• Beranda
  • Motivasi
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Opini
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Puisi
    • Langgam Cinta
    • Pertemuan Bahagia dan Sedih
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips - Trik
  • Who Am I

Bangun Pagi-pagi


Dok: Komplek Q

Esok itu Yana pergi bersama teman-temannya, kepergian mereka bukan untuk jalan-jalan biasa. Mereka menyusuri sudut kota untuk membagikan sembako pada fakir miskin dan dhuafa.

Keadaan ekonomi yang sulit membuat Yana dan teman-temannya sangat prihatin, mereka melihat banyak orang kelaparan karena kehilangan pekerjaan. Akhirnya Yana dan teman-temannya berinisiatif untuk melakukan penggalangan dana. Setelah 15 hari lebih akhirnya uang yang terkumpul cukup rumayan. Uang dari penggalangan dana itu mereka belikan sembako untuk diberikan santunan kepada fakir miskin demi menyambut lebaran tahun ini.

Akhirnya misi mulia ini akan ditunaikan, mereka menaiki mobil Anton, teman sekelas Yana semasa kuliah. Yana dan teman-teman rombongannya dengan penuh suka cita mrngantarkan bingkisan-bingkisan sembako itu. Mereka menemui penjual bensin pinggir jalan, tukang parkir, tukang bersih-bersih dll.

Yana dan teman-temannya sangat senang akhirnya bisa berbagi, bisa turut berkontribusi menghadapi covid-19 dengan segala dampak yang ditimbulkannya. Akhirnya waktu semakin sore, menjelang ashar mereka singgah di sebuah masjid untuk sholat ashar. Seharian bagi-bagi sembako disaat berpuasa sungguh mengoras tenaga.

Yana ke kamar mandi untuk berwudhu tapi ia mendapati dirinya ternyata haid, sungguh sedih sekali hati Yana, sudah menjelang berbuka malah batal puasanya.
Adzan berkumandang mereka berbuka di sebuah tempat makan yang masih dibuka namun hanya bisa take away. "Wuhh seger".. ucap Anton membawa 3 jus buah.
"Ehh Yana kan nggak puasa. Kamu mau yan," timpal Joko.
"Yana udah batal ding"
"Ya iyalah nggak perlu buka udah batal" 

Akhirnya Yana tidak dikasih jusnya karena memang hanya beli 3 sementara ada 4 orang dalam mobil. Yana hanya bisa menahan haus dan melihat teman-temannya minum jus yang segar. Walaupun tidak sampai maghrib puasanya tapi Yana sudah puasa sampai jam 4 sore, apalagi Yana juga tidak sempat sahur hanya minum segelas air putih karena keburu adzan subuh berkumandang. Kalau kalian jadi Yana apa yg ingin teman- teman katakan?
***


Mendengar ucapan Anton dan Joko Yana seketika terdiam, kaget dan tak menyangka. Bisa-bisanya Joko dan Anton bertingkah seperti itu.
Berbagai terkaan berkecamuk di benak Yana, "wuih itu namanya diskriminasi kalau kyak gitu, yang tidak puasa harusnya menghormati yang puasa dan yang puasa juga menghormati yang tidak puasa," ucap Yana sambil menahan emosi, begitu tak kuatnya ia memendam perasaan pahit yang baru saja dialaminya. Akhirnya hanya kata-kata itu yang terucap dan ia langsung diam tak mau lagi menerangkan panjang lebar karena akan semakin menyulut emosinya .

Dalam benaknya ia hanya bisa merangkai gagasan dan terkaan-terkaan, "kok bisa-bisanya orang yang selama ini ia kenal baik agamanya, baik puasanya, dan baik juga orangnya bisa berucap seperti itu," batin yana.  Hati Yana amat sakit mendengarnya, sebagai seorang muslim Yana juga sangat ingin dapat berpuasa sampai maghrib dan berbuka bersama-sama. Tapi apa boleh buat, bagaimanapun Yana adalah seorang wanita, yang harus mengalami menstruasi, sebuah kondisi biologis yang secara otomatis akan menimpa wanita yang sudah akil baligh, suatu kejadian yang sudah ditetapkan Allah (sunatullah).

Yana tidak bisa memilih untuk dilahirkan sebagai perempuan atau laki-laki karena yang menentukan semua itu hanya Allah semata. Sejak alam kandungan Allah sudah menentukan perbedaan itu, apakah ia akan dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan. Yana dan manusia-manusia lain tidak bisa memilih itu. Yana hanya meyakini apapun yang sudah ditentukan Tuhan pastilah yang terbaik, Tuhan itu pasti adil dengan segala yang diciptakan-Nya, begitulah Yana meyakini. Perbedaan yang sudah ditentukan Allah pastilah adil, hanya manusia saja yang sering membuatnya menjadi tidak adil.

Seperti yang baru saja ia alami, kalau boleh memilih Yana juga ingin tidak haid dan melanjutkan puasanya sampai genap.

Sebenarnya Yana juga tidak mengharap untuk dibelikan jus, toh ia bisa membelinya sendiri. Tapi ini berbeda, Yana merasa bahwa seharusnya Joko dan Anton tidak bicara seperti itu mengingat batalnya puasa Yana juga bukan hal yg disengaja. Peristiwa batal puasanya adalah takdir yang sudah dikehendaki Tuhan, Harusnya sebagai laki-laki yang sregep sholat ngajinya, Anton dan Joko paham itu, pikir Yana.
***

Mungkin ini adalah perkara yang klise dan remeh temeh bagi Joko dan Anton. Yana diberhentikan di sebuah caffe dan disuruh turun beli minum.. uhh Yana makin kesal, temannya tak kunjung mengerti kalau bukan masalah haus dan dahaga lagi yng dirasakan Yana. Ini adalah perkara lain yang rupanya masih banyak orang tidak menyadarinya.

Ya bagaimana lagi, sebagai anak kandung patriarki kemampuan kita mengkotak-kotakkan pekerjaan dan kegiatan, serta kejadian berdasar jenis kelamin memang sudah terasah. Ketika masak-masak bareng cuci piring adalah tugas perempuan, nggangkat galon adalah tugas laki-laki. Padahal perempuan juga biasa ngangkat galon. Di banyak institusi keagamaan praktik-praktik bias gender amat sering terjadi. Padahal pekerjaan tak punya jenis kelamin, manusialah yang menentukan suatu pekerjaan dilakukan oleh laki-laki atau perempuan.

Laki-laki dan perempuan adalah sama-sama makhluk ciptaan Tuhan, yang mempunyai keunikannya sendiri-sendiri, yang juga sama-sama diberi akal dan kemampuan. Kebetulan Allah menghendaki wanita untuk menstruasi, nengandung, melahirkan, nifas dll, sedangkan laki-laki tidak. Pengalaman biologis laki-laki lebih sedikit dibanding perempuan. Oleh sebab itu hukum fikih syariah juga berbeda dalam menentukan hukum antara laki-laki dan perempuan.

Wanita boleh tidak berpuasa ketika menyusui karena dikhawatirkan anaknya akan kekurangan ASI ketika ibunya terus menahan haus dan lapar. Sedangkan laki-laki dibebankan tanggung jawab lebih dalam hal pemenuhan nafkah untuk keluarga, disini laki-laki adalah yang utama tapi bukan berarti wanita juga tidak boleh bekerja. Maksud seorang suami dibebankan menjadi yang utama dalam hal nafkah keluarga adalah karena ia tidak menanggung melahirkan dan menyusui, bukan karena posisi laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, karena posisi suami dan isri dalam rumah tangga adalah sejajar untuk saling melengkapi dan bekerja sama.

Memahami hubungan antara laki-laki dan perempuan ini amat penting karena menentukan kehidupan antara keduanya. Sehingga kacamata keadilan harus benar-benar dipakai, adil bukan perkara sama rata tapi perkara kesesuaian. Semua yang sudah ditakdirkan Allah itu pasti adil (العدل), sekarang tugas manusia yang harus semaksimal mungkin bersikap adil dengan memerhatikan tanda-tanda keadilan yang sudah ditetapkan Allah Swt.

Rupanya dalam tahap ini kita akan melihat kesholehan secara ibadah/ritual tidak akan menjamin seseorang berbuat adil, hanya orang yang sudah mencapai 'ihsan' yang bisa tahu mana yang lebih baik untuk ini dan itu.

Ihsan adalah puncak dari akhlak manusia, orang yang 'ihsan' pasti juga sholeh secara syariat. Islam memang agama akhlak, membentuk manusia menjadi berakhlakul karimah adalah tujuan islam, sedang ibadah ritual sepert sholat, puasa dll adalah bentuk patuh terhadap sang Pencipta. Dengan menjalankan ritual itu manusia berharap kepada Allah agar hidupnya dituntun, diridhoi dan ditujukkan jalan yang benar dalam proses menuju 'insan kamil', menjadi umat terbaik yang tahu mana yg baik dan mana yang buruk, bagaimana seharusnya bersikap terhadap sesama manusia, antara laki-laki dan perempuan bahwa hubungan keduanya adalah ketersalingan.

Wallahu a'lam
Wrote by Umi Nurchayati

 



Kamu lagi pusing ya..?

"Yaudah nikah aja"
Begitu tiba-tiba seseorang menjawabnya setelah kamu menceritakan problematika hidupmu.


Pasti banyak dari kita yang mendapatkan jawaban ini setelah menceritakan kejlimetan hidup bukan. Jawaban 'nikah' seolah-olah menjadi penyelesaian akhir dari sebuah perkara. Tapi apakah benar begitu adanya?

Memasuki usia dewasa, semakin banyak kita menyaksikan teman-teman, sahabat, rekan kerja dan saudara menyebar undangan pernikahan. Terlebih di bulan Syawal saat ini, mungkin saat ini timeline instagram, facebook, twitter, bahkan sampai story whatsapp mu sudah penuh dengan ucapan-ucapan selamat atas pernikahan teman.

Tentu saja menikah adalah ibadah yang baik, salah satu sunnah yang dibawa Rasul untuk menjaga umatnya. Tapi selayaknya sebagai ibadah juga harus disertai niat dan jalan yang baik bukan. Lantas bagaimana jika keputusan menikah diambil saat dirundung keputus asaan dengan kehidupan saat ini.

Pernikahan adalah salah satu hal yang mengikat hubungan manusia laki-laki dan perempuan di dunia sampai akhirat kelak. Islam menyebutnya sebagai mitsaqon gholizhon atau perjanjian kokoh sebagai amanah dari Allah Swt dan dihayati sepanjang kehidupannya. Jadi tentu saja pernikahan bukan hal yang begitu saja diputuskan, butuh kesadaran penuh melalui proses perenungan dan berpikir demi mencapai kehidupan yang lebih baik. Terlebih jika belum punya pasangan, butuh pencarian terlebih dulu juga untuk menemukan jodoh.

Ketika manusia merasa lelah dengan kehidupannya saat ini sebenarnya adalah hal yang wajar. Masalah silih berganti adalah konsekuensi dalam kehidupan. Dalam Al-Qur’an al karim, Allah Swt berfirman;

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ

) ١٥٥) ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ (١٥٦)

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun.”

Dalam menghadapi masalah islam menganjurkan pada pemeluknya untuk bersabar sambil mencari solusi. Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin mengutip penjelasan Ibnu Abbas ra. bahwa ada tiga bentuk sabar dalam Al-Qur’an; yaitu pertama adalah bersabar menjalankan kewajiban-kewajiban dari Allah Swt, sabar jenis ini memiliki (pahala) tiga ratus derajat. Yang kedua adalah bersabar ketika ditimpa musibah, sabar jenis ini mempunyai sembilan ratus derajat. Dan yang ketiga adalah bersabar dalam menjauhi larangan-larangan Allah Swt, sabar jenis ini mempunyai ganjaran enam ratus derajat.”

Begitulah kiranya yang harus dilakukan ketika ditimpa suatu permasalahan. Bersabar bukan lantas pasrah tanpa disertai tindakan, tetapi menerima apa yang sudah ditakdirkan dengan disertai usaha untuk terus menjadi lebih baik.

Jadi berusaha mencari solusi dan menghadapinya dengan penuh kesabaran adalah bentuk ikhtiar yang selayaknya dilakukan. Bukan malah lari dari masalah, selayaknya menikah bukan untuk pelarian dari satu masalah melainkan salah satu jalan menggapai ridho Allah Swt. Setelah menikah kita akan dihadapkan pada permasalahan-permasalahan lain yang menyangkut kehidupan bersama. Proses menua bersama tentu saja bukan hanya tentang kesenangan dan keromantisan uwuww tapi juga siap menghadapi perubahan semuanya, dari mulai perubahan biologis tubuh sendiri sampai perubahan menghadapi hidup bermasyarakat yang tak sedikit pasangan baru juga stress dibuatnya.

Tetapi hadapi saja karena Allah Swt memberikan suatu masalah juga disertai solusinya. Mengedepankan hubungan dalam ketersalingan antara laki-laki dan perempuan akan menjadi jalan untuk menghadapi semua permasalahan yang ada dalam kehidupan bersama.

Wallahu a’lam


Artikel ini juga dimuat dalam Islami.co 'Menikah Bukan Satu-satunya Jalan Merdeka dari Masalah'

Wrote by Umi Nurchayati


Selama ini Kampus tempat bersemayam para mahasiswa merupakan lingkungan akademik yang sudah didesain sedemikian rupa. Seperti sekolah, di setiap tahun ajaran baru kampus juga kedatangan mahasiswa baru. 

Mahasiswa baru lalu mengikuti pengenalan kampus dan melakukan penyesuaian baru dengan lingkungannya. Kampus agak berbeda dg sekolah, ia menyediakan banyak ruang ekspresi untuk mahasiswanya. Mari kita lihat ruang-ruang ekspresi itu, yang diantaranya adalah tersedianya banyak unit kegiatan mahasiswa. Dari mulai riset akademik, olahraga, politik, dan seni budaya semua ada. Melalui berbagai UKM dan organisasi intra kampus, mahasiswa dapat mengembangkan potensi dirinya sesuai hal yg diminati.

Jika kita lihat dari kacamata teori Maslow maka mahasiswa bisa dikatakan adalah golongan yangg sudah merdeka dalam hal pemenuhan kebutuhan pokoknya, seperti makan dan sandang. Walaupun tak makan mewah dan enak tapi setidaknya mahasiswa masih bisa memenuhi perut keroncongannya dengan nasi rames atau nasi kucing. Tak heran jika hidup mereka bisa dikatakan 'merdeka'. Dengan uang kiriman Ayah Ibu, secara badani mereka mampu memenuhi kebutuhan pokoknya, pun kebutuhan psikologinya juga baik, karena tumbuh tanpa intervensi dari luar. Mungkin tidak semua mahasiswa seperti ini tapi kebanyakan mahasiswa agaknya berasal dari latar belakang ini. Melihat kehidupan mahasiswa maka menjadi benar kiranya apa yang dikatakan Mashlow bahwa proses aktualisasi diri dapat dipenuhi setelah kebutuhan pokoknya terpenuhi, yang mana dalam hierarki bebutuhan (hierarchy of needs) Mashlow meletakan kebutuhan pangan dibawah kebutuhan aktualisasi diri. Maka tak heran jika mahasiswa mampu mengaktualisasikan diri dalam berbagai bentuk sebagai wahana eksresinya di ruang publik.

Dengan didorong banyaknya kegiatan, mahasiswa dapat terus mengasah potensinya, disini peran kampus menjadi penting untuk tetap menjaga kebebasan ekspresi itu karena hal itulah yg akan mengembangkan potensi potensi mahasiswanya. Intervensi kampus hanya akan membuat kreatifitas mahasiswa mengerdil. Kita sering mendengar kasus pembredelan pers kampus yang memperlihatlan bahwa kampus masih enggan dikritik. Kampus menjadi ambigu manakala mahasiswa dituntut kreatif sedang aktifitas kemahasiswaan selalu diawasi.

Dunia perpolitikan kampus memperlihatkan bahwa mahasiswa harus terus berkembang, sedang setelah berkembang justru diberi batasan, jadi bagaimana maunya?
Saat ini di era digital 4.0 mahasiswa selalu diarahkan untuk menjadi mandiri, menjadi wirausaha. Tapi herannya giliran mahasiswa hendak berjualan jajanan eceran di lobby lobby kampus malah dimusnahkan, katanya mengganggu kerapihan. Melihat hal itu kok rasanya kampus menjadi kontraproduktif. Seharusnya dalam kasus sederhana itu kampus dapat berpikir jernih misalnya dengan menyediakan rak-rak untuk menampung barang jualan mahaiswa itu atau yang lainnya.
itu hanya sedikit hal yang kita temui. Masih banyak perkara lainnya. Sekarang mahasiswa yang diarahkan untuk menjadi wirausaha itu apakah dapat benar-benar menjadi wirausaha nantinya.
Setelah lulus biasanya kebanyakan mahasiswa akan mengarahkan dirinya untuk mencari pekerjaan. Hal itu biasanya karena tuntutan kemandirian finansial. Setelah lulus mahasiswa atau freshgraduate ini tentu saja enggan meminta uang kiriman dari ayah ibu, selain malu dan gengsi juga karena memang tidak ada duit yg bisa diminta.

Melihat kondisi itu kini freshgraduate yg tadinya mantan aktivis kampus itu dalam hirarki kebutuhan Mashlow menjadi kembali di titik awal. Kini ia tak bisa mengaktualisasikan diri dulu sebelum dapat secara mandiri memenuhi kebutuhan yang lebih mendasar yaitu makan dan papan..
Maka tak heran jika kita melihat banyak mantan aktivis idealis kampus harus bekerja di perusahaan perusahaan yang dulu ditentangnya karena mengabaikan dana CSR dan ligkungan hidup.
Tak ada yang salah dengan pilihan freshgraduate itu, ia tak bisa dikatakan kehilangan idealismenya karena berada di ketiak perusahaan pemuja pasar. Murni hal itu hanya untuk dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. Setelah mendapatkan kebutuhan dasar itu bisa jadi ia akan kembali mengaktualisasikan dirinya. Mungkin dalam bentuk yang berbeda dari bentuk sebelumnya.
Idealisme bukannya harus menentang arus utama, tapi juga mampu membelokkan arus utama. Freshgraduate itu akan mengalami kulminasinya ketika ia memasuki dunia kerja, dunia yang sesungguhnya dan bukan lingkungan buatan seperti kampus. Di lingkungan kerja semua hal menjadi lepas tak ada desain dari rektor atau pimpinan karena semua bergerak murni untuk kebutuhannya masing-masing.

Dalam kondisi tersebut freshgraduate mantan aktivis itu dapat kembali bergumul dengan pikiran dan batinnya. Bahwa sikap idealisme penentang pasarnya tidak pernah salah, hanya tempatnya yang kini berbeda. Jika ingin maju dan merdeka ia harus mampu mengendalikan arus utama. Ia kini menyadari menentang arus utama adalah hal utopis yg tak mungkin dilakukan dengan kekuatan yang dimilikinya. Olah rasa, olah hati dan nurani yang kini mampu membawanya akan kemana, apakah akan terus merada dalam ketiak pemuja pasar atau merdeka dibawah ketiak itu dengan merasukan pikirannya kedalam otak pasar hingga mampu memberi pengaruh positif juga mengambil bagian akan kemana pasar itu.
Pilihan ada ditangan freshgraduate, hidup sejatinya adalah berjuang. Menjadi merdeka adalah bentuk masyarakat yg baik secara pikiran dan tindakan begitu kata Mashlow.[].


Wrote by Umi Nurchayati


[MUTIARA HIKMAH] Dalam menjalani kehidupannya di dunia, manusia sering kali dihadapkan pada berbagai persoalan, entah itu menyangkut persoalan yang berhubungan dengan dirinya sendiri, keluarga atau lingkungan sekitarnya. Sehingga kita acap kali bingung dalam memutuskan suatu perkara. Terkadang Kita dihadapkan pada keharusan menfokuskan suatu pekerjaan demi mencapai tujuan, tetapi terkadang juga dihadapkan pada  keharusan  memutuskan berbagai perkara dengan cepat. Apalagi di jaman serba cepat seperti sekarang ini, arus informasi yang kian kencang juga telah memengaruhi gaya hidup dalam memutuskan berbagai hal. 

Ketika membuat suatu keputusan, setiap orang akan dipengaruhi oleh berbagai latar belakang yang membentuknya. Sehingga pengetahuan akan sangat memengaruhi keputusan yang dipilih. Berbagai hal yang harus diputuskan misalnya terkait keputusan dalam menentukan tindakan ekonomi. Selain tingkat pendidikan yang akan turut memengaruhi, lingkungan juga akan memainkan peran penting.

Orang yang tinggal di desa dan di kota juga akan berbeda dalam mengelola pendapatan ekonominya. Ibu rumah tangga yang tinggal di kota mungkin akan mengalokasikan dananya untuk membayar cicilan, investasi, bayar air dan kebersihan, serta membayar sekolah anak-anaknya dll. Namun bagi ibu rumah tangga yang tinggal di desa dia tidak perlu mengalokasikan dana utuk membayar air dan kebersihan karena biasanya di lingkungan pedesaan air tidak perlu membayar, masih banyak mata air memancar dll, tetapi biasanya ibu rumah tangga di pedesaan justru memerlukan alokasi dana untuk keperluan sosial yang  tidak sedikit, gotong royong kebersihan desa, iuran RT, dll adalah dana yang wajib dikeluarkan masyarakat desa. Itulah sedikit keputusan yang memengaruhi perilaku ekonomi masyarakat perkotaan dan pedesaan.

Hal-hal menyangkut keputusan setiap orang akan berbeda-beda memang, seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa hal tersebut tak lepas dari latar belakang, pendidikan, pengetahuan, ekonomi, lingkungan sosial dan politik yang melingkupinya. Hingga akan menjadi  baik jika kita dapat memutuskan suatu perkara dengan melihat mana yang lebih baik, baik untuk siapa dan mana yang untama dan melihat apakah hal itu hanya utama untuk dirinya sendiri atau juga untuk orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai yang ‘ashlah dan afdhol’. Menurut bahasa ashlah artinya lebih baik sedangkan afdhol ialah lebih utama. Sebagai seorang hamba kita tidak bisa memutuskan bahwa yang kita minta pada Allah swt akan terkabul. Karena hak mengabulkan adalah otoritas Sang pencipta. Allah berfirman dalam Q.S Al-Baqarah ayat 216:

كتب عليكم ا القتا ل وهو كرهلكم وعس ان تكرهوا شيأ و هو خيرلكم وعسى أن تحبوا شيأ وهوشرلكم والله يعلم وأنتم لاتعلمون
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tiak.”

Sebagai seorang hamba kita boleh meminta apapun kepada Ilahi Rabbi namun sekali lagi hanya Allah yang akan memutuskan apakah doa kita akan dikabulkan atau tidak. Walaupun sudah beribadah dan berusaha terus menerus, tetap saja kita tidak bisa memaksakan doa yang kita panjatkan akan terkabul. Karena sesungguhnya hanya Ridho Allah yang akhirnya membuat doa menjadi terkabul.

Setelah berusaha, berikhtiar secara maksimal kita diperintahkan untuk berdoa, menyerahkanya kepada Yang Maha Tahu. Namun disamping itu kita tetap harus berdoa dan berkhusnudhon kepada Allah swt. Menjadi penting adalah selalu menjaga khusnudhon kepada Allah swt hingga akhirnya keputusan-keputusan yang kita ambil adalah atas petunjuk dari Allah swt.karena hanya Allah yang mengetahui mana yang lebih baik (Ashlah) untuk makhluknya.

Seperti halnya seorang dokter, ia akan memilihkan mana yang lebih baik untuk pasiennya karena tugas dokter adalah untuk memberikan keselamatan bukan untuk memuliakan pasien. Seorang dokter akhirnya akan memilihkan makanan yang lebih baik untuk pasiennya bukan yang asal enak. Bisa jadi dokter tersebut akan memberikan pasien makanan yang pahit namun memberikan dampak yang menyembuhkan bagi pasien,  hal itu semata-mata demi keselamatan sang pasien.

Kasus lain adalah bahwa sholat adalah yang lebih utama (afdhol) daripada tidur. Kita mendengar setiap hari pada kumandang adzan subuh “ sholat lebih baik dari pada tidur”.

Sholat adalah hal yang utama daripada tidur. Sholat malam khususnya memiliki banyak fadhilah bagi kehidupan kita baik di dunia maupun di akhirat. Namun hal itu dapat menjadi perkara lain bagi orang yang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Misalnya karena bekeja keras demi menghidupi keluarga, sehingga jika kurang tidur dapat mengganggu pekerjaan dan ibadah yang lain, maka lebih baik orang tersebut memilih  tidur. Walaupun jelas sholat tetap lebih utama (Afdhol).

Kita dapat menimbang dan memperhitungkan sendiri mana yang lebih utama dan lebih baik untuk dilakukan. Kiranya yang lebih baik akan kita utamakan. Dalam kitab Minhajul Abidin karangan Ulama besar Imam Al Ghazali mengemukakan tentang prinsip yang harus kita pegang, yaitu bahwa tidak mustahil barang yang baik itu juga disertai utama maka mintalah pada Allah swt untuk diberi keutamaan disertai kebaikan.

Seringkali seorang hamba mengerti yang utama tetapi tidak mengerti yang lebih baik, karena hanya Allah swt yang mengerti mana yang lebih baik (ashlah). Dengan melihat kebesaran Allah dan firman-firman-Nya  maka kita menjadi tahu bahwa sebagai makhluk wajib berusaha terus menerus dan berdoa memohon petunjuk tanpa mengenal lelah. Sehingga sebagai seorang muslim, dibalik kepasrahannya karena menerima dan Ridho akan takdir Ilahi, juga tertindak langkah demi langkah berupa usaha dan doa hingga itulah langkah yang akan dilalui untuk menuju  tawakkal. Sehingga perilaku berputus asa dan lari dari tanggung jawab tidak mencerminkan sebagai seorang muslim yang baik.

Akhirnya jika menginginkan yang utama (afdhol) maka minntalah kebaikan (ashlah). Dengan begitu kita akan mendapatkan keduanya.[]
Wallahualam..
Wrote by Umi Nurchayati

dok: penulis
Memasuki revolusi industri 4.0 dunia menjadi semakin kompleks dengan segala kesibukannya. Peran teknologi semakin nyata membentuk perilaku manusia. Internet menjadi bagian dari kehidupan keseharian, meminjam istilah ‘internet of things’ kini semua komputer dan smartphone telah saling tersambung satu sama lain sehingga suatu pekerjaan dapat dilakukan dengan mudah, cepat dan efisien. Seperti teknologi sensor untuk memantau aktifitas pekerja di pabrik sampai pegembangan artificial intelligence untuk memantau kebutuhan-kebutuhan kita, sehingga jangan kaget jika sedang asik berselancar di dunia maya lalu lewatlah iklan fashion yang rupanya juga sedang kita cari. 

Fenomena tersebut menggambarkan bahwa dunia semakin dituntut pada akses kecepatannya, terutama kecepatan informasi. Kini dengan sangat mudahnya suatu peristiwa di tempat A langsung bisa diketahui di tempat B dalam hanya hitungan detik. Begitu pula dalam informasi yang bersifat keilmuan seperti akademik dan ilmu agama. Kini pencarian informasi dan belajar di internet adalah jalan yang paling mudah dan murah. Seorang tak perlu kuliah jurnalisme untuk menjadi jurnalis, untuk eksis membahas politik juga tak perlu kuliah ilmu politik serta untuk dikatakan ustadz juga tak harus nyantri berlama-lama di pondok pesantren atau di institusi islam. Ya, itu semua berkat teknologi internet sehingga informasi apapun dapat dipelajari sendiri secara mandiri dan masif.

Tom Nichols dalam bukunya ‘The Death of Expertise’ (2017) mengungkap suatu fenomena mendesak tentang para ahli yang mulai kehilangan otoritasnya akibat peredaran informasi yang sangat banyak dan begitu cepat, internet tak lagi menjadi sarana demokrasi tetapi justru membutakan orang karena sebagian besar manusia semakin malas membaca, mencari dan mengkonfirmasi sebuah informasi yang didapatkan. Hal ini menjadi celah banyaknya berita bohong (fake news) untuk turut menyerang dan semakin memperkeruh keadaan.

Dalam dunia keilmuan keagamaan fenomena ini banyak digunakan untuk menyerang otoritas ulama, ustadz atau da’i. Beberapa orang hanya belajar dari internet tentang ilmu agama kemudian merasa sudah cukup ilmu sehingga berani berceramah. Tentu saja hal ini sangat berbahaya, karena tanpa keilmuan yang cukup dan matang seorang penceramah justru dapat menyesatkan atau membawa pada pemahaman yang keliru pada para jamaahnya dalam memahami agama. Hal ini menjadi tantangan bagi pegiat pesantren dan santri pada khususnya.

Selama ini Pesantren memang tak hanya sebagai lembaga keagamaan, pesantren terbukti telah menjadi kekuatan utama dalam mengusir penjajahan dari bumi pertiwi dan menghapus praktik kolonialisme, sehingga mengantarkan pada kemerdekaan bangsa. Namun kini pesantren kembali dihadapkan pada peran seperti itu lagi, tetapi dengan bentuk yang berbeda. Jika dahulu suatu bentuk penindasan dan penjajahan begitu terlihat nyata karena berwujud fisik, maka kini kolonialisme tersebut jika boleh dikata telah berubah bentuk menjadi informasi yang begitu banyak dan tidak terbendung. Seperti dikatakan Nichols bahwa informasi yang begitu banyak akan membuat manusia semakin bingung dan menjadikan ia lebih menyukai informasi yang ingin didengarnya saja sehingga menimbulkan sikap apatis dan tertutupnya sikap open minded. Maka penyebaran informasi yang benar amat penting untuk membendung bahaya-bahaya tersebut.

Namun seperti yang saya ingat, seorang Guru kita, ustadz Ja’far pernah mengatakan dalam Madrasah Diniyah kelas Khomis bahwa sebelum kita berbicara atau menyampaikan suatu ilmu, kita dituntut untuk mengetahui ilmunya. Hingga penyampaian ilmu tidak bisa dilakuan setengah-setengah tetapi menyeluruh dan utuh. Hal seperti itulah yang terkadang membuat santri yang sudah mondok bertahun-tahun pun kadang belum berani untuk tampil sebagai pendakwah, apalagi dunia pesantren juga telah menumbuhkan budaya Tawadlu yang kental. Tetapi hal seperti itu tidak berlaku untuk semua santri, banyak juga santri yang menjadi pendakwah seletah selesai mondok.

Sehingga yang perlu digaris bawahi sekarang adalah bukan perkara santri yang juga harus jadi pendakwah namun substansi dari dak’wah itu sendiri. kita mengingat pelajaran di Madrasah Diniyah bahwa ada beberapa macam dakwah yang dapat dilakukan yaitu dengan bil lisan (seruan) , bil hal (perbuatan), dan bil kalam (tulisan). Saya tidak hendak menguraikan satu persatu karena akan panjang nantinya.
Kembali lagi, dengan arus informasi yang sangat cepat tersebut menjadi refleksi para santri untuk cepat pula harus belajar dan belajar (tholabul ilmi). Tugas santri memang pada dasarnya adalah belajar. Hingga menyemai kembali kebudayaan yang adiluhung dalam islam yaitu belajar tersebut perlu selalu ditingkatkan untuk bekal ketika sudah keluar dari pesantren.

Santri juga harus mampu melihat realita dan fenomena, dimana ia harus mampu mengamati hingga bisa membaur namun tak melebur, artinya santri juga harus mampu membaur di segala segmen masyarakat sambil memegang erat nilai-nilai kesantrianya. Dengan begitu ia tak akan larut dalam fenomena namun bagaimana ia mampu bersyiar di tengah fenomena.

Hingga tak perlu lah kita terlalu kaku menilai model beribadah seseorang, bukan dengan mendikte itu salah atau benar namun bagaimana kita menyampaikan secara perlahan dan damai akan nilai-nlai yang kita anut, baik dengan seruan damai, melalui perbuatan atau tulisan. Sikap open minded untuk belajar dari berbagai penjuru, golongan dan sektor akan menjadikan santri lebih luas menjangkau area syiar nya.
Dengan hadirnya santri di berbagai sektor, baik pendidikan, ekonomi dan budaya tersebut diharapkan dapat membendung arus radikalisme dan intoleansi dan menyebarkan pada pemahaman Islam rahmatan lil alamin sesuai paham Ahlussunah al jama’ah untuk masyarakat luas, terlebih muslim kelas menengah perkotaan yang berjumlah cukup banyak. Sehingga kehausan sentuhan agama di tengah masyarakat urban dapat terobati pada jalan yang semestinya, dimana mayoritas islam yang berkembang di Indonesia adalah Islam yang moderat, islam yang wasatha dan mengantarkan pada masyarakat madani (civil society)[]



Wrote by Umi Nurchayati
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Wikipedia

Hasil penelusuran

Halaman

  • Beranda
  • Motivasi
  • KOLOM
  • PUISI
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips & Trik
  • Who Am I

Jejak

  • ▼  2024 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
  • ►  2023 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2022 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2020 (11)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (13)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (18)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2015 (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2013 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Februari (1)

Instagram

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Popular Posts

  • Rahasia Para Pendo’a
      Sejak kecil anak-anak selalu diajarkan berbagai macam doa, mulai dari doa bangun tidur, mau makan, selesai makan,masuk/keluar kamar mandi,...
  • Menyikapi Budaya Konsumtif Secara Bijak Dari Lagu Efek Rumah Kaca
    'Atas bujukan setan Hasrat yang dijebak zaman Kita belanja terus sampai mati' Mendengar bait lirik lagu Efek Rumah Kaca (ERK...
  • Mengenal Islamisme dan Tantangannya Bagi Kehidupan Bernegara
    Dewasa ini kehidupan berdemokrasi bangsa kita tengah mengalami berbagai terpaan badai. Tanpa disadari dalam empat tahun terakhir ini isu ide...
  • Bersyi'ar dengan Cinta ala Mbah Kakung dan Mbah Putri
    Setelah beberapa hari lalu mbah terakhir saya, Mbah Putri dari pihak Bapak kapundhut dhateng Gusti Allah, saya jadi ingat Mbah Kakung juga ...
  • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
      dok. pribadi Judul: Crime and Punishment ; Penulis: Fyodor Dostoevsky ; Penerbit: Wordsworth Classics ; Penerjemah dalam B. Inggris: C...
  • Substansi Makna Menutup Aurat dan Berjilbab Menurut Syekh Ash-Shobuni
      Polemik tentang jilbab dan aurat wanita memang tak ada habisnya. Di kala negara-negara lain sudah sibuk berdebat tentang teknologi nano da...
  • Budaya Idul Fitri di Temanggung yang Begitu Asyik
      Tulisan ini sudah ditulis sejak 2019 lalu, namun mengingat kondisi saat ini di tengah iklim persatuan yang sedang diuji, krisis yang memba...

Draft

  • coretan unc
  • Motivasi
  • Opini
  • Puisi
  • sebuah perjalanan
  • stories / notes
  • Tips & Trik

Mengenai Saya

Foto saya
Umi Nurchayati
Blog pribadi Umi Nurchayati @uminurchayatii | uminurchayatiii@gmail.com | "Dalam samudra luas, riak saja bukan"
Lihat profil lengkapku

Copyright © 2019 Bangun Pagi-pagi. Designed by OddThemes & Blogger Templates