• Beranda
  • Motivasi
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Opini
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Puisi
    • Langgam Cinta
    • Pertemuan Bahagia dan Sedih
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips - Trik
  • Who Am I

Bangun Pagi-pagi

Yang membuat kenyang itu beda-beda memang,

Ada yang kenyang makan roti, ada yang kenyang makan sego pecel,
pun ada yang belum kenyang makan nasi padang.

Ada yang kenyang dengan shodaqahnya, ada yang kenyang dengan kepintarannya,
ada yang kenyang dengan kerajinannya, ada pula yang kenyang dengan sembayang.

Ada yang kenyang dengan gajinya,
ada pula yang belom kenyang dengan gaji orang.

Nafsu membuat makhluk tak pernah kenyang,
selalu merasa lapar tak pernah nrima
Nafsu memang tak bisa kenyang,
Nafsu hanya bisa di didik dan dikawal

Walau tak kenyang, setidaknya tak guncang.


 @uminurchayatii
Jogja, 08/08/2018

Ilustrasi
Wrote by Umi Nurchayati
ilustrasi
CATATAN UNTUK DIRI


Suatu pagi seseorang meminta tolong dengan nadanya yang seolah-olah seperti sudah tak mampu berdiri, padahal kenyataannya hanya masuk angin biasa. Keluhannya batuk dan pusing ringan, waktu kutanya sakit apa ia menjawabnya masuk angin. Saya pun memberikan pertolongan dengan apa yang bisa saya lakukan, biasanya membelikan makan dan suplemen kesehatan. Ia terus mengeluh tentang sakitnya, katanya kecapean terlalu banyak kegiatan dll sehingga waktu itu ia selalu meminta tolong. Semua teman temannya menolong dengan selow dan ada beberapa teman yang tak ambil peduli. Sebenarnya kami tinggal di sebuah kompleks asrama, jadi terdapat banyak anak untuk setiap satu kamar. Untuk kamar dengan ukuran 3x4 seperti kamar kami ini dihuni sekitar 5 sampai 6 orang.

Semua akan tumbang pada waktunya
Di kala kita sehat terkadang ada yang terlupa yaitu sakit, benarlah lagunya Opik akan “ingat 5 perkara sebelum 5 perkara”. Yang akan ku bahas minggu ini ialah sehat sebelum sakit. Bukan bermaksud menggurui karena note ini sebagai pengingat juga untuk diri. Terkadang apa yang kita tak bayangkan akan begitu saja menghujani diri kita, begitu pula dengan sakit bisa datang kapan aja tanpa mengenal waktu. Pernah aku alami aku benar-benar dalam kondisi yang fit, dengan sombongnya ku melalai kemana-mana. Berkativitas seharian tanpa kenal lelah, makan telat, dll.

Sebenarnya aku juga biasa makan telat, sarapan juga sering sekali bersamaan dengan makan siang. Istilahnya mungkin dijamak ya, hal tersebut pasti sudah menjadi kebiasaan banyak pelajar dan mahasiswa. Masuk pagi entah untuk sekolah, pergi ke kampus atau bekerja membuat beberapa orang tak sempat sarapan. Hingga suatu hari, aku pun tumbang. aku masuk angin dan harus istirahat seharian. Banyak tugas dan deadline mundur dari waktu yang ditentukan. Di saat seperti itu benar-benar menyiksa. Dikala tumbang baru kita sadari, betapa nikmatnya sehat, makan enak, tidur nyenyak.

Ketika waktu tumbang datang manusia hanya bisa meminta. Meminta kesehatan pada yang Kuasa itu pasti, meminta tolong pada teman juga pasti. Memang kodrat sebagai makhluk sosial bagaimana lagi.. Namu ada satu hal yang tidak kusukai dari orang sakit, yakni keluhan. Menurutku keluhan hanya membuat situasi lebih memburuk, mindset menjadi negatif. Banyak hal penyebab sakit sebenarnya, kalau menurut kitab “Tanwirul Qulub” karya Syaikh Amin Al Kurdi dari Irak yang kitabnya sering dikaji di malam Sabtu, mengatakan bahwa ada tiga hal penyebab sakit. Ketiganya adalah; 1).sakit karena diingatkan Allah SWT untuk beristirahat dan tadabbur, hal ini menjadikan sakit sebagai rahmah dan karunia sehingga dapat meleburkan dosa-dosa orang yang berpenyakit 2).sakit karena azab, hal ini lebih kepada murka Allah, sakit yang diderita bisa jadi disebabkan karena dosa-dosa baik pada sesama manusia dan pada Sang Pencipta. 3) sakit yang ketiga disebabkan karena kemaksiatan, maksiat dan dosa-dosa besar (dosa kecil juga bisa menjadi besar jika dilakukan terus menerus) maksiat membuat hati menghitam sehingga cahaya Allah tak lagi mampu menembus, dalam hal ini kemaksiatan adalah sumber dari penyakit, baik sakit jiwanya ataupun fisiknya.

Jadi kalau kita terkena sakit coba dikroscek kembali, karena apa kita sakit. Jika bagi penuntut ilmu kita berhak berhusnudhon bahwa sakitnya sebagai bentuk rahmah Allah sebagai pengingat, boleh jadi pengingat untuk istirahat, atau boleh jadi agar lebih meluangkan waktu untuk mengingat Tuhannya dan melepas kesibukannya beberapa saat dan menata kembali segala prioritasnya, untuk selalu menjadikan Tuhannya prioritas dan untuk selalu menjaga kemesraannya dengan Sang Pencipta.

Kembali lagi pada keluhan, karena menurut saya perilaku seperti itu menunjukan ketidaksyukuran, ia lupa bahwa sakit juga bisa berarti kasih sayang Tuhannya. Kecuali jika pernah melakukan kemaksiatan-kemaksiatan lain  (bisa bermaksiat pada sesama makhluk Allah atau pada Tuhannya sendiri), maka dibutuhkan obat yang tepat. Yang dibutuhkan oleh orang yang berpenyakit memanglah obat, obat yang pas akan membawa kesembuhan. Jenis obat pun beragam, jika sakit hati dan jiwa maka dibutuhkan obat hati. Seperti lagunya Opik “obat hati ada lima” (sudah pada hafal kali ya), jika obat raga maka ramulah obat untuk raga.

Sejatinya disyukuri, dengan sedikit sakit menandakan sinyal dari tubuh yang meminta haknya untuk diistirahatka sejenak, harusnya kita sendiri yg menyadari itu. Jika masih sanggup berjalan maka melangkahlah. Janganlah menjadi orang yang berpikir bahwa kamu yang paling capek dan paling bekerja keras. Sungguh di luar sana masih banyak sekali yang lebih padat kegiatannya, yang bahkan mungkin buat makan aja tak sempat dan harus mencuri curi waktu. Tapi bukankah seperti itu berati ia tak mensyukuri nikmat waktu yang diberikan Tuhan?

Semua orang diberi waktu 24 jam dalam sehari, dalam sehari itu ada yang bisa menyelamatkan nyawa, ada yang bisa menang lomba, memenagkan tour ke luar negeri, bertemu jodoh, bertemu kawan lama, dan menyambung silaturahmi.

Lalu apa yang sudah kita perbuat sehingga sudah berani-beraninya mengaggap diri orang tersibuk dan yang lain tidak. Bukalah mata lebar-lebar, jangan picik. Banyaklah membaca, membaca dunia salahsatunya agar daya pandangmu semakin jauh. Syukurilah nikmatmu, jangan mengeluh. Hanya butuh kerjakan yang terbaik saat ini.

Sampai jumpa besok, jika aku bertemu kamu lagi dan kamu masih menganggap dirimu paling banyak berkegiatan maka aku berani bertaruh bahwa kamu belum mempelajari managemen, prioritas dan optimalisasi waktu, dan kamu harus belajar. Aku pun masih belajar, tapi nanti kita belajar bersama tak jadi masalah bagiku, berproses bersama menuju versi terbaik diri. See you!!

Sungguh, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

Wrote by Umi Nurchayati



Ilustrasi
credit: uminc


Aku
Terbawa oleh ombak
Terhembus oleh angin

Aku
Dibangun oleh tawa
Dibentuk oleh lara

Aku dan lara
Bersahabat dengan diri
Tapi tidak dengan hati

- umi nur chayati
Yogyakarta, 2018

Wrote by Umi Nurchayati
Ilustrasi,
In frame: umi nc, credit: kawan


Untuk apa aku diciptakan?
Mengapa aku diciptakan?
Mengapa diri ini aku?

Tiga bait diatas adalah pertanyaan dasar bagi orang-orang yang berpikir. Ya, sejatinya yang berakal adalah berpikir. Manusia diciptakan dengan karunia akal yang membedakan dari makhluk-makhluk lain.
Semua makhluk diciptakan sama
Punya hak hidup, makan, bernafas, dan tumbuh
Manusia diciptakan sama, semuanya sejajar dan mengemban tugas yang sama yakni sebagai khalifah di bumi. Allah Swt. Sendirilah yang telah melekatkan tugas tersebut secara jelas dalam nashNya di Al-Qur’anul karim, lantas bagaimana seorang khalifah fil ardhi itu? selanjutnya apa yang harus kita lakukan, apa yang harus kita perbuat?

Sebenarnya di kala ku masih kecil, aku juga belum memikirkan akan hidup ke depannya, membayangkan seperti apa pun belum. Waktu itu kita hanya masih berpuas pada cita-cita. Seiring berjalannya waktu, semua yang hidup itu tumbuh dan berkembang. Kita lalui apa yang disebut proses, dalam proses itu aku, kami dan kita semua berkembang, langkah-demi langkah yang dilalui membawa pada berbagai macam perubahan. Manusia memang diberi wewenang untuk berpikir sehingga akhirnya selalu membawa manusia pada proses perubahan. Selalu ingin berubah lebih baik dan belajar dari pengalaman hari kemarin.itulah manusia, itulah aku kamu kami dan kita semua.

Sebagai orang mukmin telah diberikan petunjuk dari Tuhan nya langsung, Al-Qur’an telah diturunkan Allah Stw. Sebagai petunjuk untuk menggapai kesejatian hidup. Hidup yang selamanya, hidup yang kekal dan langgeng sampai di akhirat kelak. Bagi orang mukmin, telah pula diutus Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi dan rasul untuk menjadi suri tauladan, mengajarkan Islam, menyebarkan agama rahmah.

Aku pun baru berfikir sejatining urip ialah sejak belajar di pondok pesantren. Dunia pesantren mengajariku banyak hal. Awalnya aku heran, kenapa banyak orang rela mengabdikan dirinya disana. Banyak guru tak dibayar dan selalu hadir jika tak ada kepentingan mendesak, banyak juga santri yang rela memasakan makanan untuk seluruh warga pesantren tanpa diupah, pun ada juga yang rela sebagai tukang selalu siap membenarkan segala fasilitas pesantren yang terkadang rusak, sampai saluran air yang sering mampet. Dunia pengabdian begitu terasa tanpa koar-koar sana-sini.

Awalnya aku juga bingung kenapa mereka mau melakukannya. Sejak tujuh tahun lalu, sejak beberapa hari di awal  aku mengenal pesantren,aku mempertanyakannya. Hingga sampai empat tahun itu aku mulai mengerti perlahan. Sebagai manusia pasti mereka punya hal yang mendasari perbuatan, itulah sedikit pengertian alasan. Terkadang kita tak akan mengerti alasan yang dipakai setiap orang.

Dalam dunia pesantren dikenal istilah ‘Barokah’. Kata barokah menjadi sebuah term akan keridoan sang Kyai. Ketika sang guru ridho dengan muridnya maka murid tersebut akan dengan mudahnya menerima apa-apa yang diajarkan gurunya. Karena Barokah lagi-lagi membawa pada prinsip, bukankah doa orang-orang shaleh itu diijabah oleh Allah Swt. Asalkan kita ikhlas melakukannya maka pahala tak hentinya akan mengalir ak henti-hentinya, pada akhirnya pintu kemudahanpun akan terbuka.

Semua orang bebas untuk menghayati hidupnya, masing-masing juga mempunyai pemaknaan senndiri dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah fil ardhi, ada yang dengan belajar giat, sedekah terus menerus, membantu orang lain, menjaga keamanan negara dan masih banyak lagi. 
Saat ini dalam prosesku aku hanya ingin hidupku ini bermanfaat, agar hidupku ini bisa dikenang, terlebih di pelajari cara hidupku. Sekarang aku hanya ingin menebar manfaat, tak peduli dimana pun, tak peduli kapan pun. Sebagai khalifah fil ardhi, aku hanya ingin menebar manfaat sebanyak mungkin.
Wrote by Umi Nurchayati


Gadis Kampung Warmon berdiri disamping bendera Merah Putih yang ia tancapkan di halaman rumah warga
credit: umi
Senin minggu ini adalah hari pertama diadakannya lomba 17an. Serangkaian acara sudah disusun, segala persiapan ditempuh. Dengan tema “Merajut Mimpi Dalam KeBhinnekaan” yang tiba-tiba terceletuk dari mulut seorang teman saya, sebut saja Kahfi. Ditengah rapat sebelum hari itu, yang diadakan mini panitia 17-an, semua anak bingung menentukan kapan perlombaan-perlombaan yang sudah disusun dan dibuat list itu akan diadakan. Terang saja, iklim saat itu memang tak menentu, hujan terus mengguyur tak peduli pagi, siang dan malam. Membuat jalan becek bahkan sampai banjir. Banjir di Warmon Kokoda tak bisa dianggap remeh karena sungai akan meluap dan berakhir banjir. Ketidakadaan daerah resapanlah yang membuatnya menjadi rawan banjir. Suasana malam itu hening di tengah rapat karena semua sibuk memikirkan tema yang akan diusung dalam serangkaian acara memeriahkan HUT RI yang ke 72 tahun tersebut. Sebuah suara memecahkan keheningan kala itu
“merajut mimpi dalam ke-Bhinnekaan”
Sontak saja langsung dibanjiri sedikit olokan dari teman-teman tapi tetap dipertimbangkan.
“mungkin bisa diterangkan maksud merajut mimpi dalam kebhinnekaan itu saudara Kahfi” timpal Ade yang merupakan ketua panitia 17 Agustus.
Dengan segala pertimbangan dan dukungan dari beberapa anggota lain akhirnya tema yang terceletuk dari sebuah ketidaksengajaan tersebut diputuskan menjadi tema  acara dan suasana kembali mencair penuh canda.
Banner Prayaan Hari Kemerdekaan RI yang dipasang di Kampung Makbusun
credit: MBN 

***

12 Agustus 2017
            Sunrise yang indah dan banjir menyambut pagi kami, entah berapa kubik air yang jatuh di Kokoda dalam semalaman itu. Baru malamnya saya dan beberapa anak lain pulang dari tempat Budhe berjalan kaki melewati tanah pecek seperti biasa, paginya sudah banjir setinggi lutut laki-laki dewasa. Dalam rumah yang tak lebih luas dari 30 m2 itu kami terkungkung menunggu air surut, juga menunggu sarapan yang tak kunjung masak.
            Memasak di Kokoda memang tak mudah, perlu sedikit peluih untuk sekedar membuat sarapan. Ketiadaan air bersih memaksa beberapa laki-laki yang piket[1] di hari itu mencari air bersih untuk sekedar mencuci sayur dan beras, sementara untuk memasak kami masih mengandalkan air galon yang dibeli di warung Bu Sur di kampung transmigran depan yang rumayan jauh, dan air hujan yang turunnya tak menentu.
            Akhirnya sarapan pagi itu yang menjelang siang lebih tepatnya masak, sayur kangkung seperti biasa menghiasi ruang tamu, ditambah tempe goreng yang cukup untuk lauk pagi itu. Sudah bagus sarapan pagi itu jadi sekitar pukul 10.00 WIT di tengah banjir seperti ini. Ohh.. iya walaupun tak ada air galon karena keterhambatan akses rupanya air hujan justru melimpah.  Air hujanlah sumber kehidupan pagi itu di rumah paling ujung yang dijadikan posko ke dua kami, sementara posko pertama dihuni oleh laki-laki yang berada agak didepan rumah posko dua yang dihuni perempuan dan beberapa laki-laki.
            Selang beberapa jam sampai menjelang siag rupanya air tak kunjung surut, tentu saja kami tak bisa tinggal diam terus di rumah seperti ini. Banjir pun akhirnya diterobos, tak peduli seberapa tinggi itu. Tapi rupanya kami masih kalah kreatif dengan masyarakat, mereka menggunakan kapal kecil (kano) untuk pergi ke warung Mercy membeli pisang goreng. Sepatu boot yang biasa digunakan rupanya tak cukup melindungi kaki, jadi lebih baik memakai sandal atau “nyeker” tak memakai alas ditengah banjir setinggi lutut seperti ini. Sejak saat itu banjir dan pecek sudah bukan halangan.
            “medkom tolong ada yang ke depan, itu ada lomba renang”
Rupanya banjir telah dimanfaatkan warga untuk mengadakan perlombbaan yaitu lomba renang, Bapak Desa lah yang telah menginisiasi warganya untuk lomba renang saja sekaligus menyambut hari kemerdekaan yang tinggal menghitung hari.

Keriuhan lomba renang di sungai Kampung Warmon
credit: video amatir format Instastory

            Aku langsung bergegas pergi ke depan tepatnya di dekat jembatan yang merupakan jembatan penyeberangan diatas suangai Warmon (kali Warmon). Sepatu boot berhasil kupakai karena air sudah sedikit surut. Ku tenteng Camera Canon Miroless, dengan langkah gontai langsung ku jebret sana sini. Beberapa momen menarik berhasil kudapatkan.
            “itu sudah.., benderanya disana,”
            “mantap sekali”
Komentar mama-mama dan remaja-remaja putri Warmon menambah kemeriahan perlombaan itu. tak hanya pandai berkomentar mereka juga turut menyemangati peserta sambil sesekali ikut merasakan cipratan Kali Warmon yang banjir itu. Bapak Desa yang mencatat para pemenang dengan dibantu Bapak Jalal, ketua RT.02 dan Sihe, salahsatu teman PPM kami.
Tak perlu banyak kata karena semangat 17 sangat terlihat, perebutan bendera merah putih yang ditancapkan di ujung kali Warmon begitu meriah, semua peserta menginginkannya. Berenang sekencang-kencangnya secepat-cepatnya menjadi satu-satunya pilihan untuk mendapatkan merah putih itu.
Klik Vlog Lomba Renang _ KKN-PPM MBN UMY Kokoda 2017
***




[1] (piket); bagian memasak, membersihkan rumah dll, giliran

Wrote by Umi Nurchayati
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Wikipedia

Hasil penelusuran

Halaman

  • Beranda
  • Motivasi
  • KOLOM
  • PUISI
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips & Trik
  • Who Am I

Jejak

  • ▼  2024 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
  • ►  2023 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2022 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2020 (11)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (13)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (18)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2015 (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2013 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Februari (1)

Instagram

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Popular Posts

  • PELAJARAN BERHARGA DARI SYRIA (SURIAH) UNTUK INDONESIA: MENJAGA PERSATUAN
    Gambar : Anak-anak dan perempuan menjadi korban konflik Suriah. dok: bbc.com Suriah (Syria) merupakan suatu negara yang terletak ...
  • Menyikapi Budaya Konsumtif Secara Bijak Dari Lagu Efek Rumah Kaca
    'Atas bujukan setan Hasrat yang dijebak zaman Kita belanja terus sampai mati' Mendengar bait lirik lagu Efek Rumah Kaca (ERK...
  • Rahasia Para Pendo’a
      Sejak kecil anak-anak selalu diajarkan berbagai macam doa, mulai dari doa bangun tidur, mau makan, selesai makan,masuk/keluar kamar mandi,...
  • REFLEKSI - Sejatinya Hidup
    Ilustrasi, In frame: umi nc, credit: kawan Untuk apa aku diciptakan? Mengapa aku diciptakan? Mengapa diri ini aku? Tiga b...
  • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
      dok. pribadi Judul: Crime and Punishment ; Penulis: Fyodor Dostoevsky ; Penerbit: Wordsworth Classics ; Penerjemah dalam B. Inggris: C...
  • seulas senyum di sunset merah Kokoda: Semangat 17an (Part 1)
    Gadis Kampung Warmon berdiri disamping bendera Merah Putih yang ia tancapkan di halaman rumah warga credit: umi Senin minggu ini a...
  • seulas senyum di sunset merah Kokoda: Mencari Bambu dan Pucuk Sagu di Hutan Papua
    Sudah lama sejak 28 Juni 2017 lalu, saya dan 25 teman lainnya yang tergabung dalam tim KKN UMY tinggal di Kampung Warmon ini, ya kami ...

Draft

  • coretan unc
  • Motivasi
  • Opini
  • Puisi
  • sebuah perjalanan
  • stories / notes
  • Tips & Trik

Mengenai Saya

Foto saya
Umi Nurchayati
Blog pribadi Umi Nurchayati @uminurchayatii | uminurchayatiii@gmail.com | "Dalam samudra luas, riak saja bukan"
Lihat profil lengkapku

Copyright © 2019 Bangun Pagi-pagi. Designed by OddThemes & Blogger Templates