• Beranda
  • Motivasi
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Opini
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Puisi
    • Langgam Cinta
    • Pertemuan Bahagia dan Sedih
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips - Trik
  • Who Am I

Bangun Pagi-pagi

Setelah beberapa hari lalu mbah terakhir saya, Mbah Putri dari pihak Bapak kapundhut dhateng Gusti Allah, saya jadi ingat Mbah Kakung juga Mbah Putri dan Mbah Kakung dari pihak ibu. Dalam keluarga ibu, dulu semasa kecilnya yang biasa lebih banyak menemani anak-anaknya ya bapaknya (kakek saya), karena mbah putri harus mengajar dari pagi sampai sore hari.

Akhirnya yang biasa memasak di rumah ya Mbah Kakung, waktu itu Mbah Kakung kesehariannya adalah bertani. Jadi tentu saja waktunya lebih fleksibel dibanding istrinya yang harus bertugas mengajar di sekolah. Tapi masakan Mbah Kakung memang joss, tak heran jika cucu-cucunya suka sekali makan di tempat simbah. Sedari kecil saya pun biasa ikut mbah karena bapak dan ibu harus ke pasar, dan siang hari ibu baru pulang. Jadilah saya mengikuti Mbah Kakung ke sawah setiap hari.

Sambil menunggu Mbah Putri pulang, biasanya di sore hari Mbah Kakung sudah mulai memasak beberapa jenis sayuran yang dibawanya dari sawah. Mbah Putri memang biasa berangkat pagi-pagi sekali ke sekolah dan pulang sore hari. Waktu itu belum ada angkot ke daerah sekolah tempatnya mengajar hingga memang harus berjalan kaki.

Yang lebih menakjubkan lagi setiap sore bakda ashar Mbah Putri masih menyempatkan untuk mengajar TPA yang waktu itu diadakan di rumah, tentu saja bersama Mbah Kskung juga. Kalau boleh dibilang, bersama-sama mereka menghidupkan syiar islam di kampung saya berasal, sebuah desa yang cukup jauh dari kabupaten kota Temanggung, Jawa Tengah.

Kalau cerita dari ibu, dulunya kampung kami memang lekat dengan masyarakatnya yang masih dengan kepercayaan nenek moyang atau kepercayaan leluhur. Sampai Mbah Putri tinggal di kampung setelah menikah dengan Mbah Kakung.

Sebenarnya mereka berdua adalah pendatang di kampung, tetapi karena orangtua Mbah Kakung mempunyai tanah disitu akhirnya Mbah Kakung diminta menetap di daerah itu. Sebagai santri ndalem yang sejak kecil membersamai keluarga Kiai, mbah putri pun tergugah untuk mengajarkan ilmu agama. 

Beberapa tahun tinggal di kampung, belum ada masjid berdiri hingga Mbah Kakung memutuskan mewakafkan sepetak tanah dari orangtuanya untuk dibangun langgar, bukan masjid karena memang tidak begitu luas. Akhirnya secara perlahan perjalanan syi'ar terus berkembang.

Seperti warga lainnya, mereka hidup normal-normal saja, setiap harinya mbah Kakung ke sawah, juga Mbah Putri setiap harinya memang mengajar di sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang cukup jauh dari rumah, terletak di desa dekat puncak gunung Sindoro. Setiap harinya Mbah Putri berjalan kaki untuk berangkat mengajar, hingga ada angkot yang menuju ke sekolah, Mbah Putri baru naik angkot.

Baca juga; Mbah Putri dan Jualannya

Mereka juga membuka majelis di rumahnya, anak-anak kecil sampai orang dewasa akhirnya ikut ngaji mbah kakung dan mbah putri. saya jadi ingat pertama kali belajar membaca al-Qur’an juga dengan mbah kakung, awalnya menggunakan metode ’Turutan' yg biasa juga mbah kakung gunakan untuk mengajari anak-anak lain.

Menceritakan perjalanan kehidupan mbah kakung, mbah putri dan syiar dakwahnya sepertinya akan menghabiskan berlembar-lembar halaman. Hidupnya dipenuhi dengan berbagai terpaan badai. Saya hanya biasa mendengar cerita dari ibuk, tirakat mbah kakung dan mbah putri tak main-main. Kata ibuk semasa masih muda dan anak-anaknya masih kecil, mbah kakung dan mbah putri hampir tak pernah absen shalat malam di tempat pemakaman para orangtua mereka, setiap hari kesehariannya dihidupkan dengan berbagai amalan.

Beruntungnya mbah kakung memang mewarisi cukup luas tanah dari orangtuanya, sehingga untuk masalah pangan ia bisa berbagi dengan warga sekitar. Sering sekali yang menjadi pengelola sawahnya adalah murid-muridnya para santri di pengajian sore.

Orang-orang kampung biasa menyebutnya 'derep' yaitu membantu memanen hasil pertanian dengan mendapatkan gabah (padi yang belum digiling). Selain dari warga sekitar, orang kampung di tempat sekolah mbah putri juga sering bertandang kerumah simbah. Herannya tak pernah mereka pulang dengan tangan kosong, setelah menceritakan masalah hidupnya pada mbah putri atau mbah kakung, meski persediaan beras telah menipis untuk mereka dan ke-8 anaknya, mbah putri biasanya tetap mengantongi orang yang datang dengan membawakan beras, beberapa juga ditambah pakaian dan jilbab selendang.

Sewaktu kecil saya pun biasa ikut mbah putri sehari-hari ketika mbah putri libur ngajar bisa dari pagi sampai sore di tempat mbah. Dari paginya ke kebon seharian, duduk di depan tungku sambil menunggu mbah kakung dan mbah putri memasak, sampai ikut bulek di pengajian sore hari, TPA sabean sore itu akhirnya dipegang Bulek setelah mbah kakung dan mbah putri semakin memasuki usia senja.

Sampai umur 80 tahun mbah kakung masih dipercaya menjadi imam masjid. Sebuah masjid yang akhirnya dibangun dari tanah wakafnya lagi. Mereka bersua adalah sosok pendatang yang menjadi disegani masyarakat karena kemurahannya juga ilmu-ilmunya, mbah kakung dan mbah putri memang tak pernah memegang uang, tapi untuk urusan pangan banyak warga kampung bisa mendapatkannya ketika main ke rumah.

Tak hanya sering berbagi beras, mbah kakung dan mbah putri memang sudah menyantuni anak-anak yatim dari kalangan kelarga untuk disekolahkan, setidaknya sampai tingkat SLTP beberapa anak menamatkan. Salah satunya yang saya ingat mbah kakung tak melepas anak asuhnya begitu saja setelah keluar dari bangku sekolah, biasanya mbah kakung juga akan mengajarinya drengan ilmu-ilmu pertukangan yang memang sedikit ia kuasai. Salah satu anak asuhnya kini sampai tua adalah seorang tukang yang cukup dikenal di desa, beberapa proyek pembagunan desa juga diamanahkan padanya.

Mendengar kisah perjalanan mereka dari ibu membuat saya berpikir sekaligus malu. Betapa gigihnya perjuangan mbah kakung dan mbah putri, yang tentu saja tidak mudah. Selain kerelaannya berbagi, berbagai hujatan juga datang dari yang tidak menyukainya. Kata Ibu, beberapa tanamannya seringkali diganggu hingga gagal panen, dan masih banyak lagi hal yang tentu tidak bisa saya ceritakan. Yang pasti memori indah kebersamaan dengan mbah putri dan mbah kung masih saya ingat betul, bisa menyaksikan kehidupan mereka dan mengikuti setiap kegiatan mereka menurutku adalah sebuah privilege, yang tiada dua. 

Mbah putri selalu mengajakku ikut simaan Qur’an dimana-mana juga tadarusan setiap bulan ramadhan. Biasanya di sore hari mbah putri akan membuat kolak atau makanan ringan untuk dibawa ke masjid, katanya biar yang ngaji senang dan nggak ngantuk. Kini selepas mbah putri ditimbali Gusti Allah, yang membawa makanan untuk orang-orang ngaji di masjid dilakukan bergilir, nyatanya mbah putri tak minta orang-orang untuk mengikutinya, ia sadar keadaan setiap orang di kampung. Namun lakunya telah menjadi teladan, yang menghidupkan kebaikan-kebaikan lain dari tangan-tangan lain. Sampai umurnya menginjak 70 tahun setelah pensiun dari mengajarnya dan sebelum sakit mbah putri juga masih aktif di berbagai kegiatan.

Melihat kehidupan mbah kakung dan mbah putri saya bisa memetik berbagai keteladan hidup, salah satunya teladan kehidupan berkeluarga. Mbah putri dan mbah kakung selalu berbagi tugas, antara urusan domestik seperti memasak, mencuci, dan urusan publik yaitu mengajar.

Baca juga; Menikahlah Jika Memang Kamu Siap Menikah

Ditengah kesibukan keduanya, anak-anaknya tetap bertumbuh dengan baik. Beberapa langsung dititipkan di pondok ketika sudah mulai menginjak usia remaja. Seperti ibu saya, yang menuturkan dirinya biasa disangoni telur untuk berangkat ke pondok. Waktu itu mbah kakung juga beternak ayam dan kambing. Selain itu bayaran untuk di pondok juga masih bisa memakai bahan-bahan pangan. Selain teladan berumah tangga, kita belajar bahwa sebuah kegiatan yang luhur juga memang seharusnya diawali dan disertai laku mulia. Untuk mengajak orang-orang sholat jum’at saja tak hanya dengan ‘nggendong' dan membersamai warga setiap harinya, membantu yang kesusahan, dan mendengar keluh kesah orang yang datang, tapi juga dengan tirakat doa yang Subhanallah sekali, tak ada henti. 

Kata ibu, dari mbah, kalau punya keinginan itu juga harus ditirakati, diriyadhohi. Sebuah amalan sangat penting untuk kita dapat merayu Gusti Allah hingga hajat-hajat yang dimohon dikabulkan. Begitu terus walau belum dikabulkan.

Kini mbah putri telah pergi dipanggil Gusti Allah sejak 2018 lalu dan disusul mbah kakung pada akhir 2019 lalu. Namun tentu saja banyak jejak ditinggalkan mereka berdua, syiar dakwah yang dihidupkan di pelosok kampung, menjadi penerang yang jauh dari hiruk pikuk keramaian. Semoga meski tak dikenal di Bumi mbah putri dan mbah kakung dikenal di langit.

Tanpa terasa saya menulis ini juga menghabiskan berlembar-lembar tisu. Memori bersama mereka berdua tak bisa membohongi diri untuk terus menitikkan air mata. Kini medan syiar di jaman simbah, jaman orangtua kita, dan jaman kita juga jaman anak cucu kita kelak terus akan berubah. Menjadi tantangan bagi setiap generasi, menemukan upaya terbaik harus terus dilakukan untuk bisa meneladani simbah, bersyiar dengan cinta dan kasih sayang, seperti diajarkan Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Semoga Mbah Putri dan Mbah Kakung diparingi jembar kubur, selalu mendapat rahmat dateng Gusti Allah. Akhirul kalam saya mohon doanya untuk Mbah Kakung dan Mbah Putri, dua sosok kiai kampung yang tanpa lelah berjuang selama hidupnya, Bapak H. Achmad Kunut dan Ibu Hj. Sarijah, Alfatihah..

Wrote by Umi Nurchayati

 


Saya mau bercerita sedikit tentang mbah putri yg lakunya selalu saya ingat, diumurnya yg sudah  senja mbah putri masih saja jualan kopi di pasar, beliau menggoreng kopinya sendiri dan ke pasar menjualnya dg berjalan kaki. 

Sebagai istri pejabat desa waktu dulu mbah putri tetap saja rajin ke pasar atau sekali kali nengok sawah, kalau di tmp saya menyebutnya 'bengkok' karena gaji pejabat desa waktu itu masih berwujud sawah. 

Mbah putri sudah biasa berjualan sejak masih belia, karena rumahnya dekat pasar sampai sudah usia lanjut beliau masih nyebrang sendiri ke pasar. Anak-anaknya sebenernya sudah menginginkan mbah putri untuk dirumah saja atau paling2 masih aktif di pengajian jum'at pon. Tapi sbg org yg sudah biasa penuh kegiatan sejak muda jadi permintaan anak-anaknya sering tak dihiraukan.

Menurut mbah Putri gajinya mbah kakung dulu itu tidak cukup untuk menyekolahkan anak2nya yang banyak, apalagi bentukannya sawah yg biasanya juga dijual tahunan. Jadi untuk menambal kebutuhan sehari-hari dan makan mbah Putri memilih untuk ikut turun tangan.  Bahkan sampai mbah kakung sakit dan tdk bisa kemana-mana mbah putri tetap memilih ke pasar berjualan kopi sambil ngurus mbah kakung tentu saja.

Tapi ternyata kegiatan mbah putri sekarang bukan hanya untuk menambal kebutuhan sehari hari tapi juga sekaligus hobi, katanya kalau dirumah terus malah sumpek ngak ada kegiatan, kalau di pasar beliau lebih senang karena bisa bertemu banyak orang. Alhasil sampai sebelum sakit kemarin mbah putri tetap dibolehkan saja ke pasar setiap hari, tentu saja dengan iringan omelan anak-anaknya sambil nyeberangin jalan dan mbah putri hanya ketawa-tawa.

Melihat kegiatan mbah putri yang sampai sudah renta tetap ke pasar ternyata beliau tetap bekerja bukan karena mau mencari tambahan uang tp karena kegiatan itu sudah jadi hobinya, yang membuatnya lebih bahagia jika dilakukan. 

Jadi walaupun kini mbah putri ke pasar bukan krn motif ekonomi tapi nyatanya mbah putri berjasa besar mengelola keuangan keluarganya, anak-anaknya dulu tetap bisa sekolah dan makan juga tak kekurangan.

Melihat Mbah Putri saya jadi belajar rupanya wanita juga memiliki peranan besar dalam meningkatkan dan menjaga kesejahteraan keluarga. Jadi kalau masih ada suami yang melarang bekerja ya tidak apa-apa, bisa dikompromikan. Tapi kalau sampai melarang hobi, sungguh ia telah membatasi hak perempuan bukan yang juga ingin menikmati kesukaannya, aktualisasi dirinya, dan hak menentukan arah hidupnya bersama keluarganya, tentu saja bersama suaminya menuju keluarga impian keduanya.

Akhir kata saya mohon doanya untuk Mbah Putri saya yang pada Senin malam (26/10) telah berpulang, semoga husnul khotimah dan diterima semua amal ibadahnya.

اللّهُمَّ اغْفِرْ لها وَارْحَمْها وَعَافِها وَاعْفُ عَنْها

Alfatihah



Wrote by Umi Nurchayati

 


Tulisan ini saya dedikasikan untuk orang-orang tersayang yang selalu merasa insecure dengan dirinya, termasuk diri saya yang juga masih sering merasakaan ‘keinsecure-an’. Berbagi adalah hal yang asyik, mengupas berbagai sudut pandang dari setiap insan akan menemukan kamu pada hal-hal baru diluar diri.

Esok hari, seorang teman mendatangi tempat saya, lalu sedikit ia menceritakan tentang pekerjaannya yang sama sekali tak diinginkan. Di tempat bekerjanya ia merasa tak bisa menyalurkan inpirasinya. pendek kata mungkin ia hanya menganggap tempat kerjanya untuk mencari uang saja, namun tidak untuk belajar.

Banyak orang-orang khususnya anak-anak muda berpikir seperti itu, selepas lulus kuliah pekerjaan apapun dilakukan karena tuntunan kemandirian secara finansial. Tak peduli lagi ini apakah sesuai dengan hobi dan jurusannya semasa sekolah atau tidak. Uang terkadang menjadi satu-satunya alasan mengapa ia harus mendapat pekerjaan, apaupun itu.

Kondisi sulit memang selalu mendera selepas lulus kuliah, dihadapkan pada pilihan idealis dan pragmatis. Disini dibutuhkan banyak pertimbangan, akan menggadaikan sisi yang mana kita, atau merengkuh keduanya. Sebenarnya bukan perkara sulit untuk menapaki jalan idealismu sembari menapaki realitas sekelilingmu.

Orang-orang besar selalu dibentuk oleh keadaan yang tidak nyaman. Begitupun kamu yang salepas lulus kuliah juga sedang bingung. ingin jadi desainer tapi kok ya nggak punya mesin jahit dan peralatannya, harus beli dan harganya mahal. Akhirnya kamu memilih bekerja apapun dengan harapan bisa menabung untuk membeli mesin jahit.

Kita menjadi harus selalu mengingat bahwa tempat-tempat tidak menyenangkan seperti penjara, kampung yang kumuh, dunia pengasingan nan terkucilkan telah menunjukan bahwa manusia-manusia hebat bisa dilahirkan dari sana. Bung Hatta membawa berkoper-koper buku ketika diasingkan di Digul, bajunya hanya beberapa helai saja. ia mengatakan “tak apa-apa kalau dipenjara asalkan bersama buku”. Pramudya Ananta Toer, sang maestro sastra juga menghasilkan karya-karya terbaiknya di pulau Buru, tempat ia diasingkan. Juga orang seperti Choirul Tanjung, salah satu crazy rich Indoneia yang ternyata juga dilahirkan dari pelosok kampung.

Mungkin kata-kata motivasi sudah penuh dalam kepalamu. Sudah penat mendengarkan nasehat-nasehat yang terus datang, dan hati tetap tak tergerak. Santai, yang seperti itu bukan cuma kamu kok. Sebagai manusia biasa yang masih berharap-harap cemas tentang masa depan kita hanya harus menjalani peran hari ini juga mempelajarinya. Jangan anggap orang yang yang bekerja dan jualan di jalanan itu tak bisa jadi gurumu.

Setiap orang selalu memiliki sisi baiknya, galilah kebaikan dari orang-orang sekitarmu. Belajar dari kenyataan bahwa usaha itu bukan hanya seuatu yang terlihat saja secara lahir, ada juga yang namanya usaha batin yaitu kesabaran, keikhlasan dan cinta yang akan menjadi usaha terbaikmu. Mencintai pekerjaanmu saat ini mungkin sangat susah, Tak usah pula dipaksa. Tapi ingat kamu harus menebusnya dengan pekerjaan yang kamu cintai. Mungkin di siang hari kamu bisa bekerja, malam harinya lakukan hobi dan kesukaanmu.

Kata orang-orang besar suatu hal yang digeluti degan sungguh-sungguh pasti akan dipetik hasilnya, mungkin tidak dalam waktu dekat tapi pasti. Orang-orang besar yang kamu temukan di buku-buku motivasi itu sebenarnya adalah korban dari ketidaknyamanan. Keidaknyamanannya melahirkan spirit-spirit untuk melawan nasib dan keadaan.

Boleh saja kamu mengeluh, juga biarkan orang-orang mencelamu hari ini. Tapi tetap saja masa depan adalah misteri yang menunggu untuk diungkap. Kata orang jangan sesali yang sudah terjadi, lebih baik fokus menapaki jalan sekarang dengan hal yang lebih baik sambil mencari jalan-jalan menuju kecerahan masa depan. Setiap orang berhak untuk berjuang mati-matian dan bahagia kok.[]

Wrote by Umi Nurchayati

 


Doa belajar

رَضِتُ بِااللهِ رَبَا وَبِالْاِسْلاَمِ دِيْنَا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيَا وَرَسُوْلاَ رَبِّ زِدْ نِيْ عِلْمًـاوَرْزُقْنِـيْ فَهْمًـا

“Kami ridho Swt sebagai Tuhanku, islam sebagai agamaku, dan Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasulku. Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu dan berikanlah aku pengertian yang baik.


Doa Sayyidina Ali diberi kepahaman ilmu, dihadiahkan oleh KH. Ma’sum Lasem

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا فَهْمَ النَّبِيِّيْنَ وَحِفْظَ اْلمَرْسَلِيْنَ وَإِلْهَامَ الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

“Ya Allah, anugerahilah kami pemahaman para nabi, hafalan para rasul, dan ilhamnya para malaikat yang dekat (dengan-Mu), sebab kasih sayang-Mu, wahai Dzat yang Mahapengasih.”

Beberapa hari yang lalu seorang teman bertanya, “mbak kalau baca-baca buku pemikiran takut nggak sih?”

Mendengar pertanyaan ini saya bisa langsung menduga kekhawatirannya. Ia pun menceritakan temannya yang kini malah sering tidak melaksanakan ritual peribadatan karena masih mempertanyaan keeksitensian Tuhan dan kebenaran agama yang dianutnya, yang menurutnya ia menjadi seperti itu setelah membaca buku-buku filsafat dan pemikiran. Sedikit heran saya, memang ada toh yang sampai seperti itu. kalaupun ada ya biar saja menjadi pengelanaannya, kita hanya bisa mendoakan. Lagipula urusan keimanan dll hanya seorang itu dan Allah saja yang tahu.

Akhirnya kita menjadi ngobrol bahas macam-macam panjang lebar.. sampe adzan berkumadang baru berakhir.

Tak sedikit ternyata orang yang menghawatirkan keimanannya akan goyah karena membaca buku yang bukan buku (agama) katanya. Bahkan ada beberapa kelompok membaca yang justru membatasi bacaan anggota-anggotanya, melarang membaca buku-buku tertentu dan menggantinya dengan bacaan-bcaan yang sudah dipilihkan.

Saya mengiyakan bahwa teks diproduksi untuk membangun wacana. Dimana kata Michel Faucault, seorang filsuf asal Perancis bahwa wacana tidak berasal dari ruang kosong melainkan diproduksi dari perilaku, gagasan dan realita empiris untuk tujuan politis.

Bacaan dan relita sekeliling kita adalah wacana itu sendiri. Sehingga membaca wacana perlu didasari oleh kelapangan hati agar tidak hanyut dalam wacana atau mengabaikan wacana. Sedangkan masalah keimanan adalah hal berbeda, secara prinsipil melekat pada setiap diri individu. Berbicara Tauhid maka sudah dijelaskan dalam Al-Qur'an al karim bahwa akidah adalah sesuatu yang kokoh. "Maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada bubul tali yang kokoh." (Q.S. 31: 22). 

Sufi Mashur Syekh Abdul Qadir al-Jaelani menerangkan bahwa seorang pengesa tentu memiliki kekuatan tauhid. Tidak ada lagi baginya yang disebut ayah, ibu, keluarga, teman, musuh, kekayaan, jabatan atau ketenangan bersama apapun, melainkan hanya ketergantungan di pintu Allah azza wa jalla dan anugerah-anugerah-Nya.

Disini Syekh Abdul Qadir al-Jaelani telah menerangkan hal subtil akidah, bahwa siapapun yang sudah mengesakan Tuhannya maka tak akan terpengaruh oleh apapun yang masuk dalam dirinya. Apalagi karena membaca buku atau mengikuti diskusi.

Saya jadi ingat pesan seorang Guru kami di pesantren, ia memberikan kami wejangan yang beliau dapat dari guru kami Allahuyarham Mbah KH. Ali Maksum Krapyak bahwa dulu santrinya justru disuruh belajar dan membaca apapun, termasuk juga untuk belajar sampai ke negara tetangga, Timur Tengah, Amerika, Afrika, dll.

Mbah Ali begitu biasa kami menyebut, meskipun saya juga tak ‘menangi’ diajar beliau tapi pemikirannya selalu diwariskan ke santri-santrinya di pondok Krapyak. Sampai sekarang tak heran jika banyak santrinya yang tak hanya mengajarkan kitab atau sima’an ketika sudah lulus tapi juga berkiprah di pemerintahan. Begitulah Mbah Ali yang juga guru mantan presiden ke-4 Allahuyarham Gus Dur.

Saya menganggap mondok di Krapyak ini memang berbeda dari pesantren-pesantren lain, atau setidaknya dari pesantren saya sebelumnya. Berbagai wacana dan aliran pemikiran dalam Islam biasa didiskusikan ketika mengaji. Disini menjadi ajang memperluas literatur para santri. Terkadang tak jarang pula mengkaji tafsir juga dengan ‘dijlentrehkan’ pemikiran para tekstualis ekstrimis sampai orientalis. Menjadi begitu segar iklim kajian di Krapyak.

Kini untuk pertanyaan awal tadi, saya hanya bisa mengatakan kalau masih ada ketakutan ya berarti masih dipertanyakan ketauhidannya. Islam adalah agama ilmu. Semua ilmu milik Allah Swt, hanya manusia saja yang membaginya ilmu dunia, ilmu akhirat dll. Padahal sejatinya semua ya kuasa Tuhan. Begitupun Islam berkembang karena keterbukaannya pada ilmu pengetahuan realitas yang terus berubah, sehingga tak usah kaget jika beberapa hukum islam itu dinamis. Darinya islam akan berkembang dan menjadi rahmat seluruh sekalian alam.

Saya punya tips agar tidak takut untuk membuka lembaran-lembaran ilmu. Para Guru Ngaji dimanapun selalu mengajarkan untuk mulai belajar dengan berdoa terlebih dahulu. Kalau di pesantren selain berdoa juga mendoakan dengan berharap akan meraih keberkahan ilmu. Tentu saja ini menjadi perlu dipraktekan bukan hanya ketika akan mengkaji ilmu agama tapi juga dalam membaca buku apapun. Berdoalah terlebih dahulu dan jatuhkan sejatuh-jatuhnya diri pada keyakinan Keesaan Tuhan.

Jangan lupa untuk selalu berdoa, memohon kepada Allah Swt agar dituntun pada jalan kebenaran. Dengan begitu kamu siap melahap buku-buku apapun termasuk buku-buku yang sering disita negara atau para pemegang kunci ‘surga’.

Bismillah.. belajar mugi-mugi paringi paham, berkah, manfaat.

Ditulis di Krapyak, 13/6
Wallahu a’lam, semoga Allah Swt meridhoi

Wrote by Umi Nurchayati

'Atas bujukan setan
Hasrat yang dijebak zaman
Kita belanja terus sampai mati'

Mendengar bait lirik lagu Efek Rumah Kaca (ERK) yang berjudul “Belanja Terus Sampai Mati” itu memang cukup menusuk hati jiwa-jiwa yang suka belanja tapi masih mikir-mikir. Ya bagaimana mungkin lirik yang diciptakan Cholil Mahmud itu bisa tak mengusik perilaku kita sekarang ini, kejeniusan ERK dalam menggubah setiap lirik patut menjadi renungan kita untuk berintropeksi diri setiap harinya. Maka tak heran jika grup band indie yang sering menyuarakan isu-isu sosial ini lantas dapat bergandengan tangan dengan Mbak Nana ‘Najwa Shihab’ untuk megisi theme song Mata Najwa dengan Album ‘Seperti Rahim Ibu.’

Cholil Mahmud sang vokalis yang pernah menempuh pendidikan di New York University Silver Center of Arts and Science ini mengaku terpengaruh jurnalistik dalam menulis lirik, yang disebabkan oleh kebiasaannya membaca koran dan majalah sedari kecil. Tak heran jika ERK juga kerap dijuluki sebagai band aktivis, namun Cholil menepisnya dengan mengatakan bahwa ia hanya mewartakan hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitar lewat musik. Begitulah pengakuan seorang Bapak 42 tahun yang sejak tahun 2016 lalu kembali menetap di New York menemani istrinya yang sedang studi Doktor di Amerika.

Maka menengok lirik lagu ‘Belanja Terus Sampai Mati,’ amatlah penting dijadikan renungan terlebih bagi seorang muslim yang juga tidak diperkenankan untuk berlebih-lebihan dalam hal apapun. Di era sekarang umat islam memang telah menikmati kebebasannya dalam ruang publik. Sehingga wajar jika produk-produk bernuansa islam atau penggunaan istilah islam semakin banyak bertebaran di sekitar kita, seperti penggunaan atribut keagamaan, makanan berstempel halal dll. Lahirnya halal lifestyle, halal food, dan halal tourism juga tumbuh pesat tak hanya di negara dengan mayoritas penduduk muslim, juga dari negara dengan mayoritas penduduk bukan muslim seperti Jepang dan Korea Selatan yang kini juga tengah serius menggarap bisnis Halal Tourism ini.

Fenomena tersebut banyak dimotori oleh generasi muslim modern, Shelina Janmohammed dalam bukunya yang berjudul “Generation M: Young Muslim Changing the Word” menyebut mereka sebagai Generasi Muslim Millenial yang berusaha menyetarakan antara gaya hidup modern dan kesadaran agama, atau disebutnya antara iman dan modernitas.

Namun jika diamati lebih dalam gaya hidup yang berkembang itu kini telah menuntun seseorang ke arah konsumtif. Globalisasi telah membuat kebutuhan sekunder menjadi kebutuhan pokok dan keinginan seolah-olah menjadi sebuah kebutuhan. Dengan meningkatnya tren global yang menimpa masyarakat muslim kini, telah membuat mereka berlomba-lomba dalam hal fashion salah satunya yaitu berkaitan untuk tampil modis sebagai bagian untuk melawan konstruksi sosial tentang islam yang kolot dan tidak modern. Tak heran jika kini turut menjamur produksi jilbab, kaftan, gamis dll, dari yang mulai harga paling murah sampai berjuta-juta rupiah.

Hal-hal seperti itu telah mendorong umat muslim pada budaya konsumtif. Padahal ditengah-tengah itu kelas menengah keatas muslim juga dihadapkan pada realita sosial, dimana kemiskinan, kelaparan, dan perlakuan ketidakadilan masih banyak menimpa saudara muslim. Sehingga menurut penulis kaum menengah keatas harus kembali melakukan refleksi atas kondisi-kondisi yang menimpa umat islam, sehingga status kesadaran religi Generasi M tidak digunakan untuk menjaga jarak antara mereka diantara saudara sebangsa dan seiman yang kurang beruntung.

Mungkin sebagai seorang santri kita teramat sering diingatkan tentang kondisi-kondisi terkait permasalahan diatas, melalui kajian tasawuf yang intens kita telah belajar banyak dari ulama-ulama terdahulu tentang sikap tidak berlebih-lebihan, sabar, qana’ah, menjauhi dunia, dan cara membunuh hawa nafsu. Namun, kembali lagi rupanya membunuh hawa nafsu itu bukan perkara mudah, dalam kitab Minhajul Abidin karangan Imam Al-Ghazali disebutkan bahwa nafsu tidak bisa mati, tapi kita bisa menghalaunya dengan latihan menahan hawa nafsu secara terus menerus. Mencegah makan bila sudah kenyang, mencegah berbicara bila tak perlu dan penting, sampai mencegah membelanjakan uang bila bukan suatu kebutuhan menjadi selaras dengan ajaran tasawuf di pesantren. Maka untuk menyuarakan nilai-nilai tasawuf tersebut agaknya ERK cukup mewakili. Hidup di tengah budaya urban dengan kungkungan kapitalisme menjadi amat perlu menerapkan dan selalu berlatih menghalau hawa nafsu, seperti kata ERK agar tidak menjadi korban keganasan peliknya kehidupan urban atas bujukan setan dan hasrat yang dijebak zaman.

Berikut penulis kutipkan lirik lagu Belanja Terus Sampai Mati- Efek Rumah Kaca, semoga dapat pula menjadi renungan agar tetap berhati-hati menghabiskan uang kiriman di awal bulan:

'Akhir dari sebuah perjalanan
Mendarat di sudut pertokoan
Buang kepenatan
Tapi-tapi itu hanya kiasan
(Belanja terus sampai mati)
Juga juga suatu pembenaran
Atas bujukan setan
Hasrat yang dijebak zaman
Kita belanja terus sampai mati
Awal dari sebuah kepuasan
Kadang menghadirkan kebanggaan
Raih keangkuhan
Tapi tapi itu hanya kiasan
(Belanja terus sampai mati)
Juga juga suatu pembenaran
(Belanja terus sampai mati)
Atas bujukan setan
Hasrat yang dijebak zaman
Kita belanja terus sampai mati
Duhai korban keganasan peliknya kehidupan urban
Duhai korban keganasan peliknya kehidupan urban
Peliknya kehidupan urban
Peliknya kehidupan urban
Atas bujukan setan
Hasrat yang dijebak zaman
Kita belanja terus sampai mati
Tapi tapi itu hanya kiasan
(Belanja terus sampai mati)
Juga juga suatu pembenaran
(Belanja terus sampai mati)
Atas bujukan setan
Hasrat yang dijebak zaman
Kita belanja terus sampai mati'

*Tulisan ini pernah dimuat dalam http://almunawwirkomplekq.com/menyikap-budaya-konsumtif-secara-bijak-dari-lagu-erk/ dengan judul “Menyikap Budaya Konsumtif Secara Bijak dari Lagu ERK”
Wrote by Umi Nurchayati
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Wikipedia

Hasil penelusuran

Halaman

  • Beranda
  • Motivasi
  • KOLOM
  • PUISI
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips & Trik
  • Who Am I

Jejak

  • ▼  2024 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
  • ►  2023 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2022 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2020 (11)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (13)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (18)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2015 (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2013 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Februari (1)

Instagram

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Popular Posts

  • Rahasia Para Pendo’a
      Sejak kecil anak-anak selalu diajarkan berbagai macam doa, mulai dari doa bangun tidur, mau makan, selesai makan,masuk/keluar kamar mandi,...
  • Menyikapi Budaya Konsumtif Secara Bijak Dari Lagu Efek Rumah Kaca
    'Atas bujukan setan Hasrat yang dijebak zaman Kita belanja terus sampai mati' Mendengar bait lirik lagu Efek Rumah Kaca (ERK...
  • Mengenal Islamisme dan Tantangannya Bagi Kehidupan Bernegara
    Dewasa ini kehidupan berdemokrasi bangsa kita tengah mengalami berbagai terpaan badai. Tanpa disadari dalam empat tahun terakhir ini isu ide...
  • Bersyi'ar dengan Cinta ala Mbah Kakung dan Mbah Putri
    Setelah beberapa hari lalu mbah terakhir saya, Mbah Putri dari pihak Bapak kapundhut dhateng Gusti Allah, saya jadi ingat Mbah Kakung juga ...
  • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
      dok. pribadi Judul: Crime and Punishment ; Penulis: Fyodor Dostoevsky ; Penerbit: Wordsworth Classics ; Penerjemah dalam B. Inggris: C...
  • Substansi Makna Menutup Aurat dan Berjilbab Menurut Syekh Ash-Shobuni
      Polemik tentang jilbab dan aurat wanita memang tak ada habisnya. Di kala negara-negara lain sudah sibuk berdebat tentang teknologi nano da...
  • Budaya Idul Fitri di Temanggung yang Begitu Asyik
      Tulisan ini sudah ditulis sejak 2019 lalu, namun mengingat kondisi saat ini di tengah iklim persatuan yang sedang diuji, krisis yang memba...

Draft

  • coretan unc
  • Motivasi
  • Opini
  • Puisi
  • sebuah perjalanan
  • stories / notes
  • Tips & Trik

Mengenai Saya

Foto saya
Umi Nurchayati
Blog pribadi Umi Nurchayati @uminurchayatii | uminurchayatiii@gmail.com | "Dalam samudra luas, riak saja bukan"
Lihat profil lengkapku

Copyright © 2019 Bangun Pagi-pagi. Designed by OddThemes & Blogger Templates