• Beranda
  • Motivasi
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Opini
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Puisi
    • Langgam Cinta
    • Pertemuan Bahagia dan Sedih
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips - Trik
  • Who Am I

Bangun Pagi-pagi



Judul buku (terjm)        : Generation M: Generasi Muda Muslim dan Cara Mereka Membentuk Dunia
Judul Asli                     : Generation M: Young Muslim Changing the World
Pengarang                     : Shelina Janmohamed
Penerjemah                   : Yusa Tripeni
Penerbit                        : Bentang Pustaka
Tahun Terbit                 : 2017
Tebal Halaman             : 375 halaman

Sinopsis Buku

Buku ini menceritakan dan mengulas tentang suatu fenomena perubahan pada generasi muda muslim kini. Ditulis oleh Shelina Janmohammed, Vice President Ogilvy Noor yaitu perusahaan konsultan branding berskala internasional dan yang pertama di dunia. Lewat buku ini Janmohammed menceritakan pengalamannya tentang dunia pemuda muslim yang disebutnya Generasi muda muslim sebagai generasi yang percaya pada iman dan modernitas.
Dalam buku ini Janmohammed juga mengulas latar belakang kemunculan generasi M, semangat generasi M untuk mengubah dunia menjadi lebi baik, memerangi terorisme dan mengampanyekan islam itu damai dan dapat berjalan beriringan dengan dunia modern tanpa kehilangan nilia-nilai keislaman.
Anda akan menemukan banyak istilah baru seperti halal lifestile, halalfood, muslim hipster dll. Buku ini menjadi lebih menarik dengan pemaparan lugas yang dibangun Janmohammed akan fenomena baru ini berkaitan dengan budaya konsumerisme. Buku ini mewakili apa yang terjadi dalam kehidupan kita sekarang, khususnya di Indonesia dan dunia.

Kelebihan Buku:
-          Sangat menarik karena mengupas fenomena dan budaya terkini
-          Ulasan yang inspiratif
-          Memahami muslim milenials

Kekurangan Buku:
-          Banyak bercerita fenomena, pembaca mungkin akan lelah mengikutinya
-          Banyak istilah baru yang mungkin akan sulit dimengerti orang awam
-          Bukan buku analisis kritis


Wrote by Umi Nurchayati

Sudah lama sejak 28 Juni 2017 lalu, saya dan 25 teman lainnya yang tergabung dalam tim KKN UMY tinggal di Kampung Warmon ini, ya kami diterjunkan di Kampung Warmon, Distrik Mayamuk, Kabupaten Sorong, Papua Barat yang dihuni oleh Suku Kokoda, yaitu salah satu suku muslim asli Papua. Konon penyebarannya ialah melalui kerajaan Tidore di Maluku Selatan. Selain itu Suku Kokoda juga menempati daerah lain yaitu Pulau Siwatori yang berada di Kabupaten Sorong Selatan dan Ruvei yang berada di dekat Bandara Sorong.
Sudah sebulan lamanya aku menyaksikan orang-orang Warmon setiap hari pulang pergi ke hutan, mulai dari anak anak sampai Bapak-bapak dan Mama-mama. Baru setiba di posko belakang dan ngecharge baterai kamera, terdengar teriakan suara Citra, salah satu teman setimku,
“umiii.. ayoo ikut ke hutan”
“kapan cik”
“ayoo sekarang, cepetan banyak ni yg berangkat”
Awalnya enggan sekali diajak ke hutan tapi akhirnya aku ikut juga. Berangkatlah kami bertujuh dan rombongan warga kampung. Ada Alfian, Rani, Bapak Samir ketua RT.02 dan anaknya yaitu Faryal, dkk. Rawa depan rumah langsung kami susuri, belum ada jalan yang terbentuk memang, hanya semak belukar sepanjang pandangan kami. Namum kami terabas saja dan membuat lintasan baru yang akan merusak sedikit semak-semak tersebut dan membentuk jalanan baru. Untung saja kami memakai sepatu boot, kalau tidak berdarah-darah sudah kaki kami ini, banyak sekali ranting-ranting dan dahan-dahan atau apapun, yah.. namanya juga semak belukar. Tapi jangan ditanya anak-anak kecil Kokoda ini, mereka tetap piawai berjalan bahkan lari tanpa alas kaki, padahal ini rawa loh, semak belukar. Hebat kan mereka, anak-anak yang tangguh.
Setelah menyeberangi rawa tibalah kami di jalan yang luas, sepertinya jalan yang baru dibuka. Permukaan tanahnya rata dengan adanya batu-batu kecil dan pasir, lebar jalannya seluas 3 meter, kalau panjangnya ahh.. jangan ditanya, sejauh mata memandang ini hanya terlihat jalanan di tengah pepohonan dan rawa.

Gambar 1: Jalanan panjang yang dilewati rombongan untuk menuju hutan di daerah Disrik Mayamuk, Papua Barat.
Dok: penulis

Matahari sangat terik, situasi masih menunjukan waktu pagi sekitar pukul 10.00 WIT. Pemandangan di jalan ini sungguh indah, adanya tikungan di tengah-tengah rimbuan pohon terlihat begitu elok, tak lupa aku dan Cicik, panggilan akrab Citra sempatkan berfoto, anak-anak Kokoda juga ikutan. Seperti biasa anak Kokoda memang selalu unjuk kebolehan ketika ada kamera, mereka langsung atraksi saoto di air kaca sembari rombongan kami rehat sejenak.

“kakak.. kakakk”
Begitulang mereka memanggil minta difoto, kubidik moment saoto mereka. Byurr.. mereka menyebur dan tertawa. Bahagia memang sederhana, satu hal yang dapat dipelajari dari anak-anak ini ialah dimanapun tempatnya mereka selalu bisa menemukan sisi nyaman, enjoy saja. Setelah istirahat akhirnya kami mulai berjalan lagi setelah Alfiyan dan Faryal mewarnai rambut Ginggi dengan bunga yang menimbulkan warna merah dan kuning jika dikibaskan ke rambut.


Gambar 2: Faryal memulai atraksi saoto di rawa yang berada di pinggir jalan menuju hutan
Dok: penulis

Jalan masih panjang tapi rasanya aku tak terasa lelah, adanya justru semangat untuk cepat masuk hutan. Sudah terbayang dalam pikiranku jika hutan-hutan itu akan seperti hutan hijau yang banyak semak dan tumbuhan liar layaknya yang sering kita lihat di tivi (televisi). Waahhh seru ini pasti, pikirku. Akhirnya rombongan yang terdiri dari Bapak Samir, Kahfi, Fathur, Bagas, Ginggi, Ade, Nafis, Eko, Citra, Rani, Alfiyan, Faryal, aku, dan beberapa anak kecil Kokoda yang saya lupa namanya kerena terlalu banyak anak seumuran mereka di kampung mulai masuk kawasan hutan. Dari luarnya memang terlihat seperti kebun tapi rupanya ini hutan. Bisa dilihat pohonnya yang menjulang tinggi-tinggi, semakin ke dalam semakin banyak medan yang menantang. Mulanya kami di sambut lumpur berwarna cokelat seperti tanah liat yang diairi, kemudian semakin kami jalan lumpur-lumpurnya pun seperti ingin menelan kaki, harus memilih pijakan yang tepat agar tak tersedot lumpur. Bapak Samir berjalan di paling depan mengarahkan kami, kemudian diurutkan dengan Faryal, Alfiyan, Rani dan kami. Aku dan Citra berada di paling belakang. 

Gambar 3: Lumpur dalam hutan yang menghisap kaki.
Dok: penulis
Perjalaan penuh liku untuk masuk hutan, seingatku Ade dan Eko menggunakan parangnya untuk membuka jalan, memotong ranting-ranting liar. Baru yang belakang mengikuti jalan yang sudah dibukanya. Setelah satu jam kami terus melewati semak-semak nan berlumpur, akhirnya rombongan menemukan pucuk sagu atau pohon sagu. Langsung saja penebangan dimulai. Bapak Samir, Kahfi, Fathur, Bagas, Ginggi, Ade, Nafis dan Eko ikut merobohkan pohon sagu. Sekitar setengah jam pohon sagu roboh..
“brukk....”

Kami pun berhasil mendapatkan pucuk sagu atau dalam bahasa Kokoda di sebut Kani, rasa pucuk sagu ini manis dan hampar. Rasanya memang sedikit aneh bagi lidah penyuka rasa pedas dan manis seperti saya ini, tapi yakinlah rasanya benar benar alami. 

Gambar 4: Kahfi bersama dua orang anak Kokoda berpose dengan membawa Kani (pucuk sagu) yang berhasil didapatkan.
Dok: penulis

“wuuuu...woooo”
            Menggayungkan tangannya, Alfiyan mengajari kami cara mengusir nyamuk di hutan. Tak habis pikir memang jika ternyata di hutan ini aja nyamuk barangkali berada, menjadi derita bagi teman-teman saya yang memakai baju lengan pendek. Dengan menyalakan api menggunakan daun-daunan dan ranting-ranting bak anak pramuka, akhirnya asap dari kepulan api itu bisa mengusir nyamuk, walau tak begitu luas menjangkau. Asyik sekali memang mengusir nyamuk sambil beryel yel dan menggerakkan tangan.
“wuuuu.. wooooo... wouuuuuw".
Ohh ya, rencananya rombongan kami juga akan mencari bambu untuk dibuat topeni dan sisir, begitu kata Bapak Samir pemimpin rombongan kali ini. Rupanya tadi anak-anak putra dan Bapak Samir sudah menebang bambu sembari aku, Citra, Alfiyan, dan Faryal asik makan kani. 

Gambar 5: Bapak Samri yang memimpin rombongan perjalanan ke hutan kali ini.
dok: penulis

Akhirnya dalam perjalanan pulang kami membawa bambu, mereka berjalan dengan menggendong bambu di pundaknya. Teman saya Eko tak luput menyia-nyiakan kesempatan itu untuk diambil video. Masih menapaki jalan berlumpur itu, kami pun pulang.
Bahagia sekali rasanya perjalanan ke hutan untuk pertama kali ini, tak hanya tentang melewati rintangan, tak hanya tentang berjalan kaki berkilo kilo meter, tapi tentang bagaimana mensyukuri tanah Papua dan menikmati apa-apa yang ada di depanmu. Kami belajar semua itu dari penduduk Kampung Warmon, adanya sagu, nikmati sagu. adanya lumpur, nikmati saja lumpur itu sampai membuatmu nyaman. Begitulah tanah Papua tanah yang kaya. Surga kecil jatuh ke bumi, begitulah kata Edi Kondologit dalam lirik lagunya.


Wrote by Umi Nurchayati


Akhirnya lapar itu tiba

menahan diri

membela muruah

dari mata berkuasa



detik dalam hidup,

membuatmu mengawang

Disaat dirimu harus menahan lapar,

seorang memamerkan habis makan ini dan itu

Sampai perutnya buncit



Sedang perutmu, hanya penuh angin

Kalaupun buncit, penuh air putih

meminumnya begitu banyak

mengumpamakan laiknya nasi



kau sungguh optimis memang,

dengan kelaparanmu

sungguh yakin memang

hingga kau penuhi

lapar di otak dan perut



Bantul, November 2018


Wrote by Umi Nurchayati


Pada seminggu yang lalu aku pulang ke rumah di kampung halaman tempatku menghabiskan masa kecil, yaitu di sebuah desa sekitar satu jam dari kota Temanggung. Lama memang aku tidak pulang ke rumah, frekuensi kepulanganku ke kampung halaman bisa dihitung jari paling hanya 3 atau empat kali dalam setahun. Maklum sebagai seorang santri di sebuah pesantren di Jogja membuatku sulit untuk mendapatkan ijin apalagi untuk hal-hal yang tidak begitu penting, walaupun cukup sering juga aku main pulang aja.

Kali ini aku tidak dijemput Bapak sehingga harus jalan kaki atau naik ojek. Aku memilih berjalan kaki sambil mengenang masa SMP yang setiap hari harus jalan dengan total sekitar 2km untuk pulang-pergi sekolah. Berjalan satu kilometer rupanya tak cukup membuatku lelah, mungkin karena lama tak berjalan kaki jadi enteng saja rasanya. Sambil kuamati keadaan desaku kini, aku melewati balai desa yang masih sama sebelum kepulanganku setahun kemarin dan juga rumah-rumah penduduk yang masih belum ada perubahan. Masih ada saja rumah berpagar reyot, dan terbesit pertanyaan kemana warga desa ini mengalokasikan dana desa?

Sesampainya di rumah aku disambut Ibu, seperti biasa beliau baru saja pulang dari pasar. kemudian Ibu langsung memulai interogasinya, bertaya semua faktor dalam hidupku tapi hanya sampai di permukaan saja. Seperti biasa ia akan membiarkan anaknya menentukan pilihannya sendiri. tapi tak lupa Ibu selalu saja mendoktrinku dengan berbagai kata-kata super yang sangat mujarab untuk membuatku selalu berjuang. Sampai ibu memulai ceritanya ketika aku bermaksud meminta uang, kata Ibu aku harus irit dan segera dapatkan pekerjaan. Maklum memang aku baru saja diwisuda tanggal 2 Februari lalu, sebagai seorang ‘Fresh Graduate’ aku memang berinisiatif untuk mecari kerja di Jogja karena aku masih harus melanjutkan studi di pesantren.

Kata ibu ekonomi perdesaan lagi ajlok, hasil bumi melimpah tapi tak cukup untuk menyekolahkan anak sehingga harus cari utang sana-sini, bahkan ada beberapa yang sampai sangat kesulitan untuk makan saja. Miris sekali aku mendengarnya, apalagi mendengar lanjutan cerita Ibu bahwa seorang tetangga juga sampai ada yang pergi leluar negeri demi membayar hutang pada rentenir. Katanya, daripada pusing ditagih setiap hari mending kabur saja, anak-anaknya pun ditinggal dan bapaknya juga kerja, padahal punya banyak lahan tapi habis dibabat, entah bagaimana persisnya aku juga kurang tahu, hanya mendengan slentiran dari tetangga-tetangga saja.

Yang kusadari adalah rentenir bermuka koperasi di desa-desa, bermodal tawaran pinjaman tanpa agunan dan selembar izin badan hukum mereka dengan bebasnya berkeliaran di perdesaan. Mereka bak penipu ulung, tawaran kreditnya sangat menggiurkan, bisa dibayar seadanya katanya. Tapi giliran peminjam tak bisa bayar mereka marah-marah.

Masyarakat miskin desa yang tak melek keuangan pun tergiur oleh tawaran yang aji mumpung itu, wajar saja mereka memang tak punya akses untuk pinjam ke lembaga resmi, sangat sulit bagi mereka mendapatkan pinjaman dari perbankan karena agunan-pun tak punya, uang yang ingin dipinjam juga tak banyak, sekitar 500 ribu sampai 1 jutaan. Hingga koperasi-koperasi yang rajin ke desa inilah yang akhirnya menjai solusi bagi mereka. 

Tapi tanpa disadari koperasi yang bergerilya ini tak menunjukan wajah koperasinya sama sekali, ketika si peminjam sudah menyelesaikan pinjamannya mereka akan kembali menawari pinjaman lagi-dan lagi, begitulah seterusnya. Koperasi itu akan menjaga peminjam agar selalu pinjam karena dengan begitu keuantungan akan didapat. Tapi itu hanya berlaku ketika peminjam lancar membayar cicilan, ketika cicilan mandeg mereka akan mulai bengas, sikap yang tadinya bak malaikat penyelamat dengan unggah-ungguh bosonya yang amat tinggi berubah 180 derjat. Sikap lembutnya hilang sudah entah kemana, diganti dengan cacian-cacian pada si miskin yang berhutang, miris sekali jika melihatnya.

Sebagai warga miskin harus bagaimana, mereka terhitung tak punya aset ketika berhadapan dengan dunia perbankan, padahal mereka punya rumah, sawah, dan binatang ternak. Namun jaman sekarang, pengakuan bisa dilakukan oleh saiapa aja, sehingga pengakuan legal berbentuk selembar sertifikat lah yang lebih dipercaya lembaga keuangan. Akan tetapi pengadaan sertifikat tak mampu digapai dengan mudah oleh masyarakat, karena harus berurusan dengan segala kejlimetan dan biaya yang tak bisa dibilang sedikit. Hingga penipu ulung seperti tadi menjadi pilihan. Bahkan bagi rentenir berwajah koperasi ini, yang tak dapat disebut agunan pun disa dijadikan agunan, yaitu seperti akta kelahiran. Ohh apa maksudnya semua ini, yang katanya ada pembagian sertifikat gratis belum menyentuh sampai kampungku.

Akhirnya untuk melunasi utang warga miskin perdesaan hanya punya pilihan menjual tanah yang sepetak, pergi ke luar negeri untuk jadi TKI, atau di rumah saja tapi harus sakit krena jadi pikiran. Di desa yang tak jauh dari ibukota dibanding yang diluar jawa, kok rasanya literasi keuangan yang diagungkan di dunia akademik maupun pemerintahan belum menyentuh masyarakat terdekat, masyarakat desa masih belum mampu memilih lembaga keuangan yang baik. Bagaimana dengan yang sangat jauh dari pusat kota? Apa mungkin mereka lalai sudah melompat kemana-mana tapi yang dekat malah lupa atau lupa semua. Seperi ungkapan gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di sebrang lautan tampak.

Wrote by Umi Nurchayati
Dikutip secara langsung dari Buku Islam & Negara Sekular – Menegosiasikan Masa Depan Syariah

Oleh : Abdullahi Ahmed An-Na’im (Profesor Charles Howard Candler Bidang Hukum di Emory law school. Atlanta, AS)
Prof. Abdullahi Ahmed An-Na’im
Doc: Iaw.emory.edu
Sebagai sebuah Institusi politik, negara bukanlah sebuah entitas yang bisa merasakan, memercayai, atau menindak. Manusia lah yang selalu bertindak atas nama Negara, menggunakan kekuasaan atau enjalankannya melalui organ-organnya. Jadi kapanpun manusia membuat keputusan tentang persoalan kebijakan, mengusulkan atau membuat rancangan undang-undang yang dianggap mewujudkan prinsip-prinsip islam, hal ini dengan sendirinya mencerminkan perspektif pribadi manusia itu atas persoalan tersebut, dan sama sekali bukan perspektif negara sebagai sebuah entitas yang otonom. Lebih dari itu, ketika usulan kebijakan atau undang-undang itu dibuat atas nama partaipolitik atau organisasi, posisi-posisi seperti itu juga diambil oleh manusia pemimpin yang berbicara atau bertindak untuk entitas itu. Benar bahwa sikap spesifik pada persoalan-persoalan kebijakan dan perundang-undangan bisa dinegosiasikan di antara aktor-aktor yang kritis, tapi hasilnya tetap saja produk dari penilaian individual seorang manusia, dan pilihan yang diterima dan dilaksanakan pun berdasarkan sebuah pandangan disepakati oleh para aktor itu.

Sebagai contoh, keputusan untuk memberi sanksi hukum bagi tindakan mengonsumsi minuan beralkohol sebagai kjahatan hadd (pidana) yang didefinisikan oleh syariah sesungguhnya merupakan pandangan pelaku politik individual setelah menilai semua jenis pertimbangan praktis, dan bahasa yang digunakan dalam menyusun rancangan undang-undang dan langkah-langkah yang diambil dalam mewujudkannya juga merupakan hasil keputusan dan pilihan manusia. Maksudnya persoalan disini adalah bahwa keseluruhan proses formulasi dan implementasi kebijakan dan perundang undangan publik untuk kepada kesalahan atau kekeliruan manusia, dan selalu bisa ditentang dan dipertanyakan tanpa melanggar kehendak Tuhan. Inilah pertimbangannya mengapa persoalan kebijakan dan perundang-undangan publik harus didukung oleh nalar publik, termasuk di kalangan Muslim yang bisa saja tidak bersepakat dalam semua persoalan seperti itu, tanpa harus melanggar kewajiban-kewajiban agama mereka (hal. 29). 

Wrote by Umi Nurchayati
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Wikipedia

Hasil penelusuran

Halaman

  • Beranda
  • Motivasi
  • KOLOM
  • PUISI
  • Sebuah Perjalanan
  • Stories / Notes
  • Tips & Trik
  • Who Am I

Jejak

  • ▼  2024 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
  • ►  2023 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2022 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2020 (11)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (13)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (18)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2015 (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2013 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Februari (1)

Instagram

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Popular Posts

  • Menyikapi Budaya Konsumtif Secara Bijak Dari Lagu Efek Rumah Kaca
    'Atas bujukan setan Hasrat yang dijebak zaman Kita belanja terus sampai mati' Mendengar bait lirik lagu Efek Rumah Kaca (ERK...
  • Rahasia Para Pendo’a
      Sejak kecil anak-anak selalu diajarkan berbagai macam doa, mulai dari doa bangun tidur, mau makan, selesai makan,masuk/keluar kamar mandi,...
  • Review Buku: CRIME AND PUNISHMENT - FYODOR DOSTOEVSKY
      dok. pribadi Judul: Crime and Punishment ; Penulis: Fyodor Dostoevsky ; Penerbit: Wordsworth Classics ; Penerjemah dalam B. Inggris: C...
  • Mengenal Islamisme dan Tantangannya Bagi Kehidupan Bernegara
    Dewasa ini kehidupan berdemokrasi bangsa kita tengah mengalami berbagai terpaan badai. Tanpa disadari dalam empat tahun terakhir ini isu ide...
  • Bersyi'ar dengan Cinta ala Mbah Kakung dan Mbah Putri
    Setelah beberapa hari lalu mbah terakhir saya, Mbah Putri dari pihak Bapak kapundhut dhateng Gusti Allah, saya jadi ingat Mbah Kakung juga ...
  • Perempuan dan Kebebasan Berekspresi, Zaman Nabi dan Kini
      Semakin hari rasanya hidup semakin ribet saja , apalagi sebagai seorang perempuan. Apa-apa yang sejak kecil biasa dilakukan menjadi hal y...
  • REFLEKSI - Sejatinya Hidup
    Ilustrasi, In frame: umi nc, credit: kawan Untuk apa aku diciptakan? Mengapa aku diciptakan? Mengapa diri ini aku? Tiga b...

Draft

  • coretan unc
  • Motivasi
  • Opini
  • Puisi
  • sebuah perjalanan
  • stories / notes
  • Tips & Trik

Mengenai Saya

Foto saya
Umi Nurchayati
Blog pribadi Umi Nurchayati @uminurchayatii | uminurchayatiii@gmail.com | "Dalam samudra luas, riak saja bukan"
Lihat profil lengkapku

Copyright © 2019 Bangun Pagi-pagi. Designed by OddThemes & Blogger Templates