• Beranda
  • Motivasi
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Opini
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Puisi
    • Langgam Cinta
    • Pertemuan Bahagia dan Sedih
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips - Trik
  • Who Am I

Bangun Pagi-pagi


'Atas bujukan setan
Hasrat yang dijebak zaman
Kita belanja terus sampai mati'

Mendengar bait lirik lagu Efek Rumah Kaca (ERK) yang berjudul “Belanja Terus Sampai Mati” itu memang cukup menusuk hati jiwa-jiwa yang suka belanja tapi masih mikir-mikir. Ya bagaimana mungkin lirik yang diciptakan Cholil Mahmud itu bisa tak mengusik perilaku kita sekarang ini, kejeniusan ERK dalam menggubah setiap lirik patut menjadi renungan kita untuk berintropeksi diri setiap harinya. Maka tak heran jika grup band indie yang sering menyuarakan isu-isu sosial ini lantas dapat bergandengan tangan dengan Mbak Nana ‘Najwa Shihab’ untuk megisi theme song Mata Najwa dengan Album ‘Seperti Rahim Ibu.’

Cholil Mahmud sang vokalis yang pernah menempuh pendidikan di New York University Silver Center of Arts and Science ini mengaku terpengaruh jurnalistik dalam menulis lirik, yang disebabkan oleh kebiasaannya membaca koran dan majalah sedari kecil. Tak heran jika ERK juga kerap dijuluki sebagai band aktivis, namun Cholil menepisnya dengan mengatakan bahwa ia hanya mewartakan hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitar lewat musik. Begitulah pengakuan seorang Bapak 42 tahun yang sejak tahun 2016 lalu kembali menetap di New York menemani istrinya yang sedang studi Doktor di Amerika.

Maka menengok lirik lagu ‘Belanja Terus Sampai Mati,’ amatlah penting dijadikan renungan terlebih bagi seorang muslim yang juga tidak diperkenankan untuk berlebih-lebihan dalam hal apapun. Di era sekarang umat islam memang telah menikmati kebebasannya dalam ruang publik. Sehingga wajar jika produk-produk bernuansa islam atau penggunaan istilah islam semakin banyak bertebaran di sekitar kita, seperti penggunaan atribut keagamaan, makanan berstempel halal dll. Lahirnya halal lifestyle, halal food, dan halal tourism juga tumbuh pesat tak hanya di negara dengan mayoritas penduduk muslim, juga dari negara dengan mayoritas penduduk bukan muslim seperti Jepang dan Korea Selatan yang kini juga tengah serius menggarap bisnis Halal Tourism ini.

Fenomena tersebut banyak dimotori oleh generasi muslim modern, Shelina Janmohammed dalam bukunya yang berjudul “Generation M: Young Muslim Changing the Word” menyebut mereka sebagai Generasi Muslim Millenial yang berusaha menyetarakan antara gaya hidup modern dan kesadaran agama, atau disebutnya antara iman dan modernitas.

Namun jika diamati lebih dalam gaya hidup yang berkembang itu kini telah menuntun seseorang ke arah konsumtif. Globalisasi telah membuat kebutuhan sekunder menjadi kebutuhan pokok dan keinginan seolah-olah menjadi sebuah kebutuhan. Dengan meningkatnya tren global yang menimpa masyarakat muslim kini, telah membuat mereka berlomba-lomba dalam hal fashion salah satunya yaitu berkaitan untuk tampil modis sebagai bagian untuk melawan konstruksi sosial tentang islam yang kolot dan tidak modern. Tak heran jika kini turut menjamur produksi jilbab, kaftan, gamis dll, dari yang mulai harga paling murah sampai berjuta-juta rupiah.

Hal-hal seperti itu telah mendorong umat muslim pada budaya konsumtif. Padahal ditengah-tengah itu kelas menengah keatas muslim juga dihadapkan pada realita sosial, dimana kemiskinan, kelaparan, dan perlakuan ketidakadilan masih banyak menimpa saudara muslim. Sehingga menurut penulis kaum menengah keatas harus kembali melakukan refleksi atas kondisi-kondisi yang menimpa umat islam, sehingga status kesadaran religi Generasi M tidak digunakan untuk menjaga jarak antara mereka diantara saudara sebangsa dan seiman yang kurang beruntung.

Mungkin sebagai seorang santri kita teramat sering diingatkan tentang kondisi-kondisi terkait permasalahan diatas, melalui kajian tasawuf yang intens kita telah belajar banyak dari ulama-ulama terdahulu tentang sikap tidak berlebih-lebihan, sabar, qana’ah, menjauhi dunia, dan cara membunuh hawa nafsu. Namun, kembali lagi rupanya membunuh hawa nafsu itu bukan perkara mudah, dalam kitab Minhajul Abidin karangan Imam Al-Ghazali disebutkan bahwa nafsu tidak bisa mati, tapi kita bisa menghalaunya dengan latihan menahan hawa nafsu secara terus menerus. Mencegah makan bila sudah kenyang, mencegah berbicara bila tak perlu dan penting, sampai mencegah membelanjakan uang bila bukan suatu kebutuhan menjadi selaras dengan ajaran tasawuf di pesantren. Maka untuk menyuarakan nilai-nilai tasawuf tersebut agaknya ERK cukup mewakili. Hidup di tengah budaya urban dengan kungkungan kapitalisme menjadi amat perlu menerapkan dan selalu berlatih menghalau hawa nafsu, seperti kata ERK agar tidak menjadi korban keganasan peliknya kehidupan urban atas bujukan setan dan hasrat yang dijebak zaman.

Berikut penulis kutipkan lirik lagu Belanja Terus Sampai Mati- Efek Rumah Kaca, semoga dapat pula menjadi renungan agar tetap berhati-hati menghabiskan uang kiriman di awal bulan:

'Akhir dari sebuah perjalanan
Mendarat di sudut pertokoan
Buang kepenatan
Tapi-tapi itu hanya kiasan
(Belanja terus sampai mati)
Juga juga suatu pembenaran
Atas bujukan setan
Hasrat yang dijebak zaman
Kita belanja terus sampai mati
Awal dari sebuah kepuasan
Kadang menghadirkan kebanggaan
Raih keangkuhan
Tapi tapi itu hanya kiasan
(Belanja terus sampai mati)
Juga juga suatu pembenaran
(Belanja terus sampai mati)
Atas bujukan setan
Hasrat yang dijebak zaman
Kita belanja terus sampai mati
Duhai korban keganasan peliknya kehidupan urban
Duhai korban keganasan peliknya kehidupan urban
Peliknya kehidupan urban
Peliknya kehidupan urban
Atas bujukan setan
Hasrat yang dijebak zaman
Kita belanja terus sampai mati
Tapi tapi itu hanya kiasan
(Belanja terus sampai mati)
Juga juga suatu pembenaran
(Belanja terus sampai mati)
Atas bujukan setan
Hasrat yang dijebak zaman
Kita belanja terus sampai mati'

*Tulisan ini pernah dimuat dalam http://almunawwirkomplekq.com/menyikap-budaya-konsumtif-secara-bijak-dari-lagu-erk/ dengan judul “Menyikap Budaya Konsumtif Secara Bijak dari Lagu ERK”
Wrote by Umi Nurchayati

 



Sejak kecil anak-anak selalu diajarkan berbagai macam doa, mulai dari doa bangun tidur, mau makan, selesai makan,masuk/keluar kamar mandi, masuk masjid, mau tidur dan banyak sekali doa. Sudah biasa doa-doa itu menjadi hafal sejak kecil, selain disuruh Ibu di rumah juga selalu ditekankan di TPA/TPQ setiap bakda ashar.

Namun setelah bertumbuh agak dewasa, terkadang berbagai macam bacaan doa itu juga lupa satu-persatu. Hanya beberapa saja diingat karena selalu ditemui dan dipraktekan setiap hari. Kebiasaan mempraktekan sejak kecil ini yang sampai dewasa terus berdoa. Sesuatu yg sudah biasa dilakukan menjadi seperti ada yang kurang ketika ditinggalkan. Mungkin ini pula yang dialami seorang pendoa untuk urusan hajat atau keinginan.

Manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas atas apa yang sudah diraihnya sekarang, selalu ingin lebih baik, lebih kaya, lebih pintar dll. Akhirnya berusaha mati-matian, bekerja lebih rajin, belajar sampai larut dan begadang dilakukan sebagai upaya meraih keinginan. Tapi bagi banyak orang hal itu tidak cukup. Banyak aspek-aspek yang bersentuhan dengan takdir dan keberuntungan. Sehingga mengubah takdir selain dengan usaha juga ditempuh dengan merayu Tuhan.

Seorang anak SD akhirnya bertanya pada sang Ibu, “Ibu aku pengen lulus ujian, aku takut kalo tidak lulus, kemarin sudah belajar tapi banyak yang tidak keluar di soal?”
Sang Ibu meminta anak berdoa, memohon agar jawaban yang sudah dikumpul itu ternyata benar. Ibunda menjawabnya “ya minta sama Allah sayang, Dialah pemilik Takdir, yang bisa mengubah apapun yang dikehendaki”, terang sang Ibu.

Malam harinya sang anak bangun pagi-pagi sekali, tak main-main pukul setengah 3 pagi. Mengikuti anjuran ibunya sehabis sholat tahajud ia benar membaca Sholawat dan Istighfar 3000x. Tasbih yang berjumlah 100 tak cukup untuk menghitungnnya. Karena belum ada penghitung otomatis anak itu telah menyiapkan hitungannya di siang hari. Sangat sederhana, hanya memakai biji jagung yang telah genap dihitung 3000 biji.

Sambil terkantuk-kantuk anak itu terus membaca, satu persatu jagung di sebelah kirinya berpindah ke kanan menandakan bacaannya terus berkurang. Tepat disaat azan subuh akhirnya bacaan itu selesai, ia sangat senang dan lega, wajahnya berseri-seri karena amalan yang diberi ibunya bisa tertunaikan.

Kegiatan itu terus ia lakukan sampai pengumuman ujian tiba. Di hari yang ditunggu itu rupanya sang anak dinyatakan lulus, pengumuman ditempel di papan majalah dinding sekolah. Anak itu mendapati namanya dengan nilai rata-rata yang tidak begitu bagus, hanya 7.5 namun itu sudah cukup membuatnya lega karena ternyata ada juga temannya yang tidak lulus.

Lalu ia pulang ke rumah, mengabarkan pada sang Ibu, “Ibu ternyata hasilnya lulus, tidak menyangka karena kemarin adik tidak bisa mengerjakan matematika dan ipa,” ucapnya dangan cukup bangga mengantongi angka 7 di dua mata pelajaran tersebut.

Begitulah kisah seorang anak SD yang sudah was-was dangan hasil ujiannya. Akhirnya sampai dewasa ia terus mempraktekan kata ibunya itu. Menjadi ritual ketika punya keinginan, doa-doa menjadi selalu tertaut di sepertiga malam. Keinginan apapun, baik menyangkut dunia atau akhirat, mulai dari kesehatan, lancar sekolahnya, keterima di kampus negri, mati khusnul khotimah dll yang terakhirnya selalu disisipi kata permintaan ‘yang terbaik.’ Peristiwa kelulusan ujian itu terekam kuat dalam memorinya sejak belia, seperti menjumpai hasil yang nyata.

Namun tentu saja doa-doanya tidak semua terkabul. Banyak hal yang dipinta sang anak juga meleset, tapi ia tetap tak henti berdoa. Doa menjadikannya tenang ketika usaha maksimal sudah dikerahkan. Mungkin akan banyak yang mengkritiknya tapi nyatanya untaian doa-doa itu menuntun dalam hidupnya.

Hingga ketika dewasa, dihadapkan pada teknologi yang semakin maju. Internet lewat segenggam telfon pintar amat menggoda mengajaknya mengarungi dunia hiburan, mulai dari video memasak sampai drama korea dan film action.

Tapi ya bagaimana lagi kebiasaannya berdoa sudah mengakar kuat karena sudah diikat kuat oleh ibunya sejak kecil. Jadi meskipun nonton drama korea seharian, ia pun tetap sisipkan untaian doanya di 2 jam waktunya untuk berlama-lama di tempat sujud.

Doa memang tidak selalu menjawab pintanya tapi selalu efektif membuatnya tenang hingga dapat memutuskan tindakan selanjutnya dalam keadaan hati yang tenang. Ketenangan hati itu yang membuatnya dapat menimbang kebaikan dan keburukan dari semua pilihan yang ada, sehingga keleliruan menjadi berkurang.

Bagi yang meyakini lekuatan doa, ia merasa doa tidak hanya menjadikannya lebih tenang tapi juga bisa mengubah takdir, tentu saja dengan merayu Pemilik Takdir. Seperti seorang anak yang meminta sepatu pada orangtuanya, ia rela melakukan apapun untuk dapat sepatu baru, biasanya dengan dipotong uang sakunya. Satu kenikmatan berkurang tapi kenikmatan lain datang disertai kepuasan. Seperti waktu tidur yang harus berkurang, begitu diantara jalan yang ditempuh para pendoa.

Wallahu a’lam


Wrote by Umi Nurchayati

Dok: Komplek Q

Esok itu Yana pergi bersama teman-temannya, kepergian mereka bukan untuk jalan-jalan biasa. Mereka menyusuri sudut kota untuk membagikan sembako pada fakir miskin dan dhuafa.

Keadaan ekonomi yang sulit membuat Yana dan teman-temannya sangat prihatin, mereka melihat banyak orang kelaparan karena kehilangan pekerjaan. Akhirnya Yana dan teman-temannya berinisiatif untuk melakukan penggalangan dana. Setelah 15 hari lebih akhirnya uang yang terkumpul cukup rumayan. Uang dari penggalangan dana itu mereka belikan sembako untuk diberikan santunan kepada fakir miskin demi menyambut lebaran tahun ini.

Akhirnya misi mulia ini akan ditunaikan, mereka menaiki mobil Anton, teman sekelas Yana semasa kuliah. Yana dan teman-teman rombongannya dengan penuh suka cita mrngantarkan bingkisan-bingkisan sembako itu. Mereka menemui penjual bensin pinggir jalan, tukang parkir, tukang bersih-bersih dll.

Yana dan teman-temannya sangat senang akhirnya bisa berbagi, bisa turut berkontribusi menghadapi covid-19 dengan segala dampak yang ditimbulkannya. Akhirnya waktu semakin sore, menjelang ashar mereka singgah di sebuah masjid untuk sholat ashar. Seharian bagi-bagi sembako disaat berpuasa sungguh mengoras tenaga.

Yana ke kamar mandi untuk berwudhu tapi ia mendapati dirinya ternyata haid, sungguh sedih sekali hati Yana, sudah menjelang berbuka malah batal puasanya.
Adzan berkumandang mereka berbuka di sebuah tempat makan yang masih dibuka namun hanya bisa take away. "Wuhh seger".. ucap Anton membawa 3 jus buah.
"Ehh Yana kan nggak puasa. Kamu mau yan," timpal Joko.
"Yana udah batal ding"
"Ya iyalah nggak perlu buka udah batal" 

Akhirnya Yana tidak dikasih jusnya karena memang hanya beli 3 sementara ada 4 orang dalam mobil. Yana hanya bisa menahan haus dan melihat teman-temannya minum jus yang segar. Walaupun tidak sampai maghrib puasanya tapi Yana sudah puasa sampai jam 4 sore, apalagi Yana juga tidak sempat sahur hanya minum segelas air putih karena keburu adzan subuh berkumandang. Kalau kalian jadi Yana apa yg ingin teman- teman katakan?
***


Mendengar ucapan Anton dan Joko Yana seketika terdiam, kaget dan tak menyangka. Bisa-bisanya Joko dan Anton bertingkah seperti itu.
Berbagai terkaan berkecamuk di benak Yana, "wuih itu namanya diskriminasi kalau kyak gitu, yang tidak puasa harusnya menghormati yang puasa dan yang puasa juga menghormati yang tidak puasa," ucap Yana sambil menahan emosi, begitu tak kuatnya ia memendam perasaan pahit yang baru saja dialaminya. Akhirnya hanya kata-kata itu yang terucap dan ia langsung diam tak mau lagi menerangkan panjang lebar karena akan semakin menyulut emosinya .

Dalam benaknya ia hanya bisa merangkai gagasan dan terkaan-terkaan, "kok bisa-bisanya orang yang selama ini ia kenal baik agamanya, baik puasanya, dan baik juga orangnya bisa berucap seperti itu," batin yana.  Hati Yana amat sakit mendengarnya, sebagai seorang muslim Yana juga sangat ingin dapat berpuasa sampai maghrib dan berbuka bersama-sama. Tapi apa boleh buat, bagaimanapun Yana adalah seorang wanita, yang harus mengalami menstruasi, sebuah kondisi biologis yang secara otomatis akan menimpa wanita yang sudah akil baligh, suatu kejadian yang sudah ditetapkan Allah (sunatullah).

Yana tidak bisa memilih untuk dilahirkan sebagai perempuan atau laki-laki karena yang menentukan semua itu hanya Allah semata. Sejak alam kandungan Allah sudah menentukan perbedaan itu, apakah ia akan dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan. Yana dan manusia-manusia lain tidak bisa memilih itu. Yana hanya meyakini apapun yang sudah ditentukan Tuhan pastilah yang terbaik, Tuhan itu pasti adil dengan segala yang diciptakan-Nya, begitulah Yana meyakini. Perbedaan yang sudah ditentukan Allah pastilah adil, hanya manusia saja yang sering membuatnya menjadi tidak adil.

Seperti yang baru saja ia alami, kalau boleh memilih Yana juga ingin tidak haid dan melanjutkan puasanya sampai genap.

Sebenarnya Yana juga tidak mengharap untuk dibelikan jus, toh ia bisa membelinya sendiri. Tapi ini berbeda, Yana merasa bahwa seharusnya Joko dan Anton tidak bicara seperti itu mengingat batalnya puasa Yana juga bukan hal yg disengaja. Peristiwa batal puasanya adalah takdir yang sudah dikehendaki Tuhan, Harusnya sebagai laki-laki yang sregep sholat ngajinya, Anton dan Joko paham itu, pikir Yana.
***

Mungkin ini adalah perkara yang klise dan remeh temeh bagi Joko dan Anton. Yana diberhentikan di sebuah caffe dan disuruh turun beli minum.. uhh Yana makin kesal, temannya tak kunjung mengerti kalau bukan masalah haus dan dahaga lagi yng dirasakan Yana. Ini adalah perkara lain yang rupanya masih banyak orang tidak menyadarinya.

Ya bagaimana lagi, sebagai anak kandung patriarki kemampuan kita mengkotak-kotakkan pekerjaan dan kegiatan, serta kejadian berdasar jenis kelamin memang sudah terasah. Ketika masak-masak bareng cuci piring adalah tugas perempuan, nggangkat galon adalah tugas laki-laki. Padahal perempuan juga biasa ngangkat galon. Di banyak institusi keagamaan praktik-praktik bias gender amat sering terjadi. Padahal pekerjaan tak punya jenis kelamin, manusialah yang menentukan suatu pekerjaan dilakukan oleh laki-laki atau perempuan.

Laki-laki dan perempuan adalah sama-sama makhluk ciptaan Tuhan, yang mempunyai keunikannya sendiri-sendiri, yang juga sama-sama diberi akal dan kemampuan. Kebetulan Allah menghendaki wanita untuk menstruasi, nengandung, melahirkan, nifas dll, sedangkan laki-laki tidak. Pengalaman biologis laki-laki lebih sedikit dibanding perempuan. Oleh sebab itu hukum fikih syariah juga berbeda dalam menentukan hukum antara laki-laki dan perempuan.

Wanita boleh tidak berpuasa ketika menyusui karena dikhawatirkan anaknya akan kekurangan ASI ketika ibunya terus menahan haus dan lapar. Sedangkan laki-laki dibebankan tanggung jawab lebih dalam hal pemenuhan nafkah untuk keluarga, disini laki-laki adalah yang utama tapi bukan berarti wanita juga tidak boleh bekerja. Maksud seorang suami dibebankan menjadi yang utama dalam hal nafkah keluarga adalah karena ia tidak menanggung melahirkan dan menyusui, bukan karena posisi laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, karena posisi suami dan isri dalam rumah tangga adalah sejajar untuk saling melengkapi dan bekerja sama.

Memahami hubungan antara laki-laki dan perempuan ini amat penting karena menentukan kehidupan antara keduanya. Sehingga kacamata keadilan harus benar-benar dipakai, adil bukan perkara sama rata tapi perkara kesesuaian. Semua yang sudah ditakdirkan Allah itu pasti adil (العدل), sekarang tugas manusia yang harus semaksimal mungkin bersikap adil dengan memerhatikan tanda-tanda keadilan yang sudah ditetapkan Allah Swt.

Rupanya dalam tahap ini kita akan melihat kesholehan secara ibadah/ritual tidak akan menjamin seseorang berbuat adil, hanya orang yang sudah mencapai 'ihsan' yang bisa tahu mana yang lebih baik untuk ini dan itu.

Ihsan adalah puncak dari akhlak manusia, orang yang 'ihsan' pasti juga sholeh secara syariat. Islam memang agama akhlak, membentuk manusia menjadi berakhlakul karimah adalah tujuan islam, sedang ibadah ritual sepert sholat, puasa dll adalah bentuk patuh terhadap sang Pencipta. Dengan menjalankan ritual itu manusia berharap kepada Allah agar hidupnya dituntun, diridhoi dan ditujukkan jalan yang benar dalam proses menuju 'insan kamil', menjadi umat terbaik yang tahu mana yg baik dan mana yang buruk, bagaimana seharusnya bersikap terhadap sesama manusia, antara laki-laki dan perempuan bahwa hubungan keduanya adalah ketersalingan.

Wallahu a'lam
Wrote by Umi Nurchayati

 



Kamu lagi pusing ya..?

"Yaudah nikah aja"
Begitu tiba-tiba seseorang menjawabnya setelah kamu menceritakan problematika hidupmu.


Pasti banyak dari kita yang mendapatkan jawaban ini setelah menceritakan kejlimetan hidup bukan. Jawaban 'nikah' seolah-olah menjadi penyelesaian akhir dari sebuah perkara. Tapi apakah benar begitu adanya?

Memasuki usia dewasa, semakin banyak kita menyaksikan teman-teman, sahabat, rekan kerja dan saudara menyebar undangan pernikahan. Terlebih di bulan Syawal saat ini, mungkin saat ini timeline instagram, facebook, twitter, bahkan sampai story whatsapp mu sudah penuh dengan ucapan-ucapan selamat atas pernikahan teman.

Tentu saja menikah adalah ibadah yang baik, salah satu sunnah yang dibawa Rasul untuk menjaga umatnya. Tapi selayaknya sebagai ibadah juga harus disertai niat dan jalan yang baik bukan. Lantas bagaimana jika keputusan menikah diambil saat dirundung keputus asaan dengan kehidupan saat ini.

Pernikahan adalah salah satu hal yang mengikat hubungan manusia laki-laki dan perempuan di dunia sampai akhirat kelak. Islam menyebutnya sebagai mitsaqon gholizhon atau perjanjian kokoh sebagai amanah dari Allah Swt dan dihayati sepanjang kehidupannya. Jadi tentu saja pernikahan bukan hal yang begitu saja diputuskan, butuh kesadaran penuh melalui proses perenungan dan berpikir demi mencapai kehidupan yang lebih baik. Terlebih jika belum punya pasangan, butuh pencarian terlebih dulu juga untuk menemukan jodoh.

Ketika manusia merasa lelah dengan kehidupannya saat ini sebenarnya adalah hal yang wajar. Masalah silih berganti adalah konsekuensi dalam kehidupan. Dalam Al-Qur’an al karim, Allah Swt berfirman;

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ

) ١٥٥) ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ (١٥٦)

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun.”

Dalam menghadapi masalah islam menganjurkan pada pemeluknya untuk bersabar sambil mencari solusi. Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin mengutip penjelasan Ibnu Abbas ra. bahwa ada tiga bentuk sabar dalam Al-Qur’an; yaitu pertama adalah bersabar menjalankan kewajiban-kewajiban dari Allah Swt, sabar jenis ini memiliki (pahala) tiga ratus derajat. Yang kedua adalah bersabar ketika ditimpa musibah, sabar jenis ini mempunyai sembilan ratus derajat. Dan yang ketiga adalah bersabar dalam menjauhi larangan-larangan Allah Swt, sabar jenis ini mempunyai ganjaran enam ratus derajat.”

Begitulah kiranya yang harus dilakukan ketika ditimpa suatu permasalahan. Bersabar bukan lantas pasrah tanpa disertai tindakan, tetapi menerima apa yang sudah ditakdirkan dengan disertai usaha untuk terus menjadi lebih baik.

Jadi berusaha mencari solusi dan menghadapinya dengan penuh kesabaran adalah bentuk ikhtiar yang selayaknya dilakukan. Bukan malah lari dari masalah, selayaknya menikah bukan untuk pelarian dari satu masalah melainkan salah satu jalan menggapai ridho Allah Swt. Setelah menikah kita akan dihadapkan pada permasalahan-permasalahan lain yang menyangkut kehidupan bersama. Proses menua bersama tentu saja bukan hanya tentang kesenangan dan keromantisan uwuww tapi juga siap menghadapi perubahan semuanya, dari mulai perubahan biologis tubuh sendiri sampai perubahan menghadapi hidup bermasyarakat yang tak sedikit pasangan baru juga stress dibuatnya.

Tetapi hadapi saja karena Allah Swt memberikan suatu masalah juga disertai solusinya. Mengedepankan hubungan dalam ketersalingan antara laki-laki dan perempuan akan menjadi jalan untuk menghadapi semua permasalahan yang ada dalam kehidupan bersama.

Wallahu a’lam


Artikel ini juga dimuat dalam Islami.co 'Menikah Bukan Satu-satunya Jalan Merdeka dari Masalah'

Wrote by Umi Nurchayati


Selama ini Kampus tempat bersemayam para mahasiswa merupakan lingkungan akademik yang sudah didesain sedemikian rupa. Seperti sekolah, di setiap tahun ajaran baru kampus juga kedatangan mahasiswa baru. 

Mahasiswa baru lalu mengikuti pengenalan kampus dan melakukan penyesuaian baru dengan lingkungannya. Kampus agak berbeda dg sekolah, ia menyediakan banyak ruang ekspresi untuk mahasiswanya. Mari kita lihat ruang-ruang ekspresi itu, yang diantaranya adalah tersedianya banyak unit kegiatan mahasiswa. Dari mulai riset akademik, olahraga, politik, dan seni budaya semua ada. Melalui berbagai UKM dan organisasi intra kampus, mahasiswa dapat mengembangkan potensi dirinya sesuai hal yg diminati.

Jika kita lihat dari kacamata teori Maslow maka mahasiswa bisa dikatakan adalah golongan yangg sudah merdeka dalam hal pemenuhan kebutuhan pokoknya, seperti makan dan sandang. Walaupun tak makan mewah dan enak tapi setidaknya mahasiswa masih bisa memenuhi perut keroncongannya dengan nasi rames atau nasi kucing. Tak heran jika hidup mereka bisa dikatakan 'merdeka'. Dengan uang kiriman Ayah Ibu, secara badani mereka mampu memenuhi kebutuhan pokoknya, pun kebutuhan psikologinya juga baik, karena tumbuh tanpa intervensi dari luar. Mungkin tidak semua mahasiswa seperti ini tapi kebanyakan mahasiswa agaknya berasal dari latar belakang ini. Melihat kehidupan mahasiswa maka menjadi benar kiranya apa yang dikatakan Mashlow bahwa proses aktualisasi diri dapat dipenuhi setelah kebutuhan pokoknya terpenuhi, yang mana dalam hierarki bebutuhan (hierarchy of needs) Mashlow meletakan kebutuhan pangan dibawah kebutuhan aktualisasi diri. Maka tak heran jika mahasiswa mampu mengaktualisasikan diri dalam berbagai bentuk sebagai wahana eksresinya di ruang publik.

Dengan didorong banyaknya kegiatan, mahasiswa dapat terus mengasah potensinya, disini peran kampus menjadi penting untuk tetap menjaga kebebasan ekspresi itu karena hal itulah yg akan mengembangkan potensi potensi mahasiswanya. Intervensi kampus hanya akan membuat kreatifitas mahasiswa mengerdil. Kita sering mendengar kasus pembredelan pers kampus yang memperlihatlan bahwa kampus masih enggan dikritik. Kampus menjadi ambigu manakala mahasiswa dituntut kreatif sedang aktifitas kemahasiswaan selalu diawasi.

Dunia perpolitikan kampus memperlihatkan bahwa mahasiswa harus terus berkembang, sedang setelah berkembang justru diberi batasan, jadi bagaimana maunya?
Saat ini di era digital 4.0 mahasiswa selalu diarahkan untuk menjadi mandiri, menjadi wirausaha. Tapi herannya giliran mahasiswa hendak berjualan jajanan eceran di lobby lobby kampus malah dimusnahkan, katanya mengganggu kerapihan. Melihat hal itu kok rasanya kampus menjadi kontraproduktif. Seharusnya dalam kasus sederhana itu kampus dapat berpikir jernih misalnya dengan menyediakan rak-rak untuk menampung barang jualan mahaiswa itu atau yang lainnya.
itu hanya sedikit hal yang kita temui. Masih banyak perkara lainnya. Sekarang mahasiswa yang diarahkan untuk menjadi wirausaha itu apakah dapat benar-benar menjadi wirausaha nantinya.
Setelah lulus biasanya kebanyakan mahasiswa akan mengarahkan dirinya untuk mencari pekerjaan. Hal itu biasanya karena tuntutan kemandirian finansial. Setelah lulus mahasiswa atau freshgraduate ini tentu saja enggan meminta uang kiriman dari ayah ibu, selain malu dan gengsi juga karena memang tidak ada duit yg bisa diminta.

Melihat kondisi itu kini freshgraduate yg tadinya mantan aktivis kampus itu dalam hirarki kebutuhan Mashlow menjadi kembali di titik awal. Kini ia tak bisa mengaktualisasikan diri dulu sebelum dapat secara mandiri memenuhi kebutuhan yang lebih mendasar yaitu makan dan papan..
Maka tak heran jika kita melihat banyak mantan aktivis idealis kampus harus bekerja di perusahaan perusahaan yang dulu ditentangnya karena mengabaikan dana CSR dan ligkungan hidup.
Tak ada yang salah dengan pilihan freshgraduate itu, ia tak bisa dikatakan kehilangan idealismenya karena berada di ketiak perusahaan pemuja pasar. Murni hal itu hanya untuk dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. Setelah mendapatkan kebutuhan dasar itu bisa jadi ia akan kembali mengaktualisasikan dirinya. Mungkin dalam bentuk yang berbeda dari bentuk sebelumnya.
Idealisme bukannya harus menentang arus utama, tapi juga mampu membelokkan arus utama. Freshgraduate itu akan mengalami kulminasinya ketika ia memasuki dunia kerja, dunia yang sesungguhnya dan bukan lingkungan buatan seperti kampus. Di lingkungan kerja semua hal menjadi lepas tak ada desain dari rektor atau pimpinan karena semua bergerak murni untuk kebutuhannya masing-masing.

Dalam kondisi tersebut freshgraduate mantan aktivis itu dapat kembali bergumul dengan pikiran dan batinnya. Bahwa sikap idealisme penentang pasarnya tidak pernah salah, hanya tempatnya yang kini berbeda. Jika ingin maju dan merdeka ia harus mampu mengendalikan arus utama. Ia kini menyadari menentang arus utama adalah hal utopis yg tak mungkin dilakukan dengan kekuatan yang dimilikinya. Olah rasa, olah hati dan nurani yang kini mampu membawanya akan kemana, apakah akan terus merada dalam ketiak pemuja pasar atau merdeka dibawah ketiak itu dengan merasukan pikirannya kedalam otak pasar hingga mampu memberi pengaruh positif juga mengambil bagian akan kemana pasar itu.
Pilihan ada ditangan freshgraduate, hidup sejatinya adalah berjuang. Menjadi merdeka adalah bentuk masyarakat yg baik secara pikiran dan tindakan begitu kata Mashlow.[].


Wrote by Umi Nurchayati
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Wikipedia

Hasil penelusuran

Halaman

  • Beranda
  • Motivasi
  • KOLOM
  • PUISI
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips & Trik
  • Who Am I

Jejak

  • ▼  2024 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
  • ►  2023 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2022 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2020 (11)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (13)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (18)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2015 (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2013 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Februari (1)

Instagram

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Popular Posts

  • Rahasia Para Pendo’a
      Sejak kecil anak-anak selalu diajarkan berbagai macam doa, mulai dari doa bangun tidur, mau makan, selesai makan,masuk/keluar kamar mandi,...
  • Menyikapi Budaya Konsumtif Secara Bijak Dari Lagu Efek Rumah Kaca
    'Atas bujukan setan Hasrat yang dijebak zaman Kita belanja terus sampai mati' Mendengar bait lirik lagu Efek Rumah Kaca (ERK...
  • Mengenal Islamisme dan Tantangannya Bagi Kehidupan Bernegara
    Dewasa ini kehidupan berdemokrasi bangsa kita tengah mengalami berbagai terpaan badai. Tanpa disadari dalam empat tahun terakhir ini isu ide...
  • Bersyi'ar dengan Cinta ala Mbah Kakung dan Mbah Putri
    Setelah beberapa hari lalu mbah terakhir saya, Mbah Putri dari pihak Bapak kapundhut dhateng Gusti Allah, saya jadi ingat Mbah Kakung juga ...
  • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
      dok. pribadi Judul: Crime and Punishment ; Penulis: Fyodor Dostoevsky ; Penerbit: Wordsworth Classics ; Penerjemah dalam B. Inggris: C...
  • Substansi Makna Menutup Aurat dan Berjilbab Menurut Syekh Ash-Shobuni
      Polemik tentang jilbab dan aurat wanita memang tak ada habisnya. Di kala negara-negara lain sudah sibuk berdebat tentang teknologi nano da...
  • Budaya Idul Fitri di Temanggung yang Begitu Asyik
      Tulisan ini sudah ditulis sejak 2019 lalu, namun mengingat kondisi saat ini di tengah iklim persatuan yang sedang diuji, krisis yang memba...

Draft

  • coretan unc
  • Motivasi
  • Opini
  • Puisi
  • sebuah perjalanan
  • stories / notes
  • Tips & Trik

Mengenai Saya

Foto saya
Umi Nurchayati
Blog pribadi Umi Nurchayati @uminurchayatii | uminurchayatiii@gmail.com | "Dalam samudra luas, riak saja bukan"
Lihat profil lengkapku

Copyright © 2019 Bangun Pagi-pagi. Designed by OddThemes & Blogger Templates