• Beranda
  • Motivasi
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Opini
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Puisi
    • Langgam Cinta
    • Pertemuan Bahagia dan Sedih
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips - Trik
  • Who Am I

Bangun Pagi-pagi

 



Kamu lagi pusing ya..?

"Yaudah nikah aja"
Begitu tiba-tiba seseorang menjawabnya setelah kamu menceritakan problematika hidupmu.


Pasti banyak dari kita yang mendapatkan jawaban ini setelah menceritakan kejlimetan hidup bukan. Jawaban 'nikah' seolah-olah menjadi penyelesaian akhir dari sebuah perkara. Tapi apakah benar begitu adanya?

Memasuki usia dewasa, semakin banyak kita menyaksikan teman-teman, sahabat, rekan kerja dan saudara menyebar undangan pernikahan. Terlebih di bulan Syawal saat ini, mungkin saat ini timeline instagram, facebook, twitter, bahkan sampai story whatsapp mu sudah penuh dengan ucapan-ucapan selamat atas pernikahan teman.

Tentu saja menikah adalah ibadah yang baik, salah satu sunnah yang dibawa Rasul untuk menjaga umatnya. Tapi selayaknya sebagai ibadah juga harus disertai niat dan jalan yang baik bukan. Lantas bagaimana jika keputusan menikah diambil saat dirundung keputus asaan dengan kehidupan saat ini.

Pernikahan adalah salah satu hal yang mengikat hubungan manusia laki-laki dan perempuan di dunia sampai akhirat kelak. Islam menyebutnya sebagai mitsaqon gholizhon atau perjanjian kokoh sebagai amanah dari Allah Swt dan dihayati sepanjang kehidupannya. Jadi tentu saja pernikahan bukan hal yang begitu saja diputuskan, butuh kesadaran penuh melalui proses perenungan dan berpikir demi mencapai kehidupan yang lebih baik. Terlebih jika belum punya pasangan, butuh pencarian terlebih dulu juga untuk menemukan jodoh.

Ketika manusia merasa lelah dengan kehidupannya saat ini sebenarnya adalah hal yang wajar. Masalah silih berganti adalah konsekuensi dalam kehidupan. Dalam Al-Qur’an al karim, Allah Swt berfirman;

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ

) ١٥٥) ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ (١٥٦)

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun.”

Dalam menghadapi masalah islam menganjurkan pada pemeluknya untuk bersabar sambil mencari solusi. Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin mengutip penjelasan Ibnu Abbas ra. bahwa ada tiga bentuk sabar dalam Al-Qur’an; yaitu pertama adalah bersabar menjalankan kewajiban-kewajiban dari Allah Swt, sabar jenis ini memiliki (pahala) tiga ratus derajat. Yang kedua adalah bersabar ketika ditimpa musibah, sabar jenis ini mempunyai sembilan ratus derajat. Dan yang ketiga adalah bersabar dalam menjauhi larangan-larangan Allah Swt, sabar jenis ini mempunyai ganjaran enam ratus derajat.”

Begitulah kiranya yang harus dilakukan ketika ditimpa suatu permasalahan. Bersabar bukan lantas pasrah tanpa disertai tindakan, tetapi menerima apa yang sudah ditakdirkan dengan disertai usaha untuk terus menjadi lebih baik.

Jadi berusaha mencari solusi dan menghadapinya dengan penuh kesabaran adalah bentuk ikhtiar yang selayaknya dilakukan. Bukan malah lari dari masalah, selayaknya menikah bukan untuk pelarian dari satu masalah melainkan salah satu jalan menggapai ridho Allah Swt. Setelah menikah kita akan dihadapkan pada permasalahan-permasalahan lain yang menyangkut kehidupan bersama. Proses menua bersama tentu saja bukan hanya tentang kesenangan dan keromantisan uwuww tapi juga siap menghadapi perubahan semuanya, dari mulai perubahan biologis tubuh sendiri sampai perubahan menghadapi hidup bermasyarakat yang tak sedikit pasangan baru juga stress dibuatnya.

Tetapi hadapi saja karena Allah Swt memberikan suatu masalah juga disertai solusinya. Mengedepankan hubungan dalam ketersalingan antara laki-laki dan perempuan akan menjadi jalan untuk menghadapi semua permasalahan yang ada dalam kehidupan bersama.

Wallahu a’lam


Artikel ini juga dimuat dalam Islami.co 'Menikah Bukan Satu-satunya Jalan Merdeka dari Masalah'

Wrote by Umi Nurchayati


Selama ini Kampus tempat bersemayam para mahasiswa merupakan lingkungan akademik yang sudah didesain sedemikian rupa. Seperti sekolah, di setiap tahun ajaran baru kampus juga kedatangan mahasiswa baru. 

Mahasiswa baru lalu mengikuti pengenalan kampus dan melakukan penyesuaian baru dengan lingkungannya. Kampus agak berbeda dg sekolah, ia menyediakan banyak ruang ekspresi untuk mahasiswanya. Mari kita lihat ruang-ruang ekspresi itu, yang diantaranya adalah tersedianya banyak unit kegiatan mahasiswa. Dari mulai riset akademik, olahraga, politik, dan seni budaya semua ada. Melalui berbagai UKM dan organisasi intra kampus, mahasiswa dapat mengembangkan potensi dirinya sesuai hal yg diminati.

Jika kita lihat dari kacamata teori Maslow maka mahasiswa bisa dikatakan adalah golongan yangg sudah merdeka dalam hal pemenuhan kebutuhan pokoknya, seperti makan dan sandang. Walaupun tak makan mewah dan enak tapi setidaknya mahasiswa masih bisa memenuhi perut keroncongannya dengan nasi rames atau nasi kucing. Tak heran jika hidup mereka bisa dikatakan 'merdeka'. Dengan uang kiriman Ayah Ibu, secara badani mereka mampu memenuhi kebutuhan pokoknya, pun kebutuhan psikologinya juga baik, karena tumbuh tanpa intervensi dari luar. Mungkin tidak semua mahasiswa seperti ini tapi kebanyakan mahasiswa agaknya berasal dari latar belakang ini. Melihat kehidupan mahasiswa maka menjadi benar kiranya apa yang dikatakan Mashlow bahwa proses aktualisasi diri dapat dipenuhi setelah kebutuhan pokoknya terpenuhi, yang mana dalam hierarki bebutuhan (hierarchy of needs) Mashlow meletakan kebutuhan pangan dibawah kebutuhan aktualisasi diri. Maka tak heran jika mahasiswa mampu mengaktualisasikan diri dalam berbagai bentuk sebagai wahana eksresinya di ruang publik.

Dengan didorong banyaknya kegiatan, mahasiswa dapat terus mengasah potensinya, disini peran kampus menjadi penting untuk tetap menjaga kebebasan ekspresi itu karena hal itulah yg akan mengembangkan potensi potensi mahasiswanya. Intervensi kampus hanya akan membuat kreatifitas mahasiswa mengerdil. Kita sering mendengar kasus pembredelan pers kampus yang memperlihatlan bahwa kampus masih enggan dikritik. Kampus menjadi ambigu manakala mahasiswa dituntut kreatif sedang aktifitas kemahasiswaan selalu diawasi.

Dunia perpolitikan kampus memperlihatkan bahwa mahasiswa harus terus berkembang, sedang setelah berkembang justru diberi batasan, jadi bagaimana maunya?
Saat ini di era digital 4.0 mahasiswa selalu diarahkan untuk menjadi mandiri, menjadi wirausaha. Tapi herannya giliran mahasiswa hendak berjualan jajanan eceran di lobby lobby kampus malah dimusnahkan, katanya mengganggu kerapihan. Melihat hal itu kok rasanya kampus menjadi kontraproduktif. Seharusnya dalam kasus sederhana itu kampus dapat berpikir jernih misalnya dengan menyediakan rak-rak untuk menampung barang jualan mahaiswa itu atau yang lainnya.
itu hanya sedikit hal yang kita temui. Masih banyak perkara lainnya. Sekarang mahasiswa yang diarahkan untuk menjadi wirausaha itu apakah dapat benar-benar menjadi wirausaha nantinya.
Setelah lulus biasanya kebanyakan mahasiswa akan mengarahkan dirinya untuk mencari pekerjaan. Hal itu biasanya karena tuntutan kemandirian finansial. Setelah lulus mahasiswa atau freshgraduate ini tentu saja enggan meminta uang kiriman dari ayah ibu, selain malu dan gengsi juga karena memang tidak ada duit yg bisa diminta.

Melihat kondisi itu kini freshgraduate yg tadinya mantan aktivis kampus itu dalam hirarki kebutuhan Mashlow menjadi kembali di titik awal. Kini ia tak bisa mengaktualisasikan diri dulu sebelum dapat secara mandiri memenuhi kebutuhan yang lebih mendasar yaitu makan dan papan..
Maka tak heran jika kita melihat banyak mantan aktivis idealis kampus harus bekerja di perusahaan perusahaan yang dulu ditentangnya karena mengabaikan dana CSR dan ligkungan hidup.
Tak ada yang salah dengan pilihan freshgraduate itu, ia tak bisa dikatakan kehilangan idealismenya karena berada di ketiak perusahaan pemuja pasar. Murni hal itu hanya untuk dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. Setelah mendapatkan kebutuhan dasar itu bisa jadi ia akan kembali mengaktualisasikan dirinya. Mungkin dalam bentuk yang berbeda dari bentuk sebelumnya.
Idealisme bukannya harus menentang arus utama, tapi juga mampu membelokkan arus utama. Freshgraduate itu akan mengalami kulminasinya ketika ia memasuki dunia kerja, dunia yang sesungguhnya dan bukan lingkungan buatan seperti kampus. Di lingkungan kerja semua hal menjadi lepas tak ada desain dari rektor atau pimpinan karena semua bergerak murni untuk kebutuhannya masing-masing.

Dalam kondisi tersebut freshgraduate mantan aktivis itu dapat kembali bergumul dengan pikiran dan batinnya. Bahwa sikap idealisme penentang pasarnya tidak pernah salah, hanya tempatnya yang kini berbeda. Jika ingin maju dan merdeka ia harus mampu mengendalikan arus utama. Ia kini menyadari menentang arus utama adalah hal utopis yg tak mungkin dilakukan dengan kekuatan yang dimilikinya. Olah rasa, olah hati dan nurani yang kini mampu membawanya akan kemana, apakah akan terus merada dalam ketiak pemuja pasar atau merdeka dibawah ketiak itu dengan merasukan pikirannya kedalam otak pasar hingga mampu memberi pengaruh positif juga mengambil bagian akan kemana pasar itu.
Pilihan ada ditangan freshgraduate, hidup sejatinya adalah berjuang. Menjadi merdeka adalah bentuk masyarakat yg baik secara pikiran dan tindakan begitu kata Mashlow.[].


Wrote by Umi Nurchayati


[MUTIARA HIKMAH] Dalam menjalani kehidupannya di dunia, manusia sering kali dihadapkan pada berbagai persoalan, entah itu menyangkut persoalan yang berhubungan dengan dirinya sendiri, keluarga atau lingkungan sekitarnya. Sehingga kita acap kali bingung dalam memutuskan suatu perkara. Terkadang Kita dihadapkan pada keharusan menfokuskan suatu pekerjaan demi mencapai tujuan, tetapi terkadang juga dihadapkan pada  keharusan  memutuskan berbagai perkara dengan cepat. Apalagi di jaman serba cepat seperti sekarang ini, arus informasi yang kian kencang juga telah memengaruhi gaya hidup dalam memutuskan berbagai hal. 

Ketika membuat suatu keputusan, setiap orang akan dipengaruhi oleh berbagai latar belakang yang membentuknya. Sehingga pengetahuan akan sangat memengaruhi keputusan yang dipilih. Berbagai hal yang harus diputuskan misalnya terkait keputusan dalam menentukan tindakan ekonomi. Selain tingkat pendidikan yang akan turut memengaruhi, lingkungan juga akan memainkan peran penting.

Orang yang tinggal di desa dan di kota juga akan berbeda dalam mengelola pendapatan ekonominya. Ibu rumah tangga yang tinggal di kota mungkin akan mengalokasikan dananya untuk membayar cicilan, investasi, bayar air dan kebersihan, serta membayar sekolah anak-anaknya dll. Namun bagi ibu rumah tangga yang tinggal di desa dia tidak perlu mengalokasikan dana utuk membayar air dan kebersihan karena biasanya di lingkungan pedesaan air tidak perlu membayar, masih banyak mata air memancar dll, tetapi biasanya ibu rumah tangga di pedesaan justru memerlukan alokasi dana untuk keperluan sosial yang  tidak sedikit, gotong royong kebersihan desa, iuran RT, dll adalah dana yang wajib dikeluarkan masyarakat desa. Itulah sedikit keputusan yang memengaruhi perilaku ekonomi masyarakat perkotaan dan pedesaan.

Hal-hal menyangkut keputusan setiap orang akan berbeda-beda memang, seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa hal tersebut tak lepas dari latar belakang, pendidikan, pengetahuan, ekonomi, lingkungan sosial dan politik yang melingkupinya. Hingga akan menjadi  baik jika kita dapat memutuskan suatu perkara dengan melihat mana yang lebih baik, baik untuk siapa dan mana yang untama dan melihat apakah hal itu hanya utama untuk dirinya sendiri atau juga untuk orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai yang ‘ashlah dan afdhol’. Menurut bahasa ashlah artinya lebih baik sedangkan afdhol ialah lebih utama. Sebagai seorang hamba kita tidak bisa memutuskan bahwa yang kita minta pada Allah swt akan terkabul. Karena hak mengabulkan adalah otoritas Sang pencipta. Allah berfirman dalam Q.S Al-Baqarah ayat 216:

كتب عليكم ا القتا ل وهو كرهلكم وعس ان تكرهوا شيأ و هو خيرلكم وعسى أن تحبوا شيأ وهوشرلكم والله يعلم وأنتم لاتعلمون
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tiak.”

Sebagai seorang hamba kita boleh meminta apapun kepada Ilahi Rabbi namun sekali lagi hanya Allah yang akan memutuskan apakah doa kita akan dikabulkan atau tidak. Walaupun sudah beribadah dan berusaha terus menerus, tetap saja kita tidak bisa memaksakan doa yang kita panjatkan akan terkabul. Karena sesungguhnya hanya Ridho Allah yang akhirnya membuat doa menjadi terkabul.

Setelah berusaha, berikhtiar secara maksimal kita diperintahkan untuk berdoa, menyerahkanya kepada Yang Maha Tahu. Namun disamping itu kita tetap harus berdoa dan berkhusnudhon kepada Allah swt. Menjadi penting adalah selalu menjaga khusnudhon kepada Allah swt hingga akhirnya keputusan-keputusan yang kita ambil adalah atas petunjuk dari Allah swt.karena hanya Allah yang mengetahui mana yang lebih baik (Ashlah) untuk makhluknya.

Seperti halnya seorang dokter, ia akan memilihkan mana yang lebih baik untuk pasiennya karena tugas dokter adalah untuk memberikan keselamatan bukan untuk memuliakan pasien. Seorang dokter akhirnya akan memilihkan makanan yang lebih baik untuk pasiennya bukan yang asal enak. Bisa jadi dokter tersebut akan memberikan pasien makanan yang pahit namun memberikan dampak yang menyembuhkan bagi pasien,  hal itu semata-mata demi keselamatan sang pasien.

Kasus lain adalah bahwa sholat adalah yang lebih utama (afdhol) daripada tidur. Kita mendengar setiap hari pada kumandang adzan subuh “ sholat lebih baik dari pada tidur”.

Sholat adalah hal yang utama daripada tidur. Sholat malam khususnya memiliki banyak fadhilah bagi kehidupan kita baik di dunia maupun di akhirat. Namun hal itu dapat menjadi perkara lain bagi orang yang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Misalnya karena bekeja keras demi menghidupi keluarga, sehingga jika kurang tidur dapat mengganggu pekerjaan dan ibadah yang lain, maka lebih baik orang tersebut memilih  tidur. Walaupun jelas sholat tetap lebih utama (Afdhol).

Kita dapat menimbang dan memperhitungkan sendiri mana yang lebih utama dan lebih baik untuk dilakukan. Kiranya yang lebih baik akan kita utamakan. Dalam kitab Minhajul Abidin karangan Ulama besar Imam Al Ghazali mengemukakan tentang prinsip yang harus kita pegang, yaitu bahwa tidak mustahil barang yang baik itu juga disertai utama maka mintalah pada Allah swt untuk diberi keutamaan disertai kebaikan.

Seringkali seorang hamba mengerti yang utama tetapi tidak mengerti yang lebih baik, karena hanya Allah swt yang mengerti mana yang lebih baik (ashlah). Dengan melihat kebesaran Allah dan firman-firman-Nya  maka kita menjadi tahu bahwa sebagai makhluk wajib berusaha terus menerus dan berdoa memohon petunjuk tanpa mengenal lelah. Sehingga sebagai seorang muslim, dibalik kepasrahannya karena menerima dan Ridho akan takdir Ilahi, juga tertindak langkah demi langkah berupa usaha dan doa hingga itulah langkah yang akan dilalui untuk menuju  tawakkal. Sehingga perilaku berputus asa dan lari dari tanggung jawab tidak mencerminkan sebagai seorang muslim yang baik.

Akhirnya jika menginginkan yang utama (afdhol) maka minntalah kebaikan (ashlah). Dengan begitu kita akan mendapatkan keduanya.[]
Wallahualam..
Wrote by Umi Nurchayati

dok: penulis
Memasuki revolusi industri 4.0 dunia menjadi semakin kompleks dengan segala kesibukannya. Peran teknologi semakin nyata membentuk perilaku manusia. Internet menjadi bagian dari kehidupan keseharian, meminjam istilah ‘internet of things’ kini semua komputer dan smartphone telah saling tersambung satu sama lain sehingga suatu pekerjaan dapat dilakukan dengan mudah, cepat dan efisien. Seperti teknologi sensor untuk memantau aktifitas pekerja di pabrik sampai pegembangan artificial intelligence untuk memantau kebutuhan-kebutuhan kita, sehingga jangan kaget jika sedang asik berselancar di dunia maya lalu lewatlah iklan fashion yang rupanya juga sedang kita cari. 

Fenomena tersebut menggambarkan bahwa dunia semakin dituntut pada akses kecepatannya, terutama kecepatan informasi. Kini dengan sangat mudahnya suatu peristiwa di tempat A langsung bisa diketahui di tempat B dalam hanya hitungan detik. Begitu pula dalam informasi yang bersifat keilmuan seperti akademik dan ilmu agama. Kini pencarian informasi dan belajar di internet adalah jalan yang paling mudah dan murah. Seorang tak perlu kuliah jurnalisme untuk menjadi jurnalis, untuk eksis membahas politik juga tak perlu kuliah ilmu politik serta untuk dikatakan ustadz juga tak harus nyantri berlama-lama di pondok pesantren atau di institusi islam. Ya, itu semua berkat teknologi internet sehingga informasi apapun dapat dipelajari sendiri secara mandiri dan masif.

Tom Nichols dalam bukunya ‘The Death of Expertise’ (2017) mengungkap suatu fenomena mendesak tentang para ahli yang mulai kehilangan otoritasnya akibat peredaran informasi yang sangat banyak dan begitu cepat, internet tak lagi menjadi sarana demokrasi tetapi justru membutakan orang karena sebagian besar manusia semakin malas membaca, mencari dan mengkonfirmasi sebuah informasi yang didapatkan. Hal ini menjadi celah banyaknya berita bohong (fake news) untuk turut menyerang dan semakin memperkeruh keadaan.

Dalam dunia keilmuan keagamaan fenomena ini banyak digunakan untuk menyerang otoritas ulama, ustadz atau da’i. Beberapa orang hanya belajar dari internet tentang ilmu agama kemudian merasa sudah cukup ilmu sehingga berani berceramah. Tentu saja hal ini sangat berbahaya, karena tanpa keilmuan yang cukup dan matang seorang penceramah justru dapat menyesatkan atau membawa pada pemahaman yang keliru pada para jamaahnya dalam memahami agama. Hal ini menjadi tantangan bagi pegiat pesantren dan santri pada khususnya.

Selama ini Pesantren memang tak hanya sebagai lembaga keagamaan, pesantren terbukti telah menjadi kekuatan utama dalam mengusir penjajahan dari bumi pertiwi dan menghapus praktik kolonialisme, sehingga mengantarkan pada kemerdekaan bangsa. Namun kini pesantren kembali dihadapkan pada peran seperti itu lagi, tetapi dengan bentuk yang berbeda. Jika dahulu suatu bentuk penindasan dan penjajahan begitu terlihat nyata karena berwujud fisik, maka kini kolonialisme tersebut jika boleh dikata telah berubah bentuk menjadi informasi yang begitu banyak dan tidak terbendung. Seperti dikatakan Nichols bahwa informasi yang begitu banyak akan membuat manusia semakin bingung dan menjadikan ia lebih menyukai informasi yang ingin didengarnya saja sehingga menimbulkan sikap apatis dan tertutupnya sikap open minded. Maka penyebaran informasi yang benar amat penting untuk membendung bahaya-bahaya tersebut.

Namun seperti yang saya ingat, seorang Guru kita, ustadz Ja’far pernah mengatakan dalam Madrasah Diniyah kelas Khomis bahwa sebelum kita berbicara atau menyampaikan suatu ilmu, kita dituntut untuk mengetahui ilmunya. Hingga penyampaian ilmu tidak bisa dilakuan setengah-setengah tetapi menyeluruh dan utuh. Hal seperti itulah yang terkadang membuat santri yang sudah mondok bertahun-tahun pun kadang belum berani untuk tampil sebagai pendakwah, apalagi dunia pesantren juga telah menumbuhkan budaya Tawadlu yang kental. Tetapi hal seperti itu tidak berlaku untuk semua santri, banyak juga santri yang menjadi pendakwah seletah selesai mondok.

Sehingga yang perlu digaris bawahi sekarang adalah bukan perkara santri yang juga harus jadi pendakwah namun substansi dari dak’wah itu sendiri. kita mengingat pelajaran di Madrasah Diniyah bahwa ada beberapa macam dakwah yang dapat dilakukan yaitu dengan bil lisan (seruan) , bil hal (perbuatan), dan bil kalam (tulisan). Saya tidak hendak menguraikan satu persatu karena akan panjang nantinya.
Kembali lagi, dengan arus informasi yang sangat cepat tersebut menjadi refleksi para santri untuk cepat pula harus belajar dan belajar (tholabul ilmi). Tugas santri memang pada dasarnya adalah belajar. Hingga menyemai kembali kebudayaan yang adiluhung dalam islam yaitu belajar tersebut perlu selalu ditingkatkan untuk bekal ketika sudah keluar dari pesantren.

Santri juga harus mampu melihat realita dan fenomena, dimana ia harus mampu mengamati hingga bisa membaur namun tak melebur, artinya santri juga harus mampu membaur di segala segmen masyarakat sambil memegang erat nilai-nilai kesantrianya. Dengan begitu ia tak akan larut dalam fenomena namun bagaimana ia mampu bersyiar di tengah fenomena.

Hingga tak perlu lah kita terlalu kaku menilai model beribadah seseorang, bukan dengan mendikte itu salah atau benar namun bagaimana kita menyampaikan secara perlahan dan damai akan nilai-nlai yang kita anut, baik dengan seruan damai, melalui perbuatan atau tulisan. Sikap open minded untuk belajar dari berbagai penjuru, golongan dan sektor akan menjadikan santri lebih luas menjangkau area syiar nya.
Dengan hadirnya santri di berbagai sektor, baik pendidikan, ekonomi dan budaya tersebut diharapkan dapat membendung arus radikalisme dan intoleansi dan menyebarkan pada pemahaman Islam rahmatan lil alamin sesuai paham Ahlussunah al jama’ah untuk masyarakat luas, terlebih muslim kelas menengah perkotaan yang berjumlah cukup banyak. Sehingga kehausan sentuhan agama di tengah masyarakat urban dapat terobati pada jalan yang semestinya, dimana mayoritas islam yang berkembang di Indonesia adalah Islam yang moderat, islam yang wasatha dan mengantarkan pada masyarakat madani (civil society)[]



Wrote by Umi Nurchayati
Mengajar menjadi aktivitas sehari-hari bagi Bapak Muslih Ilyas (60), Ustadz di PP. Al-Munawwir Komplek Q Krapyak, Yogyakarta. Mengajar juga menjadi aktivitas wajib untuk mengajarkan kepada santrinya betapa pentingnya arti sebuah kedisiplinan.
***
KH. Muslihe Ilyas bersama Istri
dok: almunawwirkomplekq.com

Bapak KH. Muslih Ilyas tak hanya dikenal sebagai ustadz yang menjunjung tinggi kedisiplinan, selain aktif mengajar di Komplek Q dan MTs Ali Maksum  beliau juga  aktif di berbagai organisasi regional dan nasional.

Sebutan Pak Muslih sudah tidak asing lagi di telinga santri PP. AlMunawwir khususnya di komplek Q. Bapak kelahiran Kediri, 3 Januari 1958 dengan nama lengkap Muslih Ilyas ini adalah seorang Ustadz di PP. Al-Munawwir Komplek Q, beliau mengajar setiap sore dengan kitab yang dikajinya adalah Minhajul Muslim. Bapak 8 anak ini juga aktif di dunia politik, yaitu pernah menjadi aktivis NU dan DPRD kota Yogyakarta.

Beliau mengawali karir di GP Ansor kota Yogyakarta setelah menamatkan dari bangku kuliahnya di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (sekarang UIN Suka). Menurut beliau Yogakarta adalah daerah yang strategis untuk membangun dan meningkatkan karir, mengingat daerahnya yang tak begitu luas, yang mana jumlah provinsi hanya terdiri dari 5 kabupaten dan menurut Pak Muslih bagi siapapun, yang terpenting adalah mau berbuat maka karirnya akan berkembang.

Ada kisah menarik ketika beliau diagkat sebagai sekretaris di GP Ansor. Waktu itu Sekretaris Ansor Drs. Mawardi diangkat menjadi dosen di daerah Kalimantan sehingga sekretaris I kosong, akhirnya beliau disurunh menjadi sekretaris I yang harusnya naik ke sekretaris II terlebih dahulu, beliau tak mau begitu saja menerima jabatan tersebut tanpa melalui mekanisme yang ditentukan. Akhirnya diadakanlah forum untuk memilih sekretaris I GP Ansor Yogyakarta.

Selanjutnya beliau mulai aktif di ranah politik dengan bergabung di partai Persatuan Pembangunan Bangsa (PPP) regional Yogyakarta. Menurutnya partai PPP memiliki beberapa jenis keistimewaan, seperti yang kita ketahui bahwa PPP adalah sebuah partai Islam. Anggota PPP terdiri dari berbagai ormas Islam, ada Muhammadiyah, NU, Syarikat Islam, Tarbiyah Islamiah dll. Sehingga dalam partai PPP persaingan tak hanya dari luar saja (eksternal) melainkan terdapat juga persaingan dari dalam para anggotanya yang terdiri dari berbagai ormas tersebut (intenal).

Di PPP Pak Muslih mengawali karir politiknya dengan menjabat sebagai Wakil Ketua Daerah Kota selama satu periode, sampai dua tahun di masa kepemerintahan Gus Dur, pak Muslih naik jabatan menjadi sekretaris 3 DPR Provinsi yaitu pada masa kepemimpinan Dr. Fauzi yang merupakan anak dari KH. AR. Fachruddin (Mantan Ketua Umum PP. Muhammadiyah). Ahirnya sampai tiga kali pergantian kursi kepemimpinan di DPR Provinsi Yogyakarta, Pak Muslih tetap menjadi sekretarisnya.

Saat ini suami dari Ibu Nur Aliyah ini mempunyai misi untuk mencari penerus sekretaris di DPR dari kalangan NU, untuk mewujudkan hal tersebut Pak Muslih sudah menyiapkan beberapa surat rekomendasi dari beberapa tokoh. Menurutnya seperti itulah gambaran di dunia politik, dimana tawar-menawar tak bisa dihindari.

Selain di dunia politik Pak Muslih juga sempat aktif di dunia dakwah, terbukti dengan keikutsertaannya dalam Lembaga Dakwa NU (LDNU) dan lembaga dakwah Tunas Melati (Muhammadiyah), yang mana lembaga ini hanya mengorganisir dari beberapa tutor yang mendaftar, seperti tutor untuk mengaji Al-Qur’an sampai mata pelajaran di sekolah.

Banyak kisah menarik dari perjalanan hidup seorang Muslih Ilyas, pernah suatu ketika sebelum beliau naik jabatan di PPP, pada Lajnah penetapan calon, semua orang berebut untuk mengajukan dirinya, atau dalam istilah politiknya boleh dikatakan seperti perebutan kursi jabatan. Ketika semua orang berambisi masuk tim, yang mana tim terpilih nantinya akan langsung naik ke tingkat Lantab, beliau tetap diam saja tak mempedulikan kekisruhan yang terjadi hingga pada akhirnya dalam sidang pleno malah terpilih dan ditetapkan sebagai DPR dari fraksi PPP bersamaan dengan Ibu Ny. Hj. Ida Fatimah Zainal (Pengasuh PP. Almunawwir Komplek R) dari fraksi PKB.

Sebelum terjun di dunia politik Pak Muslih memang sudah dibekali oleh KH. Ali As’ad, yang mana beliau adalah seorang guru yag penuh dedikasi. Menariknya dari tiga kali berturut-turut menjadi DPR pak Muslih belum pernah berorasi di depan umum dan tidak sepeserpun memakai uang selain uang gaji yang berhak ia dapatkan.


Kisah Selama Nyantri

Momen menjadi santri memang tidak dapat dilupakan bagi sebagian orang, tanpa kecuali seorang Muslih Ilyas. Beliau mengenang ketika mondok selama 15 tahun tanpa dibiayai oleh orang tua. Dimulai dari Nyantri di Lirboyo selama 6 tahun dan dilanjutkan di pondok Krapyak. Suatu ketika sehabis kecelakaan di pondok Lirboyo beliau disuruh sowan menghadap Kyai Mahrus, kemudian oleh Kyai Mahrus disuruh menemuai Kyai Pasuruan yang tak lain adalah mertuanya Ibu Nafis (Pengasuh Komplek Hindun Anisah PP. Ali Maksum) kemudian dititipkan kepada KH. Ali Maksum kala itu.  Dari situlah beliau mengenal Krapyak.

Selama di Krapyak Pak Muslih hidup dengan ikut menumpang sebagai tukang memasak (ikut ndalem). Selama beberapa bulan di Krapyak dengan hanya ikut mondok ia merasa waktunya banyak terbuang, mengingat pengajian hanya dilakukan sore, malam dan pagi hari. Sehingga ia memberanikan diri sowan kepada KH. Ali Maksum untuk sekolah lagi. 

“Meh melbu kelas piro?” tanya Kyai Ali,
“Kelas setunggal tsanawiyah” jawab pak Muslih kala itu. Kemudian Kyai Ali tidak menjawabnya.

Keesokannya ketika Pak Muslih bertemu lagi dengan Kyai Ali,

“wes koe entuk sekolah maneh tapi ora keno melbu kelas siji tsanawiyah”

Setelah berkata seperti itu, Kyai Ali memberikan beberapa tumpukan kitab pada pak Muslih dan menyuruhnya membaca sambil mengatakan dan menganjurkan pak Muslih untuk masuk kelas satu atau kelas dua Aliyah (setingkat SMA). Pak Muslih kala itu merasa mudah duduk di kelas satu karena pelajaran yang dikaji memang pernah dipelajari sebelumnya, mengingat di Lirboyo beliau juga belajar sampai Aliyah.

Akhirnya Pak Muslih berhasil menamatkan Pendidikan SMA nya di Madrasah Aliyah Krapyak dan melanjutkan pendidikannya di IAIN Sunan kalijaga Yogyakarta (sekarang UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) setelah rehat sehabis lulus Aliyah dan dirasa banyak membuang-buang waktu jika hanya di Pondok. Akhirnya keputusan untuk kuliah diambil setelah memikirkan banyak pertimbangan. Diantara yang menjadi pertimbangan adalah biaya masuk kuliah yang waktu itu sebesar Rp. 35.000,-

Akhirnya diputuskan pak Muslih untuk pulang ke rumahnya di Kediri. Beliau  memberanikan diri meminta uang pada orang tuanya untuk mebayar kuliah, akan tetapi tidak semudah itu ia memutuskan untuk meminta uang, karena hidupnya memang sudah dibiayai oleh orang tuanya. Sebelumnya Pak Muslih mengatakan pada ibunya bahwa ia bermaksud meminta uang untuk kegiatan. Tanpa dirasa naluri seorang ibu memang sangat kuat. Malamnya Pak Muslih langsung dipanggil menghadap ibunya, dengan kondisi seperti itu ia akhirnya mengakui dengan sebenarnya apa maksud keperluannya meminta uang sebanyak itu. Akhirnya melihat tekad anaknya yang sudah kuat sang ibu memutuskan untuk merundingkan hal tersebut pada kakak-kakak Muslih Ilyas. Setelah dimusyawarahkan sekeluarga akhirnya semuanya ikut membantu membayar biaya pendaftaran masuk sebesar Rp. 35.000 tersebut.


            Masa Kuliah dan Dinamika Kampus

            Selama kuliah Muslih Ilyas termasuk mahasiswa yang mandiri, tak ada kiriman uang saku dari orangtua, semua kebutuhan ia mencari sendiri. Untuk memenuhi kebutuhannya selama kuliah ia memilih untuk bekerja part time yang kala itu ia mendapatkan tawaran dari Kyai Ali As’ad untuk membantunya mengetik.

“cobo ketikno Mukaddimah iki” kata Kyai Ali As’ad
Tanpa berbekal kemampuan mengetik, Muslih Ilyas mengiyakan tawara tersebut, sampai ia kebingungan tanpa sepengetahuan Kyai Ali As’ad. Keesokannya ia ditana Kyai Ali,

“Piye wes entuk piro?, ra entuk-entuk?” tanya Kyai Ali As’ad

Seiring berjalannya waktu dengan kesungguhan dan kerajinan seorang Muslih Ilyas, ia bisa mengetik secara lancar. Sampai muncul target berapa harus mengetik setiap harinya. Menjalani aktvitas seperti itu setiap harinya mengakibatkan ngajinya di pondok keteteran, akhirnya ia memikirkan hal tersebut. Uang yang didapat dari mengetik ini memang mencukupi untuk biaya kuliahnya akan tetapi ia tak bisa ikut pengajian di Pondok, disisi lain timbul keresahan lain yang dipikirkannya, bagaimana ketika ia kembali lagi ke Pondok malah tak bisa kuliah. Pikiran itu menghantui hari-harinya selama di tempat Kyai Ali as’ad, sampai akhirnya ia putuskan untuk kembali ke Krapyak.

Rejeki memang bisa datang dari mana saja, Do’a seorang Muslih Ilyas untuk tetap bisa menyelesaian kuliah dan pondoknya diperlancar. Di pondok ia membantu memasarkan Kamus Almunawwir karangan KH. M Warson Munawwir (Pengasuh PP Almunawwir Komplek Q), sehingga ia mendapatkan komisi dari hasil penjualannya. Terhitung setiap penjualan satu kamus ia mendapatkan keuntungan sebesar 10.000 rupiah. Muslih Ilyas memasarkan kamus Almunawwir di sebaian besar Pondok Pesantren di Jawa Timur, mulai dari Pasuruan, Jombang, Gontor, Tulung Agung sampai Trenggalek. Dengan pendapatan itulah ia memenuhi kebutuhan kuliahnya, penghasilannya kini sisa jika hanya untuk biaya kuliahnya. Akhirnya dari uang itu ia membeli sepeda ontel. Meski dalam kesehariannya ia sering menggunakan sepeda motor milik Kyai Ali Maksum.

Awalnya ia hanya disuruh mengantar Kyai Ali sampai tempat dimana ia dijemput supirnya. Perlu diketahui bahwa Kyai Ali Maksum menjadi DPR di usia yang sangat muda sehingga beliau merasa malu ketika dijemput supirnya di Pondok, oleh Karena itu ia menyuruh Pak Muslih untuk mengantarkannya sampai di tempat dimana dia bertemu dengan supirnya. Karena keseringannya  menjemput dan mengantar Kyai Ali dengan sepeda motor milik Kyai Ali maka ia membawanya sekalian berangkat ke kampus.

Sejak kecil Pak Muslih memang sudah belajar memanfaatkan waktunya sebaik mungkin, ia tak mau membuag-buang banyak waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Oleh sebab itu ia selalu menyibukkan dirinya dengan berbagai kegiatan dan aktivitas. Menurutnya, usia anak harus dipaksa, tidak bisa hanya mengandalkan kemauan, dengan begitu kebiasaan memaksimalkan waktu dengan sebaik mungkin akan tumbuh.

Disiplin Waktu

Pak Muslih masih sangat mengenang wejangan dari Kyai Ali As’ad :

“Le jangan pernah menyembunyikan identitasmu, dimana saja tampakan identitas sebenarnya. Jika kamu bisa disiplin maka orang lain akan menyesuaikanmu, bukan kamu yang menyesuaikan dengan orang lain”


            Dengan kesungguhannya, pak Muslih memang sangat mengamalkan wejangan-wejangan dari para Guru-gurunya. Terlebih ia selalu merasa tak punya keahlian tertentu yang bisa mendorong karirnya. Sebab itulah ia sangat mengandalkan disiplin, karena disiplin akan mendorong kepercayaan seseorang. Ketika kita sudah mendapatkan kepercayaan dari orang lain maka akan memudahkan berbagai urusan. Pak Muslih mencontohkan, bagaimana ia sangat dipercaya ketika meminta rekomendasi dan tanda tangan orang-orang penting.

            Selain itu, pak Muslih menceritakan bagaimana seorang guru yang sudah ditunggu lama oleh murid-muridnya di kelas dan dengan seenaknya ia datang terlambat. Seperti itu akan berakibat wajar kenapa para murid juga akan menyepelekan disiplin waktu, karena tak lain tokoh yang menjadi panutannya juga tidak bersikap disiplin.

Pernah suatu ketika di hari Jum’at Pak Muslih mengadakan perjalanan dengan seorang tokoh Golkar bernama Pak Joss. Pak Joss adalah seorang Kristian yang taat, melihat Pak Muslih selalu menggunakan Peci ia menyuruh Pak Muslih sholat Jum’at terlebih dahulu.

“Pak Muslih silakan sholat Jum’at dulu” kata Pak Joss,

“jadi gini Pak Joss, kita sebagai umat Islam memang wajib untuk sholat Jum’at akan tetapi ketika dalam perjalanan jauh seperti ini kita diberi toleransi untuk tidak ikut sholat Jum’at” jawab Pak Muslih waktu itu,

“ohh.. tidak apa-apa Pak, Bapak sholat dulu saja nanti kita tunggu di restoran itu” ungkap Pak Joss,

Begitulah buah dari kedisiplinan, orang lain tak terkecuali Pak Joss begitu percaya pada Pak Muslih bahwa dengan Pak Muslih sholat Jum’at tetap akan bisa sampai tempat tujuan di watu yang tepat.

***

REFERENCE
Wawancara yang dilakukan oleh Nila Putri pada 18 Februari 2017.
Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah El-Muna Edisi 1 dan diterbitkan kembali oleh website almunawwirkomplekq.com dengan judul Ustadz Muslih Ilyas "Tampakkan Identitas".









Wrote by Umi Nurchayati
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Wikipedia

Hasil penelusuran

Halaman

  • Beranda
  • Motivasi
  • KOLOM
  • PUISI
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips & Trik
  • Who Am I

Jejak

  • ▼  2024 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
  • ►  2023 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2022 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2020 (11)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (13)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (18)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2015 (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2013 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Februari (1)

Instagram

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Popular Posts

  • Rahasia Para Pendo’a
      Sejak kecil anak-anak selalu diajarkan berbagai macam doa, mulai dari doa bangun tidur, mau makan, selesai makan,masuk/keluar kamar mandi,...
  • Menyikapi Budaya Konsumtif Secara Bijak Dari Lagu Efek Rumah Kaca
    'Atas bujukan setan Hasrat yang dijebak zaman Kita belanja terus sampai mati' Mendengar bait lirik lagu Efek Rumah Kaca (ERK...
  • Mengenal Islamisme dan Tantangannya Bagi Kehidupan Bernegara
    Dewasa ini kehidupan berdemokrasi bangsa kita tengah mengalami berbagai terpaan badai. Tanpa disadari dalam empat tahun terakhir ini isu ide...
  • Bersyi'ar dengan Cinta ala Mbah Kakung dan Mbah Putri
    Setelah beberapa hari lalu mbah terakhir saya, Mbah Putri dari pihak Bapak kapundhut dhateng Gusti Allah, saya jadi ingat Mbah Kakung juga ...
  • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
      dok. pribadi Judul: Crime and Punishment ; Penulis: Fyodor Dostoevsky ; Penerbit: Wordsworth Classics ; Penerjemah dalam B. Inggris: C...
  • Substansi Makna Menutup Aurat dan Berjilbab Menurut Syekh Ash-Shobuni
      Polemik tentang jilbab dan aurat wanita memang tak ada habisnya. Di kala negara-negara lain sudah sibuk berdebat tentang teknologi nano da...
  • Budaya Idul Fitri di Temanggung yang Begitu Asyik
      Tulisan ini sudah ditulis sejak 2019 lalu, namun mengingat kondisi saat ini di tengah iklim persatuan yang sedang diuji, krisis yang memba...

Draft

  • coretan unc
  • Motivasi
  • Opini
  • Puisi
  • sebuah perjalanan
  • stories / notes
  • Tips & Trik

Mengenai Saya

Foto saya
Umi Nurchayati
Blog pribadi Umi Nurchayati @uminurchayatii | uminurchayatiii@gmail.com | "Dalam samudra luas, riak saja bukan"
Lihat profil lengkapku

Copyright © 2019 Bangun Pagi-pagi. Designed by OddThemes & Blogger Templates