Virilio kecepatan yang melanda masyarakat modern mengakibatkan banyak kecelakaan. Dengan kondisi tersebut Virilio khawatir pada beberapa keadaan yang akan menimpa kita, diantaranya mengalami kebingungan dan tidak tahu dimana kita berada, antara dunia nyata dan dunia maya jaraknya menjadi sangat tipis (Brown, 2012).

Dalam kultur digital, maka kesalahan bertindak yang sepertinya sepele bisa menjadi besar akibatnya. Hanya karena berita yang belum diketahui kebenarannya, beribu-ribu orang bisa berduyun-duyun turun memenuhi jalanan dan menggugat otoritas. Situasi inilah yang kerap kali dimanfaatkan oleh oknum-oknum agar kepentingannya bisa berjalan mulus. Saat ini bukanlah hal yang sulit untuk mengumpulkan massa lalu menjual produk. Terkadang karena informasi yang belum valid, pertumbahan darah dan saling serang juga kerap terjadi.

Keadaan ini menjadi sangat menyeramkan dan menyerang ketenangan. Jika ditanya apa yang sekarang kamu takutkan? Mungkin saya akan menjawab, salah mengambil kesimpulan. Kesimpulan, biasa kita hasilkan setelah beberapa informasi-informasi yang masuk. Kesimpulan kita hasilkan setiap harinya dan membawa pada tindakan sehari-hari. Jika kemampuan otak dalam memprosesnya tidak berjalan baik, kita mengalami sekat kegagapan sehingga antara informasi yang masuk dengan kesimpulan terkadang tidak berkausalitas lalu berakibat pada kesalahan tindakan (action).

Begitulah zaman, ia selalu berevolusi. Entah apa lagi yang akan ada setelah puncak digital ini. Entah apalagi yang akan membuat gagap manusia setelah ini. Kegagapan manusia yang tidak bisa mengikuti arus yang semakin cepat. Dengan apa menghadapi?

Wrote by Umi Nurchayati

 


Sejak menginjak usia seperempat abad, pertanyaan ini terus berbisik dalam benak, "Apa aneh jika di usia saya sekarang masih belum siap menikah?" Pasalnya kalau mau dilihat dari lingkungan saya tentu saja sudah banyak yang melangkah ke jenjang itu. Mulai dari teman-teman di kampung, rata-rata di usia mendekati 20-an mereka sudah menikah, sekarang teman-teman masa SD sudah pada nggendong anak.

Tentu bukanlah hal yang bijak jika terus membandingkan diri dengan orang lain. Pernikahan juga bukan sebuah perlombaan 17 Agustus. Tapi sejak selesai sekolah S1 mau tidak mau saya melihat kenyataan teman-teman sudah ramai sebar undangan pernikahannya. Teman-teman sekampus dan sepondok juga sudah banyak yang memutuskan untuk menikah.

Entah, apa karena saya dianggap sudah saatnya menikah atau bagaimana oleh para orangtua, sehingga mereka mulai sibuk menjodoh-jodohkan. Masalahnya dari beberapa orang yang dikenalkan belum ada yang krenteg di hati gitu. Itu kayaknya para orangtuanya saja yang berkeinginan menjadikan saya menantunya, tapi anak-anaknya sama sekali tidak peduli.

Sampai saat ini saya masih terus merasa belum siap menikah, saya pun mulai mempertanyakan kenormalan diri saya sendiri, saya sungguh merasa menjadi gadis yang aneh. Lalu saya ceritakan kegelisahan tentang diri saya ini pada beberapa teman, sialnya pikiran saya justru semakin budrek. Beberapa orang menyarankan saya menerima perjodohan, dan beberapa orang membebaskan pilihan saya. “Perempuan itu simple, cuma butuhnya yang pasti-pasti aja, jangan habiskan waktumu untuk menabung kekecewaan,” begitulah salah satu kata pamungkas seorang teman yang mau nggak mau juga membuat saya nggak bisa tidur. Hingga pertanyaan saya kini mulai berkembang, pertanyaan saya sekarang adalah bagaimana menjemput kesiapan menikah itu?

Kalau persiapan ya tentu dilakukan, menua adalah hal pasti. Saya juga mengamini kata Pak Fahruddin Faiz, “Sepahit-pahitnya orang menikah, lebih pahit lagi yang tidak menikah.” Secara pribadi saya sendiri pernah bergumul tentang perkara menikah ini, yaitu tepatnya setelah ngaji kitabnya Imam Al-Ghazali Kimyaus sa’adah. Di kitab itu Imam Al-Ghazali menuliskan diantaranya tentang keuntungan menikah dan tantangannya. Menurut Al-Ghazali diantara keuntungan menikah adalah kita bisa fokus belajar dan mengabdi untuk ilmu karena sudah ada yang mengurusi makan dan minum. Sedang tantangannya adalah di zaman sekarang mencari rezeki yang halal itu sulit, karena semuanya sudah bercampur antara halal dan haram, jadi banyak unsur yang syubhat. Duarr.. gimana loh..

Sebentar.. sebentar jangan kisruh dulu, Imam Al-Ghazali hidup sekitar tahun 450 – 505 H. Beliau adalah seorang filsuf dan ulama besar, wajar jika salah satu harapannya menikah adalah agar hidupnya bisa lebih fokus dengan dunia ilmu. Tanpa mengesampingkan kesetaraan, di zaman itu pekerjaan domestik masih dikaitkan dengan ranah perempuan saja, meski pandangan ini juga tetap lestari, pun di hari ini. .

Sekarang alasan tantangannya itu yang cukup bikin khawatir, coba di zaman para ulama salaf sholeh saja mereka sudah khawatir dengan susahnya mencari rezeki yang halal. Apalagi zaman kiwari kita-kita ini, ada proyek buat rebutan, naik pangkat sikut-sikutan, sampai korupsi membudaya. Aihhh jaman wes akhir.

Dua poin dari Imam Al-Ghazali itu cukup menjadi renungan saya apakah saya akan menikah atau tidak. Dalam fikih hukum menikah bisa menjadi berbeda-beda, para ulama zaman dulu banyak yang tidak menikah karena sibuk belajar. Ahh.. tapi saya siapa, hanya seorang yang nggak jelas dan masih menyusahkan orangtua. “Imam Nawawi nggak menikah menulis banyak karya, lha koe..” ungkap Gus Baha dalam cuplikan pengajiannya yang saya temukan saat scrool timeline Instagram.

Setelah mengalami perenungan-perenungan pikiran dan batin, berkaca pula dari rasa kesepian yang mulai merasuki masa dewasa ini. Saya pun memutuskan memilih untuk menikah. Meskipun belum ada calonnya yang penting sudah diputuskan dulu, yang penting saya sadar memilih memutuskan perkara ini. Berkumpul dengan keluarga, menciptakan kehangatan untuk anak-anak sepertinya cukup menantang dan menarik. Mewujudkan keluarga sakinah wamaslahah, membangun baiti jannati, sepertinya semua orang berangan-angan begitu nggak sih ?

Dulu dii masa sekolah SMK sebenarnya saya pernah punya cita-cita untuk menikah di usia 24 tahun. Tapi ternyata rencana menikah bukanlah hal yang bisa diwujudkan seperti masuk sekolah. Menikah bukan perkara yang sudah ada jadwalnya dan terpampang. Jadwalnya tentu saja ada, tapi kita tidak bisa melihatnya karena yaitu, perkara jodoh dan maut rahasia Ilahi.

Di usia yang saya cita-citakan menikah saat masih SMK itu, realitanya saya malah menjadi belum memikirkannya. Waktu itu  masih punya kewajiban belajar yang belum terselesaikan. Jadi ya urusan menikah belum prioritas. Lagipula belum ada juga kisah-kisah perjodohan.

Hingga waktu terus berlalu, saya sibuk mencari sesuap nasi demi bertahan hidup di rantau. Dan pertanyaan itu membisik. Saya sebenarnya bukanlah orang yang terbiasa dengan hubungan ‘pacaran’, bukan karena saya setuju indonesia tanpa pacaran. Tapi ya bagi saya yang merasa mengalir saja dalam menjalani relasi dengan siapapun, tidak menganggap penting-penting amat dengan istilah pacaran atau semacamnya. Lagipula sejak SD Bapak selalu mengancam, “Ora usah pacar-pacaran, ra sekolah nek pacar-pacaran,” dengan suara khasnya membuat saya dan adek cukup merinding. Dengan prinsip yang saya pegang erat-erat itu, teman-teman kampus saya para ukhtea selalu berkata, “Masyaallah mik kamu keren ya bisa nggak pacaran, aku pengen kayak kamu,” dalam hati saya cuma membagong.

Meski begitu, pada dasarnya saya memang cukup supel dan suka bergaul dengan banyak orang, baik perempuan atau laki-laki.  Aktivitas sejak sekolah memang sudah cukup padat, sampai menginjak kuliah saya menjadi cukup aktif di kampus. Namun karena prinsip-prinsip saya sendiri itulah justru saya lebih banyak terjebak dan menjadi korban friendzone serta ghosting berkedok sahabat. Naseb.. naseb.

Bahkan sampai setelah lulus kuliah dan bekerja, saya merasa masih sering menjadi korban hubungan nggak jelas. Sejak merasakan satu patah hati  ke  patah hati yang lain, antara kasih tak sampai, kasih terbentur kondisi, kasih terbentur sahabat, dan entah apalagi itulah, saya menjadi sok berteori tentang cinta dan menikah ini.

Inilah beberapa hasil bergumulan batin dan pikiran yang berhasil dirumuskan dari rentetan patah hati ke patah hati yang lain. Beberapa diantaranya juga hadiah karena menjadi tempat curhat para orang-orang yang juga patah hati lantaran putus cinta dari kekasihnya setela lama menjalin hubungan dan berkomitmen.

Pertama, sampai detik ini saya pikir orang yang menikah karena saling mencintai adalah hak istimewa, privilese yang tidak dinikmati semua orang. Betapa banyak orang menikah lantaran bukan karena saling cinta, melainkan karena faktor ekonomi, desakan orangtua, atau faktor kepentingan seperti bisnis dan politik misalnya. Di desa-desa perempuan dinikahkan juga bisa lantaran orangtuanya terlilit hutang.

Selanjutnya, bisa jadi cinta bukanlah unsur terpenting dari sebuah pernikahan. Kita melihat, banyak orang yang menikah tidak diawali dengan rasa cinta dulu, bahkan saling nggak kenal mulanya. Tapi langgeng-langgeng aja sampai kakek nenek. Cinta memang bukan unsur nomor wahid dalam pernikahan. Lagipula ‘tresno jalaran soko kulino’ bukanlah hal yang mustahil.

Kemudian, menyitir lagunya Sal Priadi ‘Irama Laot Teduh,’ “Apa kau sudah siap? kapal ini kan laju”. Lebih dari cinta, pernikahan adalah bagaikan sebuah kapal. Di kapal itu dua insan berlayar menuju pulau. Tetapi mereka tetap individu masing-masing, satunya bisa jadi nahkoda satunya yang pegang kompas. Peran ini bisa bergantian, dan keduanya bisa berdebat akan melewati jalan yang mana. Pernikahan bagaikan kapal yang masing-masing punya tempat yang ingin disinggahi dulu, tapi tetap menaiki kapal yang satu.

Jadi dua insan ini memang harus saling kompromi, berhenti dulu di pelabuhan, minum es cendol kesukaan sang nahkoda, lalu berlayar lagi. Berhenti di pelabuhan Makassar beli Coto Makassar kesukaan sang penunjuk arah, lalu lanjut berlayar lagi. Begitu seterusnya sampai maut memisahkan, dan until Jannah. Baik nahkoda atau penunjuk arah juga harus bersama-sama menjaga kapal tetep seimbang. Sorry kapalnya belum secanggih kapal selam, masih kapal layar yang mengandalkan angin ghes.

Ada lagi hal lain, orang bisa bersatu menikah karena semua kondisi mendukung pada saat itu. Diantara kondisi itu adalah; disaat itu kamu bertemu orang yang cocok atas banyak hal, mulai dari pemikiran yang setara, aspek spiritual yang hampir seimbang, aspek normatif yang dilihat secara sama, serta kondisi sosial dan keluarga yang mendukung. Ya, semua kondisi yang tepat itu membuat dua insan bisa bersatu. Dalam islam dikenal dengan konsep ‘sekufu’.

Kata orang-orang, yang dinamakan jodoh ya gitu, apapun bisa dilalui. Agaknya perkataan seorang filsuf ini juga bisa relevan dengan kondisi tersebut, Paulo Coelho berkata 'Saat kamu menginginkan sesuatu, semesta akan bersatu padu membantumu’. Makannya orang yang memang tulus berkeinginan akan cintanya ya terbuka jalannya. Bahkan tak jarang rintangan yang awalnya seperti tidak mungkin bisa juga ditundukkan. Meskipun kenyataannya Zainuddin tetap tidak bisa bersatu dengan Hayati. Tapi cinta Hayati dan Zainuddin tetap hidup.

Kembali ke topik kesiapan, daripada terus mempertanyakan 'Apa diri ini aneh jika belum siap menikah’. Kini saya sudah punya jawabannya. Sebenarnya bukan karena belum siap, tapi nggak ada yang ngajak siap. Wkkk.. hahaha canda coy 😆

Sebenarnya bukan karena kamu belum berani atau belum siap menikah, setiap orang akan menemui kesiapannya sendiri-sendiri dan berbeda-beda, yang tak jauh juga dipengaruhi kondisi secara pribadinya dan lingkungan sosialnya. Lebih dari itu, siap itu butuh kejelasan dan tambahan kesiapan dari orang lain. Katanya tidak ada orang menikah dengan siap 100%, menurut saya kesiapan itu muncul karena ketemu orang yang membuat hati berkata 'Oke, ayo sama dia’.

Ibaratnya gini, dua sejoli pasti punya kayakinan masing-masing pada calon pasangannya. Tapi keyakinan itu pasti belum 100% karena masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak bisa diurai secara lisan. Katakanlah satunya siap 70% satunya 50%. Lalu akhirnya salah satu pihak mengajak Lets get married, maka disaat itulah keyakinan bisa bertambah karena adanya keseriusan. Maka dari itu nyatanya kesiapan bukanlah kerja seorang diri. Perlu pihak lain untuk menggapainya, yaitu dengan syarat keyakinan dan keseriusan.

Yahh.. begitulah kontemplasi dan bualan saya akan dunia pernikahan. Teman-teman atau siapapun tentu berhak untuk tidak setuju atau bahkan mengumpat-umpat pandangan saya ini. Silakan saja, tulis di komentar, saya persilakan untuk di debat di akun media social saya. Selamat menemukan jodoh jomb, moga segera bertemu orang yang tepat lagi saling cinta.

 

Wrote by Umi Nurchayati


Dewasa ini kehidupan berdemokrasi bangsa kita tengah mengalami berbagai terpaan badai. Tanpa disadari dalam empat tahun terakhir ini isu identitas terlebih agama semakin mencuat ke permukaan. Berbagai perbedaan dalam berislam yang sudah terjadi beberapa ratus tahun lamanya sejak zaman Nabi Muhammad SAW kembali dimunculkan di permukaan seolah-olah sebagai sebuah problem, seperti hukum mengucapkan selamat hari raya kepada umat agama lain, dimana sebenarnya sudah dibahas dan diselesaikan ulama-ulama terdahulu.

Seiring bertambahnya waktu, gelombang kehidupan religius di masyarakat yang semakin meningkat selain disyukuri mau tidak mau juga menjadi tantangan. Terlebih dengan meningkatnya arus informasi ini, berbagai argumen seperti berperang bersliweran dalam dunia maya untuk menduduki 'viral' . Masalahnya banyak yang menjadi viral justru bukanlah hal yang etis, kalau boleh dikatakan kliru, disini masyarakat dituntut untuk memiliki sikap kritis terhadap informasi.

Dalam kaitannya ini saya hendak mengeksplorasi terkait masyarakat kita yang terus meningkat dalam kehidupan beragamanya yang mana sumber pengetahuan dan informasinya banyak didapat dari dunia maya. Dalam dunia maya banyak dipahami berbagai hukum legal formal agama seperti ketentuan berjilbab, bersalaman dengan lawan jenis dan lainnya. Namun pemaparan yang tidak disertai metodologi pengambilan hukum dari suatu permasalah yang banyak terjadi di alam maya tersebut justru membuat agama semakin terlihat kaku dan tidak berpijak dari realitas. Sangat menarik bahwa gelombang ini, kita sebut islamisme dapat dengan mudah diterima masyarakat.

Dengan meningkatnya isu ini yang juga turut menggebrak panggung politik kita, maka saya hendak mengurai pengaruh islamisme hari ini dalam kehidupan bernegara, serta kaitannya dengan oligarki. Sudut pandang ini akan membantu kita mengetahui peluang gerakan moderat di tengah  islamisme yang semakin berkembang serta kaum oligarki yang semakin merongrong negeri.

Islamisme sudah lama berkembang di beberapa negara Timur Tengah, mereka adalah kelompok yang mengusung hukum islam formal untuk diterapkan dalam suatu wilayah. Di Indonesia kelompok islamis telah berkembang dari zaman rezim Soeharto, dimana pemberontakan DITII yang diawali pada tahun 1953 di Aceh menjadi bukti bahwa keberadaan kelompok ini memang nyata. Lalu Apa bedanya islamisme dengan islam?

Islam adalah agama luhur yang diturunkan melalui perantara Nabi Muhammad Saw yang menerima wahyu dari Allah Swt melalui perantara malaikat Jibril. Islam membawa pemeluknya untuk memiliki ketinggian akhlak (akhlak al-karimah) sebagai manusia dan umat terbaik (insan kamil) yang diciptakan Tuhan di muka Bumi. 

Sampai sekarang, gerakan yang mengusung islamisme telah berkembang menjadi berbagai macam fikrah gerakan, rata-rata melalui gerakan politik dan sosial, sebut saja partai PKS yang dalam falsafah kepartaiannya mereka mengusung hukum formal islam untuk dijadikan hukum negara, juga gerakan 212, Muslim United dll yang keduanya juga mengkampanyekan pemberlakuan hukum legal formal  islam untuk diterapkan pada negara yang mayoritas muslim nan multikultural ini.


Gerakan Islamisme

Jika diperhatikan secara seksama sebenarnya gerakan islamisme seperti 212 dan Muslim United ini tidak hanya fenomena di Indonesia saja, melainkan juga di beberapa negara islam lain, seperti Mesir, Arab Saudi, Afganistan, Yaman dll. kita menyebut gerakan semacam 212 sebagai gerakan islamis dimana menurut Roald (2004) gerakan ini berusaha memperluas dan menerapkan islam melampaui apa yang umumnya dianggap sebagai wilayah privat demi untuk mempengaruhi wilayah publik, islamisme mengusung gagasan bahwa islam merupakan suatu sistem atau bangunan nilai, keyakinan, dan praktik yang lengkap melingkupi semua wilayah kehidupan.

Bagi gerakan islamis, mereka berusaha untuk membangun jaringan menyeluruh pada tataran politik, kedermawanan, dan semua bentuk aktivisme  Semua jaringan ini saling memperkuat antara satu dengan yang lain  dan mendorong keutamaan publik serta kesalehan pribadi. Jika diamati gerakan semacam 212, Hizbut Tahrir, Muslim United, dan gerakan Hijrah yang banyak merekrut para artis di Indonesia bisa jadi karena semangat dorongan akan islamisme ini.  

Dalam dunia islam kita tidak bisa menampik bahwa politik termasuk bagian penting dari islam. sehingga pembacaan terhadap islam bagi kalangan islamis perlu kita mengerti, jika dilihat dari akar sejarahnya islam memang melingkupi semua aspek kehidupan manusia. Rasulullah Muhammad sendiri diutus Tuhan untuk menyempurnakan tabiat manusia (menyempurnakan akhlak), dalam konteks sejarah, Muhammad dilahirkan di Mekkah al mukarromah dimana Arab saudi pada saat itu adalah sebuah suku (tribe) yang porak-poranda, tak berakhlak dan banyak pelanggaran kemanusiaan. Hingga diutusnya Muhammad adalah untuk memperbaiki akhlak manusia.

Michael Hart menempatkan Rasul Muhammad Saw sebagai orang nomor satu paling berpengaruh di dunia dalam bukunya ‘100 Tokoh Paling Berpengaruh Di Dunia’. Muhammad berhasil mendidik masyarakat Arab dari yang mulanya banyak terjadi penyimpangan dan  keterbelakangan atau dikenal dengan zaman jahiliyah menuju masyarakat yang berkembang secara kultur, ekonomi dan ilmu pengetahuan. Pada masa itu ilmu pengetahuan terus berkembang dan banyak ilmuan-ilmuan bermunculan dari dunia muslim. Hingga lahir pula negara Madinah yang menjadi bangsa sejahtera dan beradab (baldah thayyibah).

Menengok sejarah kehidupan bermasyarakat pada masa Rasulullah Muhammad Saw, maka tak heran jika kaum islamis berusaha keras untuk membangkitkan kembali masyarakat madani seperti era abad pertengahan. Mereka berusaha untuk selalu memberi nafas-nafas islam dalam segala lini kehidupan. Namun sayangnya mereka abai, bahwa pembacaan islam yang tekstual yang dilakukan gerakan islamis tersebut tidak dapat diterapkan di jaman yang berbeda.

Dalam dunia politik, kalangan islamis ini mencoba menerapkan hukum islam dengan menggelorakan hukum syariah melalui perda-perda syariah. Pembacaan islam yang mereka anut telah menempatkan kata syariah sebagai label, menganggap yang tidak ada kata syariah adalah tidak syariah. Padahal dalam hukum islam umat muslim mengenal pinsip Maqashidul Syariah, dimana hukum menurut islam dibuat untuk menciptakan maslahah. Bagi kalangan moderat yang mengandung syariah (sesuai tuntunan agama islam) tidak hanya yang memuat kata syariah di dalamnya. Dalam islam diketahui bahwa yang syariah itu adalah yang memunculkan kemaslahatan bagi semua umat.


Pemahaman Keislaman dan Relasi Kuasa

Pertentangan tindakan dalam tubuh muslim seringkali dialami akibat pembacaan yang berbeda-beda terhadap islam itu sendiri. Sehingga perbedaan dalam dunia islam memang tak bisa dihindarkan. Masyarakat muslim akan bergantung pada pemahaman mana yang lebih dominan didapat dari lingkungannya untuk menerapkan prinsip-prinsip islam dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai warga negara indonesia yang mayoritas adalah muslim maka menjadi penting untuk melihat arah pergerakan kaum muslimin. Di indonesia terdapat kalangan islam modernis yang tengahan (wasathy) diantaranya diwakili oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) dimana keduanya merupakan gerakan jamaah Islamiyah yang didirikan oleh ulama asli Nusantara yaitu KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta dan KH. Hasyim Asy’ari di Jombang, Jawa Timur.

Baru-baru ini gerakan islam yang lebih konservatif semakin banyak kita jumpai, diantaranya seperti Hizbut Tahrir yang merupakan organisasi transnasional. Di Indonesia kita kenal Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Walaupun Muhammadiyah dan NU lahir lebih dulu di bumi Nusantara dan praktek muamalah dan ibadahnya menjadi mayoritas dianut muslim indonesia, namun tidak menutup kemungkinan bagi organisasi transnasional HTI mengambil jamaah kalangan islam tengahan ini. Hal itu bisa dikarenakan banyak hal. Umumnya kalangan modernis yang kokoh secara kultural ini tidak begitu memperkuat struktural sehingga terkadang penyampaian mereka dalam syiar dianggap kurang intens pada masyarakat bawah kalangan menengah perkotaan. Apalagi di era modern dan media sosial sekarang ini. konten-konten di internet banyak didominasi pengusung islamisme yang lebih mudah dikonsumsi umat muslim.

Di tubuh NU sendiri juga terjadi hal serupa, umumnya NU yang banyak memusatkan pengajarannya pada pondok pesantren mengalami masalah tersendiri. Pemahaman Aswaja yang digaungkan dalam pembelajaran berbasis NU seringkali berlangsung lama, artinya pemahaman islam Aswaja , yang tawassuth, tawazun, i’tidal dan tasamuh berlangsung lama untuk meresap pada diri sanubari  peserta didik atau santri yang belajar di lembaga NU. Pemahaman Aswaja baru dapat dirasakan peserta didik ketika sudah lama belajar sampai bertahun-tahun.

Begitu juga yang terjadi di lingkup Muhammadiyah, pelajaran Kemuhammadiyahan atau AIK yang wajib diselenggarakan oleh seluruh sekolah Muhammadiyah dan perguruan tinggi Muhammadiyah cukup lama dapat dipahami oleh para peserta didik. Hanya yang terbiasa di sekolah kader Muhammadiyah saja yang akan lebih mudah paham.

Hal itu mungkin saja karena pemahaman Aswaja an-Nahdliyah di tubuh NU dan Kemuhammadiyahan tidak bersifat doktrinal, pemahaman Aswaja lebih diarahkan bertahap, dari mulai bab Tauhid, Syariah seperti menyempurnakan bersuci dan ibadah mahdhoh lalu naik ke pemahaman ilmu Akhlak serta spiritualitas. Semua pembelajaran ini dilakukan bertahap, peserta didik tidak akan langsung disodori urusan politik ketika belum melewati pembelajaran Tauhid dan Syariah.

Hal ini berbeda pada seseorang yang baru saja mendalami islam dan menyebut dirinya berhijrah. Umumnya mereka yang mengikuti hijrah akan lebih vokal menyuarakan nilai-nilai yang dianut yang didapatkan dari ustadz-ustadz yang mengisi kajian. Walaupun baru beberapa bulan berhijrah mereka sudah lebih pintar menyuarakan nilai-nilainya, tidak takut-takut dan berani. Hal ini dikarenakan apa yang mereka dapat bersifat doktrinal dan searah. Umumnya para ustadz/ motivator hijrah langsung menyampaikan topik yang agak berat bagi jamaahnya, walaupun tergolong baru. Topik-topik yang diangkat umumnya adalah tentang memperbaiki diri, menutup aurat, mencari jodoh, bahagia dunia akhirat, hingga politik islam. Fenomena hijrah akhirnya menjadi trend masyarakat urban perkotaan.

Sebenarnya bukan hal yang perlu dipermasalahkan menyampaikan tema-tema di atas karena juga merupakan tema yang perlu dimengerti umat muslim. Namun sayangnya menjadi rancu jika tidak dilihat konteks para pendengar/ jamaahnya terlebih dahulu. Coba bayangkan saja jika orang yang baru muncul semangat  (ghirah) berislam nya lalu langsung disuguhi tentang politik islam, apalagi jika penyampaiannya diperlihatkan dengan seolah-olah umat islam sekarang sedang ‘terdzolimi’ sehingga butuh bersatu dan berjamaah untuk melawan kristenisasi, yahudi, dan zionis.

Penyampaian yang seperti itu tentu saja amat berbahaya. Dengan ghirah yang sedang meletup-letup bisa jadi mereka dapat kehilangan daya kritis hingga semua dipukul rata, langsung membenci non muslim, menghukumi sesuatu dengan sebatas pada halal-haram, dll. Inilah kecenderungan yang dapat menyebabkan tindakan yang kaku dan sangat konservatif. Umumnya setelah mengikuti beberapa motivasi hijrah, mereka akan lebih lantang menyuarakan nilai-nilai baru yang didapatkannya, baik melalui gaya berbusana yang mulai berubah atau melalui akun-akun media sosial. Hingga terdengar nyaring suara-suara mereka dengan ajakan-ajakannya untuk kembali pada ajaran Tauhid, kembali  pada islam yang kaffah, tentu saja dengan definisi menurut mereka.

Dalam dunia ilmu pengetahuan dimana tradisi berpikir ialah jantungnya, maka menyuarakan nilai-nilai yang dianut secara masif akan berbahaya tanpa didukung oleh argumen-argumen, khazanah pengetahuan, dan kajian mendalam karena apa yang disampaikan menjadi tidak bulat dan utuh melainkan hanya potongan-potongan saja.

Gairah hijrah ini muncul dalam masyarakat muslim kelas menengah yang berpenghasilan tetap dan bisa memenuhi kebutuhan ekonominya. Maka menjadi wajar jika gairah hijrah ini muncul, kebutuhan jiwa dan spiritual mengantarkan muslim kelas menengah untuk memberi siraman pada jiwa-jiwa mereka. Sebagai umat muslim kalangan kelas menengah ini bisa dibilang haus akan sentuhan rohani. Hal ini pun menjadi celah bagi gerakan islam transnasional untuk mengisi kekosongan ini. sehingga menjadi wajar jika justru kelas-kelas mapan yang mengalami fenomena hijrah.

Namun seperti disebutkan bahwa islamisme telah berhasil mendorong umat muslim perkotaan berkumpul dan membentuk sebagai gerakan. Seperti gerakan 212 yang sempat heboh kembali menjelang Pemilu 2019 lalu itu. Baru-baru ini gerakan dari muara 212 juga kembali berkumpul dengan mengadakan Muslim United yang diselenggarakan di Yogyakarta di tahun 2018 dan 2019.

Sebenarnya gerakan islamis ini cukup beragam macamnya, selain hizbut tahrir, ada ikhwanul muslimin, dan tarbiyah atau salafi. Tetapi diantara semuanya hanya HTI yang menentang penolakan terhadap demokrasi. Itulah yang menyebabkan organisasi ini resmi dibubarkan pada 2017 lalu. Beberapa negara lain sudah lama melarang adanya organisasi ini di negaranya, seperti Malaysia, Arab Saudi, Turki, Rusia, Jerman, Mesir, Suriah, dan beberapa negara lain.

Hal ini karena dimungkinkannya ideologi hizbut tahrir akan mengubah tatanan negara yang sudah mapan dengan solusi khilafahnya, dimana tidak ada kajian empiris sebagai sebuah solusi di dalamnya. Padahal saat ini setiap negara sedang mengalami tantangan-tantangan yang berbagai macam dari dalam dan luar negeri. Yang jika merumuskan kembali konsep bernegara justru akan membawa pada sebuah kemunduran dan kemungkinan peperangan serta konflik sosial lainnya.

Tentu saja eksisnya keberadaan HTI di Nusantara bukan tanpa sebab, selain karena getolnya Felix Siauw dan kawan-kawannya yang terus kampanye khilafah, saya kira dibelakang itu ada kekuatan yang menyokongnya selain dari kekuatan luar negeri sebagai organisasi transnasional. Foucault, seorang filsuf Prancis abad 20 menyebut bahwa pengetahuan dan kekuasaan selalu memiliki korelasi.Menurut Foucault tidak ada pengetahuan yang berdiri sendiri tanpa adanya kekuasaan, dan tidak ada praktik kekuasaan yang tidak memunculkan pengetahuan.

Menggunakan teori Foucault diatas, kita mungkin akan menebak-nebak kenapa islamisme semakin berkembang ditengah bahaya nyata praktik oligarki yang sedang merongrong ibu Pertiwi. Dari pemilu 2019 lalu kita mengetahui bahwa kedua calon Presiden disokong oleh beberapa pengusaha tambang. Laporan dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) telah menyebut bahwa bisnis tambang adalah penyokong terbesar dana kampanye. Maka tak heran jika setelah berkuasa banyak yang bagi-bagi kursi.

Itulah sebenarnya yang lebih membahayakan, praktik kekuasaan yang disokong oligarki akan menyengsarakan rakyat sendiri. Apalagi ketika masyarakat dengan praktik-praktik formalisme islam maka niscaya bahaya praktik oligarki akan terabaikan. Mereka akan bebas menjarah seisi kekayaan bumi pertiwi. Terlebih karena mengusung formalisme islam maka gerakan islamisme akan menjadi mudah digunakan oleh seseorang atau kelompok demi kekuasaan.

Sebagai seorang muslim kita meyakini bahwa islam adalah agama yang luhur yang mengantarkan pada kesempurnaan akhlak. Berbeda dengan islamisme, yang mana hanya menggunakan islam sebagai alat untuk mencapai kekuasaan.

Kini, selayaknya sebagai masyarakat mayoritas, umat muslim kembali renungkan untuk menyadari bahaya praktik bagi-bagi kekuasaan atas relasi siapa yang bermodal yang berkuasa. Hingga merebut tafsir kemerdekaan sesuai cita-cita luhur para pendahulu adalah perjuagan seluruh masyarakat hari ini.[].


Wrote by Umi Nurchayati

 



Di suatu sore akhirnya aku kembali bertemu dengan teman sekamar ketika masih di Krapyak, ia cerita panjang lebar bahwa belum semua santri bisa kembali ke pondok sejak pandemi ini.


Ohh iya, lagi dipersiapkan sistemnya buat menghadapi Covid-19 ini mungkin, ujarku asal tebak. Akhirnya untuk sementara ia kost di dekat kampus karena tengah mengerjakan tugas akhir juga.


Ia pun cerita pengalamannya ngalor ngidul, yang tiba-tiba sebuah pertanyaan mendarat yang entah ditujukan pada siapa karena aku juga merasa tak bisa menjawabnya. Hahha

"Mbak kita ini dikasih ijazah-ijazah nggak sih dari pondok apa aku yang nggak tahu, kemarin tu aku ketemu teman sempat nginep. Anak pondokan juga lagi ngobrol-ngobrol tiba-tiba permisi untuk dzikiran. Aku pernah nginep juga dulu di pondoknya tiap hari mujahadah," celetuknya.


Begitulah pertanyaan yang menyelimuti hatinya, semenjak pandemi dan merasakan hidup di luar pesantren ia merasa kehausan spiritual. Siatuasi ini rasanya juga pernah kualami semenjak boyong dari pondok, memang cukup berat rasanya, hidup jauh dari guru dan jauh dari rutinitas harian di pesantren.


Aku pun bingung bagaimana harus mengomentari celetukannya itu, walhasil aku cuma cerita dari kisah yang pernah kudengar dari mbak-mbak pondok, kebetulan aku memang masuk lebih dulu daripada temanku ini. Bahwa suatu ketika ada seorang santri yang menyetorkn hafalannya pada Bu Nyai, ternyata tidak lancar dan sedikit mendapat pertanyaan-pertanyaan, kebetulan santri ini ternyata setiap harinya berpuasa. Bantinku Subhanallah sekalii, tak sanggup lah kalau aku.


Tanpa disangka justru Bu Nyai dawuh pada santri tersebut untuk menghentikan puasanya, "nek poso ndadekke koe ra lancar ra sah poso sek, wes nyekel Qur'an nomer siji Qur'ane sek," begitulah kira-kira dawuh Ibuk, biasa kami memanggil.


Hal serupa berkali-kali juga dikatakan para ustadz, "kalian itu statusnya sedang belajar, jadi nomor satu ya belajar, sek wajib sinau. Nek poso sunnah yo apek, tapi itu sunnah, yang wajib belajar. Kalau puasamu yang sunnah sampe mengganggu yang wajib yaitu belajar, dadi ora konsen meh sinau maka yang didahulukan yo sing wajib," begitulah kira2 dawuh para ustadz di Krapyak, setidaknya di komplek saya berada waktu itu. Bukan maksudnya belajar lebih bagus daripada puasa, keduanya tentu baik, tapi ini adalah menyangkut skala prioritas. Tentu saja jika bisa melaksanakan keduanya dengan baik itu lebih baik lagi, namun agaknya guru-guru kami paham dengan kondisi kami.😄


Tentu saja semua itu cukup mengagetkan ketika aku menjadi santri baru sekitar 6 tahun lalu, ini benar-benar pengalaman berbeda bagiku, setidaknya berbeda dari tempatku nyantri sebelumnya yang bahkan sampai mewajibkan mujahadah setiap hari.


Di Krapyak tuntutan wajib tahajud, dhuha, puasa senin kamis, dll hampir tidak ada. Aku rasanya seperti tidak di pesantren waktu itu. Tapi lama-lama ya merasa di pesantren karena tetap ada kewajiban ngaji dan ngaji. 


Di Krapyak porsi ngaji pengajian kitab relatif lebih banyak, hal ini berbeda ketika di pondok dulu yang rasanya waktu lebih banyak buat mujahadah. Awalnya aku berpikir mungkin karena pondok Krapyak letaknya di kota dan kebanyakan santrinya mahasiswa jadi agak longgar, dan itu bisa dipahami. 


Tapi ternyata perbedaan kultur itu bukan sepenuhnya disebabkan oleh letaknya Pondok Krapyak yang ada di kota pelajar Yogyakarta saja. Namun berbedaan filosofis dasar para Kiyainya yang mulai kupahami menjelang akhir-akhir masa di Pondok. 


العلم قبل العمل 

  • Ilmu sebelum amal


Begitulah mulai aku paham sedikit demi sedikit, hal itu juga mulai bisa aku internalisasikan dalam diri setelah berdiskusi cukup panjang dengan sesama alumni yang beda komplek, serta membaca buku biografinya Mbah Ali Maksum Allahuyarham, yg ditulis oleh sejarawan Ahmad Athoillah "KH. Ali Maksum: Ulama, Pesantren dan NU." Di buku itu Athoillah banyak menyebutkan kisah-kisah Mbah Ali di berbagai situasi, juga pemikiran-pemikiran beliau, yang bagiku begitu progresif dan maju. Ada sebuah kisah menarik yang hampir mirip dengan kisah santri yang didukani Bu Nyai tadi. 


Suatu hari seorang santri juga melakukan puasa ngrowot, yaitu puasa yang tidak makan nasi dan hanya makan umbi-umbian saja untuk sahur dan buka. Sontak santri tersebut juga didawuhi untuk menyudahi laku tirakat ngerowotnya oleh Mbah Ali. Mbah Ali mengatakan jika zaman sekarang sudah berbeda dari jaman dahulu, teknologi dan pengetahuan terus berkembang jadi santri harus memiliki gizi cukup agar mampu berpikir kedepan dan tidak ketinggalan. Kira-kira begitulah dikisahkan oleh Athoillah, aku sedikit lupa redaksinya karena sudah cukup lama bacanya. 


Ilmu menjadi dasar dan sandaran beramal, العلم قبل العمل begitulah dipegang erat dan menjadi dasar pengajaran di Krapyak. Tak heran jika di pondok ini aku tak menemukan laku tirakat atau ijazah yang dikhususkan, setidaknya begitu yang aku rasakan bersama teman-teman santri lain. 'Atau bisa jadi kami yang tidak mengetahui?'


Sesuatu yang sunnah tak berubah jadi wajib, guru-guru kami mengajarkan memaknai arti ijazah dan tirakat (riyadhoh) dengan lebih luas. "Semua bacaan yang baik, Al-Qur'an, sholawat, dzikir, semuanya bisa jadi wirid asalkan istiqomah diamalkan jangan sampai bolong," begitulah kata guru kami.


"Ohh jadi itu to,pantesan kita tak pernah disuruh baca ini itu berapa kali berapa kali, ya kecuali mujahadah yg malam jum'at atau nariyahan aja itu juga dilakukan berjamaah," temanku menimpali.


"Wahh keren yaa.. Ilmu sebelum amal, santri ki wajibe sinau," ulang temanku lagi.


Begitulah ijazah dari para Kiyai kami di Krapyak, selama menjadi santri memang tugasnya mengisi seluruh waktunya dengan ilmu. Setelah keluar diharapkan siap beramal dan sudah 'isi' begitulah harapan seorang ustadz di akhir pertemuan di kelas terakhir setahun lalu. Ya walaupun ternyata setelah boyong, santri mbeling seperti aku ini tetap masih terseok-seok. Huhuhu


Tulisan ini bukan untuk mengatakan laku tirakat tidak lebih baik. Semua pesantren memiliki coraknya sendiri-sendiri, yang menjadi dasar filosofisnya, membentuk kultur dan budaya pesantren yang berbeda-beda. Inilah yang menjadi unik dan saling melengkapi, mau belajar Qur'an disini, hadist disana, bahasa disana,  semuanya sama-sama untuk beramal makruf, menegakkan agama, dan bi ta'allum.


Wallahu 'Alam


 


Wrote by Umi Nurchayati
Postingan Lama Beranda

Wikipedia

Hasil penelusuran

Halaman

  • Beranda
  • Motivasi
  • KOLOM
  • PUISI
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips & Trik
  • Who Am I

Jejak

  • ▼  2024 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
  • ►  2023 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2022 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2020 (11)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (13)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (18)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2015 (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2013 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Februari (1)

Instagram

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Popular Posts

  • PELAJARAN BERHARGA DARI SYRIA (SURIAH) UNTUK INDONESIA: MENJAGA PERSATUAN
    Gambar : Anak-anak dan perempuan menjadi korban konflik Suriah. dok: bbc.com Suriah (Syria) merupakan suatu negara yang terletak ...
  • Menyikapi Budaya Konsumtif Secara Bijak Dari Lagu Efek Rumah Kaca
    'Atas bujukan setan Hasrat yang dijebak zaman Kita belanja terus sampai mati' Mendengar bait lirik lagu Efek Rumah Kaca (ERK...
  • Rahasia Para Pendo’a
      Sejak kecil anak-anak selalu diajarkan berbagai macam doa, mulai dari doa bangun tidur, mau makan, selesai makan,masuk/keluar kamar mandi,...
  • REFLEKSI - Sejatinya Hidup
    Ilustrasi, In frame: umi nc, credit: kawan Untuk apa aku diciptakan? Mengapa aku diciptakan? Mengapa diri ini aku? Tiga b...
  • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
      dok. pribadi Judul: Crime and Punishment ; Penulis: Fyodor Dostoevsky ; Penerbit: Wordsworth Classics ; Penerjemah dalam B. Inggris: C...
  • seulas senyum di sunset merah Kokoda: Semangat 17an (Part 1)
    Gadis Kampung Warmon berdiri disamping bendera Merah Putih yang ia tancapkan di halaman rumah warga credit: umi Senin minggu ini a...
  • seulas senyum di sunset merah Kokoda: Mencari Bambu dan Pucuk Sagu di Hutan Papua
    Sudah lama sejak 28 Juni 2017 lalu, saya dan 25 teman lainnya yang tergabung dalam tim KKN UMY tinggal di Kampung Warmon ini, ya kami ...

Draft

  • coretan unc
  • Motivasi
  • Opini
  • Puisi
  • sebuah perjalanan
  • stories / notes
  • Tips & Trik

Mengenai Saya

Foto saya
Umi Nurchayati
Blog pribadi Umi Nurchayati @uminurchayatii | uminurchayatiii@gmail.com | "Dalam samudra luas, riak saja bukan"
Lihat profil lengkapku

Copyright © 2019 Bangun Pagi-pagi. Designed by OddThemes & Blogger Templates