• Beranda
  • Motivasi
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Opini
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Puisi
    • Langgam Cinta
    • Pertemuan Bahagia dan Sedih
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips - Trik
  • Who Am I

Bangun Pagi-pagi



“Isyana dan suaminya pacaran dari jaman smp bisa sampe nikah sampe sekarang," ungkap seorang teman, tak terima jika hubungannya kandas karena dibilang orang terlalu lama bersama.

Pandangannya masih berkaca-kaca, seorang gadis yang masih sangat sedih setelah sebulan yang lalu mendengar kabar tentang pertunangan ‘teman dekatnya.’ Ia tak mau menyebutnya dengan istilah pacaran- ini soal istilah aja lah ya. Ia tidak habis pikir, "bisa-bisanya sudah lama berhubungan kenal, sering telfonan tiba-tiba dengan gampangnya pergi, padahal sampai sudah kulepas semua yang mendekatiku hanya demi menunggunya, dasarr..," sedikit umpatan yg tak kuasa ia teruskan.

"Bisa-bisanya kemarin sudah ketemu orangtuaku, bantuin jemput mereka ke Bandhara, tiba-tiba tak ada angin, tak ada hujan menghilang," ungkap gadis satunya lagi, ia sangat kesal dengan ‘teman dekatnya’ yang sudah mencoba berkomitmen sejak masih kuliah S1 tiba-tiba pergi tanpa kabar dan memutuskan komitmen yang dibuat bersama. Mungkin ini yang dimaksud 'ghosting' kali ya.

"Dia ketiduran di asrama, aku jauh-jauh dr pojok timur Jogja ke barat terjang hujan pagi-pagi buat bangunin dia demi tak absen kuliah karena ditelfon tak diangkat-angkat," ia mengenang masa perjuangannya demi seseorang di hatinya waktu itu.

Cerita yang hampir sama dari beberapa orang yang berbeda mulai menerpa masa awal usia dewasa. Hubungan yg sudah lama terjalin dengan lawan jenis tak bisa jadi patokan menuju tujuan yang sama. Hanya segelintir orang yang bisa mempertahankan masa ‘berteman dekat’ dalam fase yang lama ke jenjang serius. Kita menjadi berpikir, "why?"

Menginjak umur dewasa manusia akan semakin memperhitungkan banyak hal yang realistis. Perhitungan di umur 20 tahun sampai menginjak seperempat abad usia selalu berbeda. Manusia terus bertumbuh setiap harinya, baik laki-laki maupun perempuan akan mengalami perkembangan dan kondisi yang berbeda. Beberapa hal bisa menjadi pemicu dalam perkembangannya, terlebih perkembangan 'how we think' dan ‘the way’-nya dalam menjalani hidup.

Sejenak ayo kita urai rasa sakit hati secara realistis;

Pertama, Menyadari kondisi mengapa 'jatuh' padanya. Jatuh cinta adalah hal yg wajar dialami oleh manusia. Tapi coba cari tahu kenapa menjadi punya kecenderungan dengannya.

Orang Jawa mengatakan 'tresno jalaran soko kulino,' banyak orang menjadi saling jatuh cinta dan menikah karena setiap hari bertemu atau beberapa hari sekali. Dengan komunikasi yang sering, peluang menemukan kecocokan dan kenyamanan antara satu dengan yang lain semakin terbuka lebar. Tak heran jika banyak orang akhirnya memilih bersanding dengan orang terdekatnya. Bisa jadi, dulunya saling jatuh cinta juga karena faktor sering bertemu ini.

Oh iya, kondisi psikis juga ngaruh loh ke respon kita. Di saat merasa sendiri dan sepi seseorang lebih mudah menerima kebaikan dan merespon perhatian, tak jarang menjadi berekspektasi macam-macam. "Kok dia baik banget sama aku ya, perhatian banget kemarin aku sakit." Tanpa disadari bisa jadi ia adalah seorang yang baik ke semua orang.

Mungkin respon kamu akan berbeda ketika dalam kondisi psikologis yang berbeda, di saat kamu merasa damai dengan dirimu dan penuh kasih sayang dari orang sekitar. Respon diri pada perhatian dan kebaikan orang lain bisa jadi tanpa ekspektasi atau bahkan 'ya B aja.'

Kedua, Menyadari kita dan pasangan kita adalah manusia. Sebagai manusia maka kondisinya adalah selalu bertumbuh, selalu berubah, dan selalu dipenuhi kekurangan & kelebihan.

Bertumbuh, baik tubuh dan jiwanya, berubah, baik sikap dan pikirannya, dan juga adalah penuh kekurangan dan kelebihan dalam berbagai kondisi yang berbeda.

Cara pandang di umur under 20, 20-25, 26-29, dst tentulah berbeda, bahkan setiap kenaikan usia kita mengalami perbedaan cara pandang. Apa itu cara pandang? pendeknya adalah menyikapi kehidupan.

Bisa jadi dulu membangun komitmen di awal umur 20-an karena masih hanya memikirkan diri dan perasaan masing-masing saja, kalau saat itu Tuhan mampukan dan kalian menikah maka bersatulan sepasang ini.

Namun jika masih berkomitmen sampai setidaknya lulus kuliah, maka kemungkinan lain bisa terjadi. Misalnya; keadaan memaksa mereka ldr (long distance relationship), ceweknya kerja di JKT, cowoknya di Kalimantan. Sama-sama ketemu orang-orang baru dan lingkungan baru, cara pandang keduanya pun berubah. Lama-lama secara komunikasi saja mereka sudah merasa tak ketemu titik temu. Padahal dulu nyambung sekali. Rupanya pembicaraan yang sangat mendalam (deeptalk) memang belum bisa tercipta diantara kalian. Semakin dewasa keduanya semakin berbeda pula menangkap fenomena dalam diaspora kehidupannya. Walhasil mereka merasa tidak cocok lagi.

Ketiga, Semakin dewasa rasanya semakin realistis. Coba kalau ditanya sekarang, "Apa yg membuatmu ingin menikah dengan si X?," jawabannya bisa berbeda antara dulu dan sekarang. Dulu bisa saja kamu belum berpikir tentang bagaimana melanjutkan bisnis keluarga, membangun yayasan keluarga, atau membantu membiayai keluarga. Semakin kesini setiap diri kita berpikir, "Apa ia bisa masuk dalam kehidupanku beserta semua permasalahan di keluargaku, apa ia bisa tetap nyaman dan menjadi dirinya." Pertanyaan tersebut semakin kita pikirkan bukan.

Melepas jelaslah bukan hal yang mudah, merelakan jelaslah tak sesederhana melupakan saja. Namun ingat, kamu telalu berharga untuk terus terkurung dlm sangkar kesedihan. It’s fine, Kekandasan hubungan yang lalu bukanlah karena kamu terlalu baik dia terlalu buruk, atau dia terlalu baik dan kamu nggak pantas buatnya. Perjuangan kalian bukanlah hal yang sia-sia, pengorbananmu bukan tak ada gunanya. Kekandasan yang lalu hanya karena kamu dan dia tak bersatu di saat yang tepat, kekandasan lalu karena kamu belum menemukan pasangan puzzle yang tepat.

Slowdown, tarik napas dalam-dalam.. Bahwa pasangan yang tepat tak akan menghambat kamu dan dirinya dalam bertumbuh, baik dari segi normatif, pemikiran, dan tindakan. Pasangan yang tepat akan membuat kalian bertumbuh bersama ke arah yang lebih baik. Waktumu terlalu berharga untuk seseorang yang tak lagi mempertimbangkan kamu. Saatnya kamu temukan bahagia dalam diri dan temukan puzzle yang tepat. Gitu aja, biasa-biasa saja. Hhi :))

Wrote by Umi Nurchayati

Saya beruntung sekali di bulan Ramadhan tahun ini, beberapa bulan yang lalu saya dapat mewawancarai seorang Ustadz yang sudah cukup lama melintang di Indonesia. Beliau adalah seorang Qari, pelantun bacaan al-Qur'an lulusan dari Universitas Ummul Qura Makkah.

Setelah selesai wawancara kami pun berdiskusi cukup banyak, kebetulan beliau sudah cukup lama tinggal di Indonesia jadi sudah cukup lancar berbahasa Indonesia. Walaupun aslinya berasal dari Madura namun beliau lahir dan besar di Makkah sehingga tidak menguasai bahasa Indonesia.

 Namun, semakin hari beliau merasa semakin harus bisa berbicara bahasa Indonesia lantaran diminta juga untuk berceramah. Awalnya beliau rutin menjadi imam dari masjid ke masjid, hampir seluruh penjuru Nusantara pernah beliau datangi.

 "Di semua tempat itu pasti ada ilmu, menghadapi masyarakat yang berbeda-beda dari jamaah itu membuat saya belajar banyak. Saya itu jarang bisa tidur di kamar, kebanyakan di jalan karena harus kesana-sini," ungkap beliau bercerita tentang perjalanan dakwahnya keliling Nusantara.

 Akhirnya saya bertanya bagaimana pendapatnya tentang dunia dakwah dan syiar islam di Indonesia. Beliau pun mulai bercerita yang sungguh saya dibuat kaget,

 "Saya tidak tahu ya, tapi masyarakat itu kan memang berbeda-beda. Kadang saya di suatu daerah yang masyarakatnya terbuka dan mau menerima perbedaan, tapi ada juga jamaah yang agak susah menerima perbedaan dalam memahami agama," lanjut beliau sambil mencontohkan para Sahabat Nabi dan ulama-ulama yang berbeda-beda pendapat.

Kemudian beliau pun mengungkapkan isi hatinya, bahwa anehnya di Indonesia adalah ketika ada pandangan yang berbeda tidak ditanyakan dulu ke orang yang tahu tapi justru langsung membuat pendapat sendiri. Menurut beliau ini sangat meresahkan, apalagi banyak sekali di Indonesia seorang yang dipanggil ustadz namun tidak jelas kapan belajar agamanya.

"Kalau di sana (Makkah) kita itu tidak bisa langsung kasih ceramah, yang boleh itu hanya syaikh yang bergelar profesor, doktor, dll, ada sertifikasinya. Tapi disini saya rasa aneh sekali, belajar agama tidak jelas dari mana sudah berceramah saja. Tapi saya belajar banyak dari ini," ungkap beliau yang juga sedang melanjutkan pendidikan studi Masternya.

Beliau pun mengungkapkan bahwa dalam belajar bahasa Indonesia lebih sering dengan mendengarkan ceramah dai-dai Indonesia, sekaligus untuk mengetahui model, retorika, dan gaya penyampaian seperti apa yang disukai masyarakat Indonesia. Video ceramah Ustadz Abdul Somad dan Gus Baha pun menemani aktivitas beliau setiap harinya.

Terakhir sebelum beliau hendak melanjutkan perjalanan syiarnya perjalanan menuju Provinsi Aceh, saya masih sempat bertanya mengenai cara memastikan seorang ustadz yang kita dengarkan itu layak dijadikan guru belajar keislaman. Beliau menjawab bahwa yang paling mudah adalah melihat dari karya tulisnya, "Guru-guru kita syaikh-syaikh kita itu menuliskan ilmunya dengan metode ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan, coba ustadz Abdul Somad menulis, Gus Baha menulis, semuanya menulis, ulama-ulama dulu dan para Sahabat Nabi juga menulis, tapi kalau karya tulisnya juga tidak ada, langsung ngasih pendapat itu halal ini haram itu perlu dipertanyakan," tutupnya.

Menurut beliau seorang yang dapat menuliskan ilmunya, maka ia paham dengan yang disampaikannya dan mempunyai metode berpikir. Alhamdulillah, banyak sekali pelajaran dari obrolan dengan beliau yang akrab dipanggil Syaikh Abdul Basith atau Ustadz Basith.

 

Wrote by Umi Nurchayati

Masjid Syaikhona Kholil Bangkalan
Masjid Syaikhona Kholil, Bangkalan, Madura
Dok: pribadi

Dewasa ini wisata religi atau biasa disebut rihlah semakin populer bersamaan dengan kesadaran keagamaan masyarakat. Salah satu objek wisata religi yang ramai dikunjungi adalah masjid. Selain untuk beribadah dan mengharap keberkahan dengan mengunjungi tempat-tempat suci, mengunjungi masjid adalah momen untuk menambah spirit keagamaan.

Melihat hal itu, kita menjadi perlu memahami etika ketika melakukan rihlah ke masjid-masjid. Karena Islam adalah agama yang menjunjung tinggi pentingnya akhlak, bahkan puncak dari kehidupan beragama adalah untuk menuntun pada akhlak yang mulia (akhlakul karimah).

Dalam kitab Maraqi al-‘’Ubudiyah, Imam an-Nawawi menjelaskan tentang adab masuk masjid yang perlu kita ingat. Antara lain, apabila hendak memasuki masjid, lepaskanlah sandal kiri terlebih dahulu, lalu letakkan kaki kirimu di atasnya, kemudian lepaskanlah sandal kananmu, dan dahulukan kaki kananmu untuk memasuki masjid.

Imam an-Nawawi juga memberikan keterangan bahwa setiap kali memasuki tempat yang mulia dan tempat yang tidak diketahui keadaannya maka perlu mendahulukan kaki kanan terlebih dahulu. Saat keluar dari satu masjid menuju masjid yang lain, dahulukan kaki kananmu. Apabila saat masuk dan keluar Ka’bah, dahulukan kaki kanan.

Lalu kita dianjurkan untuk membaca doa masuk masjid. Berikut bunyinya sebagaimana disebutkan oleh Imam an-Nawawi dalam Maraqi al-‘Ubudiyah

اللّهُمَّ صَلِ عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَصَحْبِهِ وَسَلِّم. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya beserta para sahabatnya. Ya Allah ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu.” (Lihat Syarah Maraqi al-‘Ubudiyah hal. 23 terbitan Darul Ilmi, Surabaya)

Selain itu, anjuran berdoa ketika hendak memasuki masjid telah diajarkan oleh para ulama. Banyak riwayat menyebutkan doa memasuki masjid ini, salah satunya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah dengan kualitas shahih, dalam bab doa saat masuk masjid;

 حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنْ لَيْثٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَسَنِ، عَنْ أُمِّهِ، عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَقُولُ: «بِسْمِ اللَّهِ، وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ» ، وَإِذَا خَرَجَ قَالَ: «بِسْمِ اللَّهِ، وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ»

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim dan Abu Muawiyah dari Laits dari Abdullah Ibnul Hasan dari Ibunya dari Fatimah binti Rasulullah saw., ia berkata: Jika Rasulullah saw. masuk ke dalam masjid, beliau mengucapkan, "Dengan menyebut nama Allah, dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosaku dan bukakanlah bagiku pintu rahmat-Mu." Dan jika keluar beliau mengucapkan, "Dengan menyebut nama Allah dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosaku dan bukakanlah bagiku pintu-pintu karunia-Mu)." (HR. Ibnu Majah)

Begitulah, ketika hendak masuk masjid, setelah mendahulukan kaki kanan, membaca doa masuk masjid dengan terlebih dahulu membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saw beserta keluarga dan para sahabat (seperti yang terangkum dalam redaksi yang ditulis Imam an-Nawawi dan dalam hadits di atas). Lalu ketika keluar dari masjid, kita berdoa dengan redaksi bunyi doa keluar masjid seperti di atas.

Dalam Maraqi al-‘Ubudiyah, Imam an-Nawawi al-Bantani menuliskan doa berikut:

اللّهُمَّ صَلِ عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَصَحْبِهِ وَسَلِّم اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ

“Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya beserta para sahabatnya. Ya Allah, ampunilah dosaku dan bukakanlah bagiku pintu-pintu karunia-Mu.” (Lihat Syarah Maraqi al-‘Ubudiyah hal. 23 terbitan Daarul Ilmi, Surabaya)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani memberikan penjelasan tentang hikmah penyebutan “rahmat” saat memasuki masjid, ialah karena masjid merupakan tempat rahmat Allah bagi hamba-hamba-Nya sesuai dengan ibadah mereka masing-masing. Sedangkan hikmah penyebutan “karunia” ketika keluar dari masjid yaitu agar Allah Swt membukakan pintu-pintu rezeki sehingga mereka tidak bergantung kepada manusia. Inilah berbagai karunia yang yang dilimpahkan Allah swt. kepada hamba-hamba-Nya, urai Imam an-Nawawi.

Semoga dengan pergi rihlah dari satu masjid ke masjid lainnya akan menambah keimanan kita. Tentu saja dengan tetap berakhlak baik ketika bepergian, yaitu dengan menjaga kebersihan tempat-tempat yang kita singgahi.

Wallahu a'lam


Tulisan ini pernah dimuat dalam http://sanadmedia.com/post/saran-imam-an-nawawi-untuk-penyuka-rihlah-masjid

Wrote by Umi Nurchayati

 



Masjid Al-Aqsa adalah masjid kedua yang diletakkan Allah Swt di Bumi, Masjid Al Aqsa sangat istimewa dan menjadi kebanggaan umat muslim di seluruh dunia. Masjid yang terletak di komplek Masjidil Aqsa atau dikenal dengan Baitulmaqdis ini juga menjadi tempat suci bagi tiga agama Ibrahim sekaligus, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam.

Di tempat inilah saksi perjalanan Isra Mi'raj Nabi Muhammad Saw, menjadi tempat persinggahan Nabi Saw setelah melakukan perjalanan jauh dari Masjidilharam di Makkah. Peristiwa tersebut juga diabadikan dalam Alquran karim yaitu dalam surah Al-Isra' ayat 1. "Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Al-Isra':17:1).

Bagi umat muslim Masjid Al-Aqsa lebih dr istimewa, masjid ini pun juga pernah menjadi kiblat pertama umat islam dalam melaksanakan ibadah shalat, sebelum berpindah menghadap Ka'bah. Dalam berbagai literatur keislaman juga disebutkan diantara keistimewaan lain Masjid Al Aqsha, dimana melaksanakan ibadah shalat di Masjid Al-Aqsa mempunyai keutamaan tersendiri, diganjar 500 kali lipat dibanding dengan shalat di masjid2 lain.

Sebagai umat islam kita pun berharap agar dapat berkunjung ke Masjidil Aqsa dan menjalankan ibadah shalat disana, kita terus berdoa, semoga Rahmat Allah Swt akan selalu menyertai tempat suci ini.

اللهمّ صلى على محمد

Wrote by Umi Nurchayati

 



Di suatu sore akhirnya aku kembali bertemu dengan teman sekamar ketika masih di Krapyak, ia cerita panjang lebar bahwa belum semua santri bisa kembali ke pondok sejak pandemi ini.


Ohh iya, lagi dipersiapkan sistemnya buat menghadapi Covid-19 ini mungkin, ujarku asal tebak. Akhirnya untuk sementara ia kost di dekat kampus karena tengah mengerjakan tugas akhir juga.


Ia pun cerita pengalamannya ngalor ngidul, yang tiba-tiba sebuah pertanyaan mendarat yang entah ditujukan pada siapa karena aku juga merasa tak bisa menjawabnya. Hahha

"Mbak kita ini dikasih ijazah-ijazah nggak sih dari pondok apa aku yang nggak tahu, kemarin tu aku ketemu teman sempat nginep. Anak pondokan juga lagi ngobrol-ngobrol tiba-tiba permisi untuk dzikiran. Aku pernah nginep juga dulu di pondoknya tiap hari mujahadah," celetuknya.


Begitulah pertanyaan yang menyelimuti hatinya, semenjak pandemi dan merasakan hidup di luar pesantren ia merasa kehausan spiritual. Siatuasi ini rasanya juga pernah kualami semenjak boyong dari pondok, memang cukup berat rasanya, hidup jauh dari guru dan jauh dari rutinitas harian di pesantren.


Aku pun bingung bagaimana harus mengomentari celetukannya itu, walhasil aku cuma cerita dari kisah yang pernah kudengar dari mbak-mbak pondok, kebetulan aku memang masuk lebih dulu daripada temanku ini. Bahwa suatu ketika ada seorang santri yang menyetorkn hafalannya pada Bu Nyai, ternyata tidak lancar dan sedikit mendapat pertanyaan-pertanyaan, kebetulan santri ini ternyata setiap harinya berpuasa. Bantinku Subhanallah sekalii, tak sanggup lah kalau aku.


Tanpa disangka justru Bu Nyai dawuh pada santri tersebut untuk menghentikan puasanya, "nek poso ndadekke koe ra lancar ra sah poso sek, wes nyekel Qur'an nomer siji Qur'ane sek," begitulah kira-kira dawuh Ibuk, biasa kami memanggil.


Hal serupa berkali-kali juga dikatakan para ustadz, "kalian itu statusnya sedang belajar, jadi nomor satu ya belajar, sek wajib sinau. Nek poso sunnah yo apek, tapi itu sunnah, yang wajib belajar. Kalau puasamu yang sunnah sampe mengganggu yang wajib yaitu belajar, dadi ora konsen meh sinau maka yang didahulukan yo sing wajib," begitulah kira2 dawuh para ustadz di Krapyak, setidaknya di komplek saya berada waktu itu. Bukan maksudnya belajar lebih bagus daripada puasa, keduanya tentu baik, tapi ini adalah menyangkut skala prioritas. Tentu saja jika bisa melaksanakan keduanya dengan baik itu lebih baik lagi, namun agaknya guru-guru kami paham dengan kondisi kami.😄


Tentu saja semua itu cukup mengagetkan ketika aku menjadi santri baru sekitar 6 tahun lalu, ini benar-benar pengalaman berbeda bagiku, setidaknya berbeda dari tempatku nyantri sebelumnya yang bahkan sampai mewajibkan mujahadah setiap hari.


Di Krapyak tuntutan wajib tahajud, dhuha, puasa senin kamis, dll hampir tidak ada. Aku rasanya seperti tidak di pesantren waktu itu. Tapi lama-lama ya merasa di pesantren karena tetap ada kewajiban ngaji dan ngaji. 


Di Krapyak porsi ngaji pengajian kitab relatif lebih banyak, hal ini berbeda ketika di pondok dulu yang rasanya waktu lebih banyak buat mujahadah. Awalnya aku berpikir mungkin karena pondok Krapyak letaknya di kota dan kebanyakan santrinya mahasiswa jadi agak longgar, dan itu bisa dipahami. 


Tapi ternyata perbedaan kultur itu bukan sepenuhnya disebabkan oleh letaknya Pondok Krapyak yang ada di kota pelajar Yogyakarta saja. Namun berbedaan filosofis dasar para Kiyainya yang mulai kupahami menjelang akhir-akhir masa di Pondok. 


العلم قبل العمل 

  • Ilmu sebelum amal


Begitulah mulai aku paham sedikit demi sedikit, hal itu juga mulai bisa aku internalisasikan dalam diri setelah berdiskusi cukup panjang dengan sesama alumni yang beda komplek, serta membaca buku biografinya Mbah Ali Maksum Allahuyarham, yg ditulis oleh sejarawan Ahmad Athoillah "KH. Ali Maksum: Ulama, Pesantren dan NU." Di buku itu Athoillah banyak menyebutkan kisah-kisah Mbah Ali di berbagai situasi, juga pemikiran-pemikiran beliau, yang bagiku begitu progresif dan maju. Ada sebuah kisah menarik yang hampir mirip dengan kisah santri yang didukani Bu Nyai tadi. 


Suatu hari seorang santri juga melakukan puasa ngrowot, yaitu puasa yang tidak makan nasi dan hanya makan umbi-umbian saja untuk sahur dan buka. Sontak santri tersebut juga didawuhi untuk menyudahi laku tirakat ngerowotnya oleh Mbah Ali. Mbah Ali mengatakan jika zaman sekarang sudah berbeda dari jaman dahulu, teknologi dan pengetahuan terus berkembang jadi santri harus memiliki gizi cukup agar mampu berpikir kedepan dan tidak ketinggalan. Kira-kira begitulah dikisahkan oleh Athoillah, aku sedikit lupa redaksinya karena sudah cukup lama bacanya. 


Ilmu menjadi dasar dan sandaran beramal, العلم قبل العمل begitulah dipegang erat dan menjadi dasar pengajaran di Krapyak. Tak heran jika di pondok ini aku tak menemukan laku tirakat atau ijazah yang dikhususkan, setidaknya begitu yang aku rasakan bersama teman-teman santri lain. 'Atau bisa jadi kami yang tidak mengetahui?'


Sesuatu yang sunnah tak berubah jadi wajib, guru-guru kami mengajarkan memaknai arti ijazah dan tirakat (riyadhoh) dengan lebih luas. "Semua bacaan yang baik, Al-Qur'an, sholawat, dzikir, semuanya bisa jadi wirid asalkan istiqomah diamalkan jangan sampai bolong," begitulah kata guru kami.


"Ohh jadi itu to,pantesan kita tak pernah disuruh baca ini itu berapa kali berapa kali, ya kecuali mujahadah yg malam jum'at atau nariyahan aja itu juga dilakukan berjamaah," temanku menimpali.


"Wahh keren yaa.. Ilmu sebelum amal, santri ki wajibe sinau," ulang temanku lagi.


Begitulah ijazah dari para Kiyai kami di Krapyak, selama menjadi santri memang tugasnya mengisi seluruh waktunya dengan ilmu. Setelah keluar diharapkan siap beramal dan sudah 'isi' begitulah harapan seorang ustadz di akhir pertemuan di kelas terakhir setahun lalu. Ya walaupun ternyata setelah boyong, santri mbeling seperti aku ini tetap masih terseok-seok. Huhuhu


Tulisan ini bukan untuk mengatakan laku tirakat tidak lebih baik. Semua pesantren memiliki coraknya sendiri-sendiri, yang menjadi dasar filosofisnya, membentuk kultur dan budaya pesantren yang berbeda-beda. Inilah yang menjadi unik dan saling melengkapi, mau belajar Qur'an disini, hadist disana, bahasa disana,  semuanya sama-sama untuk beramal makruf, menegakkan agama, dan bi ta'allum.


Wallahu 'Alam


 


Wrote by Umi Nurchayati
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Wikipedia

Hasil penelusuran

Halaman

  • Beranda
  • Motivasi
  • KOLOM
  • PUISI
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips & Trik
  • Who Am I

Jejak

  • ▼  2024 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
  • ►  2023 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2022 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2020 (11)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (13)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (18)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2015 (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2013 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Februari (1)

Instagram

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Popular Posts

  • Rahasia Para Pendo’a
      Sejak kecil anak-anak selalu diajarkan berbagai macam doa, mulai dari doa bangun tidur, mau makan, selesai makan,masuk/keluar kamar mandi,...
  • Menyikapi Budaya Konsumtif Secara Bijak Dari Lagu Efek Rumah Kaca
    'Atas bujukan setan Hasrat yang dijebak zaman Kita belanja terus sampai mati' Mendengar bait lirik lagu Efek Rumah Kaca (ERK...
  • Mengenal Islamisme dan Tantangannya Bagi Kehidupan Bernegara
    Dewasa ini kehidupan berdemokrasi bangsa kita tengah mengalami berbagai terpaan badai. Tanpa disadari dalam empat tahun terakhir ini isu ide...
  • Bersyi'ar dengan Cinta ala Mbah Kakung dan Mbah Putri
    Setelah beberapa hari lalu mbah terakhir saya, Mbah Putri dari pihak Bapak kapundhut dhateng Gusti Allah, saya jadi ingat Mbah Kakung juga ...
  • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
      dok. pribadi Judul: Crime and Punishment ; Penulis: Fyodor Dostoevsky ; Penerbit: Wordsworth Classics ; Penerjemah dalam B. Inggris: C...
  • Substansi Makna Menutup Aurat dan Berjilbab Menurut Syekh Ash-Shobuni
      Polemik tentang jilbab dan aurat wanita memang tak ada habisnya. Di kala negara-negara lain sudah sibuk berdebat tentang teknologi nano da...
  • Budaya Idul Fitri di Temanggung yang Begitu Asyik
      Tulisan ini sudah ditulis sejak 2019 lalu, namun mengingat kondisi saat ini di tengah iklim persatuan yang sedang diuji, krisis yang memba...

Draft

  • coretan unc
  • Motivasi
  • Opini
  • Puisi
  • sebuah perjalanan
  • stories / notes
  • Tips & Trik

Mengenai Saya

Foto saya
Umi Nurchayati
Blog pribadi Umi Nurchayati @uminurchayatii | uminurchayatiii@gmail.com | "Dalam samudra luas, riak saja bukan"
Lihat profil lengkapku

Copyright © 2019 Bangun Pagi-pagi. Designed by OddThemes & Blogger Templates