• Beranda
  • Motivasi
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Opini
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Puisi
    • Langgam Cinta
    • Pertemuan Bahagia dan Sedih
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips - Trik
  • Who Am I

Bangun Pagi-pagi

 



Di suatu sore akhirnya aku kembali bertemu dengan teman sekamar ketika masih di Krapyak, ia cerita panjang lebar bahwa belum semua santri bisa kembali ke pondok sejak pandemi ini.


Ohh iya, lagi dipersiapkan sistemnya buat menghadapi Covid-19 ini mungkin, ujarku asal tebak. Akhirnya untuk sementara ia kost di dekat kampus karena tengah mengerjakan tugas akhir juga.


Ia pun cerita pengalamannya ngalor ngidul, yang tiba-tiba sebuah pertanyaan mendarat yang entah ditujukan pada siapa karena aku juga merasa tak bisa menjawabnya. Hahha

"Mbak kita ini dikasih ijazah-ijazah nggak sih dari pondok apa aku yang nggak tahu, kemarin tu aku ketemu teman sempat nginep. Anak pondokan juga lagi ngobrol-ngobrol tiba-tiba permisi untuk dzikiran. Aku pernah nginep juga dulu di pondoknya tiap hari mujahadah," celetuknya.


Begitulah pertanyaan yang menyelimuti hatinya, semenjak pandemi dan merasakan hidup di luar pesantren ia merasa kehausan spiritual. Siatuasi ini rasanya juga pernah kualami semenjak boyong dari pondok, memang cukup berat rasanya, hidup jauh dari guru dan jauh dari rutinitas harian di pesantren.


Aku pun bingung bagaimana harus mengomentari celetukannya itu, walhasil aku cuma cerita dari kisah yang pernah kudengar dari mbak-mbak pondok, kebetulan aku memang masuk lebih dulu daripada temanku ini. Bahwa suatu ketika ada seorang santri yang menyetorkn hafalannya pada Bu Nyai, ternyata tidak lancar dan sedikit mendapat pertanyaan-pertanyaan, kebetulan santri ini ternyata setiap harinya berpuasa. Bantinku Subhanallah sekalii, tak sanggup lah kalau aku.


Tanpa disangka justru Bu Nyai dawuh pada santri tersebut untuk menghentikan puasanya, "nek poso ndadekke koe ra lancar ra sah poso sek, wes nyekel Qur'an nomer siji Qur'ane sek," begitulah kira-kira dawuh Ibuk, biasa kami memanggil.


Hal serupa berkali-kali juga dikatakan para ustadz, "kalian itu statusnya sedang belajar, jadi nomor satu ya belajar, sek wajib sinau. Nek poso sunnah yo apek, tapi itu sunnah, yang wajib belajar. Kalau puasamu yang sunnah sampe mengganggu yang wajib yaitu belajar, dadi ora konsen meh sinau maka yang didahulukan yo sing wajib," begitulah kira2 dawuh para ustadz di Krapyak, setidaknya di komplek saya berada waktu itu. Bukan maksudnya belajar lebih bagus daripada puasa, keduanya tentu baik, tapi ini adalah menyangkut skala prioritas. Tentu saja jika bisa melaksanakan keduanya dengan baik itu lebih baik lagi, namun agaknya guru-guru kami paham dengan kondisi kami.😄


Tentu saja semua itu cukup mengagetkan ketika aku menjadi santri baru sekitar 6 tahun lalu, ini benar-benar pengalaman berbeda bagiku, setidaknya berbeda dari tempatku nyantri sebelumnya yang bahkan sampai mewajibkan mujahadah setiap hari.


Di Krapyak tuntutan wajib tahajud, dhuha, puasa senin kamis, dll hampir tidak ada. Aku rasanya seperti tidak di pesantren waktu itu. Tapi lama-lama ya merasa di pesantren karena tetap ada kewajiban ngaji dan ngaji. 


Di Krapyak porsi ngaji pengajian kitab relatif lebih banyak, hal ini berbeda ketika di pondok dulu yang rasanya waktu lebih banyak buat mujahadah. Awalnya aku berpikir mungkin karena pondok Krapyak letaknya di kota dan kebanyakan santrinya mahasiswa jadi agak longgar, dan itu bisa dipahami. 


Tapi ternyata perbedaan kultur itu bukan sepenuhnya disebabkan oleh letaknya Pondok Krapyak yang ada di kota pelajar Yogyakarta saja. Namun berbedaan filosofis dasar para Kiyainya yang mulai kupahami menjelang akhir-akhir masa di Pondok. 


العلم قبل العمل 

  • Ilmu sebelum amal


Begitulah mulai aku paham sedikit demi sedikit, hal itu juga mulai bisa aku internalisasikan dalam diri setelah berdiskusi cukup panjang dengan sesama alumni yang beda komplek, serta membaca buku biografinya Mbah Ali Maksum Allahuyarham, yg ditulis oleh sejarawan Ahmad Athoillah "KH. Ali Maksum: Ulama, Pesantren dan NU." Di buku itu Athoillah banyak menyebutkan kisah-kisah Mbah Ali di berbagai situasi, juga pemikiran-pemikiran beliau, yang bagiku begitu progresif dan maju. Ada sebuah kisah menarik yang hampir mirip dengan kisah santri yang didukani Bu Nyai tadi. 


Suatu hari seorang santri juga melakukan puasa ngrowot, yaitu puasa yang tidak makan nasi dan hanya makan umbi-umbian saja untuk sahur dan buka. Sontak santri tersebut juga didawuhi untuk menyudahi laku tirakat ngerowotnya oleh Mbah Ali. Mbah Ali mengatakan jika zaman sekarang sudah berbeda dari jaman dahulu, teknologi dan pengetahuan terus berkembang jadi santri harus memiliki gizi cukup agar mampu berpikir kedepan dan tidak ketinggalan. Kira-kira begitulah dikisahkan oleh Athoillah, aku sedikit lupa redaksinya karena sudah cukup lama bacanya. 


Ilmu menjadi dasar dan sandaran beramal, العلم قبل العمل begitulah dipegang erat dan menjadi dasar pengajaran di Krapyak. Tak heran jika di pondok ini aku tak menemukan laku tirakat atau ijazah yang dikhususkan, setidaknya begitu yang aku rasakan bersama teman-teman santri lain. 'Atau bisa jadi kami yang tidak mengetahui?'


Sesuatu yang sunnah tak berubah jadi wajib, guru-guru kami mengajarkan memaknai arti ijazah dan tirakat (riyadhoh) dengan lebih luas. "Semua bacaan yang baik, Al-Qur'an, sholawat, dzikir, semuanya bisa jadi wirid asalkan istiqomah diamalkan jangan sampai bolong," begitulah kata guru kami.


"Ohh jadi itu to,pantesan kita tak pernah disuruh baca ini itu berapa kali berapa kali, ya kecuali mujahadah yg malam jum'at atau nariyahan aja itu juga dilakukan berjamaah," temanku menimpali.


"Wahh keren yaa.. Ilmu sebelum amal, santri ki wajibe sinau," ulang temanku lagi.


Begitulah ijazah dari para Kiyai kami di Krapyak, selama menjadi santri memang tugasnya mengisi seluruh waktunya dengan ilmu. Setelah keluar diharapkan siap beramal dan sudah 'isi' begitulah harapan seorang ustadz di akhir pertemuan di kelas terakhir setahun lalu. Ya walaupun ternyata setelah boyong, santri mbeling seperti aku ini tetap masih terseok-seok. Huhuhu


Tulisan ini bukan untuk mengatakan laku tirakat tidak lebih baik. Semua pesantren memiliki coraknya sendiri-sendiri, yang menjadi dasar filosofisnya, membentuk kultur dan budaya pesantren yang berbeda-beda. Inilah yang menjadi unik dan saling melengkapi, mau belajar Qur'an disini, hadist disana, bahasa disana,  semuanya sama-sama untuk beramal makruf, menegakkan agama, dan bi ta'allum.


Wallahu 'Alam


 


Wrote by Umi Nurchayati

Bagi para perempuan yang saat ini sedang memasuki usia remaja akhir dan dewasa awal. Mungkin saat ini kita sedang mencari kesungguhan dalam sebuah hubungan (relationship), terlebih ketika hubungan yang menyangkut dengan masa depan, seperti pasangan hidup nantinya.

Saya berjelajah keliling Indonesia, banyak kejadian mulai hal remeh temeh dan receh sampai yang tidak remeh temeh saya perhatikan. Bagaimana perempuan membangun peranannya dalam masyarakat hampir semunya sama, perempuan tetaplah perempuan yang mempunyai naluri keibuan. Karena naluri inilah, seperti seorang ibu semua perempuan memiliki perasaan yang kuat dan dalam ketika bertemu seseorang yang ia kasihi. Begitu juga dengan laki-laki yang juga mempunyai naluri kebapakan, sama-sama akan memiliki naluri yang kuat untuk mencinta.

Namun dari sekian hal, beban biologis perempuan yaitu melahirkan keturunan membuatnya mempunyai peran yang besar dan dominan. Tak heran jika orang-orang menyebut ibu adalah tempat pertama pendidikan seorang anak, lalu keluarga. Bagaimana tidak, perempuan mengandung selama 9 bulan lebih diiringi rasa mual-mual yang bahkan membuatnya males makan tapi tetap harus makan demi bayi dalam perutnya, lalu melahirkan dalam perjuangan antara hidup dan mati, kemudian menyusui selama hampir dua tahun. Tentu saya itu bukan proses yang singkat, perjalanan cukup panjang yang tak sedikit menimbulkan goncangan pada tubuh dan jiwanya.

Seorang perempuan yang tadinya hidup normal biasa saja bebas melakukan berbagai aktifitas, setelah menikah kini tengah melahirkan seorang bayi mungil nan lucu dengan penuh perjuangan, hal ini membuatnya rela melakukan apapun demi kehidupan sang buah hati.

Itulah diantara fase kehidupan yang dialami sebagian besar perempuan. Tak heran jika setelah dikarunia buah hati, perempuan akan lebih memperioritaskan anaknya. Meski belum sempat mandi dan skincare-an ia akan lebih dulu memandikan dan menjaga anaknya seharian sampai urusan dirinya untuk mandi harus dilakukan cepat kilat sebelum bayinya menangis lagi, ia pun kini tak sempat skincare-an yang njlimet 10 tahapan, mungkin ia meringkasnya menjadi 1 tahap saja.

Kehidupan 24 jamnya ia relakan untuk anak dan keluarganya. Meski ia bekerja di ranah publik atau mengurus pekerjaan domestik rumah tangganya, pikirannya akan selalu terpusat untuk sang anak. Karena kesibukan bekerja ia akan menitipkan pada seorang atau lambaga yang dipercayainya dan rela memompa ASI nya sejak dari subuh sebagai persediaan anaknya selama ditinggal bekerja. Bagi ibu yang karena 24 jam dirumah, ia akan menyediakan semua keperluan anaknya dengan tangan sendiri.

Itulah diantara usaha yang akan ditempuh seorang ibu untuk tumbuh kembang anaknya yang masih sangat belia. Rutinitas yang sudah jadi rasa tanggungjawab dan cinta kasih itu tak jarang membuatnya akan bertanya sebagai seorang diri, sebagai manusia yang utuh jiwa raga, dan alam berpikir, "hidupku ini sebenarnya mau apa?"

Begitulah sedikit gambaran masa depan yang kutangkap dari mengamati, dan sekarang di fase usia ini kita juga mempertanyakan hal yang sama, "hidupku ini mau apa sebenarnya?", dimana selayaknya juga ditanyakan ketika dibuai perasaan mencinta, ketika menjalin hubungan (relationship) dengan kekasih, seseorang yang direncanakan untuk membina masa depan bersama.

Mempunyai kekasih atau calon suami tak hanya akan diisi kesehariannya dengan jalan-jalan dan muter-muter atau sekedar bertanya kabar saja, sebuah sikap harus dimiliki keduanya. Relasi yang baik akan membuat keduanya menjadi lebih baik. Bukan berarti tanpa bentrok, perbedaan pendapat adalah hal wajar. Menjadi keharusan yaitu mengkomunikasikan dengan baik untuk saling paham.

Dalam berinteraksi setiap hari, lama-lama kita akan saling mengenal dan mengetahui kehidupan seperti apa yang diinginkan masing-masing pasangannya. Tak jarang ketika nilai kehidupan (values) yg dimiliki tak sejalan lagi, mereka memilih berpisah.

Ya, semakin hari, semakin dewasa kita memang cenderung memilih orang yang punya nilai sama dalam memandang kehidupan untuk menemani hingga tua dan hingga nanti. Tak jarang menjadi pelik ketika sudah lama menjalin relasi hubungan, sudah tumbuh rasa kasih sayang yang dalam tapi harus berpisah. Bisa jadi karena values keduanya sudah berbeda, atau karena tak kunjung mendapat restu keluarga. Perasaan cinta akhirnya bisa menjadi benci, namun juga bisa masih sayang.

Tak heran kita mendengar kabar seorang yang rela mengakhiri hidupnya karena ditinggal sang kekasih, atau seorang yang rela terus melajang dan mencinta meski tanpa memiliki. Dalam tahap inilah kedewasaan dan seni memahami cinta harus dimiliki.

Sebagai seorang muslim kita mengetahui bahwa cinta paling utama haruslah untuk Sang Maha Cinta Pemilik Cinta (Allah Swt), lalu untuk kekasihNya, Rasulullah Saw baru seorang pasangan menempati urutan-urutan setelah-setelahnya, karena masih ada cinta untuk orangtua yang tak bisa dikalahkan olehmu. Kita harus menempatkan perasaan cinta kita di tempat yang tepat.

Rasa sakit di hati dan nyesek di dada memang tak ada obatnya tapi lupa tetap bisa dihilangkan. Tak jarang seorang kembali bahagia setelah menemukan seorang yang tepat lagi, bisa jadi justru lebih bahagia.

Pada akhirnya seseorang akan bahagia ketika bersama dengan orang yang sama dalam memandang kehidupan. Karena itulah yang akan menjadi modal untuk saling bekerjasama dimasa depan. Kesamaan dalam memandang kehidpan bukan terletak pada hobi, kegemaran atau watak yang sama, melainkan bentuknya bisa berbeda-beda namun menimbulkan kesalingan, saling support, saling bantu, saling mengasihi, dll.

Sebagai perempuan kita telah membayangkan masa depan seperti apa yang memang harus dilaluinya. Menjadi ibu adalah hal yang sangat mulia, tetapi menjadi diri sendiri adalah makna hidupnya. Karena hanya dengan bisa memaknai dirinya sendiri, perempuan juga akan membuat anaknya menemukan makna dirinya.

Aku melihat dan memperhatikan, ibuku adalah orang yang bekerjanya di rumah karena punya warung kelontong kecil-kecilan. Tapi saban minggu atau tiap bulan ia akan meminta izin pada Bapak untuk ikut pengajian, pertemuan ibu-ibu Muslimat, ziarah kubur dengan teman-temannya, atau mengunjungi kerabat dan teman lama. Kupikir ini adalah salah satu upaya untuk Ibu memaknai dirinya, dengan berkumpul bersama teman-temannya sambil bakulan.

Hingga ternyata menemukan makna menjadi diri sendiri harus diusahakan dan dikerjasamakan, tidak melulu mengikuti arus namun juga hanyut dan berlawan. Ibu beruntung selalu mengantogi izin dari Bapak untuk pergi sendiri beberapa saat bahkan sedikit ditambahi uang saku dari Bapak meski Ibu punya duit sendiri, kupikir ini salah satu bentuk sayang dan tanggungjawabnya Bapak. Bapak tetap mendukung Ibuk bepergian dan pulang dengan membawa sedikit jajanan serta rasa kebahagiaan yang kembali baru.

Akhir kata, ternyata selain kewajiban biologisnya untuk melahirkan dan menyusui, menjadi seorang ibu adalah untuk selamanya. Namun ibu tetaplah perempuan, manusia seutuhnya yang juga akan mencari tahu siapa dirinya. Hingga seorang perempuan yang mengenali dirinya, ia akan menemukan makna dirinya. Menggenggamnya sebagai value kehidupan yang tak akan mudah goyah. Ia yakin akan menemukan seseorang yang sama tentang cara memandang kehidupan, seorang yang tepat untuk dijatuhi cintanya untuk saling hidup berkesalingan di masa depan. Jadi sebelum jatuh, alangkah senangnya jika kita menemukan makna diri.
Wrote by Umi Nurchayati

Foto panitia Pemeran Foto Dokumenter 'Nigeyo Kokoda 2'
Foto panitia Pemeran Foto Dokumenter 'Nigeyo Kokoda 2' Dok: Pribadi


Seiring bertumbuh dewasa setiap orang akan mengalami ‘circle’ pertemanan yang semakin sedikit. Berbeda dengan zaman ketika masih sekolah atau kuliah, dapat dengan mudah kita temukan teman-teman yang 'nyambung’- punya hobi, minat dan kegemaran yang sama. Semua itu karena di lingkungan sekolah atau kampus kita dipertemukan dalam kondisi yang sama yaitu baru memulai hal baru.

Berbeda dengan masa sekarang, dimana kamu sudah lulus kuliah. Mungkin akan sangat susah menemukan teman-teman yang bisa diajak kerja bareng. Saat ini punya teman-teman yang bisa 'proyekan' bareng adalah suatu kemewahan yang tiada tara. Di zaman kuliah kamu telah menikmatinya dengan baik, apalagi jika kamu adalah aktivis kampus atau pegiat UKM-UKM kampus. Kamu akan merasa betah di kampus, banyak orang mengenalmu, pun banyak orang mengajakmu untuk bersenang-senang dan mencari hal-hal baru yang amat seru.

'Proyekan' bareng di zaman kuliah memang seru banget, saya ingat yang terakhir di zaman mahasiswa saya adalah event Pameran Nigeyo Kokoda Jilid. 2 yang digelar di Galeri SMSR Yogyakarta pada 2018 lalu. Perjuangan untuk kegiatan itu masih hangat dalam ingatan. Sebagai satu kesatuan kepanitiaan kami pun banyak lembur jarang pulang. Saya masih ingat waktu itu sempat nginep di kost-kost teman Mace. Setiap hari pulang jam 2 jam 3 dinihari, sampai terkadang pun tidak tidur.

Beberapa bulan sebelum event masih ingat betul, sebagai salah satu member div. Medkom yang waktu itu mengambil jebretan-jebretan foto kami menjadi harus bertanggung jawab mengkurasi foto yang amat banyak dengan total memory lebih dari 1Tb. Setelah itu harus mencari kurator foto, ngelembur-ngelembur di cafe-cafe dan angkringan kami jalani. Pulang larut atau subuh kami lakoni.

Jika dilihat mungkin sangat melelahkan tapi sebagai manusia yang sedang bertumbuh dan mengaktualisasi diri keberadaan kata ‘capek' bisa dikatakan tidak ada, hanya ada canda tawa serta secangkir kopi panas yang selalu menemani.

Teman-teman lain dari berbagai divisi tim juga sama, membuat ornamen, melukis, nebang bambu, memetakan letak foto sampai plotting undangan. Semuanya dilakukan bersama-sama.

Sangat menguras energi dan waktu, sebelum bertindak ke tahap 'action' kami juga harus survey beberapa pameran dan pertunjukan seni. Semua itu menjadi awalan saya lebih mengenal dunia 'kesenian' terlebih pertunjukan, saya masih ingat betul bertemu orang-orang theater dan fotografi yang sangat menyenagkan.

Saat ini saya hanya bisa mengenang, proyek-proyek zaman kuliah terlalu berkesan namun tak bisa diwujudkan lagi. Biasanya selepas lulus kliah mmasing-masing orang akan berpisah dengan teman-temannya. Kita semua kini harus menjalani peran masing-masing karena kondisi latar belakang yang juga berbeda-beda, ada yang harus bali k kampung, melanjutkan Studi, menikah, atau pergi ke luar negeri. Semua orang akan sibuk mengejar impian masing-masing.

Saat ini mungkin kita sudah bekerja atau membangun usaha baru dan menemukan teman-teman baru. Bisa jadi dengan teman-temanmu saat ini kamu tetap bisa melanjutkan hal-hal yang membuatmu bahagia seperti zaman kuliah kemarin. Namun tak sedikit yang harus banting setir menyesuaikan lingkungan, sangat susah menemukan circle pertemanan seperti zaman perkuliahan. Sebagai mahasiswa yang lebih sering turun ke lapangan daripada mengikuti kelas, mungkin kamu akan sangat kaget dengan linkunganmu sekarang, apalagi jika setiapa hari hanya duduk di depan komputer meja kerja.

Seolah-olah tak Ada lagi yang bicara keadilan, yang ada hanya saling memikirkan perut sendiri. Giliran kegiatan sosial ditimbang dulu profit-profitnya. Idealisme yang sudah terbangun harus kembali direkonstruksi dalam alam pikiran.

Menghadapi teman-teman dan lingkungan yg amat berbeda menjadi tantangan yang terkadang membuat stress.. di satu sisi kamu bisa melebur dengan realitas itu, namun ada saatnya kamu juga merindukan segala hal yang harus dirajut baik-baik dalam pikiran bahwa ‘kenapa ini bisa seperti ini dan begitu,’ tapi kamu merasa tak punya tempat untuk bertukan pikir tentang masalah-masalah yang terus bergelayut dalam alam fikirmu. Ibarat kamu hanya punya jarum untuk terus melubangi seriap realitas tap tak punya benang untuk saling menghubungkan dan bertemu penyelesaian. Sekarang ketiadaan benang untuk merajut itu yang membuat pusing, kamu hanya punya jarum terus melubangi satu sisi ke sisi lain tapi tak bisa saling menghubungkan.

Kita seperti kehilangan Ruang Diskusi, ruang bersama untuk menghubungkan lubang-lubang jarum dengan benang- benang. Pada akhirnya kita semua akan merasakan itu, hingga menerima lingkungan bukan berarti ‘berhenti’ tapi 'melihat dan merasakan' dunia. Karena hal itulah tindakan-tindakan kecil menjadi pelopor untuk sebuah perubahan.[].

Ayok . . Kita harus bikin ‘proyekan’ lagi entah dengan siapa saja karena pergumulan batin yang terus terpendam hanya akan menjadi luka tanpa bekas.
Wrote by Umi Nurchayati

 

Tulisan ini sudah ditulis sejak 2019 lalu, namun mengingat kondisi saat ini di tengah iklim persatuan yang sedang diuji, krisis yang membayangi, dan berbagai keputusasaan yang kita alami di tengah pandemi. Penulis merasa perlu untuk menerbitkan kembali, secuplik cerita pengalaman penulis merayakan Hari Raya Idul Fitri di kampung halaman di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sebagai pengingat bahwa persatuan selalu saja menyisakan kebahagiaan untuk semuanya. Selamat membaca..

Hari Sabtu pada Idul Fitri setahun yang lalu, tepatnya hari Kamis (8/6) 2019 lalu, saya beserta rombongan keluarga bersilaturahim ke beberapa sanak saudara yang berada di Desa Carikan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Desa ini terkenal dengan masyarakatnya yang majemuk dan mempunyai keyakinan agama yang berbeda-beda. Rombongan kami adalah saya, Bapak, Adek dan dua sepupu saya yang masih kecil-kecil sekitar 5 dan 7 tahun.

Sekitar pukul 13.00 WIB selepas dhuhur, saya dan rombongan melanjutkan perjalanan dari Desa Kluwung menuju Desa Carikan di kecamatan Jumo. Kami tiba di rumah pertama yang dituju. Sebenarnya saya memang baru pertama kali kesini, biasanya memang hanya Bapak, Ibu, atau Paman, mengingat sudah keturunan keberapa dari kakak beradik Mbah putri.

Kami sempat makan, dan kedua sepupu saya main di kandang kambing. Maklum saja anak-anak memang senang dengan binatang. Kami melanjutkan ke rumah yang lain. Sebelumnya Ibu memang sudah banyak bercerita jika Mbah putri punya banyak saudara dari berbagai latar belakang, namun perbedaan seperti agama yang dipeluk tidak menjadi penghambat silaturahmi. Setiap kali ada acara di tampat kami, mereka (saudara Mbah putri) selalu turut datang, idul fitri pun juga turut sowan ke Mbah putri.

Tatapi memang baru pertama kali ini aku singgah di Budhe yang merupakan seorang Budha yang taat. Kami disambut sangat ramah dan sudah ditunggu-tunggu. Aku membatin:

“Ohh jadi disini to yang paman ngambil kitab Budha itu”

Sewaktu kecil aku memang pernah menemukan kitab Budha berbahasa Indonesia di rumah Mbah putri, aku pun sempat membacanya, rupanya yang membawa kitab tersebut adalah paman saya. Bukan karena ingin berpindah kepercayaan atau apa, sebagai seorang pemuda waktu itu cukup dimaklumi jika paman mempunyai rasa penasaran yang begitu besar. Begitupun denganku waktu itu.

Kami tetap melakukan sungkeman dan dua sepupu saya asyik makan permen. Setelah minum, makan dan banyak bercerita menjalin kembali silaturahim, kami pun bersiap pamit. Namun sebelum pamit sepupu saya kembali membuat tingkah. Mereka sibuk berebutan permen warna ungu yang akhirnya justru permen di toples kembali dituang dengan yg baru oleh pemilik rumah. Dua sepupu saya itu kegirangan dan mengisi kantong kantong celana mereka dengan banyak permen, sampai dibantu mengisinya juga oleh Budhe sampai penuh permen di kedua kantongnya.

Kami melanjutkan singgah ke rumah yang lain dengan berjalan kaki. Saya menyadari bahwa rupanya banyak juga Wihara di tempat ini. Nampaknya penganut Budha cukup banyak di Desa Carikan. Banyak Masjid dan Wihara berdiri berdampingan memperlihatkan harmoni kerukunan antara pemeluknya.

Akhirnya kami sampai di rumah tujuan,  rumah kedua ini kembali menjadi target serbuan dua sepupu saya karena punya banyak coklat. Dan kami kembali pamitan dengan mengantongi banyak coklat. Hingga sepulang dari rumah yang terakhir saya baru tahu dari Bapak kalau pemilik tumah yg terakhir justru seorang kristen yang taat.Sebelumnya kami diantar oleh Budhe saya yg dari rumah pertama, namanya Budhe Sukri. Beliau pun kini adalah seorang muslim karena menikah dengan laki-laki muslim.

Banyak sekali yang saya dapatkan dari silaturahim kali ini. Terlihat betapa naturalnya Bapak mengajari kami tentang arti toleransi sejak kecil. Obrolan tetap terasa nikmat apalagi dengan sambutan pemilik rumah yang sudah ikut merayakan segala atribut-atribut Idulfitri, dari anak-anaknya yang turut mudik sampai segala macam makanan khas lebaran pun turut mereka masak. Walaupun tak ikut merayakan tapi bagi kami kedua Budhe saya ini seperti benar-benar berniat untuk menyambut keluarganya yang muslim.

Toh walaupun paman saya pernah membaca kitab Budha itu dia tetap menjadi seorang Santri dan sholat 5 waktu. Rupanya memang yang namanya ‘Akidah’ tak akan luntur hanya karena membaca kitab agama lain apalagi hanya karena ikut menjaga gereja ketika Natal. Akidah adalah sesuatu yang Kokoh dari dalam jiwa, hati, fikir dan perbuatan.

“Maka sesungguhnya ia telah brpegang kepada bubul tali yang kokoh” (Q.S. 31:22).

Syaikh Abdul Qadir al Jaelani mengatakan bahwa seorang pengesa memiliki kekuatan tauhid. Tidak ada lagi baginya yang disebut ayah, ibu, keluarga, teman, musuh, kekayaan, jabatan atau ketenangan bersama apapun, melainkan hanya ketergantungan di pintu Allah azza wa jalla dan anugerah-anugerah-Nya.

Wrote by Umi Nurchayati

Jumlah perempuan di Indonesia diprediksi mencapai kurang lebih 200 juta jiwa. Begitu banyak dengan total penduduk yang menempati peringkat 4 di dunia. Ini menjadi peluang besar kiranya bahwa berbagai sisi kehidupan untuk diisi juga oleh perempuan. Kini perempuan juga sudah banyak berada di tampuk kekuasaan, tak sedikit yang menjadi pemimpin baik di perusahaan atau pemerintahan. Di kabinet Jokowi periode ke-2 aja ada 5 menteri perempuan.

Tak ubahnya laki-laki sebagai manusia perempuan juga memiliki kecerdasan, kebijaksanaan dan bestari. Kita kenal zaman dahulu ada Ratu Balqis yang memimpin kerajaan Saba’ sebuah negeri yang makmur di zaman Nabi Sulaiman As, kemudian kita juga mengenal Ibunda Sayyidah Khodijah, istri pertama Nabi Saw yang selalu setia dan menguatkan Nabi dalam proses kenabian dan kerasulannya. Sebagai seorang janda yang kaya raya Sayyidah Khodijah sebelum menikah dengan Muhammad telah menyukai perangai Muhammad yang jujur dalam berdagang hingga akhirnya beliau menjadi suaminya. 

Alkisah ketika Nabi mendapat wahyu pertama di Gua Hira beliau pulang kerumah dalam keadaan yang tak karuan, badannya menggigil terus menerus namun saat itu setelah membukakan pintu Sayyidah Khodijah tanpa bertanya apa-apa dan langsung menyelimuti beliau, sampai Nabi Saw tenang baru Khodijah bertanya. Sungguh betapa senangnya Nabi waktu itu ketika dilayani siti Khotdijah, wanita yang tenang dan penyayang.

Selain Sayyidah Khodijah ada pula istri Nabi yang lain yaitu Sayyidah Aisyah yang meriwayatkan banyak sekali hadist. Sebagai orang yang tinggal dan membersamai Nabi Saw tentu saja Aisyah banyak meriwayatkan hadist. Ada yg menyebutkan bahwa Aisyah meriwayatkan hadist terbanyak setelah Abu Huraira. Namun dalam berbagai kajian, pamor Aisyah selalu kalah dengan Imam Bukhori, Imam Muslim, imam Nasa’i dll. Menurut para cendikiawan hal ini tak lain bisa jadi karena politik lepentingan pengetahuan, wanita menjadi tersubordinasi. Kita juga mengenal guru Imam Syafi’i juga diantaranya perempuan yaitu Sayyidah Nafisah.

Di Indonesia sendiri kita mengenal tokoh emansipasi wanita yaitu Raden ajeng Kartini. Kartini adalah satu satunya santri putri Kyai Sholeh Darat yang juga Guru KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan KH. Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdhotul Ulama) dua organisasi islam arus utama di Indonesia. 

Waktu itu Kartini meminta izin kepada gurunya Kyai Sholeh Darat untuk memaknai Al-Qur’an memakai bahasa jawa (arab jawa/pegon) hal itu mengingat bahwa sebagian besar masyarakat tidak mengerti makna Al-Qur’an jika menggunakan bahasa Arab. Cara raden ajeng Kartini ini tentu saja adalah langkah yg revolusioner, sampai beliau juga menuliskan bukunya yang terkenal yaitu “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang sesungguhnya kalimat itu diambil dari Al-Qur’an yaitu kata ‘minadhulumati ilanur’ dalam surah al-Baqarah ayat 257.

Itulah sedikit cerita tentang peranan yang luar biasa peranan perempuan-perempuan hebat yang kita kenal. Kini sebagai seorang perempuan yang hidup di zaman revolusi industri yang ke empat atau dikenal era digital 4.0 para perempuan memiliki tantangan-tantangan yang beragam mulai dari urusan rumah tangga, sosial masyarakat, organisasi, kepemimpinan, sampai godaan diskonan belanja online harbolnas. Namun dibalik segala godaan dan iming-iming belanja murah itu perempuan harus selalu siap akan peranannya bersama laki-laki, untuk menjadi wasilah dalam rangka membangun peradaban . 

Hingga akhirnya jumlah perempuan yang lebih dari separonya penduduk di Indonesia ini selain menjadi pendidik yang hukumnya wajib juga harus ada dalam segala bidang, dalam segala titik kehidupan, dengan tak lain tak bukan untuk mencapai semua itu adalah dengan ilmu. Pun laki-laki, perempuan juga harus haus belajar, haus hal-hal baru, dan haus pengetahuan. kembali kita refleksikan perempuan yang mewarisi sikap kelembutan dan pengabdian sayyidah Khodijah, kecerdasan sayyidah Aisyah, sikap kepemimpinan Ratu Balqis, dan sikap pendidik sekaligus pembelajar raden ajeng Kartini, dan masih banyak lagi.[]


Wrote by Umi Nurchayati
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Wikipedia

Hasil penelusuran

Halaman

  • Beranda
  • Motivasi
  • KOLOM
  • PUISI
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips & Trik
  • Who Am I

Jejak

  • ▼  2024 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
  • ►  2023 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2022 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2020 (11)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (13)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (18)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2015 (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2013 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Februari (1)

Instagram

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Popular Posts

  • Rahasia Para Pendo’a
      Sejak kecil anak-anak selalu diajarkan berbagai macam doa, mulai dari doa bangun tidur, mau makan, selesai makan,masuk/keluar kamar mandi,...
  • Menyikapi Budaya Konsumtif Secara Bijak Dari Lagu Efek Rumah Kaca
    'Atas bujukan setan Hasrat yang dijebak zaman Kita belanja terus sampai mati' Mendengar bait lirik lagu Efek Rumah Kaca (ERK...
  • Mengenal Islamisme dan Tantangannya Bagi Kehidupan Bernegara
    Dewasa ini kehidupan berdemokrasi bangsa kita tengah mengalami berbagai terpaan badai. Tanpa disadari dalam empat tahun terakhir ini isu ide...
  • Bersyi'ar dengan Cinta ala Mbah Kakung dan Mbah Putri
    Setelah beberapa hari lalu mbah terakhir saya, Mbah Putri dari pihak Bapak kapundhut dhateng Gusti Allah, saya jadi ingat Mbah Kakung juga ...
  • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
      dok. pribadi Judul: Crime and Punishment ; Penulis: Fyodor Dostoevsky ; Penerbit: Wordsworth Classics ; Penerjemah dalam B. Inggris: C...
  • Substansi Makna Menutup Aurat dan Berjilbab Menurut Syekh Ash-Shobuni
      Polemik tentang jilbab dan aurat wanita memang tak ada habisnya. Di kala negara-negara lain sudah sibuk berdebat tentang teknologi nano da...
  • Budaya Idul Fitri di Temanggung yang Begitu Asyik
      Tulisan ini sudah ditulis sejak 2019 lalu, namun mengingat kondisi saat ini di tengah iklim persatuan yang sedang diuji, krisis yang memba...

Draft

  • coretan unc
  • Motivasi
  • Opini
  • Puisi
  • sebuah perjalanan
  • stories / notes
  • Tips & Trik

Mengenai Saya

Foto saya
Umi Nurchayati
Blog pribadi Umi Nurchayati @uminurchayatii | uminurchayatiii@gmail.com | "Dalam samudra luas, riak saja bukan"
Lihat profil lengkapku

Copyright © 2019 Bangun Pagi-pagi. Designed by OddThemes & Blogger Templates