• Beranda
  • Motivasi
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Opini
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Puisi
    • Langgam Cinta
    • Pertemuan Bahagia dan Sedih
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips - Trik
  • Who Am I

Bangun Pagi-pagi

 


dok. pribadi

Judul: Crime and Punishment ; Penulis: Fyodor Dostoevsky ; Penerbit: Wordsworth Classics ; Penerjemah dalam B. Inggris: Constance Garnett (1914) ; Halaman: 485.


Semua orang pasti berpikir bahwa seorang penjahat adalah orang yang melanggar hukum dan moral. Tapi berapa banyak orang yang berpikir, bagaimana  para penjahat itu dilahirkan?


Di buku inilah, salah satu novel klasik Rusia yang tak lekang waktu yang memasyurkan nama Fyodor Dostoevsky, 'Crime and Punishment'. Berlatar di kota Petersburg pada tahun 1860, Dostoevsky menggambarkan bagaimana seorang nihilis memandang dunia. Seorang mahasiswa hukum yang sangat logic dan cerdas bernama Rodion Romanovic Raskolnikov. Ia terancam tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena masalah keuangan. Setelah berpikir lama dan mendapat surat dari ibunya yang menyedihkan, ia memutuskan mengakhiri rantai kesengsaraan orang-orang dengan cara membunuh sang rentenir, seorang perempuan, janda tua bernama Alyona Ivanovna. Rodion melancarkan aksinya menggunakan kampak.  


Raskolnikov mengalami gejolak kejiwaan yang luar biasa. Untuk menenangkan batinnya, ia terus memperkuat argumen atas aksi pembunuhan pada Ivanovna, bahwa ia tidak menghilangkan nyawa manusia,  tapi menghilangkan manusia tidak berguna yang menyebabkan kesengsaraan orang lain. Ia mengambil harta benda dari rumah Ivanovna. 


Banyak fragmen nilai kemanusiaan beserta gejolak kejiwaan, kegelisahan manusia dalam melihat realitas ditampilkan sangat dalam oleh Dostoevsky. Seperti kisah Sonia, gadis pelacur yang religius yang pertama kali Rodion ceritakan tentang pembunuhan Ivanovna. Dari kisah Sonia, kita diberi tahu bahwa orang-orang miskin bahkan harus melakukan hal buruk demi bertahan hidup.  


Sebagai seorang yang berpandangan nihilism,  Raskolnikov berpikir bahwa ia mungkin harus seperti Napoleon, seperti dalam artikel yang ia tuliskan, bahwa ada sekelompok orang, "Extraordinary man", yang meskipun melanggar hukum tidaklah masalah karena aksinya adalah demi kepentingan masyarakat, sehingga pada akhirnya akan kembali disucikan namanya oleh masyarat. Tetapi di akhir cerita ia sadar, bahwa ia bukanlah Napoleon.


Novel ini tak lepas dari pandangan filosofis Dostoevsky, waktu itu ia mengkritik pandangan nihilism yang sedang berkembang di Rusia. Baginya, pandangan itu berbahaya, karena memungkinkan orang untuk melanggar hukum demi kepentingannya sendiri yang ia kira mulia. Dalam novel ini pula sebenarnya Dostoevsky ingin mengabarkan bahwa tanah Romanov sedang tidak baik-baik saja, hilangnya nilai spiritualitas masyarakat menjadi penyebabnya.


Membaca ini, pantaslah jika Dostoevsky dianggap nabi abad 19, ia berhasil menyingkap misteri terdalam jiwa manusia ketika berhubungan dengan materialisme dan standar moral manusia serta agama, yang ia paparkan dalam setiap babak sepanjang cerita. Meski awalnya meragukan kuasa Tuhan, pada akhirnya Raskolnikov mempercayai 'Kekuatan yang lebih Besar'. Ia meminta pada ibunya agar sang ibu berdoa kepada Tuhan untuk keselamatannya.
















Wrote by Umi Nurchayati

Beberapa hari ini aku disadarkan oleh banyak hal terkait dunia menulis yang sudah aku beranikan sejak awal kuliah dulu. Baru sekarang aku sadar bahwa selama ini tak patut sekali aku dikatakan sebagai penulis. Seperti Minke dalam ‘Anak Semua Bangsa’ yang diceramahi Kommer, aku merasa ceramah itu juga sebilah pedang yang ditujukan untuk orang sepertiku. Orang yang dengan sok tahu, sangat jauh dari Minke tapi menerima saja dijuluki penulis, padahal sebenarnya hanyalah tak lebih dari pemidato dalam tulisan. Selama ini aku tidaklah menulis, aku hanya berpidato, hanyalah berkhotbah. Dan kata Kommer, seburuk-buruk tulisan adalah tulisan yang berpidato.

Dibanding Minke, bisa dikatakan aku sangatlah telat menyadari kedunguanku. Aku sangat berterima kasih pada Kommer, pada Pram yang telah menulis karya besar itu. Aku diselamatkan dari tinggi hati dan tinggi angan serta menemukan kesadaran akan realita diriku sendiri yang menyedihkan.

Akan tetapi disamping itu aku sadar, tak elok jika aku menyesal telah menulis meski sebenarnya sedikit banyak aku sesalkan dari beberapa tulisanku. Aku mengagumi Pramoedya Ananta Toer, tetapi aku sangat payah, bahkan untuk memahami yang dimaksud Pram butuh waktu lebih dari 5 tahun sejak aku mengenal karya-karyanya. Sedari lama membaca karya Pram, tak kunjung sampai aku pahami maksud-maksudnya.

Selama ini justru aku lebih banyak menunjukan segala kebodohanku daripada kebijaksanaan. Aku menulis setengah-setengah, aku buta akan keseluruhan dan tidak jauh aku hanya berkhotbah. Beberapa tema aku tuliskan selama ini, itu pun hanya sangat sedikit yang aku ketahui. Dan aku sekarang menilai tentang tulisanku, di mana pasti juga bolong-bolong ketika aku buta akan masyarakat, kondisi sosial, realita. Aku sangat bodoh mengira memegang lilin, padahal dalam kegelapan itu aku meraba-raba tak tahu arah. Sungguh tak pantas diriku dalam kondisi seperi itu berani berkhotbah.

Beberapa bulan lalu entah tanpa sengaja atau ini sudah semestinya, bahwa adikku sendiri yang lebih bayak menunjukkan arah ini. Diawali menonton sekuel Game of Throne sampai Lord of Power yang baru-baru ini tayang. Adekku ternyata sudah mengagumi Eropa entah sejak kapan. Di matannya Eropa adalah cahaya, kurang lebih juga seperti Minke yang terpana dengan Eropa pada awalnya. Sementara aku, waktu itu sampai detik ini tak pernah menganggap Eropa unggul dalam keseluruhan. Semua bangsa memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Memiliki kebajikan dan kebiadabannya masing-masing. Seperti kesimpulan Minke dalam ‘Anak Semua Bangsa’.

Jelasnya mengenai sejarah aku masih kurang cakap. Jika seperti itu kondisinya tentulah tulisanku juga tak lebih dari catutan-catutan yang tidak utuh. Bahwa inilah yang kupahami akan apa yang dimaksud oleh para guru, memahami ilmu pengetahuan juga dibutuhkan ilmu pengetahuan. Waktu dulu aku mungkin belum bisa menikmati karya sastra, aku belum bisa mengerti keindahan rentetan peristiwa yang mengacak-acak sampai sanubari dan pikiran. Tak heran jika waktu itu aku tidak suka membaca karya sastra, semata-mata karena aku belum bisa mencerna keindahannya.

Selama ini aku hanya terus menjejali dengan pengetahuan-pengetahuan tapi sesungguhnya belum bisa juga aku mencernanya. Hanya menyuapi mulutku dengan penuh makanan tapi tidak bisa kuteruskan sampai kerongkongan dan masuk ke perut dan menyerap sari-sari nutrisinya. Aku mengira sedang berjalan di jalan kebajikan, ternyata aku hanya berjalan dari kebodohan satu ke kebodohan lainnya. Aku berjalan sampai hari ini dan masih saja bodoh. Aku murung tapi tak pantas juga aku bersedih, manusia memang hanyalah makhluk yang bodoh. Kembali lagi aku teringat kata Kommer bahwa tidak baik pula jika terus meratap, karena akan membuat kita berpandangan pesimis. Seperti dikatakan Pram, siapa yang menatap pada keceriaan saja ia gila, barangsiapa menatap pada kesedihan saja ia sakit. Hidup itu seimbang.

Aku disadarkan dari pandanganku yang pesimis, yang menganggap dunia adalah tempat manusia saling berperang dan penindasan, tak ada keceriaan hanya ada nestapa. Setelah cukup lama aku ratapi kesedihan, atas ketidakutuhan itu, aku hari ini mesti belajar memandang keceriaan.

Dalam mengarungi Tetralogi Pulau Buru Pram, tentulah tak heran kenapa karya ini disebut luar biasa. Dalam damai tersenyumlah Pram memandang anak sebangsanya mengagumi hasil jerih payahnya yang ditulis dengan tinta darah dan bermandikan keringat kebebasan. Keringat itu mengucur pada anak-anak zaman ini, menjadi  penerang dalam kegelapan bandang informasi.



Wrote by Umi Nurchayati

 

Flying around the tree, TMG, 02/15/2023

Dulu sekali saat belum ada perdagangan antar benua, manusia pastilah hidup dengan mengandalkan hasil bumi sekitarnya. Mengkonsumsi apa yang ada dan tak pernah membayangkan selainnya. Mereka hidup damai dengan kecukupan pangan yang disediakan oleh alam, ketika sumber pangan di sekitar habis maka mencari lagi tempat yang penuh kelimpahan. Manusia menjadi nomaden. Selanjutnya, ketika mulai mengenal cocok tanam, daerah tempat tinggal menjadi penting, bisa hidup berkelompok dan lahir pula kebudayaan baru dalam suatu daerah.

Karena memanglah manusia itu makhluk yang berkembang, dahaga keingintahuan tak pernah terselesaikan. Perdagangan antar daerah lalu antar benua dikenal. Orang-orang bisa makan dari hasil bumi daerah lain yang asing. Saling tukar menukar barang dan berkembang pula sistem perdagangan, menentukan alat sebagai nilai tukar dan menjadikannya lebih simple.

Sampai saat ini, hulu dari perdagangan seluruh benua mulai kita terka. Kemudahan memperoleh barang dari daerah lain tak kunjung menjadi pemuas. Tetap kurang sempurna, lalu waktu tunggu dipersingkat. Barangkali barang yang didatangkan dari Amerika bisa disihir sekejap langsung sampai ke Purwokerto. Sebuah sihir yang bisa diterima akal, yang datang dari mesin. 

Berkat sihir yang berkembang, buah dari revolusi industri dua abad lalu itulah sekarang orang-orang mulai gemar membandingkan, lebih mudah  memilih barang yang paling murah, lebih mudah melihat orang lain daripada dirinya sendiri, lebih mudah mendapatkan jawaban, dan lebih mudah mengalihkan pekerjaan pada sihir yang sangat ajaib itu. Hidup menjadi tinggal makan saja serta memutar otak agar sihir itu terus berkembang, meski akhirnya tak mampu lagi dipegangnya karena ia telah menyalak buas. Semua yang dilewati dilahapnya, mulut besarnya adalah modal besar yang siap menerkam yang lebih kecil. Yang kecil dimakan yang besar, yang besar dimakan yang lebih besar, yang lebih besar dimakan yang lebih besar lagi. Tapi tak ada yang paling besar.

Wrote by Umi Nurchayati

 Tuliluuuu…tuliluuu….

Desir suara ambulance terus terdengar sejak sepekan terakhir. Aku memperhatikan jalanan, mobil ambulance hilir mudik di jalanan tengah kota yang sepi. Dulu ambulance adalah kendaraan yang cukup langka menghiasi jalanan kota. Hari ini aku melewati gang-gang perumahan dan kembali melihat mobil ambulance. Ambulance dimana-mana, berdesakan menuju arah rumah sakit, entah makam.

Rumah sakit kehabisan stok oksigen, bangsal rumah penuh pasien berdesakan di lorong, dan foto-foto pemakaman penuh. Berita itu menghiasi linimasa hari ini. Pandemi Covid-19 semakin nyata mengancam, membunuh secara langsung dan tidak langsung. Orang-orang yang harus dirawat di rumah sakit adalah korban langsung akan bahaya wabah ini. Penularan yang terjadi dengan cepat tak terbendung.

Ada lagi korban tidak langsung, mungkin mereka adalah orang-orang yang memiliki imunitas tubuh yang kuat, kata seorang dokter. Meski rupanya kantong ekonomi mereka tak cukup memiliki imunitas yang baik. Jalanan makin sepi bakda waktu isya, jam 8 malam seperti jam 10 malam. Seorang penjual bakso masih keliling mengetuk-ngetuk mangkok, ia melewati beberapa pertokoan dan mall, ia biasa mangkal di jalanan, persis di samping pertokoan kecil yang bersaing dengan raksasa kapital di sampingnya, berebut selera pembeli. Biasanya jam segini adalah waktu laris-larisnya, makin malam makin laris. Kini bapak bakso termenung lesu, keliling dari ba'da maghrib hanya menjual dua mangkuk bakso. Istri dan anak-anaknya dirumah, sedang anak bungsunya sedikit demam.

Di pagi harinya kembali aku melewati jalan yang sama. Di pertigaan lampu merah, tepat setelah posisi penjual bakso yang kutemukan tadi malam, aku mendengar nyanyian indah dengan suara mirip seorang legend Iwan Fals “Kambing sembilan motor tiga Bapak punya.. .“, ia mendendangkan sambil bermain gitar bersama temannya mengamen di lampu merah menuju arah Kaliurang. Mereka tak seperti pengamen, pakaiannya cukup necis dengan keadaan tubuh yang terawat dengan baik. “Music ini udah sekelas di kafe-kafe,” gumamku. Aku mendekati Mas-mas di ujung jalan, mereka adalah pekerja seni yang sepi panggilan.


Jogja, 7/7/2021

 

 

 

 



Wrote by Umi Nurchayati


Matahari mulai menyeruak di sudut ruangan yang berukuran 2 x 3 M2, menembus jendela yang tertutup gorden tipis lalu perlahan pantulannya mengenai wajahku yang senyap, pukul 8.00 pagi aku terbangun. Dengan sedikit sempoyongan berjalan menuju kamar mandi. Air menyegarkan badan dari sisa-sisa kelelahan begadang kemarin.

Setelah mendapatkan kesegaran dari mandi pagi, aku mulai menjarang air untuk membuat teh hangat. Teh dan roti bakar menjadi andalan sarapan pagi sejak aku mulai indekost. Hari ini Weekend, yang artinya libur kerja, tapi aku ingin sekali pergi. Entah kemana yang penting meninggalkan kamar kecil ini.

Sejak seminggu terakhir ini aku sedang hobi klayapan, entah berapa teman kutemui termasuk singgah di kosan atau kotrakan mereka. Aku tidak pernah membiarkan diriku sendirian dari beberapa bulan terakhir ini. Untungnya masih ada beberapa teman di rantau yang bisa menemaniku sekedar bercakap di sore hari.

Pagi ini aku mulai menghubungi beberapa teman untuk kuajak menikmati libur. Mungkin ada 5 orang yang ku kirimi pesan. Selang beberapa menit satu persatu memberi jawaban, aku terpukul lesu, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa kuajak pergi hari ini.

Sejak lulus kuliah, teman-teman mulai berkurang. Kebanyakan mereka sudah singgah ke kota lain atau pulang ke kampung halaman. Yang dulunya aku merasa punya banyak teman sekarang hanya dapat dihitung jari. Kondisi ini menyadarkanku untuk membangun pertemanan baru dan sedikit demi sedikit mulai berkawan dengan orang-orang yang kemudian datang di kehidupanku.

Dua, tiga, .., lima,…, dua puluh lima lembar buku itu kubaca tapi pikiranku kemana-mana. Pikiran berkecamuk dan aku merasa sendiri. Entah apa yang menimpaku akhirnya di sore hari aku pergi jalan-jalan sendiri. Mengendarai Honda Beat keluaran 2017 itu aku keliling kota Jogja. Tanpa sadar aku sampai di Preksu, ayam geprek legend dekat UGM itu. Aku menikmati kesendirian dengan makan ayam geprek cabe 10. Tak berselang lama, pesan Whatsapp masuk, salah satu teman mengajak bertemu. Aku memacu sepeda motor menuju Jl. Maguwoharjo melewati Ringroad Utara.

Aku memang tak cukup pintar membaca Maps dan nyasar di jalan yang cukup curam. Setelah terus mengikuti arah jalan, aku sampai pada jalanan yang indah yang di depannya terdampar pegunungan hijau. Lama-lama aku bingung dan putar arah lalu parkir di sebuah Mushola, aku kabarkan tentang nyasarku ini dan temanku datang menjemput.

Hari itu sudah hampir gelap, akhirnya kami menunggu waktu maghrib dulu. Kami menuju ke sebuah angkringan yang berada di tengah sawah . Jalanan cukup curam untuk menuju angkringan ini, Namanya Ngangkring Jon, buka sampai malam dinihari. Asap rokok mengepul dimana-mana, Wifi cukup lancar, dan harga makanan yang murah membuatku langsung cocok dengan pilihan temanku ini.

Kami langsung saling bercakap, melebur sepi dan kegelisahan pada malam yang tak terlihat rembulan. Kata demi kata saling menimpali hingga menyadarkan bahwa telah cukup lama dua jiwa ini memendam rindu untuk bercakap dan membual.

Malam ini aku kembali terselamatkan dari sepi, dan esok harus bersiap lagi dengannya..








Wrote by Umi Nurchayati


Aku sudah terlanjur terjebak dalam suatu malam yang penuh gemerlap bintang. Sebelumnya aku hanyalah seorang bocah ingusan, yang tak tahu-menahu.

Suatu hari aku dikagetkan oleh sedikit pantulan cahaya yang sangat memukau, seperti cahaya matahari yang siap membenamkan dirinya di balik pegunungan dan rindangnya pepohonan. Aku begitu terpana dan mengikutinya, sampai ke ujung dari arah datangnya cahaya itu.

Semakin jauh aku berjalan ke arahnya. Semakin ku tenggelam sampai dasar lautan, semakin ku berlari kencang mengejar, semakin ku belajar menggapainya dalam terpaan angin yang semakin tinggi jangkauannya maka semakin kencang terpaan mengkoyak-koyakkan diriku yang lemah ini.

Kini aku terjebak dalam sebuah sangkar yang darinya aku memutuskan untuk mengejarnya. Aku ingin keluar dari jeratan ini, di sisi lain aku menikmati berbagai hidangan yang tersaji di hadapanku.

..

Cahaya itu masih menyilaukan, tetap jauh rupanya, meski aku mencoba menangkapnya.

Wrote by Umi Nurchayati

 


Polemik tentang jilbab dan aurat wanita memang tak ada habisnya. Di kala negara-negara lain sudah sibuk berdebat tentang teknologi nano dan neorosains untuk mengungkap otak manusia, bahkan juga berlomba-lomba mencari tempat kehidupan lain selain di bumi, rupanya warga +62 ini masih asyik aja berkutat dengan masalah aurat wanita.

Hari ini perempuan sudah menjadi lebih rapat dengan jilbabnya, ini tentu suatu kemajuan yang membanggakan. Kalau dilihat secara materialis berarti warga kita sudah makin membaik taraf hidupnya karena bisa beli kain atau baju yang lebih lebar. Lagipula industri fashion muslim yang makin berkembang juga makin leluasa memberikan pilihan kepada para muslimah untuk membeli jilbab seperti yang dikehendaki. 

Berbeda dengan zaman dulu, zaman mbah-mbah kita yang jilbabnya masih hanya cukup untuk penutup rambut ala kadarnya, seringkali bagian leher juga masih kelihatan, model jilbab seperti itu sudah biasa pada masanya yang tentu saja tak bisa dilepaskan dari kondisi sosial masyarakat waktu itu, aspek ekonomi dan politik rupanya sangat mempengaruhi untuk  dapat menggunakan jilbab secara merdeka. Lalu apakah Mbah-mbah kita jaman dulu itu bisa dibilang nggak sempurna menutup aurat karena masih kelihatan lehernya? Disini agaknya kita perlu memperdalam lagi makna berjilbab.

Berkaitan dengan makna menutup aurat dan jilbab ini, kita bisa melihat perintah ini dalam Alquran al-karim, surah An-Nur ayat 31;

وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِ ۖوَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ - ٣١

Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.

Dari ayat itu berbagai tafsir telah dikemukakan oleh para Mufasirin, salah satu yang menarik adalah penjelasan makna jilbab dan manutup aurat dari Syekh Ash-Shabuni dalam Tafsir Rawaiul Bayan fi Tafsiri Ayatil Ahkam, salah satu kitab tafsif yang ditulis beliau dan banyak dikaji di pondok-pondok pesantren di Indonesia, serta menjadi rujukan para ulama-ulama kontemporer.

Sebelumnya, Syekh Ali Ash-Shabuni adalah ulama dan ahli tafsir terkemuka dari Suriyah, beliau adalah putra dari seorang ulama besar Aleppo yaitu Syekh Jamil. Syekh Ash-Shabuni juga merupakan penulis yang produktif, beliau diangkat sebagai Guru Besar Ilmu Tafsir di Universitas Ummul Qurra Mekkah. Menurut beberapa cartatan beliau lahir pada 1 Januari 1930 dan wafat di usia 91 tahun pada 6 Sya’ban 1442 H atau bertepatan dengan 19 Maret 2021.

Aurat sendiri memiliki makna yang harus ditutupi. Jenis-jenis aurat berbeda-beda sesuai kondisi contohnya ketika suami bersama istri maka tidak ada aurat baginya, namun ketika keluar dari rumah semua bagian tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan menurut pendapat jumhur ulama.

Dalam Rawaiul Bayan, Syekh Ash-Shabuni menguraikan tafsir QS. An-Nuur ayat 30-31 dalam Bab الحجا ب والنرظ atau bisa dimaknai “Ayat-ayat tentang jilbab dan pandangan”. Seperti metode tafsir oleh Ash-Shabuni, beliau  meletakkan beberapa ayat yang masih berkaitan dalam satu pembahasan. Dalam penafsiran QS. An-Nuur ayat 30-31, Syekh Ash-Shabuni merujuk pada ulama-ulama tafsir sebelumnya. Seperti Imam Al-Qurtubi, Ibn Katsir, Aby Hayyam Andalusia, Al Lusi, Zamakhsyari, At’Thabari, Ibn Arabi, Al-Maududi, dan Al-Jashass.

Dalam QS. An-Nuur: 31 yang banyak mengalami perbedaan pendapat adalah pada kalimah Maa dzoharo minha, sementara ini banyak yang menerjemahkan sebagai ‘kecuali yang biasa tampak’. Dalam hal ini Syekh Ash-Shabuni seperti para ulama laiinya yang mengiyakan bahwa yang dikecualikan adalah wajah dan telapak tangan.

Syekh Ash-Shabuni menyebut dengan perhiasan wanita untuk menunjuk pada apa-apa yang dimiliki perempuan yang dapat menarik perhatian lawan jenis. Pokok perhiasan wanita menurut Ash-Shabuni adalah yang dibuat untuk mempercantik diri yang bentuknya dapat berupa perhiasan atau pakaian.

 

از ينة: ما تتزين ب المر أة عادة عن الثياب والحلى وغير ها مما يعبر عنه في ز ما ننا بلفظ (التجميل),

Seperti yang disebut mempercanik diri diantaranya adalah menghias kuku  dengan pacar atau pakaian yang menarik perhatian. Disini Syekh Ash-Shobuni menekankan hal substansial tentang menutup perhiasan tadi, yaitu dengan tidak menunjukan, dalam artian baik memperlihatkan secara langsung atau menutupi dengan sesuatu yang lebih mengundang perhatian, misalnya dengan pakaian atau hiasan wajah yang berlebihan.

Dalam Rawaiul Bayan Syeikh Al-Shobuni juga mengutip ahli tafsir, Imam Al-Qurtubi yang menerangkan zinah atau aurat perempuan tadi.

قال القرطبي في تفسيره: الزينة على قسمين خلقية ومكتسبة

فالخلقية: وجهها فإنه أصل الزينة وجمال الخلقة ومعنى الحيوانية لما فيه من المنافع وطرق العلوم.

وأما الزينة المكتسبة: فهي ما تحاول المرأة في تحسين خلقتها به كالثياب والحلي والكحل والخضاب.


Menurut Imam Al-Qurtubi zinah pada wanita memiliki dua arti, yaitu; kholqiyah dan muktasabah. pertama, Kholqiyah ialah perhiasan yang bentuknya sudah ditakdirkan atau sudah dijadikan sedemikian rupa, contohnya adalah wajah yang merupakan pokoknya perhiasan. Kedua, Muktasabah ialah perhiasan yang diupayakan dan diusahakan, contoh zinah muktasbah adalah yang merubah sesuatu atau yang bertujuan merubah apa yang sudah ada yaitu diantaranya seperti celak, pacar kuku, dan pakaian.

Tafsir Imam Al-Qurtubi tentang jilbab ini nampaknya kurang populer di kalangan umat islam, selama ini jilbab hanya dimaknai sebagai penutup aurat saja. Padahal lebih dari itu, rupanya riasan wajah dan pakaian juga dapat menjadi penyebab zinah, tak peduli itu pakaian yang menutup seluruh tubuh wanita atau yang digunakan pada wanita berjilbab atau tidak.

Walaupun secara syariat kita sudah menutup aurat dengan benar namun menjadi poin penting juga memperhatikan apa yang kita kenakan. Memperhatikan akhlak dalam berpakaian menjadi penting, bahwa selain mencintai kerapian islam juga mencintai kesederhanaan untuk menghindarkan dari sikap sombong dan jumawa. 

Wallahu a’lam.

Referensi: Rawaiul Bayan fi Tafsiri Ayatil Ahkam minal Qur’an

 

Wrote by Umi Nurchayati

 “Jangan bosan berdoa, kalau belum terkabul hari ini maka nanti, kalau belum nanti bisa jadi akan terkabul pada anak cucu. Doa itu terus dan tak ada hentinya mengalir,” begitu kurang lebihnya Ibu pernah berucap.

Semasa muda Ibu juga sempat berganti-ganti profesi. Sebelum mapan bakulan seperti sekarang, semasa mudanya ibu pernah ngelakoni sebagai guru TK cukup lama. Tapi Ibu pensiun dini, ia tak melanjutkan karirnya sebagai pendidik.

Belakangan alasan yang cukup masuk akal aku dengar dari Ibu. Sebagai Ibu muda waktu itu, ia sangatlah idealis, ia ingin mengasuh anaknya secara mandiri, ingin 24 jamnya untuk buah hatinya. Bahkan ia enggan menitipkan ke orangtuanya sendiri.

Itu pilihan yang dibuat Ibu, walhasil sebagai anaknya maka sejak kecil aku benar-benar diasuh secara penuh oleh Ibu, belajar apapun untuk kali pertamanya adalah dari Ibu. Sampai Adikku lahir saat aku baru berumur sekitar 2,5 tahun. Maka sejak saat itu, Ibu sedikit kuwalahan mungkin, aku menjadi semakin sering ikut Mbah Kakung ke sawah dan ikut Mbah Putri mengajar dan keliling kampung-kampung untuk Sima’an Qur’an.

Merenungi ucapan Ibu, aku semakin penasaran pada sejarah. Sejarah adanya aku, sejarah Ibu, sejarah Bapak, Sejarah Mbah-Mbah, sejarah Buyut-buyut, dan seterusnya. Aku kembali menengok ke belakang, mencari tahu darah yang mengalir dalam urat-urat nadiku, ada doa apa yang terselip di dalamnya, ada harapan apa yang dititipkan padanya.

Tentu saja setiap dari kita bisa memutuskan dan merencanakan peta kehidupan kita sendiri, kelak mau seperti apa dan bagaimana menjalani hidup.

Tapi aku sedang berada di dalam sangkar tanda tanya. Aku yang merasa tak cukup berbakat di berbagai bidang, hal-hal yang ku pikir bisa aku kuasai lebih baik lagi, hal-hal yang ku pikir bisa aku jalankan dengan nyaman. Ternyata apa yang aku pikir bisa dan dapat dilakukan, belum tentu membawa pada ketentraman hati.

Bergelut memantapkan pada suatu pekerjaan sebagai jalan pengabdian di dunia tak ubahnya seperti mencari pasangan jiwa yang masih melayang-layang dan saling bersahutan. Cukup bising dengan ditambah rasa manis yang ditawarkan impian, rasa pahit yang dibawa oleh realita, dan rasa hampar karena jiwa kita sendiri yang bingung, atau memang belum melihat mau dimana ia bertengger.

Terkadang suatu hal dirasa cocok, ternyata tak membawa pada perbaikan, dirasa tidak pas tapi membawa pada ketentraman. Kemauan jiwa, akal, dan hati sering susah ditebak. Sebagai satu kesatuan kita mencoba menyatupadukan ketiganya, mencari titik dan orbit yang seimbang pada posisinya masing-masing.

Mungkin inilah yang kini aku sebut dengan menerka arah takdir yang telah diberikan Tuhan untuk kita jalani. Memahaminya dibutuhkan keilmuan dan keluhuran jiwa itu sendiri.

Jelas diri ini masih di tataran bawah, bahkan mengenali jiwa sendiri masih kewalahan. Mencoba menemukannya, aku menapak tilas, melihat sejarah. Aku mulai menelisik lagi dan mendengarkan dengan baik dalam setiap hal yang disampaikan pada acara keluarga.

Aku kini mencari tahu, darah yang dipompa oleh jantung dalam setiap detiknya ini, dititipkan untaian apa, harapan apa sebenarnya. Atau justru, hanya dibiarkan mengalir saja sebagai teman menyesapi penderitaan dunia.

Apapun itu, yang menjadi jelas adalah, bahwa tanpa memandang dilahirkan dalam keluarga yang bagaimanapun, setiap insan yang dilahirkan di Bumi telah dititipkan tempat masing-masing untuk berjuang, dikatakan manusia sebagai pemimpin di Bumi, pasti disertai juga dengan tugas-tugasnya.


*Gamping, 20/1/2022


Wrote by Umi Nurchayati



“Isyana dan suaminya pacaran dari jaman smp bisa sampe nikah sampe sekarang," ungkap seorang teman, tak terima jika hubungannya kandas karena dibilang orang terlalu lama bersama.

Pandangannya masih berkaca-kaca, seorang gadis yang masih sangat sedih setelah sebulan yang lalu mendengar kabar tentang pertunangan ‘teman dekatnya.’ Ia tak mau menyebutnya dengan istilah pacaran- ini soal istilah aja lah ya. Ia tidak habis pikir, "bisa-bisanya sudah lama berhubungan kenal, sering telfonan tiba-tiba dengan gampangnya pergi, padahal sampai sudah kulepas semua yang mendekatiku hanya demi menunggunya, dasarr..," sedikit umpatan yg tak kuasa ia teruskan.

"Bisa-bisanya kemarin sudah ketemu orangtuaku, bantuin jemput mereka ke Bandhara, tiba-tiba tak ada angin, tak ada hujan menghilang," ungkap gadis satunya lagi, ia sangat kesal dengan ‘teman dekatnya’ yang sudah mencoba berkomitmen sejak masih kuliah S1 tiba-tiba pergi tanpa kabar dan memutuskan komitmen yang dibuat bersama. Mungkin ini yang dimaksud 'ghosting' kali ya.

"Dia ketiduran di asrama, aku jauh-jauh dr pojok timur Jogja ke barat terjang hujan pagi-pagi buat bangunin dia demi tak absen kuliah karena ditelfon tak diangkat-angkat," ia mengenang masa perjuangannya demi seseorang di hatinya waktu itu.

Cerita yang hampir sama dari beberapa orang yang berbeda mulai menerpa masa awal usia dewasa. Hubungan yg sudah lama terjalin dengan lawan jenis tak bisa jadi patokan menuju tujuan yang sama. Hanya segelintir orang yang bisa mempertahankan masa ‘berteman dekat’ dalam fase yang lama ke jenjang serius. Kita menjadi berpikir, "why?"

Menginjak umur dewasa manusia akan semakin memperhitungkan banyak hal yang realistis. Perhitungan di umur 20 tahun sampai menginjak seperempat abad usia selalu berbeda. Manusia terus bertumbuh setiap harinya, baik laki-laki maupun perempuan akan mengalami perkembangan dan kondisi yang berbeda. Beberapa hal bisa menjadi pemicu dalam perkembangannya, terlebih perkembangan 'how we think' dan ‘the way’-nya dalam menjalani hidup.

Sejenak ayo kita urai rasa sakit hati secara realistis;

Pertama, Menyadari kondisi mengapa 'jatuh' padanya. Jatuh cinta adalah hal yg wajar dialami oleh manusia. Tapi coba cari tahu kenapa menjadi punya kecenderungan dengannya.

Orang Jawa mengatakan 'tresno jalaran soko kulino,' banyak orang menjadi saling jatuh cinta dan menikah karena setiap hari bertemu atau beberapa hari sekali. Dengan komunikasi yang sering, peluang menemukan kecocokan dan kenyamanan antara satu dengan yang lain semakin terbuka lebar. Tak heran jika banyak orang akhirnya memilih bersanding dengan orang terdekatnya. Bisa jadi, dulunya saling jatuh cinta juga karena faktor sering bertemu ini.

Oh iya, kondisi psikis juga ngaruh loh ke respon kita. Di saat merasa sendiri dan sepi seseorang lebih mudah menerima kebaikan dan merespon perhatian, tak jarang menjadi berekspektasi macam-macam. "Kok dia baik banget sama aku ya, perhatian banget kemarin aku sakit." Tanpa disadari bisa jadi ia adalah seorang yang baik ke semua orang.

Mungkin respon kamu akan berbeda ketika dalam kondisi psikologis yang berbeda, di saat kamu merasa damai dengan dirimu dan penuh kasih sayang dari orang sekitar. Respon diri pada perhatian dan kebaikan orang lain bisa jadi tanpa ekspektasi atau bahkan 'ya B aja.'

Kedua, Menyadari kita dan pasangan kita adalah manusia. Sebagai manusia maka kondisinya adalah selalu bertumbuh, selalu berubah, dan selalu dipenuhi kekurangan & kelebihan.

Bertumbuh, baik tubuh dan jiwanya, berubah, baik sikap dan pikirannya, dan juga adalah penuh kekurangan dan kelebihan dalam berbagai kondisi yang berbeda.

Cara pandang di umur under 20, 20-25, 26-29, dst tentulah berbeda, bahkan setiap kenaikan usia kita mengalami perbedaan cara pandang. Apa itu cara pandang? pendeknya adalah menyikapi kehidupan.

Bisa jadi dulu membangun komitmen di awal umur 20-an karena masih hanya memikirkan diri dan perasaan masing-masing saja, kalau saat itu Tuhan mampukan dan kalian menikah maka bersatulan sepasang ini.

Namun jika masih berkomitmen sampai setidaknya lulus kuliah, maka kemungkinan lain bisa terjadi. Misalnya; keadaan memaksa mereka ldr (long distance relationship), ceweknya kerja di JKT, cowoknya di Kalimantan. Sama-sama ketemu orang-orang baru dan lingkungan baru, cara pandang keduanya pun berubah. Lama-lama secara komunikasi saja mereka sudah merasa tak ketemu titik temu. Padahal dulu nyambung sekali. Rupanya pembicaraan yang sangat mendalam (deeptalk) memang belum bisa tercipta diantara kalian. Semakin dewasa keduanya semakin berbeda pula menangkap fenomena dalam diaspora kehidupannya. Walhasil mereka merasa tidak cocok lagi.

Ketiga, Semakin dewasa rasanya semakin realistis. Coba kalau ditanya sekarang, "Apa yg membuatmu ingin menikah dengan si X?," jawabannya bisa berbeda antara dulu dan sekarang. Dulu bisa saja kamu belum berpikir tentang bagaimana melanjutkan bisnis keluarga, membangun yayasan keluarga, atau membantu membiayai keluarga. Semakin kesini setiap diri kita berpikir, "Apa ia bisa masuk dalam kehidupanku beserta semua permasalahan di keluargaku, apa ia bisa tetap nyaman dan menjadi dirinya." Pertanyaan tersebut semakin kita pikirkan bukan.

Melepas jelaslah bukan hal yang mudah, merelakan jelaslah tak sesederhana melupakan saja. Namun ingat, kamu telalu berharga untuk terus terkurung dlm sangkar kesedihan. It’s fine, Kekandasan hubungan yang lalu bukanlah karena kamu terlalu baik dia terlalu buruk, atau dia terlalu baik dan kamu nggak pantas buatnya. Perjuangan kalian bukanlah hal yang sia-sia, pengorbananmu bukan tak ada gunanya. Kekandasan yang lalu hanya karena kamu dan dia tak bersatu di saat yang tepat, kekandasan lalu karena kamu belum menemukan pasangan puzzle yang tepat.

Slowdown, tarik napas dalam-dalam.. Bahwa pasangan yang tepat tak akan menghambat kamu dan dirinya dalam bertumbuh, baik dari segi normatif, pemikiran, dan tindakan. Pasangan yang tepat akan membuat kalian bertumbuh bersama ke arah yang lebih baik. Waktumu terlalu berharga untuk seseorang yang tak lagi mempertimbangkan kamu. Saatnya kamu temukan bahagia dalam diri dan temukan puzzle yang tepat. Gitu aja, biasa-biasa saja. Hhi :))

Wrote by Umi Nurchayati

 



Masjid Al-Aqsa adalah masjid kedua yang diletakkan Allah Swt di Bumi, Masjid Al Aqsa sangat istimewa dan menjadi kebanggaan umat muslim di seluruh dunia. Masjid yang terletak di komplek Masjidil Aqsa atau dikenal dengan Baitulmaqdis ini juga menjadi tempat suci bagi tiga agama Ibrahim sekaligus, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam.

Di tempat inilah saksi perjalanan Isra Mi'raj Nabi Muhammad Saw, menjadi tempat persinggahan Nabi Saw setelah melakukan perjalanan jauh dari Masjidilharam di Makkah. Peristiwa tersebut juga diabadikan dalam Alquran karim yaitu dalam surah Al-Isra' ayat 1. "Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Al-Isra':17:1).

Bagi umat muslim Masjid Al-Aqsa lebih dr istimewa, masjid ini pun juga pernah menjadi kiblat pertama umat islam dalam melaksanakan ibadah shalat, sebelum berpindah menghadap Ka'bah. Dalam berbagai literatur keislaman juga disebutkan diantara keistimewaan lain Masjid Al Aqsha, dimana melaksanakan ibadah shalat di Masjid Al-Aqsa mempunyai keutamaan tersendiri, diganjar 500 kali lipat dibanding dengan shalat di masjid2 lain.

Sebagai umat islam kita pun berharap agar dapat berkunjung ke Masjidil Aqsa dan menjalankan ibadah shalat disana, kita terus berdoa, semoga Rahmat Allah Swt akan selalu menyertai tempat suci ini.

اللهمّ صلى على محمد

Wrote by Umi Nurchayati

Setelah beberapa hari lalu mbah terakhir saya, Mbah Putri dari pihak Bapak kapundhut dhateng Gusti Allah, saya jadi ingat Mbah Kakung juga Mbah Putri dan Mbah Kakung dari pihak ibu. Dalam keluarga ibu, dulu semasa kecilnya yang biasa lebih banyak menemani anak-anaknya ya bapaknya (kakek saya), karena mbah putri harus mengajar dari pagi sampai sore hari.

Akhirnya yang biasa memasak di rumah ya Mbah Kakung, waktu itu Mbah Kakung kesehariannya adalah bertani. Jadi tentu saja waktunya lebih fleksibel dibanding istrinya yang harus bertugas mengajar di sekolah. Tapi masakan Mbah Kakung memang joss, tak heran jika cucu-cucunya suka sekali makan di tempat simbah. Sedari kecil saya pun biasa ikut mbah karena bapak dan ibu harus ke pasar, dan siang hari ibu baru pulang. Jadilah saya mengikuti Mbah Kakung ke sawah setiap hari.

Sambil menunggu Mbah Putri pulang, biasanya di sore hari Mbah Kakung sudah mulai memasak beberapa jenis sayuran yang dibawanya dari sawah. Mbah Putri memang biasa berangkat pagi-pagi sekali ke sekolah dan pulang sore hari. Waktu itu belum ada angkot ke daerah sekolah tempatnya mengajar hingga memang harus berjalan kaki.

Yang lebih menakjubkan lagi setiap sore bakda ashar Mbah Putri masih menyempatkan untuk mengajar TPA yang waktu itu diadakan di rumah, tentu saja bersama Mbah Kskung juga. Kalau boleh dibilang, bersama-sama mereka menghidupkan syiar islam di kampung saya berasal, sebuah desa yang cukup jauh dari kabupaten kota Temanggung, Jawa Tengah.

Kalau cerita dari ibu, dulunya kampung kami memang lekat dengan masyarakatnya yang masih dengan kepercayaan nenek moyang atau kepercayaan leluhur. Sampai Mbah Putri tinggal di kampung setelah menikah dengan Mbah Kakung.

Sebenarnya mereka berdua adalah pendatang di kampung, tetapi karena orangtua Mbah Kakung mempunyai tanah disitu akhirnya Mbah Kakung diminta menetap di daerah itu. Sebagai santri ndalem yang sejak kecil membersamai keluarga Kiai, mbah putri pun tergugah untuk mengajarkan ilmu agama. 

Beberapa tahun tinggal di kampung, belum ada masjid berdiri hingga Mbah Kakung memutuskan mewakafkan sepetak tanah dari orangtuanya untuk dibangun langgar, bukan masjid karena memang tidak begitu luas. Akhirnya secara perlahan perjalanan syi'ar terus berkembang.

Seperti warga lainnya, mereka hidup normal-normal saja, setiap harinya mbah Kakung ke sawah, juga Mbah Putri setiap harinya memang mengajar di sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang cukup jauh dari rumah, terletak di desa dekat puncak gunung Sindoro. Setiap harinya Mbah Putri berjalan kaki untuk berangkat mengajar, hingga ada angkot yang menuju ke sekolah, Mbah Putri baru naik angkot.

Baca juga; Mbah Putri dan Jualannya

Mereka juga membuka majelis di rumahnya, anak-anak kecil sampai orang dewasa akhirnya ikut ngaji mbah kakung dan mbah putri. saya jadi ingat pertama kali belajar membaca al-Qur’an juga dengan mbah kakung, awalnya menggunakan metode ’Turutan' yg biasa juga mbah kakung gunakan untuk mengajari anak-anak lain.

Menceritakan perjalanan kehidupan mbah kakung, mbah putri dan syiar dakwahnya sepertinya akan menghabiskan berlembar-lembar halaman. Hidupnya dipenuhi dengan berbagai terpaan badai. Saya hanya biasa mendengar cerita dari ibuk, tirakat mbah kakung dan mbah putri tak main-main. Kata ibuk semasa masih muda dan anak-anaknya masih kecil, mbah kakung dan mbah putri hampir tak pernah absen shalat malam di tempat pemakaman para orangtua mereka, setiap hari kesehariannya dihidupkan dengan berbagai amalan.

Beruntungnya mbah kakung memang mewarisi cukup luas tanah dari orangtuanya, sehingga untuk masalah pangan ia bisa berbagi dengan warga sekitar. Sering sekali yang menjadi pengelola sawahnya adalah murid-muridnya para santri di pengajian sore.

Orang-orang kampung biasa menyebutnya 'derep' yaitu membantu memanen hasil pertanian dengan mendapatkan gabah (padi yang belum digiling). Selain dari warga sekitar, orang kampung di tempat sekolah mbah putri juga sering bertandang kerumah simbah. Herannya tak pernah mereka pulang dengan tangan kosong, setelah menceritakan masalah hidupnya pada mbah putri atau mbah kakung, meski persediaan beras telah menipis untuk mereka dan ke-8 anaknya, mbah putri biasanya tetap mengantongi orang yang datang dengan membawakan beras, beberapa juga ditambah pakaian dan jilbab selendang.

Sewaktu kecil saya pun biasa ikut mbah putri sehari-hari ketika mbah putri libur ngajar bisa dari pagi sampai sore di tempat mbah. Dari paginya ke kebon seharian, duduk di depan tungku sambil menunggu mbah kakung dan mbah putri memasak, sampai ikut bulek di pengajian sore hari, TPA sabean sore itu akhirnya dipegang Bulek setelah mbah kakung dan mbah putri semakin memasuki usia senja.

Sampai umur 80 tahun mbah kakung masih dipercaya menjadi imam masjid. Sebuah masjid yang akhirnya dibangun dari tanah wakafnya lagi. Mereka bersua adalah sosok pendatang yang menjadi disegani masyarakat karena kemurahannya juga ilmu-ilmunya, mbah kakung dan mbah putri memang tak pernah memegang uang, tapi untuk urusan pangan banyak warga kampung bisa mendapatkannya ketika main ke rumah.

Tak hanya sering berbagi beras, mbah kakung dan mbah putri memang sudah menyantuni anak-anak yatim dari kalangan kelarga untuk disekolahkan, setidaknya sampai tingkat SLTP beberapa anak menamatkan. Salah satunya yang saya ingat mbah kakung tak melepas anak asuhnya begitu saja setelah keluar dari bangku sekolah, biasanya mbah kakung juga akan mengajarinya drengan ilmu-ilmu pertukangan yang memang sedikit ia kuasai. Salah satu anak asuhnya kini sampai tua adalah seorang tukang yang cukup dikenal di desa, beberapa proyek pembagunan desa juga diamanahkan padanya.

Mendengar kisah perjalanan mereka dari ibu membuat saya berpikir sekaligus malu. Betapa gigihnya perjuangan mbah kakung dan mbah putri, yang tentu saja tidak mudah. Selain kerelaannya berbagi, berbagai hujatan juga datang dari yang tidak menyukainya. Kata Ibu, beberapa tanamannya seringkali diganggu hingga gagal panen, dan masih banyak lagi hal yang tentu tidak bisa saya ceritakan. Yang pasti memori indah kebersamaan dengan mbah putri dan mbah kung masih saya ingat betul, bisa menyaksikan kehidupan mereka dan mengikuti setiap kegiatan mereka menurutku adalah sebuah privilege, yang tiada dua. 

Mbah putri selalu mengajakku ikut simaan Qur’an dimana-mana juga tadarusan setiap bulan ramadhan. Biasanya di sore hari mbah putri akan membuat kolak atau makanan ringan untuk dibawa ke masjid, katanya biar yang ngaji senang dan nggak ngantuk. Kini selepas mbah putri ditimbali Gusti Allah, yang membawa makanan untuk orang-orang ngaji di masjid dilakukan bergilir, nyatanya mbah putri tak minta orang-orang untuk mengikutinya, ia sadar keadaan setiap orang di kampung. Namun lakunya telah menjadi teladan, yang menghidupkan kebaikan-kebaikan lain dari tangan-tangan lain. Sampai umurnya menginjak 70 tahun setelah pensiun dari mengajarnya dan sebelum sakit mbah putri juga masih aktif di berbagai kegiatan.

Melihat kehidupan mbah kakung dan mbah putri saya bisa memetik berbagai keteladan hidup, salah satunya teladan kehidupan berkeluarga. Mbah putri dan mbah kakung selalu berbagi tugas, antara urusan domestik seperti memasak, mencuci, dan urusan publik yaitu mengajar.

Baca juga; Menikahlah Jika Memang Kamu Siap Menikah

Ditengah kesibukan keduanya, anak-anaknya tetap bertumbuh dengan baik. Beberapa langsung dititipkan di pondok ketika sudah mulai menginjak usia remaja. Seperti ibu saya, yang menuturkan dirinya biasa disangoni telur untuk berangkat ke pondok. Waktu itu mbah kakung juga beternak ayam dan kambing. Selain itu bayaran untuk di pondok juga masih bisa memakai bahan-bahan pangan. Selain teladan berumah tangga, kita belajar bahwa sebuah kegiatan yang luhur juga memang seharusnya diawali dan disertai laku mulia. Untuk mengajak orang-orang sholat jum’at saja tak hanya dengan ‘nggendong' dan membersamai warga setiap harinya, membantu yang kesusahan, dan mendengar keluh kesah orang yang datang, tapi juga dengan tirakat doa yang Subhanallah sekali, tak ada henti. 

Kata ibu, dari mbah, kalau punya keinginan itu juga harus ditirakati, diriyadhohi. Sebuah amalan sangat penting untuk kita dapat merayu Gusti Allah hingga hajat-hajat yang dimohon dikabulkan. Begitu terus walau belum dikabulkan.

Kini mbah putri telah pergi dipanggil Gusti Allah sejak 2018 lalu dan disusul mbah kakung pada akhir 2019 lalu. Namun tentu saja banyak jejak ditinggalkan mereka berdua, syiar dakwah yang dihidupkan di pelosok kampung, menjadi penerang yang jauh dari hiruk pikuk keramaian. Semoga meski tak dikenal di Bumi mbah putri dan mbah kakung dikenal di langit.

Tanpa terasa saya menulis ini juga menghabiskan berlembar-lembar tisu. Memori bersama mereka berdua tak bisa membohongi diri untuk terus menitikkan air mata. Kini medan syiar di jaman simbah, jaman orangtua kita, dan jaman kita juga jaman anak cucu kita kelak terus akan berubah. Menjadi tantangan bagi setiap generasi, menemukan upaya terbaik harus terus dilakukan untuk bisa meneladani simbah, bersyiar dengan cinta dan kasih sayang, seperti diajarkan Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Semoga Mbah Putri dan Mbah Kakung diparingi jembar kubur, selalu mendapat rahmat dateng Gusti Allah. Akhirul kalam saya mohon doanya untuk Mbah Kakung dan Mbah Putri, dua sosok kiai kampung yang tanpa lelah berjuang selama hidupnya, Bapak H. Achmad Kunut dan Ibu Hj. Sarijah, Alfatihah..

Wrote by Umi Nurchayati

 


Saya mau bercerita sedikit tentang mbah putri yg lakunya selalu saya ingat, diumurnya yg sudah  senja mbah putri masih saja jualan kopi di pasar, beliau menggoreng kopinya sendiri dan ke pasar menjualnya dg berjalan kaki. 

Sebagai istri pejabat desa waktu dulu mbah putri tetap saja rajin ke pasar atau sekali kali nengok sawah, kalau di tmp saya menyebutnya 'bengkok' karena gaji pejabat desa waktu itu masih berwujud sawah. 

Mbah putri sudah biasa berjualan sejak masih belia, karena rumahnya dekat pasar sampai sudah usia lanjut beliau masih nyebrang sendiri ke pasar. Anak-anaknya sebenernya sudah menginginkan mbah putri untuk dirumah saja atau paling2 masih aktif di pengajian jum'at pon. Tapi sbg org yg sudah biasa penuh kegiatan sejak muda jadi permintaan anak-anaknya sering tak dihiraukan.

Menurut mbah Putri gajinya mbah kakung dulu itu tidak cukup untuk menyekolahkan anak2nya yang banyak, apalagi bentukannya sawah yg biasanya juga dijual tahunan. Jadi untuk menambal kebutuhan sehari-hari dan makan mbah Putri memilih untuk ikut turun tangan.  Bahkan sampai mbah kakung sakit dan tdk bisa kemana-mana mbah putri tetap memilih ke pasar berjualan kopi sambil ngurus mbah kakung tentu saja.

Tapi ternyata kegiatan mbah putri sekarang bukan hanya untuk menambal kebutuhan sehari hari tapi juga sekaligus hobi, katanya kalau dirumah terus malah sumpek ngak ada kegiatan, kalau di pasar beliau lebih senang karena bisa bertemu banyak orang. Alhasil sampai sebelum sakit kemarin mbah putri tetap dibolehkan saja ke pasar setiap hari, tentu saja dengan iringan omelan anak-anaknya sambil nyeberangin jalan dan mbah putri hanya ketawa-tawa.

Melihat kegiatan mbah putri yang sampai sudah renta tetap ke pasar ternyata beliau tetap bekerja bukan karena mau mencari tambahan uang tp karena kegiatan itu sudah jadi hobinya, yang membuatnya lebih bahagia jika dilakukan. 

Jadi walaupun kini mbah putri ke pasar bukan krn motif ekonomi tapi nyatanya mbah putri berjasa besar mengelola keuangan keluarganya, anak-anaknya dulu tetap bisa sekolah dan makan juga tak kekurangan.

Melihat Mbah Putri saya jadi belajar rupanya wanita juga memiliki peranan besar dalam meningkatkan dan menjaga kesejahteraan keluarga. Jadi kalau masih ada suami yang melarang bekerja ya tidak apa-apa, bisa dikompromikan. Tapi kalau sampai melarang hobi, sungguh ia telah membatasi hak perempuan bukan yang juga ingin menikmati kesukaannya, aktualisasi dirinya, dan hak menentukan arah hidupnya bersama keluarganya, tentu saja bersama suaminya menuju keluarga impian keduanya.

Akhir kata saya mohon doanya untuk Mbah Putri saya yang pada Senin malam (26/10) telah berpulang, semoga husnul khotimah dan diterima semua amal ibadahnya.

اللّهُمَّ اغْفِرْ لها وَارْحَمْها وَعَافِها وَاعْفُ عَنْها

Alfatihah



Wrote by Umi Nurchayati

 


Tulisan ini saya dedikasikan untuk orang-orang tersayang yang selalu merasa insecure dengan dirinya, termasuk diri saya yang juga masih sering merasakaan ‘keinsecure-an’. Berbagi adalah hal yang asyik, mengupas berbagai sudut pandang dari setiap insan akan menemukan kamu pada hal-hal baru diluar diri.

Esok hari, seorang teman mendatangi tempat saya, lalu sedikit ia menceritakan tentang pekerjaannya yang sama sekali tak diinginkan. Di tempat bekerjanya ia merasa tak bisa menyalurkan inpirasinya. pendek kata mungkin ia hanya menganggap tempat kerjanya untuk mencari uang saja, namun tidak untuk belajar.

Banyak orang-orang khususnya anak-anak muda berpikir seperti itu, selepas lulus kuliah pekerjaan apapun dilakukan karena tuntunan kemandirian secara finansial. Tak peduli lagi ini apakah sesuai dengan hobi dan jurusannya semasa sekolah atau tidak. Uang terkadang menjadi satu-satunya alasan mengapa ia harus mendapat pekerjaan, apaupun itu.

Kondisi sulit memang selalu mendera selepas lulus kuliah, dihadapkan pada pilihan idealis dan pragmatis. Disini dibutuhkan banyak pertimbangan, akan menggadaikan sisi yang mana kita, atau merengkuh keduanya. Sebenarnya bukan perkara sulit untuk menapaki jalan idealismu sembari menapaki realitas sekelilingmu.

Orang-orang besar selalu dibentuk oleh keadaan yang tidak nyaman. Begitupun kamu yang salepas lulus kuliah juga sedang bingung. ingin jadi desainer tapi kok ya nggak punya mesin jahit dan peralatannya, harus beli dan harganya mahal. Akhirnya kamu memilih bekerja apapun dengan harapan bisa menabung untuk membeli mesin jahit.

Kita menjadi harus selalu mengingat bahwa tempat-tempat tidak menyenangkan seperti penjara, kampung yang kumuh, dunia pengasingan nan terkucilkan telah menunjukan bahwa manusia-manusia hebat bisa dilahirkan dari sana. Bung Hatta membawa berkoper-koper buku ketika diasingkan di Digul, bajunya hanya beberapa helai saja. ia mengatakan “tak apa-apa kalau dipenjara asalkan bersama buku”. Pramudya Ananta Toer, sang maestro sastra juga menghasilkan karya-karya terbaiknya di pulau Buru, tempat ia diasingkan. Juga orang seperti Choirul Tanjung, salah satu crazy rich Indoneia yang ternyata juga dilahirkan dari pelosok kampung.

Mungkin kata-kata motivasi sudah penuh dalam kepalamu. Sudah penat mendengarkan nasehat-nasehat yang terus datang, dan hati tetap tak tergerak. Santai, yang seperti itu bukan cuma kamu kok. Sebagai manusia biasa yang masih berharap-harap cemas tentang masa depan kita hanya harus menjalani peran hari ini juga mempelajarinya. Jangan anggap orang yang yang bekerja dan jualan di jalanan itu tak bisa jadi gurumu.

Setiap orang selalu memiliki sisi baiknya, galilah kebaikan dari orang-orang sekitarmu. Belajar dari kenyataan bahwa usaha itu bukan hanya seuatu yang terlihat saja secara lahir, ada juga yang namanya usaha batin yaitu kesabaran, keikhlasan dan cinta yang akan menjadi usaha terbaikmu. Mencintai pekerjaanmu saat ini mungkin sangat susah, Tak usah pula dipaksa. Tapi ingat kamu harus menebusnya dengan pekerjaan yang kamu cintai. Mungkin di siang hari kamu bisa bekerja, malam harinya lakukan hobi dan kesukaanmu.

Kata orang-orang besar suatu hal yang digeluti degan sungguh-sungguh pasti akan dipetik hasilnya, mungkin tidak dalam waktu dekat tapi pasti. Orang-orang besar yang kamu temukan di buku-buku motivasi itu sebenarnya adalah korban dari ketidaknyamanan. Keidaknyamanannya melahirkan spirit-spirit untuk melawan nasib dan keadaan.

Boleh saja kamu mengeluh, juga biarkan orang-orang mencelamu hari ini. Tapi tetap saja masa depan adalah misteri yang menunggu untuk diungkap. Kata orang jangan sesali yang sudah terjadi, lebih baik fokus menapaki jalan sekarang dengan hal yang lebih baik sambil mencari jalan-jalan menuju kecerahan masa depan. Setiap orang berhak untuk berjuang mati-matian dan bahagia kok.[]

Wrote by Umi Nurchayati
Postingan Lama Beranda

Wikipedia

Hasil penelusuran

Halaman

  • Beranda
  • Motivasi
  • KOLOM
  • PUISI
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips & Trik
  • Who Am I

Jejak

  • ▼  2024 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
  • ►  2023 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2022 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2020 (11)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (13)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (18)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2015 (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2013 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Februari (1)

Instagram

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Popular Posts

  • Rahasia Para Pendo’a
      Sejak kecil anak-anak selalu diajarkan berbagai macam doa, mulai dari doa bangun tidur, mau makan, selesai makan,masuk/keluar kamar mandi,...
  • Menyikapi Budaya Konsumtif Secara Bijak Dari Lagu Efek Rumah Kaca
    'Atas bujukan setan Hasrat yang dijebak zaman Kita belanja terus sampai mati' Mendengar bait lirik lagu Efek Rumah Kaca (ERK...
  • Mengenal Islamisme dan Tantangannya Bagi Kehidupan Bernegara
    Dewasa ini kehidupan berdemokrasi bangsa kita tengah mengalami berbagai terpaan badai. Tanpa disadari dalam empat tahun terakhir ini isu ide...
  • Bersyi'ar dengan Cinta ala Mbah Kakung dan Mbah Putri
    Setelah beberapa hari lalu mbah terakhir saya, Mbah Putri dari pihak Bapak kapundhut dhateng Gusti Allah, saya jadi ingat Mbah Kakung juga ...
  • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
      dok. pribadi Judul: Crime and Punishment ; Penulis: Fyodor Dostoevsky ; Penerbit: Wordsworth Classics ; Penerjemah dalam B. Inggris: C...
  • Substansi Makna Menutup Aurat dan Berjilbab Menurut Syekh Ash-Shobuni
      Polemik tentang jilbab dan aurat wanita memang tak ada habisnya. Di kala negara-negara lain sudah sibuk berdebat tentang teknologi nano da...
  • Budaya Idul Fitri di Temanggung yang Begitu Asyik
      Tulisan ini sudah ditulis sejak 2019 lalu, namun mengingat kondisi saat ini di tengah iklim persatuan yang sedang diuji, krisis yang memba...

Draft

  • coretan unc
  • Motivasi
  • Opini
  • Puisi
  • sebuah perjalanan
  • stories / notes
  • Tips & Trik

Mengenai Saya

Foto saya
Umi Nurchayati
Blog pribadi Umi Nurchayati @uminurchayatii | uminurchayatiii@gmail.com | "Dalam samudra luas, riak saja bukan"
Lihat profil lengkapku

Copyright © 2019 Bangun Pagi-pagi. Designed by OddThemes & Blogger Templates